Elementalist

Elementalist
Chapter 204 - Pink


__ADS_3

Tengah terjadi hiruk – pikuk di Ibukota Zoonatia, kabar mengenai kekalahan Faksi Laut yang awalnya berniat memisahkan diri dari ras Werebeast mulai merebak. Itulah alasan Keduabelas Shio diminta untuk berkumpul melakukan rapat darurat.


Semua anggotanya menduduki masing – masing kursi tinggi pada ruangan gelap, hanya ada satu pencahayaan disana yaitu tepat di pusat lingkaran lokasi tersebut. Lampu menyorot sesosok Mythical Werebeast berwujud Megalodon.


“Lihat siapa ini? Sedang apa Tuan Hiu sombong menjelajahi daratan hah? Hehehe.....” Piguel terkekeh kemudian meneguk minuman keras miliknya.


“Akhirnya kalian menuai hasil keangkuhan sendiri bukan?” tambah Jilan menutupi sebagian wajahnya menggunakan kipas.


“Katanya mau pergi, kenapa kembali? Bukankah kalian bekerja sama dengan ras Witch? Dikhianati ya?” Zarane menopang dagu.


“Dimana paus bongsor dan buaya bodoh yang selalu mengikutimu?” tanya Gokong dingin.


Mata Shayu melebar, hinaan mereka sudah tidak bisa ditolerir lagi. Terserah makhluk – makhluk sialan dihadapannya mau menghinanya sampai puas, tapi membawa – bawa mendiang Balaeno juga Wanio membuat Shayu naik pitam.


“KEPARAT!? JANGAN PIKIR KALIAN BISA MENGINJAK – INJAK—HOEK!?“


SYYUUU! BUAKH!!!


Baru saja Shayu hendak angkat bicara, tendangan telak mendarat pada perutnya sehingga dipaksa berlutut. Napasnya terputus – putus seperti orang sekarat, pelakunya menatap sinis lalu menempelkan bagian bawah kakinya diatas kepala Shayu.


“Inilah namanya menginjak, kau pikir kami merendahkanmu? Siapa sebenarnya kumpulan individu tak berotak yang mengangkat muka tinggi – tinggi meninggalkan Ibukota? Kau kira dirimu pantas mendapatkan hak tuk kami dengarkan hah?”


Piguel bersiul menyaksikan rekannya bersikap begitu, Sang Shio Kelinci benar – benar menunjukkan superioritas Pasukan Elite ras Werebeast sekarang. Suasana hati Bunny memang sedang buruk sejak penyelundupan Elementalist ke Zoonatia.



Dia merasa bersalah membawa musuh saat malam festival kembang api, andai lebih waspada mungkin kekalahan mereka tidak seburuk kemarin. Hebihime, Jilan, Zarane, Baekho, dan Sheepya menyadari hal tersebut namun bingung harus bagaimana menghiburnya.


“Ugh.....Bunny....—ARGH!?”


BUAKH!!!


“Angkat wajahmu sekali lagi dan bersiaplah untuk mati, sampah....” ujar Bunny menghantamkan tendangan terakhir sebelum berbalik kembali menuju kursinya.


“Uhuk! Uhuk!!!”


Shayu mengeluarkan batuk darah menandakan seberapa besar efek serangan Bunny, rasa percaya dirinya hancur berantakan. Padahal beberapa waktu lalu ketika berperang melawan Atlantos. Shayu, Balaeno, juga Wanio memperkirakan jarak antara ketiganya dengan Dua Belas Shio hanya setipis benang. Hari ini matanya benar – benar dibuka paksa oleh Bunny.


“Sudah baikan? Butuh air?”

__ADS_1


“Ekh....”


“Bagus, aku menyukai tatapan matamu. Sekarang mari dengar keseluruhan kisah kehancuran kalian....” Garyu tersenyum mempersilahkan Shayu bercerita.


Si Mythical Werebeast berwujud Megalodon mengumpat dalam hatinya muak melihat muka ketua Dua Belas Shio itu. Shayu perlahan menjelaskan mengenai progres baik Faksi Laut saat perang bahkan tanda – tanda kemenangan mulai bermunculan, namun arus pertempuran langsung berbalik akibat kedatangan lima Elementalist.


Muka hampir semua anggota Dua Belas Shio menegang mendengar nama Arya disebut – sebut, apalagi menurut penjabaran sekilas Shayu mereka tau kemampuannya telah jauh meningkat dari ketika mengacaukan Zoonatia.


“Sepertinya kita memang harus melakukannya, jika dibiarkan Sang Elementalist Es akan sungguh menjadi ancaman besar. Shayu? Kuberi kau pilihan, mengabdi kembali kepada kami atau pergi sebagai Trash....”


“Aku bersedia mengikuti kalian supaya bisa membalaskan dendamku.....”


“Jawaban tepat, bawa sisa – sisa Faksi Laut pulang ke Rimba....”


“Laksanakan Pimpinan....” hormat Shayu meski menggertakan gigi kemudian meninggalkan ruangan.


“Rupanya dia mampu menjilat juga kalau berusaha huahahaha.....” kata Inuki tergelak senang.


“Kakak? Apa kau sungguh membiarkan mantan pengkhianat layaknya mereka kembali kemari?” Hebihime memandang aneh Garyu.


“Tenanglah adikku, jika Faksi Laut berulah lagi kita pastikan semuanya menghilang tanpa bekas. Lagi pula tidak ada salahnya mendapatkan bantuan tenaga secara gratis.....”


“Aku setuju.....” Ushiro mengomentari tenang.


“Untuk apa kau menanyakan pendapat kepada tikus tua ini jikalau akhirnya kalian tak akan mendengarkannya?” sahut Nezumi balik bertanya.


“Hehehe....formalitas, sebab kau adalah mantan ketua Dua Belas Shio. Ushiro kau yang mengambil alih selama aku pergi memenuhi undangan pertemuan itu.....” Garyu bangkit tanpa menoleh lagi.


“Siap....”


“Kalian mengerti?!!”


“IYAA!!!”


------><------


“Sampai jumpa besok Reika, hati – hati di jalan.....”


“Iyaa...., kamu juga Mala. Dah....”

__ADS_1


Selesai saling melambaikan tangan dan mengucapkan kalimat perpisahan kedua gadis tadi berpisah jalan, Reika masuk ke stasiun kereta api untuk pulang menuju Distrik Emas. Dia bersama Kemala baru saja keluar bermain mencari udara segar.


Urusan sekolahnya akhir – akhir ini membuatnya frustrasi sehingga rambutnya mulai rontok, ketika transportasi umum miliknya telah tiba Reika segera memilih tempat duduk pada salah satu sudut lalu membuka telepon selulernya memeriksa kalau – kalau ada sesuatu yang baru.


“Kakak belum membalas pesanku....sudah berapa bulan kami tidak bertemu.....dasar, dia pasti sibuk menghabiskan waktu dengan rekan – rekan perempuannya.....awas saja yaa.....” gumam Reika mengembungkan pipi, ia mengalihkan pandangan keluar jendela supaya mampu menikmati langit malam indah berbintang.


Reika beberapa kali memaksa ingin mengunjungi Pusat Penelitian namun selalu dihalangi oleh ayahnya, kesal dia pun menyelinap kesana tanpa memberitahu. Reika berhasil masuk tapi tak menemukan Arya, saat ditanya mengenai keberadaan Arya. Asuna bersama anggota lain berkata kalau anak tersebut sedang melakukan tugas entah dimana.


Reika kurang puas akan jawaban mereka terus pergi sembari menghentakan kaki keras, lamunannya tiba – tiba buyar akibat bunyi berisik pengeras suara kereta. Sang masinis mengumumkan sesuai surat edaran stasiun, kereta harus berhenti sebelum mencapai tujuan.



Reika berdecak gusar, bisa – bisanya ia tidak memperhatikan hal sekecil itu. Pantas penumpang kereta malam ini bisa dihitung menggunakan jari padahal masih pukul delapan malam, Reika menyisir rambut memakai tangan dan sedikit kaget menemukan salah satu helaian rontok berbeda warna.


“Pink? Seingatku aku tidak pernah mengecat rambut.....” Reika memiringkan kepala.


Bertepatan dengan kejadian barusan pintu gerbong terbuka, akhirnya Reika keluar di pemberhentian berikutnya kemudian melupakan masalah janggal tadi. Dia ingat hendak membeli sesuatu, selagi masih berada di Distrik Perak. Reika memilih mencari barang tersebut disana.


Sewaktu keluar dari sebuah toko swalayan cukup besar Reika mengintip bungkusan miliknya terus tersenyum lebar. Kisaran harganya sangat berbeda jauh dibandingkan Distrik Emas, seharusnya ia telah melakukan hal ni sejak lama.


Reika berjalan menuju perbatasan seorang diri, tetapi suasana kota cukup ramai jadinya dia tidak terlalu khawatir. Anehnya sesekali Reika akan berhenti sambil menoleh, dia merasa tengah diikuti namun tak menemukan pelakunya.


“Apa cuma perasaanku saja y—Aww!?“


“Maaf, aku sedang terburu – buru.....”


Reika mengumpat pelan sebab ditabrak wanita berpakaian serba hitam juga mengenakan kacamata dan topi. Si gadis berkepang dua jatuh sambil memegangi kepalanya, suasana hati Reika kian memburuk karena si penabrak langsung pergi begitu saja. Saat mau mengambil barang – barangnya Reika menemukan satu benda lain.


“Ohh....kau pasti bercanda!? Hey!? Tunggu!? Kau menjatuhkan dompetmu....”


Reika bangkit sebelum mengejar, matanya bergerak cepat mencari keberadaan wanita barusan. Syukurlah berkat pandangan setajam elang dia melihat sekelebatan pakaian hitam berbelok ke suatu gang kecil, Reika berlari kencang menghindari orang – orang yang berlalu lalang.


“Menjadi anggota Klub Atletik tidak buruk juga..... Hey!? Kau—Mhmmm....!?“


Ketika melangkah masuk, secara mengejutkan muncul tangan bergerak gesit menutup mulut maupun hidung Reika menggunakan kain, empat sosok berbeda keluar persembunyian kemudian menutup penglihatan warga sekitar dari gang tersebut. Mata Reika terasa berat lalu perlahan – lahan kesadarannya mulai menghilang.


“Kami mendapatkanmu.....Nona Reiko.....” kata perempuan sebelumnya sambil melepaskan penutup wajah.


- Two in One Arc Status : Begin -

__ADS_1


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui **********. com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.


__ADS_2