
Setibanya dekat lokasi pusaka sihir, Ryan segera turun dari sapu terbangnya. Bocah tersebut cepat – cepat mendekati Percivale yang masih bergerumul dengan lapisan pelindung barang – barang berharga itu.
SYUU!!! DUARR!!!
“Woa!?”
Ryan mengambil posisi tiarap seketika akibat serangan sihir mematikan, lengah sedikit saja nyawanya barusan pasti sudah melayang. Beberapa meter dekat tempatnya berdiri tadi, tengah terjadi duel seru antara empat Penyihir Agung melawan seorang perempuan berpayung hijau misterius.
Banyak cahaya warna – warni berpencar ke segala arah dan bisa dipastikan jika sampai terkena salah satu, maka siapapun individu malang tersebut pasti lenyap. Serangan gabungan milik Witch peringkat tinggi sungguh menakjubkan.
Tanpa sadar Ryan melongo entah berapa lama, tetapi hal yang lebih mencengangkan adalah kemampuan si wanita meladeni mereka. Dia menggerakan senjatanya sangat cepat bagai sedang mengayunkan pedang, gerakannya begitu rumit bahkan sulit diikuti oleh mata.
Cuma dengan melihatnya saja Ryan tau betapa hebat serta mematikannya sihir – sihir yang dilepaskan orang itu. Mengerikannya lagi, ia tersenyum santai seolah menikmati tiap detik jalannya pertempuran.
PLAK!!!
Ryan menepuk keras kedua pipinya, sembari meringis dia berbisik pada dirinya, “Sadarlah bodoh! Bukan waktunya terkesima, nyawa kami dipetaruhkan di sini”.
Percivale sang ksatria menoleh sewaktu Ryan merayap perlahan ke arahnya, bocah itu memberikan kode menggunakan tangan kalau tujuanya datang tuk membantu. Secara tak langsung makhluk panggilan Arya tentu mengenali si Wibu Sialan tanpa kesulitan.
“Rhilore!? Ada pengganggu” teriak Aluxium kencang.
“Dasar tikus kecil....!!!”
BUAKH!!!
“HIIYY....!!!?”
“Fokus....serahkan sisanya padaku”
Eleanor berhasil menghalau pukulan Rhilore sebelum mengenai Ryan, selesai melihat anggukan mengert si anak. Sang Green Witch menghempaskan Warlock dihadapanya dengan satu sapuan, Deviar menyembuhkan kondisi Rhilore untuk kesekian kalinya.
“Hah....kalau begini terus tidak akan selesai....”
“Cihh!? Dia ini....monster atau apa....”
“Baiklah cukup, waktu terlalu berharga dihabiskan di tempat suram begini. Perhatikan baik – baik kekuatan sihir Druid” Eleanor menyelipkan payungnya pada ketiak lalu bertepuk tangan.
Sinar hijau benderang spiral perlahan timbul dari tanah, mengitari tubuh anggunya. Lama kelamaan semakin tinggi menembus langit, lambat menyadari datangnya bahaya. Seluruh Penyihir Agung harus rela terlempar saat serangan barusan melibas mereka.
“Linterna Verde”
Eleanor sekali lagi memakai payung hijau miliknya diatas kepala setelah pandangan bersih dari musuh, namun ada sesuatu yang janggal menarik perhatiannya. Dia mendekat ke arah tubuh Vrivana Payne terkulai sehabis menabrak dinding.
“Hmm....? Wanita tukang mayat itu....sejak kapan dia....”
GRRR!!!
“Ugh....menyebalkan, ternyata ini masih jauh dari kata berakhir” gumam Eleanor melirik tepat menuju datangnya suara gemuruh tadi.
------><------
“UAKHH....!!!”
Sekitar sepuluh Witch jatuh kemudian tidak bergerak kembali, sehingga kawan – kawannya memilih untuk mundur. Ragu maju karena takut mengalami hal serupa, ada satu perempuan bertampang malas berdiri menghadang jalan rombongan tersebut.
“Kumohon pergilah, berhenti merepotkanku” gerutunya.
“Kenya!? Dasar pengkhianat! Kau membantu para penyusup!” bentak seseorang gusar.
“Sudah berapa kali kubilang, tidak! Hanya saja situasiku agak rumit....”
__ADS_1
“Jangan banyak alasan! Beri jalan! Kita harus membantu para—“
JDUAR!
“Satu langkah lagi, dan kupastikan kau menyesal” tatapan tajam Kenya berubah menyeramkan.
“Keparat....”
‘Ugh....bocah tengik itu....ternyata ini yang dia maksud untuk tidak melawan ya’
Kenya menghela napas panjang, beberapa saat lalu. Dia mendapati sebuah sinyal dari Arya sewaktu sedang asyik membuat ramuan di ruangan pribadinya, ia memang memberikan Arya alat khusus agar bisa menghubunginya kapan saja jikalau butuh sesuatu.
Dan ternyata si anak berambut putih memanfaatkan hutang budinya tuk mengacaukan Magihavoc, sehingga walau terpaksa. Kenya tetap harus membantunya menyelesaikan urusan saat ini.
“Menepilah Kenya”
“Dorothi?”
“Atau aku akan menggunakan kekerasan”
“Kalau mengancam dapat bekerja, akupun malas menghalangi kalian”
“Kau yang memaksaku....”
TRING! TRING! TRING!
“Hadeh....menjelaskan sampai mulut berbusa sekalipun nampaknya percuma, lebih baik aku jadikan ini sebagai ajang uji coba penemuan baruku” Kenya mengeluarkan sebotol cairan kebiruan.
“Ayo kita serang bersamaan!!!”
“Sekedar info, kontrol sihirku tak beda jauh dengan Merlin”
“OAAA!!!”
“Tahan!!! Bantuan pasti segera datang!” seru salah satu Witch menyemangati anggota kelompok itu.
Sementara berjarak lima puluh meter dari sana, rombongan puluhan penyihir juga terhenti langkahnya disebabkan oleh sosok mengerikan. Mereka menelan ludah berat, ingin memintanya menepi tapi tidak kuasa menahan ketakutan.
“Madam of The Corpses....”
“Kalian mengganggu”
“Nyonya Payne!? Anda....melindungi para buronan?”
“Memangnya kenapa?”
“Penyihir Agung lain pasti tak akan diam sa—OEKH!“
“Siapa bilang lima puluh orang di sini dapat bertahan hidup untuk memberitahu mereka” Vrivana menjentikan jari.
“TIDAK! TIDAK! TIDAK!!! UAAAA!!!”
Ratusan Undead tingkat tinggi mulai bangkit dari dalam tanah kemudian menghabisi seluruh pasukan bantuan, sang Necromancer menatap kosong tanpa ekspresi sebelum menoleh ke arah arena sambil tersenyum tipis.
“Dirimu tdak boleh tertangkap di sini....karena sihir menakjubkan itu harus tetap hidup....hehehe....”
------><------
“Kyra?”
__ADS_1
“Ahh...?”
“Mereka belum menyadari keberadaanmu, jaga jarak dan sembunyilah. Ini berbahaya” bisik Arya tenang.
Selesai megucapkan kalimat barusan Arya, Zulqar, Luisa, dan Giuliano menerjang. Kyra segera mengikuti perintah, keempat gadis yang menjadi lawan mereka juga telah bersiap. Benturan akhirnya terjadi, kekuatannya cukup besar hingga hampir merubuhkan arena pertarungan.
Adu pukulan kuat terlihat saat Giuliano bersama Morgiana melesat ke berbagai penjuru, Olivia sendiri saling mengadu payungnya bersama pedang Luisa. Sangat berbanding terbalik dengan Zulqar dan Friska yang penuh perhitungan menjaga jarak serangan masing - masing.
TRANG! TRING! TRANG! BUAKH!
“Kau....boleh juga....” puji Merlin menggertakan gigi.
“Terima kasih” Arya tersenyum penuh arti.
Pedang biru indah berbenturan di udara melawan payung jingga, beberapa kali Merlin berusaha menjauh untuk melepaskan sihir. Tapi Arya bergerak cepat menebas mereka lalu kembali mendekat supaya konsentrasi sang Orange Witch terpecah.
‘Sial! Aku tidak dapat merapalkan mantra rumit’
JDER!
Merlin bersusah payah menahan tebasan Mandalika, kedua senjata bergetar karena Arya maupun musuhnya berusaha menekan satu sama lain.
“Jangan melamun”
“AP—“
“Kadel!!!”
DUAR!!!
Arya memanfaatkan kesempatan barusan tuk menarik tongkat sihir kemudian melepaskan serangan kejutan. Ledakan itu membuat debu membumbung tinggi.
“Bagaimana? Kalau soal ilmu sihir mungkin aku memang kalah telak darimu. Namun pertarungan sungguhan begini—!?“
SYUU!!! TESSS!!!
Tembakan sinar jingga secara tiba – tiba mengharuskan Arya mengambil posisi bertahan, walau hanya mengenai bilah Mandalika saja. Tubuhnya tetap terseret hingga membentur pembatas buatan Zulqar.
“Jangan sombong dulu.....
Saat debu sudah menipis, tubuh Merlin kembali nampak. Tetapi ada pemandangan berbeda, empat benda yang memancarkan aura sihir luar biasa melayang di sekitar tubuhnya. Masing – masing berbentuk buku, bola kristal, boneka, dan tengkorak emas.
Book of Curiousity, Confinement Crystal, Spooky Marionette, Antique Skull. Mastery of Five Magical Tools”
“Hebat....kau menguasai lima jenis alat—“
DOOM!!! DOOM!!! DOOM!!!
Merlin tak memberikan kesempatan Arya selesai berkomentar, dalam sekajap ia mulai melepaskan berbagai sihir berdaya hancur maksimal. Hingga akhirnya si Elementalist Es terpojok kemudian menerima telak serangan mengerikan Merlin.
“Oi oi oi itu berbahaya sekali tau” suara asing terdengar bicara.
“Hmph!?”
Sembilan buah ekor keemasan berhasil menahan tembakan Merlin, warna mata serta penampilan Aryapun ikut berubah. Terlihat dari kejauhan suatu binatang kecil hinggap di pundaknya. “Mythical Werebeast Armor; Kyubi no Yoroi”.
Author Note :
Ada yang bilang thor jangan lupa ingatin pembacanya, masa cerita ini gk bisa masuk peringkat 10 besar. Iyaa mau gimana mas? Itu diluar kuasa saya, semuanya tergantung pada pembaca. Kalau mereka hanya penikmat tanpa ada niatan memberi dukungan saya bisa apa? Saya cuma penulis di sini wkwkwk (Lagi pula rank gk berpengaruh sama hidup saya).
__ADS_1
Dukung Author melalui Karyakarsa.com/ AryaFP (gk usah dikasi spasi). Karya Karsa merupakan platform mediasi fans agar bisa menunjukan apresiasinya secara langsung pada konten creator. Di sana kalian dapat memberi makan author untuk tetap bisa bertahan hidup di akhir bulan (All Hail Mahasiswa!). Harganya pun dijamin terjangkau sesuai pasar. Jangan lupa dijadikan Elementalist sebagai favorit supaya gk ketinggalan updatenya dan berikan bintang lima. Terima Kasih ^_^