
Tanpa terasa, sudah dua bulan terlewat sejak pertama kali Callista menginjakkan kaki di Elemental City. Dia dikenal sebagai si gadis Vampir pekerja keras, Callista menghabiskan waktunya dengan membantu banyak orang menggunakan berbagai cara dan metode.
Hal tersebut membuat ia disenangi banyak orang secara perlahan tapi pasti, sehingga mereka lupa kalau sebenarnya Callista adalah seorang Demon penghisap darah mengerikan. Bahkan ada beberapa kabar burung mengenai pernyataan cinta diam – diam kepadanya.
Tapi sepertinya semua itu berakhir tidak baik, alhasil tak satupun yang mengaku pernah melakukannya. Berbanding terbalik dengan Alalea, Callista mendatangi Elemental City seorang diri. Tanpa dukungan juga topangan sedikitpun dari luar.
Arya sempat khawatir ini akan mengakibatkan dirinya dikucilkan ataupun dianggap remeh orang – orang di Pusat Penelitian. Namun syukurlah kerja keras dan sikap Callista membuat hal tersebut tidak terwujud.
Jika Alalea merupakan Putri anggun nan menawan yang banyak dipuja laki – laki, Callista adalah gadis normal supel penuh rasa ingin tau. Fakta itulah alasan utama beberapa orang lebih memilih melakukan pendekatan padanya dari pada Alalea.
Serta rahasia umum mengenai sang Putri Elf sudah menyukai seseorang dan sedang memperjuangkan pertunangan mereka.
“Tidakkah kau merasa jahat sudah menyia-nyiakan mereka?” tanya Alalea sebelum menyuapkan satu sendok penuh puding ke dalam mulutnya.
“Benar sekali, aku bisa merasakan dengan jelas mereka mencuri pandang kemari terus menerus” Selena ikut berpendapat.
“Apa yang sedang kalian bicarakan?” balas Callista tersenyum manis.
Persetan dengan komentar semua orang, untuk saat ini hanya ada satu pria yang ada dipikiran Callista. Mau itu seluruh laki – laki di Pusat Penelitian sekalipun menyatakan perasaan padanya, tidak akan ada kompromi sedikitpun.
“Kau ini tidak belajar dari kesalahan ya?” Alalea menatap tajam ketika Callista berusaha melirik seseorang di belakang punggungnya.
“A..ak..aku tak sudi mengalah begitu saja! Tidak peduli sekeras apapun cengkraman kalian pada kepalaku! Lagi pula dia juga belum memilih salah satu dari kalian bukan?”
“Hah....berharap ia akan memilih sama saja bohong, karena....” bisik Elizabeth lemah.
“Dia tidak peka” Rena melengkapi.
“HATCHI! HUUH, aduh....hidungku gatal”
“Kau kenapa Kapten?”
“Entahlah, sepertinya ada orang – orang jauh di sana sedang membicarakanku” sahut Arya menggosok – gosok hidungnya.
“A....ahaha kupikir mereka tidak jauh sama sekali” Kevin tertawa pelan sambil menoleh ke meja sebelah.
------><------
“Terima kasih Kapten! Aku berhutang padamu!” Zayn menundukan kepala dalam – dalam.
“Hey hey, angkat kepalamu. Tak usah sungkan begitu, kita teman bukan?”
“Tetap saja....izinkan aku membalasnya lain kali!”
Arya baru saja memberitahukan kepada Zayn mengenai informasi payung ungu milik Julia Black, tentu saja kabar tersebut ditanggapi sangat antusias olehnya. Ia mendapat sedikit pencerahan mengenai tujuan perjalanan Venna.
__ADS_1
“Sudahlah, tidak perlu sampai seperti it—“
Belum selesai Arya berbicara, tiba – tiba pintu Ruang Latihan terbuka. Para Elementalist lain masuk berbarengan sehingga membuat mereka semua saling berpandangan sedikit bingung.
“Loh? Tumben sekali, apa tidak ada diantara kalian yang sedang melaksanakan misi di luar?” Arya menyeletuk heran.
Semuanya menggeleng sambil memasang ekspresi persis sama, belum sempat berpikir untuk mencari jawaban. Sebuah pengumuman dari pengeras suara membuat kesepuluh pemuda pemudi ini waspada.
“Para Elementalist diharapkan berkumpul untuk melaksanakan pertemuan khusus....”
Tanpa menunggu lama mereka mengangguk lalu langsung bergerak, setibanya di tempat. Sepuluh Pengawas Ujian, Alalea, dan Callista sudah menunggu. Beberapa hari terakhir ini putri bungsu keluarga Tepes membantu Astral dan Alalea mengurus dokumen misi.
Terutama yang berhubungan dengan bangsa Demon, bermodalkan wawasan luas dia dapat memberi saran serta arahan untuk penyelesaian masalah – masalah anggota Pax di Dark Side.
“Melihat situasi ini....entah kenapa perutku terasa mulas” Timothy mengerang pelan.
“Jangan sampai keluar di sini lho” bisik Arya mengingatkan.
“Kau pikir aku ini bocah umur berapa?!”
“Mohon perhatiannya....”
Astral berdiri dan berbicara sehingga seluruh perhatian di ruangan terarah padanya, ia menjelaskan alasan mengapa tidak ada satu pun dari mereka dikirim melaksanakan misi saat ini, ternyata semua itu punya hubungan dengan perihal yang ingin disampaikan sekarang.
Sebuah surat permohonan telah dikirimkan sekitar satu minggu lalu, dan karena isinya begitu rumit. Setelah berdiskusi para Pengawas memutuskan untuk menahan semua Elementalist dalam mengerjakan misi demi hal tersebut.
“Apa?!”
Kata – kata Pengawas Astral itu cukup mengejutkan bagi semuanya, karena misi penyelamatan Callista yang Arya lakukan seorang diri saja berada pada tingkat A. Jika permintaan ini dua kali lipat lebih sulit, misi seperti apakah yang menanti?.
“Aku punya firasat buruk ugh....” seru Timothy masih sambil memegangi perutnya.
“Tidakkah berlebihan mengirim kami semua?” Asuna berpendapat.
‘Jika benar....ini akan menjadi pertama kalinya kita bergerak dalam kelompok besar’ tulisan pasir Ali menghiasi ruangan.
“Begitulah, misinya akan dipimpin langsung oleh Tuan Arya. Jadi kami semua berharap—“
“Tolong segera jelaskan permintaanya Pengawas” Arya memotong sesopan mungkin.
Astral dan kawan – kawan saling menatap satu sama lain sebelum mengangguk, dia memulai dengan munculnya pergolakan besar di seluruh dunia akibat kemunculan kembali Elemental City. Wilayah kekuasaan Werebeast tidak luput akan hal tersebut.
Anggota – anggota Pax di sana semakin tertekan oleh banyak pihak, sampai akhirnya meminta pertolongan kepada Elemental City untuk mengambil tindakkan.
“Misinya yaitu....mengevakuasi seratus dua puluh orang Werebeast ke tempat ini”
“HAH!?”
__ADS_1
------><------
“T..tu..tunggu sebentar Pengawas!? Kita tidak sedang membicarakan barang bukan? Ada seratus dua pulah makhluk hidup yang harus dievakuasi?! Aku tau Pusat Penelitian dan Elemental City adalah tempat yang luas tapi....” Kevin memprotes.
“Itu sama saja dengan mengawal sepuluh lusin Werebeast” celetuk Lexa sambil terlihat berpikir.
Sekarang Arya mulai memahami tingkat kesulitan tugas ini, berbeda dengan misi Callista. Berikutnya mereka diwajibkan memindahkan seratus lebih Werebeast dari wilayahnya ke Elemental City. Dan kalau bisa secara diam – diam juga tanpa lecet sedikitpun.
Secara logika mustahil bisa mengendap – endap dalam jumlah sebesar itu, Astral kemudian mengatakan demi misi tersebut Pusat Penelitian melakukan peningkatan besar terhadap mesin portal agar mampu memindahkan banyak orang sekali waktu.
Jadi yang harus para Elementalist lakukan adalah menjaga seratus dua puluh Werebeast mencapai titik teleportasi. Mudah dikatakan, namun sulit direalisasikan. Tidak ada satu pun ras memiliki pengamanan longgar untuk melindungi wilayahnya masing – masing.
“Mustahil....” tatapan Rena kosong.
“Kupikir itu tidak tepat, sulit iya. Tapi bukannya mustahil untuk dilakukan jika kita bekerja sama, bagaimana?” Arya menanyakan pendapat teman – temannya.
“Ahh....kalau Kapten sudah sampai berkata seperti itu sih....apa ada yang tau cara menolaknya?” celetuk Timothy penuh harap.
“Arya....”
“Memang tak mudah, namun pikirkanlah baik – baik dampak positif dari tugas ini. Jika berhasil, kita akan mendapat bantuan seratus lebih Werebeast untuk menjaga Elemental City. Dan kuharap diantara mereka ada gadis bertelinga kuc—ehem – ehem e....maksudku bukankah itu tidak terlalu buruk?”
“Eh....kau terlihat bersemangat sekali” para gadis mulai menatapnya curiga.
“Aku tidak mengerti yang kalian bicarakan” jawab Arya cepat – cepat memalingkan wajah.
“Hmm....masuk akal” Zayn mengangguk – angguk.
Sebelum pembicaraan semakin berlanjut, tanpa terduga Alalea dan Callista mengangkat tangan sambil berbicara berbarengan.
“Izinkan kami berdua untuk ikut”
“Tidak boleh” tegas Arya langsung.
“Hah?! Kenapa?”
“Kami membutuhkan kalian menjaga Elemental City, tempat yang kami sebut rumah. Mohon bantuannya ya? Tuan Putri? MiLady?”
“Ugh....”
Setelah Arya mengatakan kalimat itu keduanya cuma bisa diam dengan tubuh bergetar tanpa mampu melakukan apa – apa.
‘Wah...Kapten hebat, dia bisa membuat dua gadis keras kepala di sana takluk tanpa perlawanan berarti’ batin Timothy kagum.
“Baiklah sudah diputuskan. Mari lakukan persiapan sebaik mungkin selama satu minggu ini untuk perjalanan menuju Zoonatia” seru Arya bersemangat sambil menghantamkan kepalan ke telapak tangannya.
__ADS_1