
Arya menyadari sinar gemerlap dihadapanya adalah cahaya bintang yang menerangi langit malam, ia bangun dari posisi berbaring sambil berusaha memahami situasi. Sebuah padang rumput luas membentang mengelilinginya, tapi selain itu. hanya ada kekosongan.
Lamunan Arya pecah sewaktu gerombolan kupu – kupu terbang disekitar tubuhnya, seakan menyapa lembut sang anak laki – laki. Perlahan posisi kawanan serangga tersebut mulai tergantikan oleh gelembung – gelembung cantik.
“Eh?”
Penasaran asalnya, dia pun menoleh. Seorang gadis berambut pirang tengah asyik meniup cairan yang menghasilkan benda tadi berbekal tangan sebagai alatnya, Arya menyadari busananya seperti para wanita pemerah susu sapi pada cerita – cerita dongeng pengantar tidur.
“Halo....senang melihatmu baik – baik saja, Citrea kangen lho....” kata si gadis mendekat kemudian berjongkok dihadapan Arya.
“Citrea?”
“Kamu lupa? Jahatnya....”
“Maaf, tetapi....aku tidak mengenal siapapun dengan nama begitu” Arya menjawab jujur.
“Hmm....mau bagaimana lagi?”
Tanganya lembut mengelus dahi Arya, wajah Citrea berubah cerah. Matanya berbinar – binar senang, keduanya terus seperti ini beberapa waktu. Karena merasa tak kunjung selesai, akhirnya Arya berdeham agar Citrea berhenti.
“Kenapa kau terus melakukannya?” tanya Arya penasaran.
“Memastikan sesuatu.....wahhh.....kamu sudah bertemu Kak Aura dan Kak Fraga rupanya....hehehe”
“Hah? Tunggu sebentar, bukannya—“
“Citrea adalah adik mereka juga anak ketiga, syukurlah urutanya nampak benar. Citrea tak terlambat” sigap perempuan imut itu merangkul badan Arya.
“Hey!? Kok tba – tiba–“
“Ahahaha....semoga lekas bisa bertemu lagi, kami percaya padamu....”
WUSH!
------><------
“Adududuh.....pusing.....” rengek Olivia berusaha berpegangan pada dinding.
Setelah kondisinya pulih, barulah ia sadar kalau anak laki – laki yang ditemuinya beberapa saat lalu tidak sadarkan diri dalam posisi berbaring terbalik. Panik, diapun mulai menggosok – gosok kepala mencari ide serta jalan keluar.
“Waahhh....jangan mati, Citrea kau apakan dia? Bagaimana ini.....? Kau benar, kita harus membawanya ke tempat Profesor terdekat”
Cepat – cepat Olivia mengetukan payungnya ke tubuh Arya sehingga membuatnya melayang janggal di udara, terus mengekor ke manapun Olivia pergi. Sembari berkeringat dingin karena tergesa – gesa, si wanita menyusuri lorong panjang berpenerangan obor.
“Ayo....kalau begini pasti kena amuk senior....”
------><------
TOK! TOK! TOK!
“MASUK! CEPAT!”
“HIIY!?”
Olivia segera menuruti perintah lalu menutup pintu kembali, Merlin dengan wajah buruk duduk menunggunya. Terlihat jelas suasana hati Orange Witch sedang tidak stabil, bukan hanya itu. Fisiknya juga nampak lemah.
“Olivia....”
__ADS_1
“M..ma..maaf!? aku ketiduran saking capainya” jawab Olivia hati – hati.
“Mengapa harus sekarang!? Bukankah aku sudah mengabari sejak minggu lalu?!”
Merlin menepuk jidat kesal, Olivia Nuwyn adalah seorang Arachne. Salah satu ras hampir punah yang memiliki kemampuan khusus untuk menenun sesuatu akibat terkena kutukan, mengakibatkan beberapa bagian tubuh mereka berubah menyerupai laba – laba.
Cara menemui tempat tinggal Arachne benar – benar sulit, Merlin menghabiskan hampir satu tahun baru berhasil. Tujuannya cuma satu, membawa Yellow Witch yaitu Olivia tuk pergi bersamanya. Dengan satu syarat, menjamin keselamatan seluruh rasnya.
Walau masih belum bisa, Merlin juga berjanji akan mencari obat bagi kutukan mereka. Sebab menurutnya ada hubungan erat antara itu dengan Shooting Star Syndrome yang dirinya derita, begitulah asal muasal keberadaan Olivia di Magihavoc.
“Bagaimana latihanmu? Berjalan baik?” Merlin mendelik.
“Eee....iya....aku sudah berkeliling Four Season Zone tanpa masalah”
“Ugh....bagus, kalau Morgiana tak punya urusan. Aku juga malas meminta bantuanmu sebenarnya, tolong mengertilah”
“Tenang senior, serahkan sisanya padaku” kata Olivia penuh keyakinan.
“Hah....aku malah makin ragu, ingat. Aku tidak tau kapan kembali, jadi teruslah berjaga”
“Siap!”
TRINGGG....!!!
Tubuh Merlin megeluarkan cahaya jingga terang, siluet tubuhnya perlahan semakin mengecil sampai terakhir sesosok gadis mungil menggantikan posisinya barusan. Dia melihat sekeliling sambil menggerakan bahu pegal sebelum sekejap mata berteleportasi.
------><------
Arya bangkit sekali lagi kemudian bergumam dalam hati mengapa kejadian begini terus menimpanya. Seakan pingsan sudah seperti makanan sehari – hari, kalau mampu mengulang waktu. Arya ingin menghindari kejadian – kejadian acak nan aneh sebelumnya.
“Hmm?”
Perempuan bertampang malas bertanya tanpa melihat ke arahnya, dia tengah menggoyang – goyang botol kaca kecil berisikan cairan berwarna biru tua. Tangan kanannya membolak – balik halaman buku dan ada sebuah sapu terbang melayang di dekatnya.
“Profesor? Kok saya—”
“Mana aku tau, jangan menuntut jawab padaku dong, kau sendiri yang pingsan” potongnya ketus.
Kenya Weahl, salah satu Profesor termuda sepanjang sejarah Divina Academy. Wanita ini satu angkatan dengan Marylin Merlin sang Orange Witch, walau bisa dibilang kekuatannya berada dibawah. Namun entah mengapa ia mampu lebih dulu lulus dari pada Merlin.
Bakatnya terbilang biasa saja, tetapi ada alasan khusus penyebab dirinya mendapat penilaian begitu. Kenya dikenal sebagai orang yang sangat menggandrungi dan tergila – gila kepada ilmu membuat ramuan, dan punya keinginan kuat membangkitkan kembali kemampuan para Alchemist di masa lalu tersebut.
Dikabarkan jika Kenya Weahl bukanlah seorang maniak aneh, dia akan menjadi rival terbesar Merlin dalam segala bidang sihir. Namun itu hanya angan – angan, Kenya lebih memilih mengurung diri di ruangan pribadi tuk bereksperimen.
Bahkan mengajukan syarat kepada Iruphior sewaktu ditawarkan pekerjaan agar memiliki jam mengajar paling sedikit diantara Profesor lainnya. Tujuan Arya hari ini memang mencari perempuan itu, karena kebetulan sekali ia adalah panitia pendaftaran seleksi.
“Profesor Weahl? Saya datang kemari untuk menyerahkan formulir”
“Aku tau, telah kuterima dan kucantumkan”
“Eh? Bagaimana bisa?” gumam Arya bingung.
“Katakanlah aku menggeledah tubuhmu ketika pingsan barusan”
“HAH!?”
__ADS_1
Arya segera memeriksa sekujur badannya, takut ada yang hillang. Sifat acuh tak acuh Kenya membikin suasana hati Arya kian memburuk, tetapi tiba – tiba perasaan tertarik muncul melihat bintang berwarna – warni mengepul dari baskom dekat kaki sang Profesor muda.
“Berhenti, tidak boleh mendekat” peringatnya.
“Mmm....maaf Profesor, aku cuma penasaran saja. Sebenarnya diriku punya ketertarikan juga terhadap hal macam begini”
“Pokoknya jangan, aku akan marah jika kau merusak konsentrasi serta bahan – bahan ramuan”
“Eee....tapi Profesor, kupikir takarannya agak—“
“Bocah sepertimu tau apa? Pergi sana kalau semua urusanmu sudah selesai” Kenya membuat gerakan tangan mengusir.
Mau tak mau Arya menurut, setelah keluar ruangan lalu menutup pintu. Dia bersandar dan mulai berhitung.
‘Satu....dua....tiga....’
JDUAR!
Suara ledakan amat keras memekakan telinga, Arya melebarkan pintu sekali lagi agar asap kehitaman berbau busuk keluar. Sambil mengacungkan tongkat sihir, ia menyedot beberapa.
“Uhuk!? Uhuk!? Uhuk!? Kau masih di sini?”
“Kan sudah kubilang takaran milikmu salah”
“Hei!? Ramuan adalah sebuah ilmu hebat yang mampu mengubah banyak hal, kerumitannya begitu tinggi. Aku menelitinya hampir selama hidupku, jadi—“
“Kau mau membuat Sweet Dream bukan?” potong Arya lelah.
“Eh?”
“Ramuan penenang istimewa, dosis kecil bahkan berkhasiat kepada Imaginary Animals berukuran raksasa”
“Kau....bagaimana....?”
Arya menjelaskan kalau dia mampu megidentifikasi Kenya ingin membuat apa hanya dengan melihat bahan – bahan serta reaksi pada kualinya, tentu perkataan itu sulit diterima oleh si Profesor. Karena Arya sama saja seperti menyebut dirinya sebagai Alchemist.
“Tapi....aku memang bisa membuatnya”
Selesai bilang begitu, Arya memasukan beberapa bahan menjadi satu kemudian dalam sekejap menyerahkan sebotol kecil ramuan di tangan Kenya. Membuat wanita tersebut melongo heran.
“Ini....”
“Kau boleh mencobanya nanti jika masih tidak percaya”
“Kau jenius”
“Bukan, aku cuma belajar pada guru yang tepat”
“Guru?” Kenya mengangkat sebelah alis.
“Sebuah buku catatan tua yang pemiliknya entah siapa”
“Dimana bukunya sekarang?”
“Entahlah....”
Arya tersenyum juga mempersilahkan Kenya menggeledah barangnya jika perlu, melihat ketertarikan besar Kenya. Arya mempunyai ide gila, dia akan memberikan satu resep ramuan kepada gadis tersebut. Namun cukup yakin pasti bisa jadi patokan demi perkembangan wawasannya.
“Sebagai gantinya?” tanya Kenya serius.
__ADS_1
“Sederhana, tolong aku saat diperlukan. Dan jangan pernah menggunakan kemampuan ini untuk melawanku” Arya tersenyum puas.