
“Dimana....?”
Arya bangun dari posisi berbaring sambil memperhatikan sekelilingnya, ia tertidur di sebuah tempat tidur mewah berukuran besar. Luasnya bahkan mungkin hampir sama seperti kamarnya di Pusat Penelitian.
KRIET....PRANK!
Mendengar suara barang terjatuh, Arya yang terkejut menoleh waspada ke arah pintu. Pelakunya ternyata tidak lain dan tidak bukan adalah Callista, dia menjatuhkan nampan bawaanya ketika melihat Arya sudah siuman.
Cepat – cepat gadis itu berlari mendekat memeriksa tubuh Arya. Ia menyentuh dahi, pipi, pundak, dan beberapa bagian tubuh Arya lainnya seolah – olah takut ada yang hilang.
“Kau tidak apa – apa? Ada yang sakit?”
“Tenanglah, aku baik – baik sa—“
HUG
“Syukurlah....aku cemas sekali” Callista mendekapnya kuat – kuat sebelum Arya sempat menyelesaikan kalimatnya.
“Eee....Callista?” panggil Arya ragu.
“Oh!? Maaf, aku jadi sedikit emosional” gadis tersebut langsung melepaskan pelukannya.
“Jangan dipikirkan, bisa kau ceritakan apa saja yang terjadi setelah aku pingsan?”
Callista menceritakan kejadian demi kejadian kepada Arya, dari situ. Ia bisa tau lokasi tempat mereka berada saat ini, sepertinya pemilik kastil menolong keduanya karena memiliki hubungan dengan ibu Callista di masa lalu. Hanya itu yang bisa Arya simpulkan untuk sekarang.
Tapi ada sesuatu mengganggu pikirannya, bagaimana mungkin pemilik tempat ini bisa mengusir Kris yang notabenenya adalah pemimpin ras Vampir dan anggota Tujuh Dosa Besar. Kenapa orang sekuat itu mau melindungi mereka? Sungguhkah hanya sebuah kebetulan semata?.
“Aku sudah tertidur selama tiga hari?!” Arya memekik keras mendengar informasi Callista.
“Iya. Eee....Arya? Sebenarnya....”
“Hmm? Ada apa?”
“K..ke..ketika aku menggigitmu waktu itu, maaf tidak memberitahumu....tapi, kau—“
“Jangan bilang kalau aku menjadi seorang Vampir juga? Hahaha lucu sekali Callista”
Ekspresi serius pada wajah Callista membuat senyuman Arya menghilang, ia segera berdiri dari tempat tidur untuk melihat bayangannya di cermin.
“Hah....masih ada, berhenti bercanda Callista”
“Kau pikir kami tidak memiliki bayangan? Sebenarnya kau sedang membicarakan Vampir zaman kapan sih? Lagi pula aku tidak sedang bercanda, namun kau benar. Dirimu tetap bukanlah seorang Vampir, melainkan hanya sebagai Blood Servant” jelas Callista mengembungkan pipi jengkel.
__ADS_1
“Blood Servant? Apa itu? Haruskah aku mulai meminum darah dari sekarang?”
Blood Servant merupakan sebutan bagi orang yang telah membuat kontrak dengan para Vampir, hal ini dapat memperpanjang umur dan meingkatkan kekuatan fisik beberapa kali lipat. Tetapi itu juga berarti si pembuat kontrak harus mengabdi kepada sang Vampir.
Vampir biasanya memiliki lebih dari satu Blood Servant, mereka memilih orang – orang yang rasa darahnya paling disukai. Banyak budak Manusia di Dark Side telah mengalami hal ini, menjalani hidup panjang layaknya hewan ternak.
“Jadi intinya....kau menjadikanku kantung darah berlajan milikmu sendiri?” Arya mengatakannya tanpa ekspresi sedikit pun.
“Benar sek—tunggu sebentar! Bukan begitu! Aku tidak sengaja! Lagi pula kau yang memaksaku untuk menghisap darahmu bukan?”
“Hahaha iya – iya aku tau, untung saja kau bisa selamat ya? Callista”
“Eh? Kau....tidak marah?” Callista memiringkan kepala heran.
“Em em, apa kau ingin aku marah?”
“Jangan bercanda! Kenapa kau bisa setenang itu setelah aku mengubah sesuatu yang....”
“Lalu kenapa? Selama kau bisa hidup karenanya, aku tidak akan menyesal. Yang sudah berlalu biarkan berlalu” kata Arya tenang sambil mengelus lembut kepala gadis tersebut.
Mereka hanya diam saja dalam posisi tadi selama beberapa waktu sebelum Arya menyeletuk pelan.
“Kenapa wajahmu memerah?”
Sesudah Arya mengenakan pakaian bersih miliknya, keduanya berjalan berdampingan menuju entah ke mana. Callista memberitaunya kalau dalam proses pembentukan kontrak terjadi masalah, tubuh Arya mengalami penolakan.
Itulah alasan kenapa dia bisa tidak sadarkan diri selama tiga hari, kemudian pemilik tempat inilah yang menolongnya sehingga dapat keluar dari kondisi mengancam nyawa tersebut. Akhirnya Arya dan Callista sampai di depan pintu hitam tinggi.
Lalu Callista mengetukkan jarinya sebanyak tiga kali pada gagang pintu berbentuk kelelawar, tiba – tiba saja hewan yang terbuat dari besi itu melebarkan sayapnya sebelum mengepak kuat – kuat. Perlahan pintunya mulai terbuka.
Perempuan bersetelan hitam duduk manis pada sebuah kursi indah bagai singgasana. Matanya membuka ketika melihat kedua anak tadi memasuki ruangan. Secara mengejutkan, ia muncul begitu saja dihadapan mereka sambil mencengkram bola mata kanan Arya menggunakan tiga buah jari.
Tekanan begitu tetinggi menghantam Arya, tubuhnya bahkan tidak dapat digerakkan sedikit pun. Mata keduanya bertemu, senyuman tipis menghiasi wajah perempuan itu.
“Aku ingin sekali mencabut bola mata ini, bolehkah aku melakukannya?”
“Kenapa?” Arya bertanya dengan suara tercekat.
“Alasan pribadi, tenang saja. Aku bisa memberimu yang lain dan jauh lebih bagus dari pada ini, bagaimana? Apa jawabanmu?”
“Maaf, tapi ini satu – satunya peninggalan milik ibuku”
Untuk sesaat, ekspresi wanita tersebut melunak. Ia menarik tangannya dari bola mata Arya kemudian segera kembali menuju tempatnya semula.
__ADS_1
“Dasar bodoh” bisiknya pelan berusaha sekuat mungkin menyembunyikan tubuh gemetar miliknya dari Arya dan Callista.
Arya langsung jatuh berlutut, napasnya tersengal – sengal seperti peserta lari maraton telah menempuh jarak berkilo – kilo meter. Callista cepat – cepat berusaha membantunya berdiri.
“Hah...Callista....hah....siapa....hah....”
Callista membisikan padanya kalau ada beberapa Demon kuat tersembunyi yang digadang – gadang memiliki kemampuan setingkat atau bahkan lebih tinggi dari anggota Tujuh Dosa Besar. Beberapa diantaranya tidak terlalu suka menunjukkan diri.
“Kalau aku tidak salah ingat, jumlahnya juga ada tujuh. Antara lain Empat Kaisar Iblis Timur, Pyramid Owner; Pharaoh, The Watcher; Skullcrow, dan dia....wanita berjuluk Dracula Queen serta Red Witch. Kruel Tepes”
Napas Arya akhirnya kembali normal, namun mentalnya masih terguncang akibat kejadian sebelumnya. Pertanyaan – pertanyaan baru muncul memenuhi kepalanya.
“Red Witch? Kenapa disebut begitu? Bukankah dia Demon?”
“Arya apa kau tau nama Pasukan Elit milik ras Witch?” Callista bertanya pelan.
“Penyihir Agung”
“Benar, tapi itu sekarang. Mereka bukanlah Pasukan Elite, Penyihir Agung dibentuk untuk menutupi kenyataan kalau para Witch telah kehilangan Pasukan Elite milik mereka”
“Maksudnya?” bisik Arya hati – hati berusaha mencerna informasi.
Ada tujuh pusaka bernama Miracle Iris Catra, legenda mengatakan benda ini dibuat dari masing – masing patahan tongkat sihir seorang penyihir terkuat dunia. Terbentuklah tujuh payung yang melambangkan warna – warna pelangi.
“Pemilik – pemilik Miracle Iris Catra diberi nama Seven Arcenciel Witch (Tujuh Penyihir Pelangi). Terdiri dari Red Witch, Orange Witch, Yellow Witch, Green Witch, Blue Witch, Indigo Witch, dan Purple Witch. Merekalah Pasukan Elite sebenarnya ras Witch”
Namun sayang, saking terlalu kuatnya Miracle Iris Catra. Para Witch tidak bisa mengontrol mereka lagi. Ketujuh payung tersebut memiliki kesadaran sendiri dan hanya akan menjadikan Tuan orang – orang pilihan mereka. Bahkan walau dia bukan seorang penyihir sekali pun.
“Oleh sebab itu, saat ini kabarnya hanya tertinggal satu payung saja milik ras Witch. Sisanya tersebar ke masing – masing ras berbeda di seluruh dunia,
sehingga tujuan utama mereka sekarang adalah mengumpulkan Miracle Iris Catra kembali ke tangan ras Witch. Dan....salah satu pemiliknya sedang berada tepat di hadapan kita, Red Witch. Kruel Tepes”
“Apa bisik – bisiknya sudah selesai? Kemarilah” Kruel menyuruh Arya dan Callista mendekat.
Begitu jaraknya hanya beberapa meter, Kruel menarik keluar payung merah dari belakang singgasananya kemudian mengetukannya pelan ke dahi Arya. Sebuah sensasi familiar seperti menghiasi pikiran Arya untuk kedua kalinya.
‘Ini....De javu?’
Author Note :
__ADS_1
Update selanjutnya dilakukan jika chapter 90 - 95 sudah mencapai 200 like, terima kasih (mampus yang gk ninggalin like. makan tu)