
Sepeninggal Asuna, Arya masih menggila di medan pertempuran. Tak ada satupun musuh yang mampu mendekati Sentoki no Meikyuu tanpa mengalami luka parah, darah segar mulai membasahi bilah Mandalika.
Walau sebagai pihak seberang, Shizi kagum terhadap kemampuan laki – laki itu. Dia sendiri tidak yakin mampu bertahan melawan sekitar tiga ratus sisa pasukan setelah membantai dua ratus lainnya, Shizi mengaum untuk mengisyaratkan pasukannya menjauh.
“Heeh....kenapa kau akhirnya memutuskan maju, beri aku sedikit waktu lagi dan akan kudatangi dirimu” Arya tersenyum tenang, tubuhnya sudah bermandikan darah hingga rambut putihnya mulai tak terlihat.
Shizi tidak menjawab, sang Jenderal Petarung cuma terus berjalan maju sambil sesekali menggemertakan buku – buku jarinya “Nak....sebaiknya kau hentikan, kau tidak bisa menipuku. Fisikmu telah mencapai batasnya”
“Kau sepertinya sedikit salah paham, aku tak pernah mencoba menipumu lho”
“Melihat Nona Kizuna bersamamu. Sepertinya kau menyebabkan keributan di Rodentia, walau aku sendiri bertanya - tanya bagaimana kau bisa membawanya serta masih hidup sampai saat ini”
“Katakan saja kalau aku adalah orang beruntung”
“Menyerahlah dan kubuat kematianmu tak menyakitkan”
“Hehehe bagaimana kau tau tidak sakit jika belum pernah mati dasar bodoh, aku tidak akan menyingkir dari tempat ini”
Detik berikutnya, Shizi bergerak begitu cepat. Hanya dalam sekejap sudah berdiri di hadapan Arya, baru saja ia berusaha mengayunkan Mandalika. Tiba – tiba yang Arya tau dunia sudah terbalik kemudian badannya menghantam tanah sangat keras.
Cairan merah kental mengalir tanpa henti dari mulutnya, tenggorokannya terasa seperti digesek oleh pedang – pedang panas nan tajam.
‘Gawat tenggorokanku hancur, tak bisa bicara lagi’
“Selesai sudah, jika dalam kondisi prima mungkin aku kewalahan bertarung denganmu” komentar Shizi mencengram kuat leher Arya.
‘Aku mulai tak bisa merasakan ujung jariku, harus cepat!’
Menggunakan sisa tenaga, Arya meraih benda di balik pinggangnya dan tanpa keraguan menarik tali pengait alat pelontar tersebut sembari mengarahkan ke angkasa.
“Hmm? Apa gerangan itu? Senjata rahasia? Kau benar – benar pantang menyerah, meminta bantuan sekarang sekali pun tak akan bisa menyelamatkanmu. Kira – kira Mempersembahkan kepalamu pada para atasan mendapatkan hadiah apa ya?” si singa semakin mendekatkan mata kapaknya.
‘Ini....akhirnya ya? Telingaku sudah tidak berfungsi lagi....maaf....semuanya’
‘Ehehehe....akhir menyedihkan, cocok sekali untukmu’ suara parau familiar memenuhi kepala Arya.
‘Berisik! Biarkan aku istirahat’
‘Bodoh, jika kau mati sekarang. Teman – temanmu akan terus menunggu, lalu tersusul dan terbantai hihihi’
Tekad Arya yang terus melemah seketika berkobar kembali, walau sedang dalam kondisi kritis. Tarikan napasnya berubah normal.
‘Waktunya kau membalas budi makhluk keparat!’
‘Hehehe tenang saja, pinjamkan tubuhmu....dan kupastikan mereka semua selamat’
Sementara di lain sisi, Mandalika, Efbi, dan Safira berusaha sekuat tenaga menembus penghalang pikiran Arya. ketiganya berteriak memanggil – manggil namun tidak mendapat respon.
‘Tuan!?’
‘Ayah! Jangan!’
__ADS_1
‘Dia hanya ingin memanfaatkanmu! Oi Arya! Dengarkan aku!’
Terjadi sebuah gejolak besar di dalam tubuh Arya, membuat Mandalika segera menyatukan kedua tangan penuh konsentrasi sambil memanggil kedua atribut lainnya “Efbi! Safira! Kuatkan pegangan kalian!”
Betapa terkejutnya Shizi ketika kapaknya malah membelah tanah kosong, selanjutnya sebuah pemandangan luar biasa sekelebatan muncul. Arya mengambil satu per satu tangan kanan, kaki kiri, mata kanan, dan telinga kiri musuhnya sekali gerak.
Singa tersebut bahkan tak sempat bereaksi kesakitan, sambil menobang tubuh yang telah kehilangan sebelah kaki. Shizi menatap ngeri Arya, pria itu terus melangkah mundur sembari menodongkan ujung pedang ke arah lautan pasukan musuh.
“Kau!? Masih bisa bergerak!?”
“Tuan Shizi?!” panggil para anak buah cemas.
“Hehehe.....huahahaha....terlalu cepat buat terkejut, lagi pula kalian semua akan mati” Arya berbicara serak. Lensa matanya yang putih telah berubah warna menjadi hitam.
“SERANG!!!”
“Aktifkan Tingkat Kekuatan. Tahap Pertama, Master”
------><------
“Eh? Di mana? Apa aku sudah mati?” gumam Arya mengusap kedua mata.
Dia sedang berada di suatu tempat putih bersih tanpa ada benda lain sepanjang mata memandang, warna lokasi tersebut membuat ia membutuhkan waktu menyesuaikan diri. Arya memeriksa tubuhnya yang ternyata masih lengkap dan tidak terluka sedikitpun.
“Bukankah seharusnya aku terluka parah? Aneh”
“Kau....siapa?”
“Pemilik tempat ini”
“Memangnya kita di mana?” Arya bertanya penasaran.
“Segel buatanku, lebih tepatnya diriku yang asli” laki – laki itu akhirnya menoleh dan melepaskan tudung jubahnya.
Dia memiliki rambut putih berantakan, bagian belakangnya cukup panjang sampai melewati tengkuk. Ketika mata mereka bertemu, entah mengapa ada rasa familiar janggal dalam hati Arya. Seperti pernah bertemu sebelumnya.
“Berarti kau....”
“Tepat sekali, hanya sisa energi kehidupan. Penjaga Dua Kutup Dunia, Elementalist Es Karismatik. Jack Frost senang berkenalan denganmu” jawabnya tersenyum lembut.
------><------
Respon Arya nyatanya tak sesuai ekspektasi Jack, malah raut wajah anak laki – laki tersebut menjadi gelap begitu mendengar namanya. Sedikit hati – hati diapun bertanya.
“Eee....kau tidak apa – apa? Jika mengalami diare atau mulas kau bisa pergi ke—“
BUAKH!
__ADS_1
Belum selesai Jack berbicara, pukulan keras Arya mendarat telak di perutnya. Membuat pria itu terpental berguling – guling sambil memegangi tempat serangan Arya mengenainya.
“Hoek!? Nak....? Apa....kau tidak mengerti bahasa....Manusia?! Aku bukan memintamu berbagi rasa sakit yang sam—“
“Ternyata kau rupanya Kakek Tua Sial! Akan kubuat kau membayar semua perbuatanmu selama hidup! Berapa banyak masalah yang harus kuhadapi karena ulahmu! Dan mana ada roh mengalami diare dasar bodoh!” Arya mengguncang – guncang tubuh Jack penuh rasa kesal.
“Hei hei hei tunggu dulu! Aku tidak tau punya masalah apa denganmu!”
“Duduk! Lalu dengarkan baik – baik”
Arya mulai menceritakan semuanya kepada Jack, posisi duduknya yang tenang perlahan berubah gelisah. Mulut cemberut berganti melongo lebar tidak percaya.
“Sebentar! Mustahil! Mustahil! Mustahil!!! Maksudmu kau menyalahkanku karena terpaksa harus bertunangan!? Alasan macam apa itu!? Lagi pula mana mungkin aku menikahi Unia!”
“Terus? Kau mengira aku berbohong?”
“Jelas sekali bu—“
“Enak saja! Kau yang sudah mati tau apa pak tua sialan! Kau pikir berapa kali aku hampir dibunuh oleh kenalan – kenalan wanitamu! Memangnya sebanyak apa gadis – gadis di sekelilingmu hah?”
Mendengar pertanyaan tersebut, Jack diam sesaat berusaha menghitung “Mmm....a...ak...aku tidak ingat”
“Brengsek!!!”
Situasi kembali tenang setelah Arya melepaskan semua keluh kesahnya pada Jack, laki – laki itu harus terima babak beluk dihajar bocah yang mengaku sebagai cucunya.
“Kenapa harus menurun padaku sih....”
“Hei disukai banyak perempuan merupakan berkah bagi seorang pemuda”
“Kutukan bagiku” timpal Arya malas.
Jack tertawa kecil kemudian mengeluarkan dua cawan berisi teh dari udara kosong, memberikan satu pada Arya, lalu menegak isi gelas satunya lagi.
“Kau bilang ini sebuah segel bukan? Untuk apa?”
“Menyegel monster, kau pasti tau maksudku bukan? Aku yakin dia pernah berbicara beberapa kali padamu”
“Yeah”
“Segelnya cuma bisa aktif satu kali setiap kehidupan keturunanku, dan itupun jika kondisinya sudah benar – benar di luar kendalimu. Kekuatanku akan menahan makhluk tersebut”
“Heh....kalau begitu, apa ada orang lain datang sebelum aku?”
Jack melipat kedua tangan, berpikir keras. Berusaha mengingat – ingat sesuatu “Ah...iya! Ada gadis manis bernama Lyan juga pernah datang kemari. Kau mengenalnya?”
“Dia putrimu dasar bodoh” jawab Arya tenang menyeruput minumannya
“Eh?”
EHHH??!!!
__ADS_1