
“Berpencar!”
“Ah ah, tidak secepat itu”
Suara udara terbelah kian memenuhi udara bersamaan dengan bunyi derit ketika benang – benang mulai muncul dari tanah. Lima pisau Arya menancap disekeliling permukaan hutan sehingga membuat sebuah kurungan berbentuk pentagon.
Para Werebeast yang panik berusaha memotong, merobek, dan menggigit dinding benang setebal sepuluh sentimeter namun tidak membuahkan hasil apa – apa.
“Kenapa terburu – buru begitu? Ayolah kita bahkan belum saling berkenalan” senyum tipis menghiasi wajah Arya.
“Argh....waa....!!!”
Dua puluh anggota pasukan bersenjata tersebut maju bersamaan berusaha meringkus sang Elementalist Es, tak ada opsi lain lagi di benak mereka. Kurang dari lima menit, semuanya selesai. Arya menggulung kembali seluruh benang miliknya yang bertebaran sambil mengomel.
“Kalian ini ceroboh sekali, bayangkan kalau sergapan dilakukan oleh pasukan militer musuh. Terkena jebakan kekanak – kanakan seperti itu....sungguh memalukan”
Kesembilan temannya cuma bisa diam mendengar ceramah Kapten mereka, tidak ada sanggahan ataupun usaha membela diri kali ini. Karena menurut pendapat masing – masing semua kesalahan juga kecerobohan tadi benar – benar konyol.
Zayn, Kevin, dan Elizabeth juga merasa sangat bersalah, ketiganya disergap kemudian tanpa sengaja tertangkap jaring raksasa tanpa bisa berbuat apa – apa.
“Penyusup – penyusup keparat! Lihat saja kalian pasti menyesal! Pasti akan ada seseorang yang—“
“Maksudmu pria kecil ini?”
Mulut Werebeast berwujud sigung tadi terbuka lebar seketika waktu Arya mengeluarkan seekor tikus kecil berbulu coklat dari dalam sakunya. Jeratan benang mengikat kuat makhluk mungil tersebut, ia tersenyum lemah pada yang lain.
“Rattus!?”
“M..ma..maaf teman – teman, aku tertangkap”
“Aku mengucapkan terima kasih karena telah memberitahukan posisimu dengan serangan bubuk mesiu sebelumnya” gumam Arya sembari memutar – mutar benang di tangannya membuat dunia si tikus kecil hancur berantakan.
“Waa....tolong....!!!”
“Sialan...., bersabarlah kawan. Bantuan segera datang”
“Hehehe sungguh? Aku ragu, baiklah. Sekarang bagaimana kalau kalian bercerita tentang alasan mengapa menyerang kami” Arya berbicara enteng sebelum menempelkan pisau pada leher tikus tadi.
‘Kapten....malah lebih terlihat seperti peran antagonis di sini’ batin Timothy.
“APA – APAAN!?—”
Teriakan tak percaya itu berasal dari langit, langsung saja kesepuluh Elementalist mengambil sikap siaga. Angin mulai menggerakan daun – daun pepohonan sekitar, diikuti suara kepakan sayap beriringan.
Di tengah kondisi kacau balau tersebut, Werebeast – werebeast tadi mulai menggila. Nampak jelas raut wajah kemenangan dari diri masing – masing mereka.
“Letnan Macow!? Habislah kalian semua dasar penyusup huahahaha”
BUMM!
Werebeast berbadan tinggi besar mendarat di hadapan semuanya, diikuti sekitar sepuluh anak buah bertampang tak kalah sangar. Wujudnya seperti seekor burung dengan bulu tiga warna indah menghiasi tubuh, tatapan tajam dirinya menyapu sekeliling.
“Kalian semua tidak apa – apa?” serunya.
__ADS_1
“Letnan, tolong kami! Penyusup – penyusup ini—“
“Penyusup?! Kalian pikir siapa ka....aaa....?!”
Ekspresi geram langsung digantikan wajah terkejut tepat setelah mata Letnan Macao menemukan siapa yang dimaksud rekan – rekannya sebagai penyusup.
“H..ha..ham...hamba menghadap kepada para Elementalist” ucapnya lirih sambil berlutut dan memberi salam di depan muka Arya.
“Hm?”
“EHH....!??”
------><------
“Jadi....singkatnya seperti itu” Arya menjelaskan rincian kejadian kepada Werebeast bernama Macow tadi.
“Ah...ahaha...aku minta maaf atas kelancangan mereka Tuan, anggota baru anda taulah. Dan untuk kalian bertiga!”
“HIII!??”
Delikan Macow membuat Rattus bersama kedua temannya melompat mundur beberapa langkah, si burung perlahan mendekat seolah siap menyantap mangsa.
“Aku memerintahkan pasukan berjaga di sini untuk menjemput mereka! Bagaimana mungkin kalian malah menganggap bantuan dari Elemental City adalah penyusup dan melakukan serangan?!”
“Ma...mana kami tau, gerak – gerik mereka begitu mencurigakan. Kami pun berpikir agar keselamatan kota terjamin maka—“
“Sudah – sudah, tujuan mereka baik kok. Tolong tenanglah Tuan Burung” kata Arya berusaha menengahi.
Mendengar permintaan Arya, Macow tak punya pilihan selain menurut. Namun ia membuat gerakan seakan berkata ‘aku masih mengawasi kalian’ sebelum menjauh.
“Tuan kami benar – benar minta maaf, sungguh”
“Huum, tak apa. Jika berada di posisi kalian, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama”
“Apa anda....adalah Elementalist Es?”
“Iyap! Hai, namaku Arya. Senang berkenalan dengan kalian”
Ketiganya mulai memperkenalkan diri, si berang – berang bersenjatakan tombak bernama Lutrin. Dia merupakan orang ceria yang suka menghabiskan waktunya berenang di sungai sekitar kota. Kemudian ada Mephi sang sigung gempal.
Hobinya adalah tidur siang, tetapi apabila ada orang mengganggu rutinitas tersebut. Dia akan mengeluarkan jurus kentut busuk sampai suasananya kembali sepi dan nyaman untuk beristirahat, palu besi menggantung gagah pada sisi tubuhnya.
Yang terakhir merupakan satu – satunya orang yang Arya kenal secara tidak langsung, Rattus berperan sebagai seorang penembak jitu. Walaupun memiliki tubuh mungil, dia berkata meleset sudah tidak ada lagi dalam kamusnya.
Demi menambah daya serang, Rattus terakadang menggunakan gabungan – gabungan zat lain seperti bubuk mesiu agar serangan anak panahnya memberikan efek ledakan.
__ADS_1
“Aku tak percaya kita benar – benar bicara dengan putra dari Lyan Frost” ujar Lutrin bersemangat.
“Kalian mengenal ibuku?” Arya bertanya sedikit tertarik.
“Tidak, tapi kami mengaguminya”
Setelah melaporkan semua kejadian kepada markas pusat anggota Pax di Zoonatia, Macow meminta kesepuluh Elementalist berkumpul. Ia memaparkan rencana penyelundupan untuk mereka ke dalam Kota Klouvi.
Dari informasi tersebut Arya mengambil kesimpulan beberapa orang dari kelompok ini akan masuk melalui gerbang sekaligus mengalihkan perhatian para penjaga, sementara Arya dan kawan – kawan masuk lewat jalan rahasia.
Yang lain langsung mempersiapkan diri dengan memakai alat penyamaran milik masing – masing, sedangkan Arya memilih memasang tudung kepala saja sambil berharap identitasnya tidak ketahuan. Lagi – lagi Lutrin, Mephi, dan Rattus semakin merasa bersalah melihat hal itu.
“Jangan terlalu dipikirkan”
“Tetap saja....melihat Tuan kesusahan kami jadi....”
“Begini saja, kalau kalian bisa mengantarku ke tempat gadis manis bertelinga kucing. Kita anggap semuanya tidak pernah terjadi. Bagaimana?” tawar Arya.
“Telinga kucing.....tentu! Di Kota terdapat banyak kafe dan tempat makan yang memperkejakan gadis – gadis seperti itu” ketiga sahabat tersebut menjawab antusias setelah saling memandang satu sama lain cukup lama.
“Sugguh!?”
“Iya, tak kusangka selera Tuan boleh juga”
Di tengah – tengah fantasi indahnya, secara mengejutkan terdengar panggilan kencang penghancur suasana. Arya menoleh dan hampir saja melemparkan pisau kalau gagal menahan diri.
“Kapten....?!”
“Ada apa Tuan berkarat?”
“Hebat sekali....., bagaimana cara kau melakukannya? Wawasanmu benar – benar luar biasa” tanya Timothy masih nampak seperti orang gila.
“Hei tahan sebentar, aku tidak tau kemana arah pembicaraan ini”
“Kodoknya! Makhluk itu benar – benar ada”
“Hah?”
Timothy kemudian menyeret Arya ke tempat banyak orang sudah berkumpul, seekor katak berkepala lancip layaknya topi sihir terlihat duduk diatas tengkorak berlumut disertai jamur liar.
“Lihat ini”
PLAK!
ROARR!
Arya mematung saat melihat kejadian tak masuk akal barusan, Rattus lalu bertanya apa ini pertama kali dirinya bertemu Swindler Frog. Binatang tersebut merupakan salah satu binatang endemik Hieratic Ring Forest.
Dia mampu meniru suara paling mengerikan yang pernah didengar untuk menipu serta mengelabui para predatornya, populasi makhluk ini sangat banyak karena pemangsa sulit menangkapnya.
“Ha...hahaha, aku pikir....sebaiknya dari sekarang harus lebih hati – hati dalam berucap” Arya tertawa hampa sebab tak pernah tau kata – katanya beberapa waktu lalu benar kenyataan.
__ADS_1