
Walau masih terguncang akibat suara raungan mengerikan dari dalam hutan, keesokan paginya Arya tetap melakukan pembagian tim untuk memulai penelusuran di Hieratic Ring Forest. Terdapat dua kelompok sederhana yang dibentuk olehnya.
Pertama adalah tim Pengintai, anggotanya terdiri dari Zayn, Kevin, dan Elizabeth. Arya sengaja memilih ketiga orang ini karena mereka memiliki keunggulan dalam menyelinap dan bergerak cepat, sehingga cocok ditugaskan sebagai pengintai.
Tim tersebut akan dikomandoi langsung oleh Zayn, mereka akan bergerak lebih dulu untuk memeriksa adakah bahaya menunggu di jalan yang ingin dilewati. Fungsi lainnya adalah mencari jalur alternatif jika tidak memungkinkan.
Sementara itu Arya, Timothy, Ali, Asuna, Rena, Lexa, dan Selena disebut tim Utama. Dalam kondisi terdesak merekalah yang harus memberikan bantuan kepada para Pengintai. Setelah semuanya sudah jelas, akhirnya misipun dimulai.
Alat komunikasi elektronik tidak dapat berfungsi begitu memasuki wilayah hutan karena adanya energi magis yang membuat frekuensi listrik berubah kacau. Oleh karenanya Arya meminta Zayn mengirim sinyal asap setiap dua jam sekali.
“Kak Arya, aku berangkat ya hehehe” Elizabeth memeluk Arya dengan erat sambil cengegesan.
“Huum. Hati – hati” balas Arya mengusap lembut kepala gadis tersebut.
“Baiklah, Kapten semoga beruntung” Kevin mengangguk sebelum menghilang dalam sekejap.
“Kumohon tetap waspada kalian bertiga, ayo! Kita juga harus bersiap”
Mereka memberikan waktu sekitar satu jam sebelum menyusul ke dalam hutan, hal ini bertujuan agar tim Pengintai berada sekitar sepuluh kilometer di depan tim Utama. Perjalanan cukup berjalan mulus, beberapa kali Arya menemui bekas pertarungan. Namun sepertinya ketiga anak tersebut mampu mengatasinya.
Di kesempatan berbeda, tim Utama mendapat gangguan seperti diserang oleh reptil maupun serangga raksasa. Tetapi tidak sampai satu menit, semuanya akan dihabisi oleh pukulan keras Lexa ataupun anak panah api miilik Asuna.
Sebenarnya formasi mereka cukup terorganisir, saat bergerak. Ketujuh Elementalist membentuk barisan seperti ujung tombak. Pada bagian depan terdapat Ali, Lexa, dan Timothy sebagai pelindung dengan si Elementalist tanah berperan menjadi pusatnya.
Dibalik itu, barisan tengah terdiri dari Rena, Selena, dan Asuna. Alasan penempatan posisi ini karena bertujuan melindungi kedua Elementalist berkemampuan penyembuhan, yaitu Rena maupun Selena.
Jika semisal tiga pagar hidup milik mereka dapat ditembus. Asuna akan mengambil alih perlindungan untuk mereka, sementara di bagian belakang hanya terdapat satu orang yang bertugas mengawasi serta memberikan arahan tepat.
Mata biru Arya menatap seksama sekitar penuh konsentrasi, tidak ingin ada kesalahan – kesalahan kecil yang berakibat fatal bagi teman – temannya.
“Melompat diantara pepohonan seperti ini ternyata mengasyikan juga ya? Woohoo....” seru Timothy senang.
“Itu karena di dalam dirimu jelas – jelas terdapat gen Kera” Asuna menyeletuk sinis.
“Apa kau bilang?!”
“Ahahaha kau sangat lucu Tim, seingatku tubuhmu gemetaran hebat setelah mendengar suara mengagumkan kemarin” sahut Lexa terkikik geli.
“Ssst!? Lexa sialan, tutup mulut—“
“Berhenti, waktunya istirahat” perintah Arya begitu melihat asap hijau di kejauhan.
Ia pun menembakan pelontar sinyalnya juga untuk merespon tim Pengintai, mereka bertujuh turun ke permukaan tanah yang agak lapang kemudian mempersiapkan makan siang. Dibantu oleh Rena, Arya bergerak cepat menyiapkan sajian – sajian menggunggah selera di tengah hutan belantara.
__ADS_1
“Kapten? Aku tau ini agak sedikit terlambat tapi....tidakkah kemampuanmu dalam memasak terlalu baik? Bagaimana kalau kau saja yang menjadi koki selama perjalanan?” tawar Timothy.
“Setuju! Hamm..mm...mmm” Lexa menanggapi dengan mulut penuh makanan.
“Enak saja! Semua harus memasak secara bergilirian, ketidakadilan macam apa itu?” balas Arya ketus.
“Tapi ini benar – benar lezat? Dimana kau mempelajarinya? Yahh....maksudku kami semua juga menerima kelas dari Gustav namun entah kenapa masakanmu terasa berbeda. Apa kau tidak ingin membuka restoran? Aku dengan senang hati bersedia menjadi manajernya”
“Maaf dan terima kasih, teruslah bermimpi kawan. Mmm....mungkin karena aku bekerja paruh waktu ya....”
“Hmm? Kau bekerja paruh waktu?” Selena mengangkat wajah dari makanannya.
“Bohong, aku tidak pernah melihatmu meninggalkan kamar selain ke Perpustakaan dan Ruang Latihan” timbrung Asuna.
“Eh....kau perhatian sekali” Arya mengangkat sebelah alisnya.
“Ups...uhuk...uhuk”
“Mmm....aku hanya melakukannya sekali setahun, jadi memang tidak sering”
“Pekerjaan macam apa itu?!” ucap yang lain serempak.
------><------
Semuanya langsung mendarat begitu mendengar kata – kata Arya, dia perlahan mulai berkeliling meraba – meraba dahan pohon penuh rasa waswas. Membuat teman – temannya saling menatap kebingungan.
“Ada apa?”
“Aneh....Ck! Pasti terjadi sesuatu pada tim Pengintai”
Sebelum berangkat, Arya sengaja meminta Zayn meninggalkan jejak berupa sayatan – sayatan pada pohon agar tau kemana kelompoknya melangkah. Namun di tempat ini semua tanda itu tidak ada.
“Tenangkan dirimu, bagaimana kalau kita tunggu sampai sinyal berikutnya diluncurkan?” usul Rena.
Arya mengangguk setuju, tetapi setengah jam pun berlalu tanpa ada tanda – tanda sinyal asap di udara. Dengan kata lain telah melewati periode waktu biasanya kedua tim saling menghubungi, rasa cemas mulai merebak.
“Bersiap untuk bertarung, kita akan menyusul mereka”
Seketika itu juga, keenam Elementalist menarik senjata masing – masing. Tim Utama bergerak sangat cepat demi mencari keberadaan Zayn, Kevin, dan Elizabeth. Sekitar satu jam kemudian, tiba – tiba puluhan tombak menghujani mereka dari permukaan tanah hutan.
__ADS_1
Hal tersebut memaksa formasi kelompok ini terpecah, masing – masing berusaha menghindari serangan mendadak juga tak terduga tersebut.
“Jangan sampai terpen—!”
Peringatan Arya sia – sia, semuanya sudah terlambat. Kaki Rena dan Lexa yang baru saja mendarat pada salah satu dahan pohon langsung terjerat tali. Ikatan kencang di pergelangan kaki membuat keduanya tergantung secara terbalik.
Sementara punggung Timothy juga Ali entah bagaimana saling menempel satu sama lain seakan dieratkan sesuatu, nampak cairan getah berwarna kuning menghiasi tubuh mereka. membuat dua bocah laki – laki itu terjerembab jatuh tidak bisa melakukan apa – apa.
Di lain sisi, Asuna bersama Selena mencoba menghindar ke permukaan tanah hutan. tapi sayang harus terperosok ke lubang perangkap sedalam lima meter, di tengah – tengah kondisi kacau begitu, ada orang melemparkan sesuatu ke arah Arya.
Dengan sigap ia melakukan tebasan menggunakan Mandalika, dahinya langsung mengkerut tepat ketika butiran pasir kehitaman mengelilingi tubuhnya.
“Celaka!—“
DUAR!!!
“Arya!?”
Sebuah panah berhias api melesat dan memicu bubuk mesiu tadi untuk meledak, suara jatuh keras membuat para penyerang keluar dari persembunyiannya. Terlihat mereka membawa tiga orang tahanan yang mulutnya masing – masing telah dikunci.
Siapa lagi kalau bukan Zayn, Kevin, dan Elizabeth. Ketiganya menatap ngeri kejadian dihadapan mereka. Sekitar dua puluh Werebeast mengepung lokasi tersebut.
“HMM!”
“Berisik!” salah seorang Werebeast berwujud berang – berang menyodok perut Kevin supaya diam.
“Hehehe rasakan itu para penyusup! Berani sekali kalian mendatangi wilayah kami” seekor sigung tertawa senang.
“BRENGSEK!!!” Elizabeth merobek sumbatan mulutnya dengan paksa.
“Huhu aku takut sekali”
Candaan tadi diikuti oleh gelak tawa mengejek dari semua Werebeast disana. Jelas – jelas tidak memberikan sedikitpun muka kepada orang – orang yang mereka serang.
“Bocah malang, aku sedikit merasa iba padanya” komentar si berang – berang.
“Benar sekali, dasar Rattus. Tidak pernah menahan diri, lihat. Bahkan tubuhnya sampai gosong begi—“
“Haahh....padahal semua perlengkapan penyamaranku ada disitu lho, sekarang aku jadi tidak bisa berkeliling Zoonatia dengan tenang deh”
Hati para penyergap langsung mencelos, mereka langsung mendongak berusaha mencari sumber suara. Arya balas menatap semuanya sambil tersenyum dari atas pohon. Dia berdiri terbalik pada salah satu dahan seolah – seolah telapak kakinya mengeluarkan zat perekat alami.
“Pengguna Agnet!?”
__ADS_1
Perlahan asap hitam mulai menghilang, ternyata yang hangus terbakar adalah salah satu tas bawaan Arya. Mata Elementalist lain langsung kembali memancarkan semangat begitu melihat Kapten mereka baik – baik saja.
“Baiklah. Waktunya serangan balik, hihihi” ujar Arya menarik benang menggunakan giginya beserta mengeluarkan beberapa pisau lempar.