Elementalist

Elementalist
Chapter 33 - Polarian


__ADS_3

Arya terbangun setelah merasakan adanya cairan lengket nan hangat melumuri wajahnya, ia segera terduduk dan mengelap wajahnya dengan jubah miliknya. Setelah mengerjapkan mata beberapa kali, barulah dia menyadari dari mana cairan lengket itu berasal.


Pegasus yang dia dan Rena selamatkan sedang berdiri didekatnya sambil menatapnya tanpa berkedip sedikitpun. Kuda itu mendengus pelan kemudian sekali lagi menjilati wajah Arya, sepertinya itu cara dia berterimakasih setelah pertolongan yang Arya berikan. Arya berusaha menghindari cairan lengket itu.


"Ahahaha hei cukup, itu geli dan lengket. Kau membuat jubahku penuh dengan air liurmu" protes Arya sambil tertawa pelan.


Tapi kuda itu tidak memperdulikan protes Arya dan terus saja melakukan kegiatannya, setelah bosan akhirnya dia berjalan menuju mulut gua. Arya segera bangkit berdiri sambil membersihkan pakaianya dari salju. Dia melemparkan pandangan sekilas kepada Rena yang masih tertidur di sudut gua lainnya.


Tanpa Arya sadari senyum merekah diwajahnya melihat betapa nyenyak Rena terlelap kala itu, lalu dia segera menyelinap pelan agar tidak membangunkan Rena untuk menyusul sang kuda bersayap. Pegasus itu sedang menatap ke arah langit tepat di depan mulut gua.


"Apa yang sedang kau li---wow....!"


Arya gagal menyelesaikan kalimatnya setelah melihat apa yang ada di hadapanya, matanya melebar perlahan melihat warna-warna indah yang memenuhi langit kutub utara saat itu. Matahari memang belum muncul, tetapi dia sudah bisa melihat sekelilingnya dengan jelas akibat penerangan dari cahaya aurora borealis tersebut.



Arya segera mendekati pegasus itu lalu mengelus punggungnya dengan lembut, yang dibalas oleh pegasus itu dengan meringkik pelan sambil menggosok-gosokan kepalanya pada Arya.


"Indah sekali, sepertinya pilihanku untuk kemari sudah tepat. Apa sebaiknya aku bangunkan Rena ya?"


-----------------------------<<>>-----------------------------


Rena pada pagi harinya terbangun dengan rasa was-was karena tidak bisa menemukan Arya di dalam gua, diapun segera berlari ke luar gua dan menemukan Arya sedang bermain-main dengan Pegasus yang kemarin mereka temukan.


Hal itu menyebabkan Rena menatap Arya dengan kesal sambil mengembungkan pipinya, dia juga menolak berbicara dengan Arya beberapa waktu karena hal tersebut. Mereka berdua akhirnya segera sarapan dan mengemas barang-barang untuk melanjutkan perjalanan mereka. Semuanya berjalan mulus sampai saat waktunya mereka berpisah dengan si kuda bersayap.


"Sampai jumpa lagi, kembalilah ke tempat asalmu" seru Arya sambil melambaikan tangan.


"Sampai jumpa lagi Tuan Pegasus" tambah Rena dengan hormat.


Baru saja mereka berdua berjalan beberapa meter, keduanya berhenti. Mereka menoleh bersamaan dan melihat jarak antara mereka dengan Pegasus itu masih persis sama dengan yang sebelumnya, mereka kembali berjalan cukup jauh dan menoleh kembali. Tapi jarak mereka masih tetap tidak bertambah dengan kuda itu.


Mereka berdua terus melakukan hal itu beberapa kali sampai-sampai gua tempat mereka sebelumnya sudah tidak terlihat.


"Oh....ayolah....! Sebenarnya apa masalahmu Tuan mamalia bersayap?" Arya berbalik dengan kesal.


"Hihik-hihik" balas kuda itu tanpa rasa bersalah.


"Jangan melihatku dengan tatapan memelas seperti itu, apa kau ingin ikut dengan kami?" tanya Arya lagi.


Pegasus itu kemudian meringkik setuju sambil mengais-mengaiskan kakinya pada salju dengan penuh semangat.


"Arya?" panggil Rena.


"Mmm....?"


"Apa kau sadar kalau kau sedang berbicara dengan seekor kuda?" tanya Rena lembut.


"Ugh..!?"


Arya segera memegang dadanya sendiri, entah kenapa hatinya terasa sakit mendengar hal itu. Terutama karena mendengar itu dari Rena, sindiran dari gadis yang selalu dia anggap polos dan baik hati seperti malaikat.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Rena datar.


"E...tidak apa-apa, hanya saja sedikit terasa perih. Tapi....lupakan"


"Kau sungguh tidak apa-apa?" ulang Rena.


"Kumohon....hentikan....!!!"


-----------------------------<<>>-----------------------------


Mereka akhirnya melanjutkan perjalanan mereka dengan seorang (seekor) anggota tambahan, Rena membuatkan sebuah sulur tanaman untuk digigit oleh Pegasus tersebut agar mereka tidak terpisah. Dengan bantuan kuda itu, beban bawaan Arya dan Rena cukup berkurang.


Setelah mereka selesai beristirahat untuk makan siang, terlintaslah beberapa ide gila dari kepala Arya untuk membalas sindiran Rena beberapa saat yang lalu. Tanpa menunggu lebih lama ia segera menyuarakannya.


"Rena?" panggil Arya semanis mungkin.


"Iya?" sahut Rena tanpa rasa curiga sedikitpun.


"Kau taukan makhluk yang berjalan disebelah kita ini adalah Pegasus?" mulai Arya.


"Lalu?" raut wajah Rena mulai berubah.


"Bagaimana kalau kita...." ucap Arya sambil menunjuk ke arah langit "terbang" sambungnya.

__ADS_1


"Ekh..!"


Arya berhasil menangkap reaksi ketakutan Rena sekilas, ia segera memasang senyum termanis yang bisa dia buat sambil berseru dalam hati "kena kau".


"T..ta..tapi bukankah dia baru saja pulih? Apakah tidak lebih baik kalau kita---"


"Ah...tidak apa-apa, bukankah kau juga berpikir begitu?" potong Arya sambil mengelus kepala Pegasus tersebut.


Pegasus itu walaupun sepertinya tidak memahami rencana licik Arya segera mendengus senang, dia juga sepertinya sudah muak memijak es dan ingin mengepakan sayapnya lagi di angkasa. Ia mulai mengepakkan sayap dan membuat salju-salju disekitarnya terbang ke segala arah.


"Tapi---"


Belum sempat Rena selesai berbicara, Arya segera membuat sebuah pelana sederhana dengan menggunakan beberapa kain yang dia miliki. Ia juga membuat pengait dari benang agar mereka tidak terhempas saat terbang. Dan juga sulur yang Rena buat sebagai pegangan yang nantinya akan digigit oleh Pegasus tersebut.


"Keliatan bagus, baiklah ayo Rena" seru Arya sambil menarik Rena mendekat.


"T...tu...tu...tunggu sebentar Arya aku---"


Tanpa memperdulikan yang Rena katakan, Arya membantunya naik ke punggung Pegasus itu. Sekali lagi ia memastikan semua barang bawaan mereka sudah kuat terikat. Saat ia hendak naik Rena segera menghentikannya sambil berkata pelan.


"A..Ar...Arya? Bisakah aku berjalan saja?"


"Eh? Kenapa? Mana mungkin aku membiarkan seorang gadis berjalan di tempat seperti ini sendirian" balas Arya dengan wajah sepolos mungkin.


"Ti..ti..tidak apa, sebenarnya aku memiliki fobia ketinggian. Jadi...turunkan aku ya?" pinta Rena.


"Maaf nona, tapi jika anda sudah membeli tiket untuk naik. Anda tidak boleh turun sampai kita tiba di tempat tujuan" jawab Arya dengan senyuman manis.


"Eh?!"


Tanpa menunggu lagi Arya juga segera naik ke atas punggung si kuda bersayap, mereka berdua duduk dibelakang sayap Pegasus agar tidak mengganggu pergerakan dua benda putih berbulu halus tersebut.


Arya memegang tangan Rena dan mengarahkannya untuk memeluk pinggang Arya.


"T..tu..tunggu! Apa yang---"


"Sebaiknya kau berpegangan padaku Rena, dari yang aku baca. Kecepatan terbang Pegasus bisa sampai 700 km/jam bahkan lebih" bisik Arya jahil.


"700 km/jam?! Secepat itukah?!"


Tepukan itu dibalas dengan ringkikan keras, kuda itu tiba-tiba berdiri dengan kedua kaki belakangnya. Membuat Arya dan Rena sama-sama terkejut, perbedaanya adalah Arya tertawa dan Rena memekik pelan.


Kuda itu bepijak kembali dengan keempat kakinya pada tanah dan mulai berlari. Dia berlari dengan kecepatan yang terus semakin bertambah. Arya bisa merasakan pelukan Rena pada pinggangnya semakin ketat.


"Baiklah-baiklah! Arya aku mengerti! Aku minta maaf atas perbuatan yang aku lakukan sebelumnya, jadi bisakah kau—AHH...!!!"


"Wohoo!!!"


Mereka berdua bisa merasakan kalau kuda itu sudah tidak berpijak lagi pada tanah, mereka secara perlahan semakin menjauh dari dataran berwarna putih itu. Sayap sang Pegasus mengepak secara teratur. Mereka terus melesat semakin mendekati awan-awan di angkasa.


Rena masih berteriak histeris akibat lepas landas, sementara itu ditengah teriakan Rena. Arya terus tertawa senang menikmati pengalaman barunya yang mengasyikkan.


"Rena?! Kalau aku jadi kau, aku tidak akan melakukan itu. Kau tidak inginkan tiba-tiba ada serangga yang masuk ke dalam mulutmu?" teriak Arya diantara deru angin.


Teriakan Rena segera berhenti dan digantikan dengan suara "Mmmmmmmmmmmm!!!!???" dari mulutnya yang tertutup rapat.


Tubuh mereka kemudian basah semua setelah terbang melewati sebuah awan raksasa, disaat itulah terbang dari Pegasus lebih stabil. Arya bisa melihat pemandangan langit berwarna kemerahan yang yang sangat indah, matahari memang sudah hampir tenggelam kala itu.



"Lihat Rena, pemandangan yang sangat indah bukan?" ujar Arya sambil menoleh.


Teriakan Rena memang berhenti beberapa saat, matanya juga melebar setelah melihat sekelilingnya dengan takjub. Tetapi semua itu menghilang sama cepatnya dengan kemunculannya.


"Iya-iya, pemandanganya saat indah. Saking indahnya itu bisa membunuhku, jadi bisakah kita turun sekarang?" rintihnya pelan.


-----------------------------<<>>-----------------------------


Setelah mendarat Rena memukul-mukul Arya dengan tangannya yang lembut, ia cemberut dan tidak mau berbicara pada Arya malam itu. Karena tidak berhasil menemukan gua ataupun tempat berlindung lainnya, Arya membuat sebuah dinding es yang mengelilingi mereka dan dapat melindungi dari angin malam yang dingin.


Akhirnya setelah makan malam, tanpa banyak berbicara mereka berdua langsung tertidur, keduanya tidur berdekatan dengan menyandarkan kepala kepada badan dari sang Pegasus. Sejak pulih, si kuda terbang memiliki kemampuan untuk menjaga suhu badannya.


Dia juga melimuti Arya dan Rena dengan sayap putih bersih miliknya, tidak butuh waktu lama bagi Rena untuk terlelap. Melihat hal itu Arya hanya tertawa perlahan sambil mengingat betapa ketakutannya Rena beberapa saat yang lalu.


Arya menghela napas panjang sambil menatap ke arah langit malam bertabur bintang, Arya memang sengaja tidak membuat atap di atas dinding yang telah dia buat untuk hal ini. Kemudian ia menyeletuk pelan.

__ADS_1



"Hey? Bukankah lebih baik aku memberimu nama? Aku akan sulit memanggilmu jika seperti ini terus"


Celetukan Arya dibalas dengan dengusan pelan oleh si Pegasus. Kuda itu juga sudah menutup matanya dan tinggal menunggu waktu untuk terlelap.


"Mmm....apa ya...." guman Arya sambil berpikir, ia kembali melihat langit malam dan dengan tiba-tiba sebuah nama terlintas dibenaknya.


"Stella, bagaimana menurutmu?" tanya Arya sambil tersenyum.


"Hihik-hihik"


"Bagus bukan? Baiklah mulai sekarang mohon bantuannya ya? Stella"


-----------------------------<<>>-----------------------------


Keesokan harinya mereka kembali terbang membelah angkasa, kali ini Rena sudah lebih tenang dari pada penerbangan pertama yang dia lakukan kemarin. Dia hanya berteriak "Kya!" selama satu menit, dan menurut Arya itu sudah menjadi prestasi tersendiri baginya.


Saat mereka sedang terbang dengan damai tiba-tiba telinga Arya mendengung, ia segera menarik sulur yang diikat pada kepala Stella.


"Stella menghindar?!" teriak Arya.


Stella segera berputar diudara, karena kepekaan Arya terhadap sekitarnya cukup tinggi mereka berhasil menghindari sebuah bongkahan es raksasa tiba-tiba muncul dari bawah mereka. Arya segera menarik Rena yang hampir terjatuh akibat manuver tiba-tiba dari Stella.


"A..ap..apa yang terjadi?" tanya Rena dengan tubuh gemetar.


"Ada yang—ugh...."


Telinga Arya lagi-lagi berdengung, kali ini lebih parah dari sebelumnya, ia segera memerintahkan Rena untuk memeluk pinggangnya seerat yang dia bisa. Ia menarik sulur pengendali Stella sekuat mungkin, puluhan bongkahan es melayang ke arah mereka.


Stella meluarkan suara meringkik keras dan mulai menghindari serangan-serangan udara itu satu persatu, Arya mengarahkan Stella untuk semakin mendekat ke daratan. Saat mereka kembali berada dibawah awan, mereka bisa melihat sebuah dinding es raksasa yang terlihat seperti benteng.


Dibagian dalam dinding-dinding itu terdapat sebuah alat raksasa, asal dari bongkahan-bongkahan es yang melayang ke arah mereka. Arya mengarahkan Stella tepat menuju alat-alat tersebut. Menyadari kedatangan Arya, para menyerang menembakkan sebuah bongkahan es terbesar yang mereka miliki.


Bongkahan itu melayang dengan kecepatan yang mengerikan ke arah mereka, karena tau sudah tidak bisa dihindari lagi. Arya segera memerintahkan Rena untuk memegang kendali, ia segera berdiri pada punggung Stella dan dengan sebuah gerakan tangan pelan menghancurkan bongkahan es raksasa tersebut.


Mereka muncul dengan tubuh dipenuhi salju yang menempel pada pakaian mereka, Arya kemudian berbisik pada Rena.


"Jangan pernah lepaskan sulur itu apapun yang terjadi"


"Arya?! apa yang---"


Sebelum Rena berhasil menghentikannya Arya sudah melompat dari punggung Stella, dia melesat dengan kecapatan tinggi ke daratan. Stella mengeluarkan suara ringkikkan keras kemudian berputar sekali diudara dan terbang dengan kecepatan tinggi ke arah Arya.


"KYAAAA.....!!!!???" teriakan Rena memenuhi udara kala itu.


Tepat ketika jarak antara dirinya dengan tanah hanya beberapa meter, Arya menggapai udara diatasnya dan dengan pengaturan tempo yang luar biasa. Dia dapat berpegangan pada salah satu kaki belakang Stella.


Stella membawanya mendekat ke arah dinding, kemudian perlahan ia melepaskan pegangannya dan dengan kecepatan luar biasa menancapkan pedangnya ke tanah. Seketika seluruh dataran es itu bergetar hebat, dataran tempat Arya mendarat mengeluarkan retakan yang merambat ke segala arah.


Terdengar suara "Krak!" keras dari dalam dinding es raksasa, bagian-bagian dari alat pelontar es itu bertebaran di udara. Bongkahan-bongkahan es runcing muncul dari dalam tanah dan menhancurkan mereka semua. Rena segera turun dari punggung Stella dengan tubuh gemetar, mereka berjalan perlahan mendekati Arya.


Arya mencabut pedangnya dari tanah dan berbisik pelan.


"Berani sekali kalian menyerang seorang Elementalist Es di habitat alaminya seperti ini"


Pintu dinding raksasa itu terbuka, kabut es muncul dari dalam dinding tersebut. Arya dan Rena bisa merasakan tanah yang mereka pijak bergetar menandakan ada kawanan yang sedang menuju ke arah mereka. Kabut es itu mengelilingi Arya, Rena, serta Stella.


Saat kabut itu mulai menipis, Arya bisa melihat puluhan sosok makhluk yang terlihat berjalan dengan empat kaki serta memiliki taring dan gigi yang sangat tajam. Makhluk-makhluk itu memiliki bulu putih seperti salju, mereka mengeluarkan suara geraman sambil menunjukan gigi-gigi tajam mereka.



"Kalian....adalah kawanan beruang kutub berzirah, para Polarian. Salah satu penghuni asli tempat ini" ujar Arya.


Tidak ada satupun Polarian itu yang menanggapi pernyataan Arya, mereka hanya menggeram dan dengan perlahan menggiring Arya, Rena, dan Stella ke dalam dinding es. Karena tidak punya pilihan lain, mereka mengikuti kehendak para beruang kutub berzirah itu.


Di dalam dinding es raksasa tersebut terdapat banyak sekali tempat-tempat berlindung yang terbuat dari es. Mereka terlihat seperti pemukiman yang berisi iglo-iglo kecil, kawanan itu membawa Arya dan Rena menuju sebuah iglo besar yang berada di tengah-tengah.


"Masuk" geram seekor Polarian pada Arya dan Rena.


Arya lalu menenangkan Stella yang tidak diizinkan masuk, kuda itu merintih pelan. Kemudian Arya dan Rena memasuki bangunan itu, di dalamnya terdapat sebuah kursi besar yang terbuat dari es. Diatas kursi tersebut duduklah seekor Polarian dengan ukuran paling besar dari yang Arya dan Rena pernah lihat sebelumnya.


Tepat saat Arya dan Rena memasuki tempat itu, sang beruang kutup raksasa membuka matanya yang berwarna kekuningan. Dia memiliki banyak bekas luka dan hanya dengan melihat sekilas. Mereka bisa tau kalau beruang yang ada dihadapan mereka dipenuhi dengan otot yang menandakan dia adalah pemimpin dari tempat ini.


"Mohon maaf atas tindakan kurang menyenangkan kami sebelumnya, aku sudah menunggu kalian" geramnya sambil menunjukan gigi-gigi taring miliknya.

__ADS_1


__ADS_2