
“Woaahhh....jadi begini rasanya.....tubuhku benar – benar seringan kapas.....” ujar Timothy mengamati sekujur lengannya.
“Energi yang sangat luar biasa....” Zayn menanggapi.
“Itu belum seberapa jika dibandingkan kalian memasukinya sendiri, terlebih kalau menerapkan seratus persen kekuatan kalian mungkin akan merasa bisa melakukan apa saja....” kata Arya menjelaskan.
“Mohon maaf ya para laki – laki tidak berguna!? Tetapi bisakah kita fokus dulu sebentar....?” Asuna memanggil dengan nada sindiran terdengar jelas.
“SIAP NYONYA!?” sahut empat lainnya buru – buru.
“Terima kasih atas sanjungan kasarnya....” Arya menggerutu sebelum menghela napas panjang.
Konsentrasi masing – masing kembali tertuju ke medan perang, setiap Elementalist mengendalikan golem mereka demi meghadapi serbuan pasukan Fatum. Perlahan namun pasti gelombang musuh terdorong mundur menjauhi tembok perunggu berkat perlawanan sengit tersebut, sayangnya tak berselang lama bala bantuan berdatangan dan lagi – lagi mengakibatkan kondisi kembali seperti sedia kala.
“Kita kalah jumlah!” teriak Timothy usai menghentikan hujan anak panah menggunakan kemampuanya.
SYUUU....!!!
Belum sempat ada yang memberikan respon, entah dari mana beberapa kelompok campuran Undead maupun Zombie terlempar tepat menuju lokasi kesepuluhnya berada. Tubuh – tubuh membusuk penuh nanah barusan langsung hancur berkeping – keping ketika menabrak dinding cahaya Elizabeth.
“Kau tak perlu mengucapkannya Sherlock?! Kami juga punya mata!? Eww...menjijikan!?”
“Mereka dilontarkan kemari menggunakan apa?” Rena mundur lima langkah sedikit takut.
“Sejenis ketapel rakitan raksasa dua puluh lima kilometer di arah jam dua serta sebelas....” timpal Arya menyipitkan mata.
Saat masih berusaha memikirkan jalan keluar, rentetan sinar berwarna – warni mulai ditembakan tanpa henti ke mereka. Tanpa pikir panjang Ali bersama Kevin menciptakan lapisan pasir berselimut listrik tekanan tinggi agar semuanya aman dari ancaman sihir – sihir mematikan tersebut.
“Kapten?! Perintahmu?!” desak keduanya panik.
“Baiklah – baiklah, sepertinya kita memang harus melakukan sesuatu. Lexa? Benda – benda terkutuk di sana bagianmu ya”
“Okey dokey!” Lexa menyahut sembari mengacungkan jempol.
Arya mengeluarkan tongkat sihirnya terus merapalkan mantra Barrier sekitar sana supaya menggantikan peran melindungi yang lain, pada waktu bersamaan makhluk – makhluk bersayap entah itu Werebeast maupun Demon hampir tiba dihadapan mereka.
Tapi harapan semuanya langsung pupus karena ratusan tangan panjang berwarna hitam hampir serupa bayangan tumbuh dari bawah tanah menarik semuanya kembali menuju medan perang, Zayn menggerakan jarinya lalu bicara lirih, ”Unlimited Abyssal Hand”.
Menyusul tindakan barusan, Selena mulai memutar – mutar dua lengannya dalam tempo yang kian bertambah cepat. Tentara – tentara Fatum terlambat menyadari genangan air sepinggang mengelilingi masing – masing akibat fokus menghancurkan para golem. Ketika akhirnya teriakan peringatan mulai berkumandang, hantaran listrik kekuningan ribuan volt menjalar begitu cepat melalui hentakan kaki Kevin di puncak dinding.
Cahaya terang menyilaukan terlihat sebentar sewaktu sengatan pertama terjadi, tubuh mereka kaku tak berdaya dibuatnya. Namun penderitaan belum selesai, Selena sekali lagi mengangkat tangannya kemudian mengakibatkan banyak sekali pasukan terseret air ke udara.
__ADS_1
Tepat sebelum jatuh, Arya menghembuskan napas sehingga angin dingin menghantam ombak ciptaan Selena dan membeku seketika. Dalam sekejap sebuah gunung es raksasa berdiri megah dekat tembok terluar Elemental City.
“MUNDUR!!!” seru anggota lawan yang masih selamat.
“Prisoner Garden!” Rena sigap memukulkan tongkatnya menuju pijakkan.
Usaha kabur pasukan tersisa hanya sebatas angan – angan karena berbagai macam sulur tanaman juga dahan pohon menjerat anggota badan mereka. Semua berusaha berontak melepaskan diri putus asa kemudian Asuna menyatukan jari telunjuk serta tengahnya, dia meniup ujungnya pelan layaknya lilin sebelum mengibaskannya.
“Neppa....”
Aura kemerahan menyebar tanpa ampun di udara layaknya virus, setiap tanaman yang dilewatinya hangus terpapar teknik tersebut. Bahkan penghuni gabungan kamp Fatum dapat merasakan hawa panas menyengat menerpa wajah masing – masing.
“Berhasil?” celetuk Timothy pelan.
“Belum, kelompok bangkai disitu nampaknya hendak beregenerasi” Arya menunjuk lokasi onggokan daging para Zombie dan Undead.
“Serahkan sisanya padaku, Holy Judgment!” ujar Elizabeth menjentikan jarinya.
Langsung saja terbentuk barisan pedang cahaya teramat banyak di atas kepala sepuluh Elementalist, hanya butuh satu ayunan tangan Elizabeth semuanya melesat seakan burung kelaparan mengincar mangsanya.
“Wow....kalau aku sekarang berada di posisi mereka. Aku akan berlari pulang, mengunci pintu kamar, dan bersembunyi dibalik selimutku” Timothy mengangguk syahdu.
“Kalau dirimu mungkin, sayangnya lawan kita bukan—“
“Sampah masyarakat....” sambung Asuna, Elizabeth, juga Lexa bersamaan.
“Hey!? Aku dengar ucapan kalian barusan!?
“Ahahaha....nyatanya jumlah musuh jujur masih sama saja menurutku, tetapi setidaknya sekarang dengan begini kita bisa ikut turun ke medan perang....” Arya tersenyum lalu melangkahkan kaki menuju udara kosong disusul yang lain, para Elementalist mendarat nyaman dikelilingi golem kemudian bersama – sama menatap lautan gelombang pertama musuh.
------><------
GRAB!
“BRENGSEK!? Aku mau bekerja sama agar menang! Bukan untuk melihat bangsaku dibantai sialan!!!” raung Moona menarik kerah baju Louis penuh amarah.
Petinggi – petinggi lain cuma terdiam melihat kejadian tadi, namun jauh dalam hati terdalam mereka setuju atas pendapat Wrath Sins. Terutama ras Werebeast dan Demon yang jumlah korbannya paling banyak berguguran, sedangkan Manusia, Witch, serta Elf kekuatannya masih lengkap akibat hanya memanfaatkan boneka – boneka layaknya Mutant maupun Undead.
__ADS_1
“Kau terlalu berlebihan”
“TUTUP MULUTMU! KAU PIKIR PUNYA HAK BICARA?! ORANG – ORANGMU SAMA SEKALI TIDAK AMBIL ANDIL SEDIKITPUN TELINGA PANJANG!?”
“Oke....aku salah, sejak awal aku sudah bilang banyak keputusanku mungkin menyebalkan bukan?” Orion mengangkat kedua tanganya tanpa raut penyesalan.
“Lepaskan tanganmu....” desis Mira dingin.
“Hah!?”
“Kubilang—“
“Cukup, biarkan saja. Apa yang kau harapkan Moona? Ini perang....” Louis masih bersikap santai.
“Jadi maksudmu?! Wajar kalau—“
“Benar”
“Kepa—“
Kris ditemani Skullcrow berhasil menghentikan Moona mengayunkan tinjunya tepat waktu sebelum menyeretnya mundur, sang Werewolf mencoba lepas namun pegangan kedua orang tersebut cukup kencang. Louis bangkit lalu merapikan pakaiannya terus berkata datar, “Lagi pula kita hanya mengirim pasukan tingkat rendah, ekspektasimu terlalu tinggi....”.
“Kau bisa bicara demikian sebab belum ada anak buahmu jadi abu” cibir Garyu sinis.
“Halo? Kami adalah makhluk paling lemah di sini ingat? Mengapa kalian setuju bekerja sama kalau begitu? Apa aku pernah menjanjikan tidak akan terdapat korban dalam pertempuran ini?”
Semua terdiam mendengar pertanyaan Louis, seluruh ucapannya tepat sasaran. Dari segi apapun jelas sekali Manusia merupakan kelompok paling rendah kualitasnya terlepas fakta pembentuk Fatum berasal dari mereka, itulah mengapa empat ras lain setuju tak menganggap Louis serta kelompoknya ancaman berarti. Namun melihat kelihaian, kecerdikan, dan sekilas kekuatan anggota Vanguard sedikit menyadarkan masing – masing kalau pikiran barusan salah total.
“Selanjutnya bagaimana? Kau mau mengirim para Titan eh?” Merlin menguap cuek.
“Belum saatnya kita menurunkan mereka....”
“Hihihi....aku punya sebuah ide menarik” gumam Kris terkikik geli.
“Katakanlah....”
“Bagaimana kalau kita masing – masing mengirim satu perwakilan yang levelnya diatas pasukan sekarang?”
Author Note :
熱波 = Neppa = Heat Wave
__ADS_1
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.