Elementalist

Elementalist
Chapter 296 - Mahaguru


__ADS_3

WUSH! WUSH! WUSH!


Suara kepakan sayap mengiringi gerakan seekor burung hantu berwarna cokelat dengan ekor panjang melayang rendah menuju sang tuan, ia mendarat mulus pada pundak elf pria tersebut sebelum memekik keras sambil mengeluarkan cahaya biru melalui mata ketiga sekitar dahinya.


“Uil? Apa kau melihatnya? Demon, Witch, Elf, Werebeast, dan Manusia berada di suatu tempat sama. Saling berinteraksi satu sama lain” gumam Eudart pelan.


Dia menghadap ke arah perkemahan yang baru saja terbentuk dari para pengungsi Elemental City bawaan Eridan, sebuah tanah lapang cukup luas telah ditetapkan sebagai tempat bermukim mereka selama di sana oleh perintah Diana. Eudart segera bergerak mengarahkan orang – orang itu secepat dirinya bisa.


Hanya ada suara angin berhembus ketika Eudart menikmati pemandangan tadi berbekal bantuan pengelihatan Uil, meski tidak menggunakan matanya sendiri Eudart merasakan haru dan tanpa sadar meneteskan air mata karena mengingat dua perempuan berwajah mirip dalam benaknya.


‘Hey Eudart? Ayah selalu mengajarkan kami untuk bersikap lemah lembut, tapi kenapa ia memerintahkan kalian berperang?’


‘Raja ingin melindungi anda sekalian, sebab kita tidak pernah tau apa isi pikiran jahat para ras lainnya’


‘Sungguh? Jadi jika mereka ingin berteman, apakah kita boleh hidup berdampingan dengan semuanya?”


‘Itu....saya juga tidak tau Putri Unia....”


‘Master? Setelah kemari tekadku akhirnya sudah bulat’


‘Aku tidak ingin mendengar ocehan konyolmu lagi Lyan’


‘Jahatnya....ini serius, aku mempunyai sebuah mimpi’


‘Tentang?’


‘Menciptakan dunia di mana setiap ras bisa hidup berdampingan! Hahahahaha’


Uil mendengkur kemudian mengeluskan lembut kepalanya kepada pipi Eudart terus memaksa elf buta tersebut tersadar dari lamunannya. Dia lalu tersenyum tipis sebelum membalas perlakuan Uil penuh sayang, berterimakasih telah mengingatkannya akan kenyataan.


“Bocah tengik itu....nampaknya berhasil membuat langkah awal demi tercapainya impian dua wanita yang aku cintai....”


“Tuan Eudart....”


“Hmm? Kaukan....”


“Mohon maafkan kelancangan saya ini....hiks....saya tidak seberbakat Kak Orion, tetapi....sudikah anda mengangkat saya sebagai murid! Hiks....saya....tak tau harus pergi ke siapa lagi....” Eridan bersujud di hadapannya dengan badan gemetar hebat.


“Angkat kepalamu, ikuti aku....”

__ADS_1


Eudart cuma berkata demikian sebelum berjalan pergi menuju arah Pohon Hellig, Eridan mengekor lesu di belakangnya. Ekspresinya sangat muram mengingat semua beban pikiran serta rasa bersalah yang menimpanya kemarin.


“Sepertinya memang sudah waktunya, aku sempat mengajar Alalea sangat masih kecil. Terus beberapa tahun lalu aku juga melatih Arya, dan akhirnya gilirianmu tiba. Hah....siapa sangka aku akan menjadi guru dari putra putri murid – muridku, takdir sungguh aneh” kata Eudart menghela napas.


“Jadi maksudnya....anda bersedia?”


“Kenapa terkejut begitu? Kau berharap ditolak?”


“T...ti...tidak Tuan! H..ha...hanya saja....”


Keduanya sampai di bawah rindangnya pohon suci ras Elf, Eudart langsung duduk pada batu besar favoritnya santai. Dia memaklumi keheranan Eridan, Eudart dikenal sangat sulit mengambil murid. Banyak sekali yang ingin dilatih olehnya namun selalu mendapat penolakan, bahkan para Ksatria Pentagram generasi sekarang sekalipun.


“Eridan? Apa kau tau alasan aku menolak melatih Orion dan malah memilihmu?”


Eridan menatapnya bengong kemudian menggelengkan kepala, Eudart terus menjelaskan kalau kakaknya terlalu hidup dibalik bayang – bayang kehebatan ayah mereka. Itulah mengapa ia mempunyai ambisi besar untuk melampauinya.


“Sayangnya alasan tersebut bukanlah hal tepat untuk menjadi kuat, dan tidak cocok dengan harapanku....”


“Memangnya apa yang anda lihat dalam diri saya dan tidak ada pada kak Orion?” Eridan menyeletuk pelan.


“Ketiga muridku mempunyai masing – masing ciri khas. Sofos ketekunan, Lyan kegigihan, dan Exynos loyalitas atau kesetiaan. Alasanmu ingin bertambah kuat adalah membantu teman – temanmu terutama Arya serta Alalea bukan?”


“Benar....”



><


CIP! CIP! KUKUKU!


Arya perlahan membuka matanya usai gempuran kicauan merdu burung menggedor gendang telinganya, hal pertama yang ia lihat adalah kilau sinar matahari menembus celah - celah daun pepohonan di tengah hutan belantara entah pukul berapa.


Dalam sepersekian detik seluruh ingatannya kembali dan membuatnya tidak mampu menahan tangis, terlebih setelah terpisah dengan rekan – rekannya. Ketika tangan hitam misterius tersebut menariknya menuju lubang hitam waktu itu, Arya mendapat pengelihatan tentang nasip orang – orang terdekatnya.


Satu demi satu gambaran seperti tubuh lunglai para Pengawas Ujian laki – laki, Jenderal Macow, serta anggota – anggota Pax yang berguguran seolah dijejalkan ke dalam benaknya. Penampakan Ali tengah sekarat berusaha kabur menyelamatkan diri, kondisi kacau di seluruh penjuru dunia. Perang menghiasi kemanapun kaki melangkah.


Ditambah hal paling menyesakkan adalah sekelebatan suasana suram tiga sel penjara terdalam di mana ada sosok gadis babak belur yang tangannya masing – masing dirantai ke langit - langit. Walaupun demikian, sorot mata mereka tetap menyala terang karena tau hari pertemuan itu akan segera tiba cepat atau lambat.


“Sedang apa aku ini sebenarnya? Aku tidak punya waktu menyesali takdir....” ujar Arya buru – buru mengusap air matanya kemudian mengambil posisi duduk, dia langsung tertegun akibat jeritan protes otot maupun tulangnya.

__ADS_1


“Sudah selesai? Lepaskan saja semuanya, dikala seorang laki – laki memperlihatkan tangisannya berarti ia tengah dalam posisi paling terpuruk dalam hidupnya. Apalagi dihadapan orang asing, kau bahkan tidak memperhatikan sekitar sampai tidak menyadari kehadiranku”


Arya menoleh terus mendapati pria tua dengan rambut dan janggut panjang berwarna putih bersandar pada dahan pohon hanya beberapa meter dari posisinya sebelumnya terbaring. Penampilannya berantakan layaknya gelandangan namun anehnya kulitnya bersih pertanda terurus.



Terdapat sebuah tato menutupi hampir seluruh tangan kanannya, barulah Arya tersadar ternyata asal kicauan ramai burung yang membangunkannya berasal dari situ. Puluhan burung bermain mengelilingnya bahkan hinggap ke beberapa bagian tubuh orang tersebut.


“Siapa....kau?”


“Pfft!? Huahahaha! Untuk bocah yang tidak sadarkan diri selama satu minggu pertanyaanmu sangat klise”


“Hah—UHUK! UHUK! UHUK! OEK....?!!”


Seketika waktu Arya mencoba bangkit berdiri tiap inci tubuhnya merasakannya nyeri hebat sampai dia kehilangaan keseimbangan dan tersungkur ke tanah dengan posisi sujud, batuknya tidak dapat berhenti seolah memaksa untuk mengeluarkan semua organ – organ dalam miliknya.


‘Inikah....efek samping yang dikatakan Ten?’


“Tak mengherankan sih kalau kau tumbang, tubuhmu mengistirahatkan diri secara paksa selama seminggu usai melewati keadaan hidup mati. Dan selama itu juga tidak ada asupan makanan atau minuman yang masuk” pria tua tersebut mendekat sebelum mengeluarkan beberapa buah serta seguci air dari balik jubahnya.


Sambil berusaha mengontrol batuknya, Arya merangkak pelan untuk menggapai sumber tenaga tadi namun saat dia menjulurkan tangan ada sensasi seperti menembus sesuatu. Detik berikutnya Arya berteriak kesakitan akibat kulitnya melepuh hebat.


“ARGHH....!!!”


“Eh....ternyata benar, badanmu masih tidak biasa terkena udara tempat ini. Pelindung tipis yang mengelilingimu adalah ciptaanku. Keadaan di dalamnya telah disesuaikan dengan kondisimu....”


“Apa....maksudnya? Sebenarnya tempat macam apa ini?”


“Harusnya aku yang bertanya mengapa kau kemari pendatang baru? Terlihat jelas kalau kau bukan berasal dari dunia ini, sekarang mari cari tau apakah aku boleh membiarkanmu hidup atau harus menghabisimu sekarang juga....” celetuk si orang tua santai.


Author Note :


Reminder :


Sofos D'Azuldria : Raja Elf sebelumnya/ Raja terakhir pilihan Pohon Hellig sekaligus Ayah Alalea


Lyan Frost : Elementalist Es Generasi Sebelumnya sekaligus Ibu Arya


Exynos D'Azuldria : Ksatria Pentagram Keluarga Azuldria Terdahulu sekaligus Ayah dari Orion dan Eridan

__ADS_1


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.


__ADS_2