
Ketiga bersaudara pimpinan Faksi Laut Werebeast terpencar akibat sihir luar biasa Diondra, Shayu, Balaeno, dan Wanio berhasil menghindari serangan barusan dengan mulus. Namun kekacauan pecah di markas tersebut.
Pasir dasar laut mulai membumbung tinggi membuat jarak pandang mereka semakin terbatas. Belum lagi pasukan yang kocar – kacir kesana kemari mencari posisi aman, rubuhnya kapal raksasa menambah tingkat kekhawatiran masing – masing.
“SEMUANYA HARAP TENANG!!!” teriakan Shayu menggelegar menuju segala penjuru dengan bantuan Agnet miliknya.
Namun tak satupun anggota mendengarkan karena terlalu sibuk menyelamatkan diri, dia menggertakan gigi kesal kemudian memutuskan berkumpul terlebih dahulu bersama kedua adiknya agar dapat mengorganisir para anak buah.
Berbekal kemampuan sensorik hebat, tidak membutuhkan waktu lama bagi Shayu menemukan Balaeno serta Wanio. Raut wajah dua saudara angkatnya itu tegang, sulit dipercaya rencana awal untuk mengurangi kekuatan Atlantos malah membawa malapetaka.
“Harusnya kita lebih hati – hati” Balaeno menggelengkan kepala.
“Ini bukan salah siapapun” kata Shayu menegaskan.
“Kakak pertama benar, siapa sangka kalau si Putri Sulung akan membangkitkan kemampuannya barusan. Semua informasi ras Witch bisa saja palsu” Wanio menggeram.
“Dimana bocah es tersebut?”
“Maafkan aku, ia kabur dariku memanfaatkan kerusuhan sebelumnya. Bahkan borgol pengekang Agnet layaknya Imperium Restrain dipastikan hancur terkena sihir tadi”
“Kalau begitu kita harus menangkap mereka sebelum terlambat, aku yakin ketiganya belum jauh” perintah Shayu tegas.
“Tidak perlu....”
Baru saja Balaeno dan Wanio mengangguk, Diondra muncul entah dari mana. Matanya masih menyala terang, melihat kedatangannya ketiga Mytichal Werebeast memasang sikap siaga. Kekuatan yang terpancar melalui tubuh Diondra sangat mengintimidasi.
“Blue Witch!?”
“Salah satu tujuan kalian kemari adalah mencariku bukan? Sekarang aku datang dengan suka rela” suara Diondra terdengar saling tindih, seolah ada ribuan orang bicara bersamaan.
“Heh!? Tangkapan besar! Akan kami serahkan kau kepada penyihir – penyihir tua Magihavoc!”
“Hihihi....huahahaha....lucu sekali....”
BAM!!!
Diondra menghantamkan ujung payung birunya ke dasar laut, dalam sekejap air disekitar mereka berputar cepat membentuk dinding. Tidak membiarkan satupun keluar, Balaeno mencoba menerobos tapi langsung terdorong mundur.
Nampak kulit tebalnya mengeluarkan darah merah segar, menandakan kalau badannya terkikis oleh kencangnya arus. Ketiganya segera mengeluarkan senjata siap bertarung, senyum Diondra kian melebar penuh makna tetapi saat bicara nadanya teramat dingin.
“Kalian berani memukulnya....kubuat kalian mendapat balasan berkali – kali lipat. Aku ingin lihat seberapa kuat ikan – ikan mungil ini, majulah”
------><------
Ocean Eel Eater memutuskan meninggalkan Nigrum Ocean setelah dipermalukan oleh sesosok Werewolf ganas nan mengerikan. Dia memlih pulang menuju Central Ocean berharap menemukan lokasi perburuan baru.
__ADS_1
Kehidupannya cukup menyenangkan beberapa waktu terakhir, banyak Penghuni Laut Dalam lain disekitar sehingga dirinya tidak kesepian. Meski hidupnya sudah tak semenarik dulu saat meminta korban dari kapal – kapal yang lewat.
Saat Ocean Eel Eater mulai merasa nyaman, datang para pengganggu. Faksi Laut Werebeast, manusia – manusia setengah ikan tersebut membuatnya murka karena menyerang teman – temannya juga berusaha mengusir mereka dari sarang.
Tentu saja Sang Belut Raksasa tak tinggal diam, setan – setan itu pikir ia siapa? Selama puluhan tahun Nigrum Ocean selalu menjadi momok mengerikan akibat keberadaanya, segilintir makhluk jadi – jadian bukanlah suatu masalah baginya.
Begitulah pikirnya sampai hari itu tiba, kelakuan Faksi Laut tambah brutal nan sulit ditolerir. Akhirnya dia keluar lubang persembunyian lalu menghabisi tiap Werebeast yang ditemuinya, tetapi ditengah kegiatan mengasyikan tersebut tubuh panjangnya tiba – tiba membeku setelah melihat seseorang.
Senyum khasnya menyadarkan Ocean Eel Eater, ia yakin sekali jika pria dihadapanya adalah Werewolf mengerikan dulu. Namun sekarang penampilannya sedikit berbeda sebab nampak lebih mirip wujud manusia ikan disekitarnya.
Satu alasan mengapa belut hitam ini ragu menyerang, Agnet tubuh bocah ini tidak mungkin pernah dirinya lupakan. Si anak laki – laki berambut putih berenang mendekat, menyebabkan sekujur tubuh Ocean Eel Eater menggigil ketakutan.
“Yosh....yosh makhluk pintar....kau masih mengigatku rupanya” Arya mengelus kepalanya lembut.
“T...Tu...Tuan....aku sudah tak melakukannya lagi! Ampuni aku” pasukan Werebeast saling menatap bingung melihat Penghuni Laut Dalam begitu patuh pada orang tersebut.
“Hmm....? Tentu, makanya kau berada disini dan bukan di Nigrum Ocean lagi bukan?”
“Benar, jadi mengapa anda datang kemari?” tanya Ocean Eel Eater lebih tenang menyadari kalau Arya tidak berniat menghantam wajahnya menggunakan lutut.
“Kau keberatan?” Arya mengangkat sebelah alis.
“Mana berani aku Tuan!”
“Heh...ada sedikit urusan, seperti kau lihat. Kita mempunyai musuh sama kali ini, bersediakah kau membantuku tuk mengusir mereka?”
“Jika kau tidak mau, aku dan teman – temanku bisa mempertimbangkan menikmati daging belut bakar sebagai makan malam”
“Tunggu apa lagi Tuan, naiklah ke kepalaku!” ujarnya buru – buru takut Arya berubah pikiran.
“Hihihi pilihan bijak”
Selesai Arya duduk manis, Ocean Eel Eater mulai menggila mengikuti perintahnya untuk menghabisi Werebeast sebanyak yang ia bisa. Telat menyadari datangnya bahaya, mereka tewas dimakan atau terkena sabetan cepat ekor Ocean Eel Eater.
“Kau punya nama?”
“Orang – orang biasa memanggilku Ocean Eel Eater”
“Itu jenismu, bagaimana kalau kuberi satu?”
“Tentu, dengan senang hati”
“Mmm....mari lihat....Ecuxor? Terdengar bagus untukmu?”
“Luar biasa Tuan”
“Syukurlah, ayo Exucor. Ke arah Barat Daya! Sepertinya aku mendapat tunggangan bagus di sini hihihi....” Arya tertawa sembari menunjuk tempat tujuan keduanya.
__ADS_1
------><------
‘Kau baik – baik saja?’
‘Apa nampak begitu dimatamu!?’
Sedang terjadi pergolakan hebat dalam tubuh Diondra, durasi pertukaran posisi mereka hampir mencapai batas. Semua akibat tidak pernah mau bekerja sama sejak dahulu. Membuat sinergi diantara Diondra dan salah satu Miracle Iris Catra tidak stabil.
“Jangan berhenti, kekuatannya sudah hampir habis” seru Shayu semangat.
Meski mengalami luka cukup berat, ketiga bersaudara masih mampu bertarung. Diondra berdecak kesal, cahaya mulai meredup dari matanya. Kemudian menghilangnya dinding air semakin meyakinkan musuh kalau riwayatmya sudah tamat.
BRUAK! JGER! BRR!
Ketika hendak menyerang, keributan mengalihkan perhatian mereka. Shayu, Balaeno, maupun Wanio melongo menyaksikan seekor belut raksasa menerjang tepat menuju lokasi masing – masing berada.
Sambil mengumpat keras, ketiganya berpencar sekali lagi. Barulah disana mereka menyadari ada seseorang duduk santai diatas kepala makhluk barusan, dia sigap mengevakuasi Diondra sebelum satupun sempat bereaksi.
Sang Putri Sulung Atlantos yang lemas cuma dapat rela diangkut secara paksa, waktu membuka matalah dirinya mengenali sosok tersebut. Arya tersenyum terus mengucapkan selamat pagi kepadanya.
Ocean Eel Eater membawa Arya dan Diondra cukup jauh baru menurunkan keduanya, Diondra mengusap – usap matanya untuk memastikan tidak tengah bermimpi.
“Arya?”
“Yo? Kau baik – baik saja? Terima kasih sudah menolong kami”
“B..ba..bagaimana kau....” Diondra melirik ngeri binatang hitam perkasa didekatnya.
“Ceritanya panjang, nanti aku jelas—“
TUT....!!! TUTUTUT!!!
“Hmm sepertinya telah datang” Arya melirik sumber suara berasal.
“Itu....bunyi terompet perang Atlantos!!!”
Author Note :
Tak disangka waktu pendaftaran lomba You Are Writer Season 3 tinggal sebentar lagi, yang belum mampir ke The Rebirth of Ice Emperor silahkan dicoba baca terlebih dahulu. Ceritanya tidak kalah menarik dari Elementalist, dan pada titik tertentu kelak. Entah kapan, ada kemungkinan Arya Frost dan Bing Lian akan bertemu bersama beberapa bintang utama cerita lain yang saya buat. Jadi jangan dilewatin ya, Terima kasih (Untuk yg masih nanya update silahkan lihat CHAPTER 190 - KONDISI KHUSUS, siapa tau mata kalian bermasalah).
^^^
__ADS_1
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.