Elementalist

Elementalist
Chapter 56 - Orange Witch


__ADS_3

Cahaya jingga terang melesat dari ujung payung tersebut dan membelah tubuh Colossal Violet Centipede menjadi dua bagian, Arya dan Lexa menghembuskan napas lega karena berhasil menghindar tepat waktu.


Jika mereka telat sedikit saja maka nasip keduanya akan sama dengan lipan malang itu. Belahan tubuhnya masih dapat bergerak-gerak saat Lexa mencoba menyenggolnya sedikit, M mendekati keduanya sambil menanyakan keadaan mereka dengan raut wajah cemas.


"Kami baik-baik saja, tapi....aku tidak pernah menyangka kau memiliki kemampuan sehebat itu" puji Arya sambil membersihkan debu dari pakaiannya.


"Ahahaha kakak terlalu berlebihan" balasnya malu-malu.


"Itu tidak benar, aku sendiri tidak yakin bisa mengatasinya hanya berdua dengan Arya" Lexa mengelus-ngelus kepala Rake lembut.


Wajah M semakin memerah mendengar pujian dari dua orang dihadapannya, namun tiba-tiba raut wajahnya berubah seperti baru saja menyadari atau mengingat sesuatu.


"Ahh iya! Kau benar Aura. Core nya"


Ia lalu memanjat tubuh kelabang ungu yang sudah tidak bernyawa itu sambil menoleh kesana kemari, melihat hal tersebut Arya dan Lexa saling bertukar pandang keheranan. Lalu keduanya segera menyusul si gadis kecil.


"Apa kau mencari sesuatu M?" tanya Arya penasaran.


"Mmm....sebenarnya—Ah! Itu dia!"


M bergerak cepat menuju bagian kepala Colossal Violet Centipede dan mencabut sesuatu yang terlihat seperti bola berwarna keunguan bagi Arya. Mata M berbinar-binar antusias melihat benda itu, dia tidak bisa menyembunyikan perasaannya.


"Wah....indah sekali, benda apa itu?" Lexa menyeletuk sambil mendekat.


"Ini adalah Core milik Colossal Violet Centipede tadi" M menyodorkan benda bulat tersebut kepada mereka.



Dia lalu menjelaskan bahwa ada beberapa makhluk Imaginary Animals yang mengumpulkan energi sihir tanpa mereka sadari, energi-energi itu terkumpul dan berubah menjadi padat sehingga membentuk apa yang mereka sebut dengan Core.


Kandungan sihir dalam Core ini bervariasi, semakin tua Imaginary Animals maka akan semakin besar sihir yang tersimpan dalam Core tersebut. Benda ini biasa digunakan sebagai bahan utama pembuatan alat-alat sihir.


"Benda inilah alasan aku ingin membantu kalian untuk mencari tempat ini hehehe" tutupnya dengan senyum lebar.


"Ahh jadi begitu, bukankah berarti benda ini sangat berharga?" Lexa menatap lekat-lekat Core yang ada ditangan M.


"Begitu—"


"Tapi M, apa yang kau ingin lakukan dengan Core tersebut? Sebagai bahan pembuatan alat sihir?" Arya segera bertanya.


Mendengar pertanyaan itu M diam untuk beberapa saat, dia lalu memiringkan kepalanya dengan dahi sedikit mengernyit "Aku....aku juga tidak tau"


GUBRAK!!!


"HAH?!" teriak Arya dan Lexa bersamaan.


"Ahaha sebenarnya Auralah yang memintaku mencarinya jadi—"


"Aura? Benda macam apa lagi itu?!" Lexa menggaruk-garuk kepalanya yang mulai pening.


Saat M sedang asyik menjelaskan banyak hal pada Lexa, Arya melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Disalah satu gelang milik M, ada sebuah tulisan kecil berukiran indah nampak terbuat dari batu mulia.


Arya menggapai tangan kanan M agar bisa melihatnya lebih jelas lagi.


"Mmm? Ada apa kak?" tanya M bingung.


"M.M" baca Arya dengan mata menyipit.


"Ahh....ini? Ini adalah inisial namaku" kata M untuk menjawab tatapan bertanya Arya dan Lexa.


"Lalu? Nama aslimu siapa?" Lexa menimpalinya.


"Eee....tidak tau"


"Hah?! Masa nama sendiri kau tidak—"


"Lexa?" tahan Arya.


Lexa segera diam karena merasakan tatapan Arya berubah.


"Jadi selama ini kau bahkan tidak mengetahui nama aslimu?"


"Ehehe begitulah kak, aku menyebut diriku sendiri M karena tulisan yang ada pada gelang ini dan Aura yang juga selalu memanggilku seperti itu" jawabnya polos.


"Syukurlah kami masih bisa memanggilmu dengan itu"


"Hehehe maafkan aku ya kak"


"Untuk apa?"


"Karena....kalian sudah memperkenalkan diri dengan baik dan bahkan membantuku tapi....aku malah tidak bisa memberitahukan namaku sendiri pada kalian"


"Itu bukan sesuatu yang perlu dipikirkan" Arya mengelus kepalanya lembut.


"Terimakasih sudah memaafkanku yang pelupa ini" balasnya dengan senyum tulus.


Setelah bercengkrama sebentar, akhirnya M berpamitan kepada mereka. Dia ingin segera membawa Core itu pulang dan tidak mau juga terlalu lama menahan Arya dan Lexa untuk memasuki Ice Temple.


"Sampai jumpa!" M melambai pada keduanya dengan riang.


Mereka berdua membalas lambainya juga sambil mengucapkan selamat tinggal, tapi sebelum terlalu jauh. Si gadis menoleh kembali pada mereka dan menatap Arya dalam-dalam.


"Kak, jalan apapun yang akan kakak pilih nanti. Kakak akan selalu tetap kehilangan sesuatu yang berharga bagi kakak, jadi kupikir....tidak ada salahnya mulai berusaha untuk merelakan dari sekarang. Aku berharap kita bisa bertemu lagi, Dah....!"


Lalu siluetnya pun menghilang dikejauhan, pesan terakhir M terngiang-ngiang dikepala Arya. Jalan apapun yang dia pilih maka....kalau begitu? Apa dia seharusnya berhenti berjalan saja?.


"Anak yang aneh" celetuk Lexa beberapa menit kemudian.

__ADS_1


"Dia bukan anak yang aneh, anak itu....memiliki sebuah kutukan didalam tubuhnya" timpal Arya dengan mata sendu.


"Tidak mungkin, maksudmu—"


"Benar, kutukan yang membuatnya berada didalam kondisi tidak bisa mengingat apapun. Bahkan nama aslinya sendiri"


------<<>>------


Disebuah ruangan yang gelap tiba-tiba terdengar suara ketupan, bertepatan dengan itu. Muncul siluet seseorang yang terlihat berusaha berdiri dengan tegak, dia mulai meletakan barang-barang bawaanya lalu menanggalkan pakaiannya satu persatu.


Cahaya remang-remang terlihat memenuhi ruangan secara perlahan, orang itu melangkah ke sebuah cermin raksasa yang ada disana sambil menatap pantulan dirinya. Ia berdiri seperti patung selama beberapa saat.


Kemudian mengernyit pelan sambil memegang kepalanya, karena tidak kuat lagi. Dia segera duduk dan membenamkan kepalanya pada meja kerja yang ada disitu. Saat napas orang itu sudah mulai teratur.


Cahaya terang menyinari tubuhnya yang tanpa mengenakan pakaian sehelaipun, bagian-bagian tubuhnya mulai tumbuh dengan kecepatan mengerikan. Awal wujudnya yang terlihat seperti anak kecil berumur delapan tahun sudah hilang.


Digantikan wujud perempuan berumur sekitar dua puluh tahun. Ketika cahaya terang tesebut lenyap, ia mulai meregangkan tubuhnya sambil bergumam.


"Hoam....tidurku nyenyak sekali"


Baru saja dia berkata seperti itu, suara ketukan terdengar dari pintu ruangan. Ia melirik dengan malas lalu mengizinkan si pengetuk untuk masuk. Seorang gadis berambut putih serta mata kuning masuk ke dalam ruangan, ia mengenakan pakian serba hitam dari atas kepala sampai ujung kaki.



"Selamat datang kembali Nyo—"


"Sudah kubilang berhenti memanggilku seperti itu Morgiana, kita ini seumuran" potong orang itu cepat.


"Eee....tapi kan—"


"Tidak ada tapi-tapian, ada perlu apa?"


"Saya hanya merasakan kalau anda sudah kembali dan memutuskan untuk menyapa" jawab Morgiana lembut.


"Ahh begitu, aku baru saja bangun sih" balas orang itu asal.


"Jadi....bagaimana perjalanan anda?"


"Mmm....entahlah, aku juga tidak tau. Tunggu sebentar, aku harus mengenakan pakaianku terlebih dahulu"


Setelah mengenakan gaun berwarna putih bersih, orang itu mengambil sebuah benda berbentuk bulat yang ada diatas meja.


"Wah wah wah sepertinya aku berhasil mendapat bahan terakhir untuk membuat Confinement Crystal" ujarnya puas.


"Heh?! Maksud anda? Kapan anda pergi mencari Colossal Violet Centipede?"


"Kau mau bertanya bagaiamanapun aku tidak akan bisa menjawabnya, kau tau itukan Morgiana?"


"Ahaha benar juga ya"


"Halo Aura, bagaimana kabarmu? Apa kau merindukanku?" dia berbisik senang.


Dia mengarahkan payungnya ke arah tumpukan barang tadi sambil berkata.


"Apotélesma"


Barang-barang itu mulai terangkat ke udara dan saling menyatu satu sama lain hingga membentuk sebuah kristal indah berwarna keunguan. Si perempuan dengan riang mengambilnya lalu mengeluskan pipi ke kristal tersebut.


"Akhirnya....dengan ini lengkap sudah lima Magical Tools milikku"


"Saya ucapkan selamat, walaupun cuma anda sih satu-satunya orang yang menggunakan lebih dari satu Magical Tools" Morgiana tersenyum canggung dan hanya bisa mengepalkan tangannya erat-erat karena merasa iri.


Magical Tools adalah sebutan untuk alat-alat sihir yang digunakan para Wicth dalam melakukan kegiatan mereka. Rata-rata penyihir pada umumnya hanya bisa menggunakan satu tipe Magical Tools.


Namun ada beberapa kasus khusus Witch yang mampu menggunakan lebih dari satu Magical Tools, mereka bisa menggunakannya secara bergantian. Tapi orang yang ada dihadapan Morgiana ini levelnya berbeda.


Dia dapat menggunakan kelima jenis Magical Tools tanpa beban sedikitpun, terlebih lagi dia adalah tuan dari salah satu Miracle Iris Catra. Itulah sebabnya diumur yang begini belia, ia memiliki posisi tinggi diantara para Witch.


"Ahh iya, saya juga ingin memberitahukan sebuah informasi penting" Morgiana tersadar dari lamunannya dan baru ingat pesan yang ingin dia sampaikan.


"Hmm? Apa itu?"


"Kami berhasil menemukan keberadaan Silver Magician"


Perempuan itu langsung menghentikan kegiatannya, ia menatap Morgiana dengan ekspresi wajah seperti makhluk yang kelaparan.


"Sungguh? Dimana dia?"


"Underground Paradise"


Wanita itu mengambil payung jingganya dan melesat ke arah pintu.


"Eh?! Hei Mary kau mau kemana?!" tanya Morgiana terkesiap.


"Morgiana Lefay, aku perintahkan kau untuk tidak memberitahukan kemana aku akan pergi kepada yang lainnya" kata perempuan itu dengan formal.


"A..ap..t..tu..tunggu dulu! Kau ini adalah Marylin Merlin, salah satu Penyihir Agung dan Seven Arcenciel Witch. Orange Witch, kau pikir mau pergi kemana kau?!"


"Itulah kenapa aku memintamu untuk tidak memberitahu yang lainnya, terutama para Penyihir Agung. Aku akan pergi ke Underground Paradise untuk menjemput Silver Magician, dah....!"


"Hey tunggu du—MARY!!!"


Merlin langsung membanting pintu dan melesat pergi, ia mengenakan Aura dengan santai sambil berkata.


"Baiklah Aura, dalam perjalanan kita menuju Underground Paradise. Bisakah kau ceritakan padaku apa saja yang diriku lakukan selama tubuh ini mengecil?"


__ADS_1


------<<>>------


"Sudah sampai" Arya melihat lapisan es tipis dikejauhan.


"Fwuh....akhirnya! Brr....shh kenapa tempat ini dingin sekali sih?" Lexa memeluk kedua bahunya dengan tangan gemetar.


"Tentu saja dingin, itulah kenapa diberi nama Ice Temple. Pakai ini"


Arya melemparkan jubah miliknya pada Lexa, dia menerima jubah tersebut namun terlihat enggan mengenakannya.


"Bagaimana denganmu?"


"Kau terlihat lebih membutuhkannya, lagi pula aku tidak kedinginan. Kenapa? Apa kau tidak suka baunya?"


Lexa meggelengkan kepala dengan cepat dan segera mengenakan jubah milik Arya, kehangatan perlahan menjalari seluruh tubuhnya. Dia mulai mengendus jubah itu sambil tertawa cengegesan.


"Ehehe....aroma in—"


Ia gagal menyelesaikan kalimatnya karena melihat Arya yang tiba-tiba menjaga jarak sambil menatapnya dengan ekspresi takut. Arya kemudian menjulurkan tangan.


"Eee....setelah kupikir-pikir bisakah aku meminta jubahku kembali, melihat dirimu mengendusnya seperti itu membuatku tidak nyaman"


"Eh?! Mana boleh seperti itu! Kau mau mengambil kembali jubah yang telah kau berikan pada seorang gadis kedinginan?!" tolak Lexa mentah-mentah.


"Kalau begitu berhentilah mengendusnya dengan ekspresi wajah seperti itu!" bentak Arya kesal.


Arya mengarahkan tangan ke arah lapisan es tipis dihadapan mereka, kemudian secara ajaib pintu masuk itu mulai meleleh dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Lexa bersiul pelan melihat hal tersebut.


"Setidaknya pintu masuk tempat ini lebih bagus dari pada Earth Temple"


"Itukan hanya masalah cara membukanya saja" Arya menghela napas tidak percaya.


Mereka memasuki ruangan berlangit-langit tinggi seperti yang keduanya temukan di Earth Temple, pembedanya hanya tempat ini dilapisi oleh es disegala tempat. Tidak salah lagi ini adalah tempat pembuatan kontrak.


"Sini aku bawakan barang-barangmu" Lexa mengajukan dirinya sebelum dimintai pertolongan.


"Et! Tunggu! Kau....tidak akan mengendu—"


"Tentu saja tidak! Arya bodoh!"


Dia lalu segera menjauh dengan barang-barang Arya sambil memasang wajah cemberut, Lexa sekali lagi menoleh ke arah belakang keheranan. Ia berharap Arya langsung bergerak untuk membuat kontrak, namun ternyata bocah itu malah hanya diam tidak bergerak dari tempatnya semula.


"Ada apa?"


"Eee....Lexa? Bagaimana cara melakukannya?"


"Melakukan apa?"


"Tentu saja membuat kontrak!"


"Hah?!"


"Aku tidak tau bagaimana cara melakukannya" Arya mulai panik.


"Kalau kau sendiri tidak tau bagaimana caranya aku bisa tau" balas Lexa santai.


"Bukannya kau sudah membuat kontrak dengan makhluk dekil itu!"


"Berhenti memanggilnya dekil! Hal itu terjadi begitu saja"


"Tapi tidak terjadi apapun disini" protes Arya lagi.


"YA MANA AKU TAU!"


Dengan sedikit kesal Arya menuju tengah ruangan sambil berpikir keras, seingatnya waktu Lexa membuat kontrak ada cahaya yang muncul begitu saja. Tapi kenapa sekarang cahaya itu tidak muncul di tempat ini?.


Karena bingung akhirnya dia memutuskan untuk duduk bersila ditengah ruangan.


"Sekarang mari berpikir, bagaimana caranya berhubungan dengan para roh. Apa aku harus mengeluarkan jiwaku dari tubuh ini?" batinnya.


"Tuan kau terlalu tegang, tenangkan dirimu" Mandalika mengingatkan pelan.


"Bagaiamana mungkin aku bisa te—"


"Rileks, kau hanya perlu membiarkan semuanya berjalan....dengan semestinya" tambah Mandalika dengan suara lirih.


Langsung saja aura dingin yang berasal dari tubuh Arya berhembus kesekeliling ruangan, hal itu membuat Lexa semakin merapatkan jubahnya. Mata Arya mulai menyala terang dan kesadarannya sudah tidak berada ditempat itu lagi.


Saat ia membuka mata. Dia disambut oleh pemandangan serba putih, Arya mulai mengedarkan pandangan dan berhenti pada satu titik. Disana seekor serigala putih menatapnya dalam-dalam, perlahan serigala itu berubah bentuk menjadi seorang perempuan cantik.



"Selamat datang, aku adalah—"


"Guide Vision milikku?" potong Arya.


"Benar sekali, perkenalkan namaku adalah Mirianne. Untuk menuntaskan tugas terakhirku, aku akan membimbingmu dalam pembuatan kontrak, mari ikuti aku"


Perempuan itu segera berbalik dan melangkah dengan anggun, Arya mengekor dibelakangnya sambil berusaha mencerna apa yang sedang terjadi.


"Mirianne? Bolehkah aku bertanya sesuatu?"


"Mmm? Tentu apa yang ingin kau tau?"


"Apa maksudmu dengan tugas terakhir?" Arya memiring kepalanya tanda tidak mengerti.


Mirianne hanya tersenyum kemudian menjawab lirih "Sebenarnya aku adalah Elemental Beast sebelumnya, dengan kata lain. Elemental Beast milik ibumu"

__ADS_1


__ADS_2