
Nampak seorang gadis cantik berambut hitam memandangi langit dengan ekspresi sendu, mata merahnya kosong seperti pikirannya tak berada di sana. Ia duduk pada salah satu bangku ECP sendirian kurang lebih selama dua jam.
Menarik perhatian beberapa laki – laki yang ingin mencoba peruntungannya, namun langsung membatalkan niat begitu melihat sosok lain menghampiri wanita tersebut sambil membawa sekuntum bunga tulip indah.
“Tch! Kita terlalu lama, jadi malah didahului”
“Hah....lebih baik menyerah, tak ada harapan bersaing melawan pria seperti itu”
Si perempuan masih belum menyadari kehadiran orang lain walaupun dia sudah duduk tepat di sebelahnya. Senandung pelan mulai terdengar, barulah Asuna menoleh ke arah samping dengan mata melebar.
“Langit senja memang indah ya? Hihihi....”
“K....ka....kau....—“
“Tetapi kalau dirimu memasang wajah begitu bisa – bisa cuacanya berubah mendung, jadi aku bawakan bunga agar kau kembali semangat. Jangan sampai layu lho, harganya agak mahal”
“Sejak kapan—“ tiba – tiba Asuna berdiri membuat Arya terlonjak kaget hampir jatuh.
“Waa!? Aku baru keluar! Lukaku belum pulih sepenuhnya! Tolong jangan hajar ak—“
HUG!
“Eh?”
“Hiks....hiks....aku....takut....sekali....”
Asuna merangkul Arya erat – erat seakan lengah sedikit saja ia bisa menghilang, tubuh dan suaranya bergetar. Arya bisa merasakan air mata gadis itu menetes pada pundaknya, ia menghela napas pelan sebelum membelai lembut rambut Asuna.
“Yosh....yosh....kau sedang sakit? Kupikir akan mendapat satu dua pukulan setelah menggodamu tadi lho”
“BODOH....! Kau....kau....kau....benar – benar brengsek! Aku khawatir sekali.....hiks....tak bisa....hiks....melihatmu lagi....kenapa.....hiks....kau....melakukannya....huu....berhentilah....mencoba.....hiks....membunuh.....dirimu....sendiri!!!”
“Asuna....?. Panggil Arya kebingungan, sebenarnya dia sudah mencari Asuna ke mana – mana setelah bertemu teman – teman lainnya. Mendengar gadis tersebut murung dan merasa bersalah karena hal yang menimpanya, Arya jadi penasaran tapi tak menyangka respon Asuna seperti sekarang.
Pada waktu sama, salah satu penonton tersembunyi bangkit dari posisinya berusaha mengganggu namun sigap digagalkan oleh sembilan orang sosok misterius.
“Kalian juga? Minggir! Aku tidak tahan lagi!” usir Alalea.
“Tuan Putri!?” Eridan menarik – narik pakaian nonanya dari belakang.
“Aku mohon dengan penuh hormat untuk kerendahan hati Putri Alalea agar tidak mengganggu” bisik Zayn lembut.
“Hah?! Kenapa? Kalian semua tidak keberatan?!”
__ADS_1
Rena, Lexa, dan Selena menggelengkan kepala bersamaan. Elizabeth bersandar santai di salah satu pohon sambil melirik dua orang yang mereka awasi.
“Berikan dia waktu, Asuna adalah orang paling berperan besar membawa Kak Arya kembali dengan selamat”
“Sebaiknya kau cepat minta maaf padanya” saran Kevin.
“Apa?! Aku!? Kan bukan aku yang melanggar jan—“
“Berisik! Aku tidak bisa mendengar pembicaraan mereka! Ohh....andai saja tadi aku mengajak Midori” Kizuna menoleh gusar.
Jangan – jangan aku salah orang. Ini sungguhan Asuna kan? Masa kau sesedih itu karena kupermainkan tadi?” gumam Arya masih belum memahami situasi.
“Ugh.....dasar lamban! Otak udang! Kepala batu! Rambut uban! Saus tartar! Tulang mayones!....” Asuna meledak tak kuasa menahan diri.
“Ahh....ternyata benar Asuna, tunggu sebentar. Tulang mayones?—Aww....aw....sakit oi! Nanti aku bisa kembali ke ruang perawatan! Allucia akan membunuhku!”
“Bodoh amat! Lebih baik kau disana untuk selamanya!!!”
Asuna memukuli Arya membabi buta karena kesal, hasilnya muncul memar – memar baru menghiasi tubuh Arya. Tetapi aneh, bukannya meringis dia malah tertawa gembira. Sehingga Asuna yang sudah mulai tenang jadi menunjukan urat pada pelipisnya sekali lagi.
“Dasar gila”
“Nee....Arya? Mungkin agak sedikit tiba – tiba....tapi....sebenarnya aku selalu men—“
BRUAK! JBUR!
‘TIDAK BOLEH DIBIARKAN BERLANJUT LEBIH JAUH!!!’
Lexa melemparkan batu seukuran genggaman tangan ke danau dan menciptakan cipratan air setinggi lima meter. Akibatnya muncul pelangi indah disebabkan bias sinar matahari sore itu.
“Waahhh bagus sekali! Eh? Arya!!! Una....? Kebetulan bisa bertemu kalian di sini”
“Lexa?” Arya menaikan sebelah alis.
“Oi oi oi pengga—“
“Arya....aku haus....” Callista sudah tiba lalu memeluk manja Arya dari belakang.
Satu persatu mulai menampakkan diri, sehingga membuat Asuna gagal menyampaikan sesuatu pada Arya. Saat sudah terkumpul semua, Alalea merasakan tatapan penuh arti Arya tertuju ke arahnya.
“Alalea....?”
“Iya – iya aku tau, berhenti melihatku dengan mata itu huh!” celetuk Alalea sebelum melangkah mendekati Asuna.
__ADS_1
“Hmm?”
“Aku minta maaf atas perlakukanku sebelumnya, terima kasih telah membawa Arya kembali. Semuanya! aku juga sungguh – sungguh menyesal. Mohon maafkan aku” dia menundukan kepala, disusul Eridan yang mengikuti dibelakang sekalian meminta maaf untuk nonanya.
“Mmm, tak usah dipikirkan. Aku mungkin melakukan hal sama jika berada diposisimu”
Suasana menjadi cair kembali begitu masalah Alalea dan Asuna terselesaikan, walaupun sang Elementalist Api masih kesal akibat perbuatan orang – orang perusak suasana tersebut. Ketika sedang asyik berbincang – bincang satu sama lain, sebuah pertanyaan dari Arya membuat keheningan menyelimuti mereka.
“Ngomong – ngomong Asuna, bagaimana caramu membangunkanku dari kondisi Master?”
Perlahan warna merah menjalari wajah Asuna, Kevin beserta Elizabeth yang tau kejadian sebenarnya memilih memanlingkan muka. Gadis itu bangun kemudian berjalan mendekati Arya, wajah mereka hanya terpisah beberapa senti.
“Kau sungguh ingin tau caranya? Akan kuperlihatkan padamu”
“Hmm? Tentu”
“Woi Asuna kau—“ baru saja Elizabeth hendak protes, Asuna menggenggam kuat kerah baju Arya kemudian melemparkan tubuh pria malang tersebut ke danau.
“JANGAN INGATKAN AKU DASAR TOLOL!!!”
“WOAA!!!”
BYUR!
------><------
“Hachi! Huh...! si Asuna itu....hidungku jadi melerkan”
Arya mengusap hidung sekali sebelum kembali memfokuskan pikiran, dia duduk bersila seorang diri di tengah – tengan Ruang Latihan. Jarum jam menunjukan pukul setengah lima pagi, kebanyakan orang masih berkelana dalam dunia mimpi masing – masing.
Ada perasaan aneh muncul didalam tubuh Arya akhir – akhir ini, ia bertambah yakin setelah mulai beraktivitas lagi. Memang benar semua memberitahunya kalau dia dibangunkan dari Self Freezing melalui ritual khusus Kizuna.
Hal tersebut mengakibatkan terbentuknya hubungan khusus, sekarang Arya resmi menjadi Orb Guardian Kizuna. Karena inti misterius itu tersimpan ditubuhnya, beberapa gejolak aneh seringkali tiba – tiba terasa.
Kabar mengatakan Orb Guardian juga mendapat energi hebat dari pemiliknya, untuk mengetahui lebih jauh Aryapun datang kemari demi menstabilkan kondisi tubuh terlebih dahulu. Perlahan udara keluar masuk paru – parunya secara teratur.
Orb Kizuna memberikan reaksi, benda bulat tersebut mulai bercahaya dan mengalirkan deras Agnet berwarna keemasan. Dalam waktu singkat, tubuh Arya sudah diselimuti aura kuning terang. Ternyata kejadian ini tidak hanya memberikan dampak untuk dirinya saja.
Si gadis rubah yang merupakan pemilik Orb bangun dari tidurnya bermandi keringat dingin, karena merasakan pusing beserta sakit kepala. Ia memutuskan berjalan – jalan sendirian menenangkan pikiran, berharap tak akan bertemu orang lain.
Tidak disangka – sangka saat berjalan melewati Ruang Latihan, sebuah pancaran energi membuatnya sulit menahan diri tuk menengok ke dalam. Mulut Kizuna melongo melihat sosok Arya yang berambut panjang, dengan pupil emas dan telinga rubah menghiasi kepalanya.
“Itu....Mythical Beast Armor....Sembilan Ekor miliku bukan?”
__ADS_1