
SLASH! JLEB!
“ARGH...!?”
“WOAAA....!?”
“TIDAKKK....!?”
BRUAK....!!!
Suara pintu ruang singgasana terbanting menyebabkan Diana membuka matanya secara perlahan, teriakan maupun rintihan yang sejak tadi telah dirinya dengar sebenarnya cukup membuat ia mengerti situasi sekarang. Dihadapannya tengah berdiri seorang Elf muda bermata biru tersenyum santai ditemani pasukan siap tempur.
Para pengawal pribadinya segera mengambil posisi untuk melinduginya, Reiss sebagai pemimpin berada paling depan sambil menodongkan senjata. Diana menarik napas dalam – dalam mencoba menghitung jumlah orang disana sebelum bertanya dingin. “Bisa kau jelaskan maksud semua ini? Orion?”.
“Ku-de-ta.....” eja laki – laki itu masih bersikap tenang.
“Jangan bergurau!? Kau pikir mampu lolos dari kejaran Ksatria Pentagram lainnya!?” Reiss menghardik murka.
“Jangan salah paman, justru kamilah dalang dibalik gerakan perubahan yang sedang kau lihat....”
Tiga Elf pemilik warna mata berbeda muncul diantara para tentara Orion, masing – masing mengenakan jubah serupa. Reiss tidak menyangka akan menemukan Razel, ponakannya sendiri bersanding bersama pemberontak bahkan calon – calon penerus gelar Ksatria Pentagram ikut serta kecuali Daemord dan Eridan yang tak ada di lokasi.
“Dasar keterlaluan!? Kalian hanya merusak nama baik Rodria!”
“Cukup bicaranya, kami menuntutmu agar turun tahta. Wahai Diana D’Azuldria....” kata Orion menunjuk wajah sang Ratu.
“LANCANG—!!!”
“Et Incurvato....”
BRUAKK...!!!
Cukup satu mantra sihir bagi Alba D’Blandria untuk seketika memaksa tiap anggota pengawal pribadi Diana membungkuk tanpa bisa mengangkat kepala lagi, badan mereka seolah ditekan ke tanah oleh serangan tembus pandang,
“Sebaiknya kau diam dulu pak tua....”
“Sial...!?”
“Kau dianggap kurang kompeten dan mustahil membawa Kerajaan Elf menuju masa keemasannya, oleh karena itu penolakan atas keputusan pemerintahan Pohon Hellig harus dilakukan. Selanjutnya Regulus D’Orodria akan dilantik menggantikanmu....”
Usai pernyataan berapi – api Orion berhenti, Elf bermata emas memasuki ruangan diikuti dua rekan lainnya dengan pupil hitam. Salah satunya hanya mempunyai sebelah lengan, wajah Diana mengkerut pertanda jijik. Seluruh pasukan pemberontak segera memberi hormat.
“Siapa yang mengizinkanmu memasuki Fairy Forest?”
“Hehehe...lama tidak berjumpa Yang Mulia....atau harus kusebut mantan Yang Mulia....” Daemord memamerkan senyum memuakkan.
“Ahh....aku mengerti sekarang, kalian bekerja sama dengan ras Demon. Pantas saja pendukung – pendukung loyalku mudah ditundukkan, aku harus mengakui persiapan kalian luar biasa. Kau memang ahli siasat layaknya Ayahmu Orion....”
__ADS_1
“Anda terlalu memuji....”
“Tetapi....jika aku menolak, kalian mau apa?” tanya Diana sembari bertopang dagu.
“Kupikir anda tak berhak memilih Nyonya....”
Orion menjentikkan jari, mendengar sinyal tersebut bawahan – bawahannya memperlihatkan tawanan mereka. Diantaranya termasuk Azalea juga orang – orang yang masih setia kepadanya, akhirnya Diana cuma menghela napas kemudian turun dari singgasananya.
Falxus ditemani Daemord merebut mahkota Diana terus memasangkannya diatas kepala Regulus, menandakan bergantinya kepemimpinan ras Elf. Saat semuanya selesai, kelompok Diana dimasukkan ke dalam penjara bawah tanah sebagai tahanan.
“Bibi maafkan aku, seandainya aku tidak tertangkap maka—“
“Tenanglah, aku ikut bertanggung jawab atas semua ini....”
“Yang Mulia....hamba sungguh menyesal....”
“Sudahlah Reiss, masih banyak anggota keluarga Rodria di luar sana mendukung kita. Hanya saja situasinya memang sulit....”
“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” Azalea menyeletuk pelan.
“Menunggu, aku ingin kalian semua jangan berjauhan....sepuluh....sembilan....delapan....”
Diana lanjut menghitung mundur tanpa menjelaskan apapun, membuat orang – orang bertukar pandang bingung. Tepat ketika ia mencapai angka satu, sebuah fenomena aneh terjadi. Lantai tempat mereka berpijak menghilang dan menyebabkan seluruh penghuni sel jatuh menuju lubang barusan.
Azalea meringis pelan merasakan rasa nyeri sekitar bokongnya, namun betapa terkejutnya anggota gerombolan itu menyadari kalau sekeliling mereka bukanlah penjara lagi. Melainkan sudah digantikan padang rumput luas, ketika dirinya menoleh Azalea menemukan pohon tinggi besar menjulang menembus langit.
“Terima kasih kau menyalakan portal Pohon Hellig untuk kami, Eudart....”
“Jangan sungkan begitu Yang Mulia....”
“Huum, aku ingin kau mengabari Raja Druid dan Ratu Pixie soal kejadian ini. Kita harus mengaktifkan Formasi Sihir Rahasia Pohon Hellig....”
“Aku mengerti....” sahut Eudart bangkit berdiri.
“Reiss? Bentuk tim demi mengevakuasi orang – orang yang masih setia kepadaku terutama para Dwarf, bawa mereka semua kemari. Aku harus menepati janjiku kepadanya....”
“Laksanakan!”
‘Nampaknya lembah ini akan sedikit padat beberapa waktu kedepan....’ Eudart mengeluh dalam hati sambil menggaruk – garuk kepalanya.
“Bibi?” panggil Azalea.
“Iya, untung saja aku mengirim Alalea ke Elemental City tapi....kenapa firasatku buruk sekali....” gumam Diana menggigit bibir bagian bawahnya hingga berdarah.
------><------
Alalea, Callista, Kizuna, tengah berkumpul bersama yang lain ketika suara alarm pertanda bahaya dibunyikan ke seluruh penjuru Elemental City. Hal ini tentu membuat kepanikan besar pada ketiga Distrik, waktu semua akhirnya berkumpul di satu ruangan para Pengawas Ujian sedang menyaksikan potongan video salah satu kamera keamanan dinding Perunggu.
__ADS_1
“Ada apa sebenarnya?” Kinichi bertanya penasaran.
Eridan menghentikan desakkan jawabannya dengan menunjuk titik pandangan tiap orang sekarang, gerombolan makhluk – makhluk mengerikan mulai muncul dan menyerang kawasan pemukiman penduduk. Alalea dapat mengenali Goblin, Ghoul, Undead, serta berbagai macam monster – monster sejenis membuat kekacauan.
“Bagaimana.....mungkin? Mustahil Demon menyelundup tanpa terdeteksi bukan? Pasti terjadi suatu kesalahan....” ujar Diondra keheranan.
“Kita tidak punya kesempatan memikirkannya sekarang, segera bentuk tim untuk evakuasi besar – besaran terhadap Distrik Perunggu”
“Putri Alalea benar, Tuan Gerrow? Nona Kizuna? Kami membutuhkan bantuan anggota – anggota kalian....” Astral mengeluarkan pendapatnya.
Mr.Gerrow juga Kizuna mengangguk kemudian berangkat untuk mengarahkan para Witch dan Werebeast Pusat Penelitian, Alalea maju mengusulkan kepada Astral agar tiap kelompok mempunyai beberapa Manusia berpakaian pemerintahan supaya masyarakat tak semakin panik melihat kedatangan pihak mereka.
“Saya mengerti, Elemental City berharap besar atas bantuan dari pasukan keluarga Azuldria ras Elf....”
“Serahkan padaku....” jawab Alalea enteng sambil berpaling mengikat rambut pirangnya.
“Ahhh....satu hal lagi, Nona Nashumi?”
“Emm...? Hoam....anda perlu sesuatu Pengawas?” Nashumi menguap lebar.
“Bisakah anda menjadi pimpinan karavan evakuasi? Kami akan menyediakan kendaraan khusus untukmu....”
Seketika ekspresi Nashumi berubah drastis, senyuman penuh antusias menghiasi wajahnya. Ia meregangkan tubuh sebentar sebelum berseru. “Aku ikut!”.
“Bagus, bawalah surat ini ke bagian mekanik....”
WUSHH....!!!
Layaknya badai, gadis bertelinga kucing tersebut menghilang begitu saja. Menyisakan Kesepuluh Pengawas Ujian melanjutkan diskusi, Astral perlahan membagi – bagikan tugas tertentu demi mengatasi situasi genting saat ini.
“Aku harus cepat menemui Wali Kota dan melaporkan siaga satu kepada para Mantan Pemimpin Negara yang tergabung dalam PBB....”
“Selagi Gio melakukannya bagaimana jika sebagian mencari cara menghubungi para Elementalist, kita membutuhkan seluruh tenaga karena tidak tau bagaimana keadaan buruk begini terus berlanjut” celetuk Liquite.
“Aku....mulai merasa mendengar suara besi beradu di medan perang” Romero berbisik sendu.
“Gio? Bukankah sebaiknya salah satu Pengawas ikut serta dalam evakuasi? Siapa tau ada petunjuk mengenai alasan mereka bisa tiba – tiba hadir di Distrik Perunggu” kata Bianchi mengusulkan.
“Biar aku saja....”
BRRR....!!!
“Kau yakin? Magna?”
KRTAK..!!! KRETEK...!!! KRTAAKK....!!!
“Aaah....sudah waktunya aku menurunkan kadar lemakku yang berlebih....” Pengawas Po menyahut sembari menggemertakkan tulang jemari tangannya.
^^^
__ADS_1
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.