Elementalist

Elementalist
Chapter 25 - Identitas


__ADS_3


Eudart hanya diam dan tidak memperdulikan pertanyaan Arya sebelumnya, dia masih berdiri disana tanpa bergerak sedikitpun. Arya tidak berani gegabah untuk melakukan sesuatu, karena ia tahu kalau kemampuannya jauh dibawah Eudart. Bahkan bila dia menggunakan kemampuan pengendalian elemen yang dimilikinya saat ini. Eudart akhirnya berdeham pelan lalu berkata.


"Aku tidak perlu menjawab hal yang sudah jelas seperti itu bukan? Pergilah sebelum aku berubah pikiran, dan untukmu Ivý....."


"Tunggu sebentar, Ivý tidak melakukan kesalahan apapun. Akulah yang memintannya untuk menunjukan jalan ke tempat ini" sanggah Arya segera sambil dengan cepat mendekati Ivý.


Arya lalu menjelaskan bagaimana cara dia bisa meminta pertolongan Ivý melalui Summoner Cube, Eudart mendengarkan dengan seksama, kemudian setelah Arya selesai bercerita ekspresi Eudart berubah. Ia terlihat sedikit bingung.


"Ratu memberimu izin untuk kemari? Apa sebenarnya tujuanmu mencari Pohon Hellig?" ucapnya keheranan.


Arya kemudian dengan sedikit terpaksa menceritakan tentang Ujian Elementalist tahap kedua yang sedang ia jalani, tapi ia sebisa mungkin tidak membahas tentang misi rahasia yang diberikan Astral padanya. Entah kenapa ia merasa cukup riskan untuk memberitahu Eudart tentang hal itu.


"Kau bahkan belum menjadi Elementalist sempurna dan kau sudah berani menginjakkan kaki kemari? Nyalimu boleh juga nak" komentar Eudart sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ratu Diana juga mengatakan hal yang sama" celetuk Arya pelan.


"Jadi kau benar seorang Elementalist Arya? Apakah itu benar? Elementalist sungguhan?" tanya Ivý dengan mata berbinar-binar.


Kemudian untuk mebuktikan hal itu kepada Ivý. Arya dengan gerakan halus membuka tudung mantelnya dan memperlihatkan rambut seputih salju miliknya, mulut Ivý segera menganga dengan lebar seperti baru saja melihat sesuatu yang sangat luar biasa. Ia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


"Rambut ini.....kau benar-benar seorang Elementalist Es?"


Arya hanya tersenyum sambil mengangguk pelan, tapi tidak seperti Ivý yang terlihat kagum saat Arya memperlihatkan rambutnya. Eudart malah mendengus dengan tidak senang lalu dengan ketus berkata "Mungkin Ratu memang memberimu izin kemari, tapi aku sebagai Penjaga tidak akan mengizinkanmu mendapatkan dahan Pohon Hellig"


"Tapi...kenapa?! Bukankah kalian para Elf selalu mematuhi Ratu kalian?" protes Arya.


"Jangan salah sangka bocah, aku disini bukan sebagai seorang Elf. Aku disini sebagai Penjaga yang dipercayakan tugas untuk menjaga Pohon Hellig oleh semua makhluk yang ada di Fairy Forest" jawab Eudart tenang.


Segera saja semangat Arya yang sejak kemarin memuncak dalam dirinya merosot dengan cepat, padahal dia sudah yakin akan bisa menyelesaikan tugasnya disini setelah mendapat restu dari Diana. Tapi ternyata Eudart memilki otoritas yang lebih tinggi di lembah ini sebab dia adalah Penjaga dari Pohon tersebut. Dia merasa sedikit ditipu, pantas saja Diana dengan mudah mengizinkannya datang kemari.


"Cepatlah enyah dari sini sebelum aku menggunakan kekerasan, aku sangat tahu kau itu siapa saat pertama kali melihat penampilanmu" ujar Eudart acuh.


"Bagaimana kau bisa berkata seperti itu? Kau bahkan belum melihatku dengan matamu" balas Arya kesal.


Kemudian Eudart membuka kedua matanya, Arya tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Mata Eudart adalah mata terunik yang pernah ia lihat, mata kanan Eudart berwarna putih seperti tertutup oleh sebuah membran tipis. Sedangkan mata kirinya berwarna hitam seluruhnya tanpa warna lain sedikitpun yang menghiasinya.


"Kau....tidak bisa melihat?" tanya Arya keheranan.


"Kau tidak salah, tapi kau juga tidak benar. Matakulah yang tidak bisa digunakan untuk melihat, tapi aku bisa melihatmu dengan jelas"


Setelah Eudart mengatakan itu tiba-tiba Three-Tailed Owl yang hinggap dibahunya memekik keras dan mengeluarkan cahaya kebiruan dari matanya, Melihat hal itu Arya menyadari bahwa ternyata walaupun Eudart tidak bisa melihat menggunakan matanya. Ia bisa melihat melalui mata sang Three-Tailed Owl.


"Sepertinya kau sudah mengerti, kau cukup lamban dalam berpikir" kritik Eudart.


"Apa maksudmu dengan mengatakan kau tahu aku siapa hanya dengan melihat penampilanku?"


"Karena wajahmu sangat mirip dengan orang yang telah mengambil pengelihatan mata kananku, mungkin hanya mata kalian berdua yang menjadi pembeda" jawab Eudart dengan sedikit kekesalan terdengar dari suaranya.


"Kau mengenal kakekku?" tanya Arya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan bingung.


"Tidak juga, kami hanya kenalan lama yang bertemu di medan perang" jawab Eudart lalu berbalik dan berjalan ke arah pohon besar di tengah lembah.


Arya tidak bisa menahan dorongan dirinya untuk bertanya, lalu dengan cepat berkata "Tunggu sebentar, lalu apa maksudmu dengan mengenal suara langkah kakiku?"


"Bagaimana mungkin aku tidak mengingat suara langkah kaki muridku sendiri" bisiknya pelan tapi Arya bisa mendengarnya dengan jelas.


Arya diam sejenak sambil berusaha mengartikan jawaban dari Eudart, dia tidak mengerti maksud dari perkataan Eudart sebelumnya. Ditengah kebingungannya Ivý terbang mendekatinya lalu berkata dengan serius "Sebaiknya kau segera pergi Arya, aku tidak ingin kau terluka karena tidak mendengar Tuan Eudart"


"Tapi aku masih tidak mengerti" balas Arya sambil masih berpikir dengan keras.


Ivý lalu menghelas nafas dan tersenyum, ia dengan perlahan berbicara agar Arya tidak melewatkan apapun yang ingin dia sampaikan "Kau harus tahu Arya, Tuan Eudart adalah mantan Ksatria Pentagram dua generasi terdahulu. Nama lengkapnya adalah Eudart D'Azuldria"


"Dia berasal dari keluarga Azuldria? Dan dia adalah mantan Ksatria Pentagram?" ulang Arya dengan terkejut.


Arya bergidik pelan mendengar hal itu, dia baru saja bertemu dengan mantan Ksatria Pentagram. Dan dia bisa dengan sangat jelas melihat perbedaan kemampuan mereka, ia tidak bisa membayangkan dirinya akan melawan Ksatria Pentagram generasi saat ini. Tapi ia masih tidak mengerti apa maksud dari kata-kata terakhir Eudart.


Melihat Arya yang masih terlihat kebingungan Ivý segera menjelaskan "Asal kau tahu juga Arya, banyak Elf yang ingin menjadi murid dari Tuan Eudart. Tapi sampai saat ini, ia hanya pernah menerima tiga orang saja sebagai muridnya"


"Hanya tiga orang? Sepanjang hidupnya sampai saat ini?"


"Benar, dan ketiga murid itu bisa dibilang adalah orang-orang paling berpengaruh pada generasi mereka. Yang pertama adalah mantan Ksatria Pentagram generasi sebelumnya, orang yang dijuluki sebagai peracik strategi terbaik sepanjang sejarah ras Elf. Ayah dari Orion dan Eridan, Exynos D'Azuldria"

__ADS_1


"Ayah dari Eridan adalah muridnya?" desis Arya tidak percaya.


"Kau tidak perlu terkejut seperti itu, yang kedua adalah Raja Elf sebelumnya. Ayah dari Nona Alalea, Yang Mulia Sofos D'Azuldria. Dan yang terakhir adalah satu-satunya wanita yang pernah menjadi murid dari Tuan Eudart, orang yang dikenal sebagai Elementalist paling berbakat sepanjang sejarah. Dia adalah ibumu sendiri Arya, Nyonya Lyan Frost.


-----------------------------<<>>-----------------------------


Arya berjalan mendekati Eudart yang sedang duduk dengan posisi bermeditasi di bawah pohon raksasa, Eudart duduk menghadap ke arah pohon sehingga Arya tidak bisa melihat wajahnya. Arya menarik nafas dalam-dalam dan memberanikan diri untuk berbicara.


"Dari perkataanmu sebelumnya aku bisa menyimpulkan bahwa kau tidak menyukai kakekku"


Eudart masih diam seperti tidak mendengar kata-kata yang dilontarkan oleh Arya, Arya sedikit kesal karena diacuhkan. Tapi dia tetap melanjutkan ucapannya "Lalu, mengapa kau menerima ibuku sebagai muridmu?"


"Aku tidak menerimanya menjadi muridku, dialah yang memintaku untuk menjadi gurunya" balas Eudart dengan tenang.


"Tapi kenapa kau menerima permintaan itu? Bukankah kau membenci kakekku? Untuk apa kau menerima permintaan dari putrinya?" tanya Arya lagi.


Eudart tidak menjawab, sekali lagi dia diam dan membisu seolah-olah Arya sudah tidak berada disana dan dia tidak pernah berbicara dengan Arya sebelumnya. Karena merasa Eudart tidak akan mengatakan apapun lagi, Arya berinisiatif untuk berkata "Kalau kau tidak mau memberitahuku alasannya, biarkan aku yang memperjelas hal ini"


Arya sudah memikirkan semuanya dengan matang, dan menurutnya alasan inilah yang paling masuk akal mengapa orang seperti Eudart menerima putri dari musuh yang telah mengambil pengelihatan mata kanannya sebagai murid.


"Kalau tebakanku tidak meleset, alasan kau menerima ibuku sebagai muridmu adalah karena nenekku. Kau melihat sosok nenekku pada Lyan Frost, kau....kau adalah Jenderal yang menjadi tunangan nenekku dimasa lalu bukan?"


Eudart berbalik dan menoleh ke arah Arya dengan mata tertutup, dia terlihat berpikir sejenak lalu dengan lembut berkata.


"Aku tarik lagi ucapanku, ternyata kau tidak terlalu lamban dalam berpikir"


-----------------------------<<>>-----------------------------


"Lalu memangnya setelah kau mengetahui semua hal ini, apa yang akan kau lakukan?" tanya Eudart.


"Aku ingin meminta sesuatu" jawab Arya cepat.


"Sudah kubilang aku tidak akan memberimu dahan----"


"Jadikan aku muridmu"


"Hah?! Apa aku tidak salah dengar?"


Eudart mengangkat sebelah alisnya dengan keheranan, tapi Arya sudah membulatkan tekadnya. Dia yakin ini adalah pilihan terbaik yang bisa dia ambil, dan mungkin saja dia bisa mendapatkan dahan Pohon Hellig jika dia bisa membuat Eudart menjadi gurunya.


"Eh?! Kenapa? Kau mau menerima ibuku sebagai muridmu, apa kau tidak mau menjadikan anak dari muridmu sebagai muridmu?" desak Arya.


"Sudah kubilang untuk dipikirkan lagi bukan? Aku sudah tidak menerima murid lagi. Karena seperti yang kau lihat, aku selalu berakhir dengan kehilangan"


Arya mengerti maksud dari Eudart, ketiga murid Eudart telah meninggal lebih dulu dari dirinya. Dengan kata lain dia merasa mereka mengalami hal itu karena menjadi muridnya, dia merasa bersalah karena kesialan menghampiri mereka dan tidak ingin siapapun lagi mengalami hal yang sama.


"Kalau kau tidak mau menjadikan aku muridmu, ajari aku bagaimana cara menggunakan sihir" kata Arya dengan cepat.


"Sihir? Untuk apa?" tanya Eudart sambil mengerutkan kening.


"Kenapa? Apa tidak bisa?" tanya Arya balik.


"Tentu saja bisa, kau memiliki darah Elf dalam dirimu. Yang aku ingin tahu adalah kenapa kau ingin belajar cara menggunakan sihir"


"Mmm....aku pikir hal itu akan berguna untukku di masa depan" jawab Arya sambil tersenyum.


Eudart menghela nafas panjang lalu berkata "Kau ini sama saja keras kepalanya dengan nenek dan ibumu. Baiklah, aku akan melatihmu cara menggunakan sihir. Tapi dengan syarat"


"Apa itu?" tanya Arya dengan jantung berdetak kencang.


"Pertama, aku hanya akan melatihmu sihir dasar. Kedua, aku akan melatihmu setelah kau bisa menangkap Uil" jawab Eudart sambil mengangkat kedua jarinya.


"Uil?" ulang Arya.



Kemudian dengan cepat sesosok bayangan coklat hinggap ditangan Eudart, sang Three-Tailed Owl menatap Arya dengan mata berwarna coklat. Sepertinya matanya akan berwarna biru ketika Eudart meminjam pengelihatannya, dia memekik pelan sambil memperhatikan Arya dengan seksama. Arya sempat takut kalau Eudart meminta syarat-syarat yang berat seperti lokasi Elemental City dan sebagainya, tapi jika syaratnya hanya ini dia yakin bisa memenuhinya.


"Baiklah, akan kulakukan" seru Arya sambil melepaskan perlengkapannya.


-----------------------------<<>>-----------------------------


Tapi kenyataanya menangkap burung hantu itu tidak semudah perkiraan Arya, burung itu memiliki kecepatan dan refleks yang sangat bagus. Dan pada akhirnya Arya harus menghabiskan waktu tiga hari untuk bisa menangkapnya, dengan cara memanfaatkan kesempatan ketika burung itu lengah saat memakan buruannya.

__ADS_1


Selama tiga hari itu Arya terus menghilang dari subuh hingga petang, tentu saja hal ini menimbulkan pertanyaan dari Eridan dan juga Rena. Tapi mereka tidak pernah sempat bertanya, karena Arya selalu tidur lebih cepat dari mereka berdua dan menghilang sama cepatnya di pagi hari. Mengunjungi Pohon Hellig telah menjadi rutinitas Arya saat ini.


Hari pertama Arya meminta bantuan Ivý lagi untuk mengantarnya ke tempat itu, tetapi hari berikutnya Arya berusaha menemukan tempat itu sendirian. Hal ini mengakibatkan dia tersesat dan berputar-putar ditengah hutan tanpa arah tujuan, dia merasa semua hal yang ada dihutan itu selalu berubah posisi saat ia memalingkan wajahnya walaupun hanya sesaat.


Akhirnya Ivý menjelaskan kalau lembah tersebut diapasangi sebuah formasi sihir kuno yang membuat orang asing tidak bisa menemukannya dengan mudah. Tapi, secara mengejutkan di hari berikutnya Arya bisa menemukan lembah itu tanpa bantuan siapapun, melihat hal ini Ivý mengatakan bahwa sepertinya Pohon Hellig sudah menerima kehadiran Arya.


Eudart juga sudah mulai melatihnya, dia sudah berjanji akan mengajarkan Arya sihir-sihir dasar. Dari penjelasan Eudart Arya akhirnya mengetahui perbedaan sistem penggunaan sihir dari Elf dan Witch, Eudart menjelaskan kalau sihir Elf tidak menggunakan Agnet dari diri sendiri seperti sihir Wicth. Sihir yang digunakan Elf lebih kompleks, karena Elf menyerap Agnet dari alam untuk menggunakan sihir.


Dia juga menjelaskan bahwa Elementalist memiliki keunikan karena mereka memiliki dua aliran Agnet berbeda, tidak seperti ras-ras lainnya yang hanya memiliki satu aliran Agnet. Dengan kata lain Elementalist memiliki tubuh khusus yang dapat menyalurkan Agnet dengan cara yang berbeda, satu aliran digunakan untuk meyalurkan Agnet menjadi kekuatan elemen. Dan satu aliran lagi untuk mengeluarkan kekuatan Agnet.


Lalu Eudart memberikan Arya empat buah perkamen yang berisi sihir-sihir dasar, Arya mengernyitkan dahi setelah melihat isi perkamen tersebut dan bertannya "Bagaimana caranya membaca ini?"


"Kau tidak bisa membaca rune?" tanya Eudart santai.



Arya menggelengkan kepalanya dengan cepat, dia tidak pernah melihat huruf seperti itu selama hidupnya sampai saat ini.


"Kalau begitu belajarlah cara membacanya terlebih dahulu" suruh Eudart.


Dengan kesal Arya segera meminta Eridan untuk mengajarinya cara membaca rune keesokan harinya, Eridan sedikit terkejut melihat Arya yang tiba-tiba tertarik terhadap rune. Walaupun heran. Dia dengan senang hati mengajari Arya membaca, pada dasarnya Eridan memang menyukai hal-hal yang berbau seperti itu.


Arya juga membutuhkan waktu tiga hari untuk belajar membaca rune, dan itu berarti dia sudah menghabiskan waktu hampir satu minggu dan dia belum mendapatkan kemajuan sedikitpun dalam menggunakan sihir. Setelah menguasai cara membaca rune diapun kembali ke lembah dan mulai membuka perkamen pemberian Eudart, masing-masing perkamen berisi satu macam sihir dasar.


Masing-masing sihir itu adalah Protection, Reinforcement, Comers dan Absorption. Penerapan sihir-sihir ini memang tidak serumit yang Arya duga, tapi tetap saja hal itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dia harus belajar cara menyerap Agnet dari alam terlebih dahulu sebelum bisa mempraktikan sihir-sihir tersebut.


Diapun mulai meditasi sambil duduk bersila, dia memejamkan matannya lalu berusaha mengosongkan pikiran. Dari perkamen yang ia baca, Arya tahu bahwa Agnet dari alam dapat dirasakan oleh tubuh Elf dan bisa dimanfaatkan sebagai tenaga tambahan saat bertarung, baru saja dia memulai meditasinya tiba-tiba pundaknya dipukul dengan keras.


"Aww....apa-apaan ini?" tanya Arya kesal sambil menoleh.


Eudart berdiri disana sambil memegang sebuah kayu sepanjang pedang yang biasa dia gunakan, ia terlihat tidak merasa bersalah sedikitpun "Kosongkan pikiranmu" perintahnya.


"Aku sedang berusaha" desis Arya sambil menutup matanya lagi.


Belum lima detik dirinya menutup mata, lagi-lagi dahan kayu itu menghantam bahunya. Terus seperti itu, jadilah seharian penuh dia dipukuli menggunakan dahan kayu oleh Eudart. Untungnya menerima semua pukulan itu ternyata membuahkan hasil, keesokan harinya Arya sudah bisa merasakan sebuah energi berwarna putih yang melayang-layang disekitarnya saat ia memejamkan mata.


Arya terus bermeditasi entah berapa lama, ia sendiri tidak tahu berapa jam yang telah ia gunakan untuk bermeditasi hingga tubuhnya pegal-pegal. Kemudian ia meregangkan tubuhnya sambil membuka mata, betapa terkejut dirinya saat melihat sebuah bola mata hijau balik menatapnya saat ia membuka mata.


"Ahh....maafkan aku, apa kami mengganggu latihanmu?"


Arya tidak segera menjawab, dia tidak tahu harus berkata apa. Didepanya berdiri seorang perempuan dengan tubuh berwarna kehijauan, tubuhnya seperti terbentuk dari dedaunan dan rambutnya terbuat dari sulur-sulur tanaman. Sedangkan kakinya berupa akar yang menancap pada tanah, dia tersenyum hangat pada Arya. Tiba-tiba seekor Pixie laki-laki muncul disudut pengelihatan mata Arya.



"Wah dia benar-benar seorang Elementalist"


"Sudah aku bilang bukan?" seru Ivý sambil muncul disisi lain kepala Arya.


Arya masih belum berbicara, matanya masih terpaku kepada tubuh sang perempuan hijau yang berada dihadapannya. Hal itu terjadi sampai pada akhirnya kata-kata Ivý menyadarkannya.


"Sampai kapan kau akan memperhatikan tubuh Leafa seperti itu? Apa kau begitu tertarik dengan tubuh Druid" bisik Ivý ditelinga Arya dengan nada geli.


"B...bu..bukan seperti itu, aku hanya terkejut. Maafkan aku" ucap Arya cepat sambil menundukkan kepala pada Leafa.


Leafa hanya memiringkan kepalanya dengan wajah yang terlihat bingung, tanpa Arya sadari saat dia bermeditasi untuk mengumpulkan Agnet dari alam. Para Pixie,Druid, dan pohon kehidupan berkumpul mengelilingi dirinya. Mereka semua terlihat tertarik padanya, bahkan para pohon kehidupan bergoyang-goyang seakan-akan bertanya makhluk apa yang sedang berada dihadapan mereka.


Lalu beberapa saat setelah Arya berbincang-bincang dengan mereka semua, Eudart mendekat dan dengan santai menyuruh Arya untuk membawa Rena ke tempat ini. Tentu saja Arya tidak bisa menahan diri untuk bertanya alasan Eudart ingin dirinya membawa Rena ke tempat ini, tapi dia tidak menjawab dan hanya berjalan kembali untuk bermeditasi dibawah pohon raksasa.


-----------------------------<<>>-----------------------------


Malam harinya Arya memberitahukan kepada Rena tentang hal tersebut, pada awalnya Rena sangat antusias saat Arya memberitahunya bahwa dia telah menemukan Pohon Hellig, tapi semangatnya segera merosot setelah tahu kalau ternyata mereka tidak diizinkan untuk mengambil dahan pohon tersebut. Lalu mereka berdua setuju untuk pergi pada keesokan harinya.


"Mmm....Arya? Kau yakin ini jalannya?" tanya Rena ragu setelah Arya membingbingnya ke arah pepohonan yang rindang.


Arya hanya menanggapi pertanyaan Rena dengan bersiul pelan, ia bisa dibilang sudah hafal jalan menujut tempat itu. Beberapa menit kemudian mereka pun sampai dan ekspresi Rena tidak jauh berbeda dengan ekspresi Arya saat pertama kali datang ke tempat itu, kekaguman saat tergambar jelas diwajahnya.


Ketika mereka tiba, mereka segera disambut oleh para Pixie, Druid, dan pohon kehidupan. Mereka segera mengelilingi Rena dengan antusias, dan tanpa Arya duga. Ternyata Rena dapat dengan cepat merasa nyaman dan akrab dengan semuanya. Hal ini membuat Arya merasa terkucilkan, yang lebih membuatnya kesal adalah sikap Eudart yang sangat jauh berbeda saat bertemu dengan Rena.


Dia membungkuk dengan hormat dan berbicara lemah lembut pada Rena, melihat hal itu Arya hanya bisa mendengus dan menjauh. Ia segera duduk dalam posisi meditasi seperti biasanya, tapi kemudian ia melihat si burung hantu coklat melihatnya dengan tatapan meremehkan. Aryapun segera mengambil batu yang ada disebelahnya dan melemparkannya.


Dengan cepat burung hantu menyebalkan itu mengibaskan salah satu bulu ekor panjangnya dan meyebabkan batu yang Arya lempar berbalik ke arahnya, karena tidak menduga akan menerima serangan balik Arya terpaksa rela kepalanya terkena batu yang ia lempar sendiri.


"Sebaiknya kau hati-hati, kemampuan sihir Uil jauh diatasmu" ejek Eudart.

__ADS_1


"Berisik!"


__ADS_2