
“Begitulah singkatnya....”
“Hmm....”
Regulus mengelus dagunya setelah mendengar penjelasan Alba tentang apa yang terjadi sebelumnya dengan Orion, dia memang sangat menghargai juga mengakui kemampuan temannya itu namun sifat sulit ditebaknya kadang terlalu merepotkan.
Keluarga Azuldria ras Elf sejak dahulu terkenal akan kecerdasan mereka dan membuat ahli – ahli strategi baru terus bermunculan dari garis keturunan ini, bahkan pada titik tertentu saat pimpinan berada di tangan keluarga tersebut sempat menjadi puncak kejayaan Elf.
Kisah sang raja dan tiga putrinya yang hampir menguasai seluruh wilayah dunia selalu diceritakan kepada anak – anak Elf agar mengingatkan semuanya supaya jangan sampai mengulangi kesalahan si anak sulung, bahkan Orodria yang dikenal haus kekuasaan akibat paling sering menduduki tahta kerajaan menunjukan pegabdian serta loyalitas penuh ketika masa keemasan itu terjadi.
“Alba? Kau mengetahui cerita mengenai ayah Orion dan Eridan?” celetuk Regulus sembari melirik.
“Umm....selain dia dicap pengkhianat karena hubungan dekat dengan Lyan Frost sepertinya tidak....”
“Memang sisi negatifnya saja sering digaungkan tapi asal kau tau, beliau sangat hebat karena mampu memprediksi seratus langkah ke depan. Inilah salah satu alasan bangsa Elf begitu ditakuti dahulu, sayangnya ia tak pernah menonjolkan diri....”
“Kenapa?” Alba menaikan sebelah alisnya.
“Menurutku semua pasti demikian jika kau berdampingan dengan Raja terdahulu yaitu ayah Alalea juga Elementalist terhebat sepanjang sejarah sebagai murid Eudart....”
“Ahh....kurang lebih aku mulai paham sekarang, nampaknya dia lebih suka bergerak dibalik bayang – bayang......”
“Yap....ada kemungkinan Orion ingin menghilangkan kesan pengecut tersebut....”
Regulus menghela napas panjang sebelum memberi tanda kepada empat Ksatria Pentagram supaya mengikutinya, mereka mendatangi lokasi berkumpulnya pemimpin ras lain dalam diam. Sorot mata kurang bersahabat terus terasa mengikuti hingga sang Raja baru mengambil posisi lalu meminta maaf.
Tindakan itu tentu mengejutkan mereka karena mengetahui keangkuhan para Elf, bahkan Orion, Alba, Razel, maupun Falxus terlihat bertanya – tanya dalam hati. Pertama – tama Regulus menyampaikan rasa bersalah atas keterlambatannya ikut serta akibat mengurus beberapa urusan penting di wilayah kekuasaanya kemudian berikutnya mengenai sikap Orion.
“Hehehe....baiklah – baiklah maafkan aku, kalian puas? Atau aku perlu mendapat hukum—“
BUAKH!?”
Regulus muncul dihadapannya dalam sekejap dan tanpa basa – basi melepaskan tendangan teramat keras ke arah perutnya hingga Orion membungkuk sambil memuntahkan darah segar, cara pendisiplinan ini membuat banyak pihak terdiam seribu bahasa.
“Berhenti memancing keributan, aku sedang berusaha menolongmu di sini....”
“Hoek!? Kau sungguh tak menahan diri sama sekali ya....Yang Mulia....” erang Orion terhuyung – huyung mundur memegangi perutnya sembari menyeringai.
Louis, Kris, Garyu, bersama Merlin saling bertukar pandang sesaat sebelum mengangguk setuju melupakan tindakan egois Orion. Lagi pula mulai sekarang Regulus akan mengambil alih pimpinan ras Elf sekaligus mengawasi anak buahnya itu.
“Cukup bermain – main, waktunya kita bergerak....”
Sesuai pesan Louis, para petinggi ikut bangkit berbaris rapi menghadap Elemental City. Nampak jelas mereka hendak menyerbu langsung dengan kekuatan penuh kali ini, Dua Belas Shio memasuki mode Mythical Werebeast Armor masing – masing dalam sekejap.
“Leistear?”
__ADS_1
“Iya....tuanku?” suara serak menyahut panggilan Louis dari balik kerumunan.
“Giliranmu untuk unjuk gigi....”
BUM....!!! BUM....!!! BUM....!!!
Suara langkah kaki aneh kian membesar usai Louis menyampaikan perintahnya, orang – orang sekitar buru – buru menjauh akibat kemunculan sosok raksasa secara tiba – tiba. Makhluk itu menjulang tinggi layaknya gedung pencakar langit, ia menarik napas dalam – dalam lalu melepaskan teriakan perang yang memekakkan telinga.
------><------
“Phwuah!? Uhuk! Uhuk!? Hah.....! Hah.....!”
“Arya?!”
Arya membuka matanya dan batuk darah sejadi – jadinya, efek samping menanggung beban tahap Master sembilan Elementalist menyebabkan dirinya hampir kehilangan kesadaran. Beberapa orang segera mendekat demi membantunya menstabilkan kondisi, ternyata semua rekannya telah sadar menandakan mereka juga telah terputus koneksiknya dengan klon milik masing – masing.
“Anda baik – baik saja?” tanya Astral sembari mengelus punggungnya cemas.
“Tidak perlu mengkhawatirkan aku, bagaimana persiapannya Kinichi?”
“Sembilan puluh sembilah persen! Hampir selesai berkat kerja keras kalian Tuan”
“Lebih cepat! Mereka mulai—Aduh!”
Si ketua Elementalist gagal bangkit berdiri karena jubahnya secara mengejutkan ditarik, ketika hendak berbalik terus mengumpat. Wajahnya langsung pucat pasi sebab Pengawas Allucia sudah menatapnya penuh ancaman.
“Eeek!? T..ta..tapi Pengawas—“
“Tak ada tapi – tapian, istirahatlah supaya kau tidak mati konyol!” bentaknya gusar.
“Benar kata Frone, sebaiknya anda mengisi kembali tenaga dari pada membahayakan diri sendiri....”
Begitu mendapat rentetan saran dari Astral, Arya akhirnya menurut dan mengambil posisi bersila. Matanya bergrak kesana kemari gelisah, terlihat para Elementalist lain juga bersedia sekitar situ. Pada salah satu titik Lexa nampak mengelus Rake yang kelelahan penuh kasih sayang.
“Tolong izinkan aku beristirahat satu jam....” akhirnya dia berkata.
“Tentu....”
BANGGGG.....!?
“Namun bagaimana caranya aku bisa fokus kalau mendengar suara begitu?!”
“Apa – apaan bunyi barusan?!”
“Titan....Kinichi mereka hampir mendobrak pintu terluar!” peringat Eridan cepat.
“Sekarang adalah kesempatan terbaik kita mengurangi jumlah lawan, rencana tahap dua....dimulai!” Kinichi tersenyum sambil mengusap hidungya menggunakan jempol.
__ADS_1
------><------
“GRRR.....!!! SIAL! SIAL! SIAL!”
Yami menghancurkan klon es ditangannya lalu berbalik menuju dinding perunggu sebelum melepaskan rangkaian tebasan kuat secara bertubi – tubi ke sana hingga menyebabkan puluhan energi pedang terlihat.
SRAT! SROT! SRAT!
“Sedikit saran dariku sebaiknya kau berhenti, hanya akan membuang – buang tenaga saja....” ujar Kyra melayang santai menghampirinya.
“KE...NA...PA! TI...DAK MAU TER....PO....TONG!!!”
Kyra menghela napas sadar betul sulit berbicara dengan gadis satu ini, jadi dia memutuskan menjelaskan sembari menyaksikan usaha sia – sia Yami. Tembok Elemental City merupakan sebuah benda kuno yang tercipta dari teknologi misterius, banyak orang percaya kalau barang tersebut diciptakan oleh para pengrajin Dwarf generasi pertama.
Sehingga selain dapat dibawa terbang tanpa membebani pondasi juga mustahil mendapat goresan, itulah mengapa tiap bekas ayunan pedang Yami selalu langsung menghilang tak bersisa dalam hitungan detik.
“Hah....hah....hah....”
“Puas? Sekarang mari—“
“Kau seorang Witch bukan?”
“Iya? Memangnya kenapa?”
“Kirim aku melewati dinding terkutuk ini lewat atas....” Yami menatapnya tajam.
“Hah?!”
“Kalau kau tidak keberatakan lakukan pada kami juga....” tiba – tiba dua perwakilan lain sudah berdiri dekat mereka.
“Hadehhh....kalian memang gila....”
Kyra menggeleng – gelengkan kepala terus menjentikan jarinya, langsung saja badan Yami, Grierugon, serta Amgog melesat cepat menuju angkasa. Ketiganya mencapai puncak dalam waktu singkat tapi belum sempat menginjakan kaki, beragam serangan mulai dari sihir, panah, dan sebagainya menghujani masing – masing.
Grierugon menciptakan perisai memanfaatkan kulit kerasnya, sementara Amgog menepis seluruh bahaya itu berbekal Sekitsui miliknya yang berubah menjadi puluhan sesuatu berbentuk tentakel. Hanya Yami sendiri cukup sial sampai terlempar kembali ke bawah usai menahan cahaya keungan dahsyat menggunakan senjatanya.
“Kepa—“
WUSSHHHH....!!! BANG....!!!
Yami terdiam saat suatu benda keras luar biasa besar melintas tepat di atas kepalanya kemudian menghantam bagian pintu utama dinding Perunggu hinga penyok. Ia menoleh terus melihat pemandangan Titan yang baru saja selesai mencongkel tanah dihadapannya layaknya kerikil, ekspresi Yami berganti drastis mengetahui si pelaku pelemparan.
“HAHAHAHAHA....! INI MULAI MENARIK!”
^^^
__ADS_1
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.