
KLANG!...GUBRAK!.
“Masukan yang ini....kemudian ini lalu—“
GEDEBUG!....PRANK!.
Selena keluar kamar sambil mengusap – usap matanya dan mendapati Arya di ruang tengahlah dalang dari suara berisik yang membuat dirinnya terjaga, dia juga tidak paham tentang kelakukan aneh Arya disaat pagi – pagi begini.
Baru saja Selena melangkahkan kaki dua kali, ia langsung mengkerutkan hidung dan langsung menutupinya dengan tangan.
“Ugh....bau menyengat apa ini?!!”
“Hmm? Oh Selena? Kau sudah bangun? Maaf sepertinya aku terlalu berisik”
“Itu tidak penting lagi sekarang, sebenarnya apa yang sedang kau lakukan?”
“Memberi solusi, hihihi” Arya tertawa cekikikan membuat aura disekitarnya menjadi misterius, namun dimata Selena. Dia malah terlihat seperti seorang ilmuwan gila yang sedang merencanakan kejahatan.
Beberapa menit kemudian Arya berteriak senang sambil menaruh sebuah botol kaca kecil berisi cairan berwarna biru gelap pada meja. Selena mendekat dan memperhatikannya baik – baik karena penasaran.
Belum sempat Selena bertanya, Arya sudah memberikan jawaban sembari membersihkan bekas – bekas kegiatan barusan.
“Kau ingat tentang masalah jarak teknik gelembung air milikmu bukan? Tapi sekarang semua itu sudah tidak perlu dipikirkan, dengan GillBuds Futures Potion ini semuanya bisa teratasi”
“Potion? Cairan ini? Memang apa khasiatnya?”
“Membuatmu bisa bernapas dalam air selama lima belas menit”
“APA?!—“ saking terkejutnya, ramuan tersebut lepas begitu saja dari genggaman Selena. Arya merespon secepat yang dia bisa dengan mencabut Mandalika kemudian menggapai botol kecil itu sebelum pecah menghantam lantai.
“Fyuh....hampir saja, hati – hati dong! Benda ini sangat berharga bagi kita lho” gerutu Arya sebelum menyimpan kembali ramuannya ditempat aman.
“M..ma..maaf aku hanya ter—tunggu dulu bukan itu masalahnya! Bagaimana caranya kau bisa membuat benda seperti itu?”
“Ceritanya panjang, lain kali saja. Lagi pula dengan jumlah terbatas begini aku hanya bisa membaginya menjadi dua belas kapsul, yang berarti hanya memberiku waktu tiga jam didalam air”
“Apa kau yakin cukup? Bagaimana kalau ujiannya lebih lama l?”
“Entahlah, kita hanya punya dua pilihan. Berdoa, atau berlomba melawan waktu”
Suara ketukan pintu menyadarkan keduanya, Arya menyambut seorang kurir pembawa pesan didepan pintu rumah. Dia memberikan sepucuk perkamen entah dari siapa kepada Arya, sebelum sang kurir pamit Arya juga sempat menitipkan sesuatu untuk diantar.
“Dari siapa?” tanya Selena penasaran.
“Tetua Cornus, besok semua Elementalist diminta untuk berkumpul” Arya memasang sebuah senyuman penuh semangat.
“Kenapa?”
“Aku juga tidak tau, isinya mengenai nomer undian atau apalah itu. Oh iya Selena! Bisakah kau pergi ke suatu tempat hari ini?.
Menyusulah, aku akan kesana lebih dulu. Tenang saja, petanya sudah aku letakan diatas meja. Ada yang ingin aku perllihatkan padamu, sampai ketemu disana. Dah!”
Arya langsung berangkat tanpa memperdulikan protes – protes dari Selena, gadis itu melipat kedua tanganya sambil mengomel pelan.
__ADS_1
“Ckk! Dia hanya tidak mau dibuat menunggu lama saat seorang gadis bersiap – siap pergi hmmph!”
------<<>>------
Selena berjalan mengikuti arahan dari peta buatan Arya, setelah melewati beberapa bukit. Dia disambut oleh hutan dengan pohon – pohon berbatang kurus namun memiliki tinggi yang tidak wajar.
Diawal perjalanan memasuki hutan, rindangnya pepohonan membuat cahaya matahari sukar menepis kegelapan didalam sana. Tapi ketika akhirnya Selena masuk semakin dalam dan dekat dengan tempat tujuan, jarak – jarak antara pohon semakin menjauh.
Dia kemudian melihatnya, sebuah air terjun raksasa teramat tinggi bersembunyi nun jauh didalam hutan. Pemandangan tersebut cukup membuatnya terpukau, seseorang sedang duduk bersila menghadap ke arah air terjun itu.
“Hebat juga kau bisa menemukan tempat indah seperti ini” puji Selena.
“Ohh, akhirnya kau datang” Arya yang duduk ditepi mata air tempat air terjun tersebut berada menoleh.
“Bagaimana kau bisa sampai tempat ini?”
“Secara tidak sengaja ketika mengumpulkan bahan – bahan GillBuds Futures Potion” jawab Arya santai sambil berdiri.
“Ehh...., jadi? Apa yang ingin kau tunjukan?”
“Perhatikan baik – baik....” Arya memegang rendah Mandalika dengan tangan kananya, aura pekat mulai menyelimuti pedang itu ketika berubah ke wujud aslinya.
“Third Dance; Dance of Five Waterfall Fairies”
Dari pengelihatan Selena, gerakan Arya begitu elegan serta lembut saat mulai mengayunkan pedangnya secara vertikal ke arah atas. Langsung saja mata dan mulut Selena terbuka lebar melihat apa yang terjadi kepada air terjun dihadapannya.
“APA – APAA—“
“Shtss....!, teknik ini masih baru. Aku hanya bisa menggunakannya sekali dalam Ujian, yaitu disaat – saat paling genting. Jadi jangan khawatirkan aku, ayo kita selesaikan ujian ini bersama – sama. Dan mari pergi menghadap para Tetua besok hari” Arya menempelkan jari dibibir dengan mata biru menyala.
------<<>>------
Semua Elementalist sudah datang ke kediaman para Tetua, selain kelima tim. Kehadiran Sepuluh Tetua Klan mencuri perhatian banyak orang, Astrid mengedipkan matanya ke arah Arya ketika tatapan mereka bertemu.
Yang dibalas dengan anggukan canggung olehnya, Novis muncul ditengah – tengah ruangan untuk mengambil alih posisi kepemimpinan acara. Ternyata hari ini kelima tim akan diundi urutan pelaksanaan ujian mereka.
“Ahh....jadi ujian kali ini bisa kita saksikan semua” seru Lexa semangat.
“Aku harap tidak menjadi Tim Pertama” Timothy bergumam cemas.
“Pada akhirnya semua tergantung keberuntungan masing – masing” tambah Zayn.
Novis mempersilahkan mereka untuk mengambil kertas undian, Arya dan Selena berdiskusi mengenai siapa yang lebih baik mengambilnya.
“Kau saja, tingkat keburuntunganmu kan super – super tinggi” Selena memberi usul.
“Kenapa kau berpikir seperti itu?”
“Perasaan mungkin”
Akhirnya Arya, Lexa, Timothy, Elizabeth, dan Asuna yang maju. Mereka mengambil kertas secara acak dan berdiri ditengah ruangan sebelum membukanya bersama – sama, tarikan napas terdengar jelas dari segera penjuru ketika nomor sudah terlihat.
“Selena? Kau harusnya menyadari kalau ‘beruntung’ adalah salah satu kata paling tabu untukku” batin Arya lemah melihat urutannya.
__ADS_1
------<<>>------
“Pengawas? Apa kau membawa yang aku minta?” Arya bergegas meninggalkan kediamannya saat mendengar kedatangan para Pengawas Ujian.
“Ini, walau aku tidak mengerti mau kau apakan cangkang kapsul kos—“
“Terimakasih Pengawas Allucia, aku mencintaimu!” kata Arya senang sebelum memeluk Allucia dan menyambar pemberiannya.
“EH?!—”
“Baiklah aku harus bersiap – siap, jangan lupa untuk memberikan dukungan padaku diujian kali ini ya! Dah!”
Ketika sosok Arya sudah tidak terlihat lagi, suara menyebalkan mulai mengusik telinga Allucia.
“Ehhh...? Aku tidak menyangka wajah Frone bisa dibuat merona seperti itu oleh seorang bocah yang umurnya bahkan tidak sampai seperempat dari umurn—“
BUAKH!!!
“Berisik...!!! Dasar Stalker brengsek!!!”
“Ugh....aw!? Apa yang kau lakukan Frone?! Kau baru saja melakukan kekerasan padaku! Itu melanggar kode etik Pengawas Ujian” si penguntit berseru sambil menyentuh hidung berdarahnya akibat tendangan keras dari Allucia.
“Aku tidak peduli! Kenapa kau mengikutiku Julius....?!” geram sang dokter menggemertakan buku – buku jari tangannya.
“A...a...ak...aku hanya ingin memastikan keamanan semuanya, bagaimana kalau kau sampai dikunyah oleh naga?!” Varuq terbata – bata mencari alasan.
“Itu tidak akan pernah terjadi dasar licik! Berhentilah mengikuti orang – orang terutama para wanita tanpa memberitahu terlebih dahulu!!!”
Dengan itu, sebuah pukulan keras menghantam dagu Varuq sehingga membuatnya terpental entah kemana.
Author Note :
Just Info:
Sebelum cerita Elementalist menjadi serumit skrg, sebenarnya konsep cerita ini sangat sederhana (pada awalnya). Hanya seputar sepuluh remaja berkekuatan elemen yang bertugas melindungi dunia, dan ceritanya berpusat di Jepang.
Jadi semua karakter dikonsep awal tu pakai nama Jepang seperti :
1. Arya = Akira
2. Asuna = Asuna (gk berubah)
3. Kevin = Raizo / Kaminari
4. Rena = Reina
5. Timothy = Tetsuya
6. Lexa = Arisu
7. Ali = Mitsunari
8. Selena = Mizuki
9. Zayn = Tsubasa
__ADS_1
10. Elizabeth = Hikari