
Eridan segera menghampiri Arya yang duduk dibawah pohon dengan wajah semeringah, ia terlihat seperti anak kecil yang baru melihat idolanya untuk pertama kali.
"Itu lu.......ar biasa sekali tuan" ucap Eridan dengan girang.
"Mmm? Apanya yang luar biasa?" tanya Arya tanpa ekspresi.
"Itu pertama kalinya aku melihat cara secara langsung orang memprediksi arah angin secara manual"
"Hah? Kalian tidak pernah memprediksi arah angin? Pantas saja panah kalian jarang mengenai sasaran" kata Arya heran.
"Tentu saja kami memprediksi arah angin saat memanah, tapi tidak secara manual seperti itu. Kami bisa menggunakan sihir anda ingat?"
"Ah..........aku mengerti, sekarang masuk akal kenapa kalian terlihat langsung memanah seakan tidak memperdulikan apapun. Tapi tetap saja kalian meleset"
"Kalau soal meleset itu sih memang tegantung kemampuan memanahnya hebat atau tidak hehehe" kata Eridan sambil menunduk dan menggaruk belakang kepalanya.
-----------------------------<<>>-----------------------------
"Dia....hebat juga" ujar Daemord sambil tertegun.
"Hebat?! Kau bilang itu hebat? Dia hanya beruntung, dan apa-apaan cara memprediksi arah angin seperti itu. Hal itu terlalu membuang banyak waktu, kalau dalam perang yang sesunguhnya dia sudah terbunuh sebelum sempat memanah. Dia menyia-nyiakan kemampuan sihir miliknya" ucap Audax ketus.
"Tidak buruk juga menurutku, dengan indera Elf yang cukup tajam memprediksi arah angin dalam perang bisa lebih cepat. Dan juga dengan begitu kita bisa menghemat tenaga agar tidak menggunakan sihir untuk hal yang tidak terlalu penting" komentar Cessa.
"Apa katamu? Dasar maniak sihir, semua Blandria sama saja" celetuk Audax.
"Aku setuju dengan Cessa" kata Rexy.
"Bahkan kau juga?" ujar Audax tidak percaya.
"Aku sih tidak terlalu mengerti, bagaimana menurutmu Putri?" tanya Daemord.
Alalea masih terdiam dan menatap anak panah milik Arya yang telah membelah anak panah miliknya, dia bahkan tidak mendengarkan apa yang dibicarakan oleh teman-temannya.
"Alalea? Kau tidak apa-apa?" tanya Daemord sekali lagi sambil memegang tangannya.
"Eh? Hahaha iya aku tidak apa-apa, maaf bisa kau ulang pertanyaan tadi?" kata Alalea sambil tersenyum.
Lalu tiba-tiba Reiss yang membawa sebuah pedang memanggil mereka untuk melanjutkan sesi latihan yang selanjutnya.
-----------------------------<<>>-----------------------------
Dalam sesi latihan yang selanjutnya mereka akan berlatih tanding menggunakan pedang secara berpasangan, Arya berpasangan dengan Eridan. Bukan karena dia yang memintanya, hanya saja yang lain sudah memilih pasangan mereka. Sedangkan Putri Alalea akan berlatih melawan Reiss karena mereka kekuarangan orang, latihan ini ditonton oleh prajurit-prajurit Elf lainnya. Mereka mulai berkumpul mengelilingi latihan itu sejak insiden panah Arya sebelumnya.
Latihan tanding pertama pun dimulai, Alalea melawan Reiss. Pertandingan berlangsung cukup sengit, tapi pada akhirnya Alalea harus mengakui kemampuan Reiss yang notabene adalah seorang pemimpin Prajurit Elf, Reiss memuji perkembangan kemampuan berpedang Alalea. Dan memang harus Arya akui kalau Reiss bukan hanya berbasa-basi, gerakan Alalea saat berpedang seperti seorang yang sudah berlatih selama puluhan tahun.
Semua orang bertepuk tangan, Alalea segera menghampiri Daemord dan menyemangati kekasihnya itu. Sebab selanjutnya dia akan melawan Cessa, pertandingan ini juga cukup sengit tapi masih tidak seseru saat Alalea melawan Reiss. Pertarungan itu pun berakhir dengan kemenangan Daemord atas Cessa.
"Aghhhh kenapa hari ini tidak ada latihan sihir sih?!" teriak Cessa kesal.
"Kau kan memang payah" cemooh Audax.
Audax dan Rexy segera maju untuk pertandingan selanjutnya, dan pertarungan mereka bisa dibilang yang paling sengit. Itu adalah pertarungan terseru yang pernah Arya lihat, mereka saling jual beli serangan dengan tebasan-tebasan yang sangat cepat. Mereka berdua memang hebat, Arya tidak bisa memprediksi siapa yang akan menang, dan ternyata kemenangan menjadi milik Audax walaupun dibumbui dengan keberuntungan karena disaat-saat terakhir Rexy terlihat sedikit terpeleset sehingga kehilangan tumpuannya.
Audax mengangkat pedangnya tinggi-tinggi untuk mendeklarasikan kemenangannya, diikuti oleh teriakan dan tepuk tangan dari para prajurit Elf yang menonton. Rexy sendiri hanya terdiam, sepertinya dia sudah puas dengan hasil yang dia dapat walaupun harus kalah. Arya dan Eridan segera berdiri untuk bersiap-siap.
"Baiklah mari kita lihat pertandingan si payah Eridan melawan si orang asing" kata Reiss sambil memberikan pedang yang baru saja ia gunakan kepada Arya.
Arya mengangkat pedang itu sebentar, lalu dia segera menancapkan pedang itu ditanah dan mendatangi Eridan yang sudah bersiap dengan pedangnya ditengah arena.
"Terlalu berat, aku akan menggunakan pedangku sendiri" ujar Arya sambil berjalan.
"Apa? Pedang mu sendiri? Jangan bilang kau akan menggunakan jarum besar yang kau bawa itu? Benda itu tidak akan bisa memotong apapun" ejek Audax diikuti gelak tawa para penonton.
Pedang yang digunakan para Elf memang lebih tebal dari katana milik Arya, tapi menurutnya pedang itu terlalu berat dan hanya akan memperlambat gerakannya saja.
"Bolehkan?" tanya Arya sambil memandang Reiss.
"Terserah kau saja, aku sudah tidak perduli dengan apapun yang kalian berdua lakukan" balas Reiss malas.
"Terima kasih, baiklah Eridan ayo maju" kata Arya sambil menatapnya.
"Eee.......Tuan? Kita akan bertanding menggunakan pedang bukan?" tanya Eridan dengan raut wajah bingung.
"Tentu, kenapa kau mengatakan hal yang sudah jelas begitu"
"Lalu......kenapa anda belum menarik keluar pedangnya?"
Arya memang hanya menempatkan tangan kanannya pada gagang pedang, dia belum menarik keluar pedang itu dari sarungnya.
"Aku akan mencabut pedang ini saat waktunya tiba"
"Pfttt hahaha, lihat si orang asing itu! Dia ingin berlatih pedang tapi ia malu menunjukan jarum besar miliknya?! Wahahaha hei bocah! Aku tau kau sangat percaya diri karena melawan Eridan tapi bukankan itu sedikit keterlaluan" gelak Audax sehingga membuat yang lainnya ikut tertawa.
"Berisik! Kau terlalu banyak bicara" kata Arya sambil melemparkan tatapan sedingin es kepada Audax.
Hal yang tidak terduga itu pun segera membuat semua orang terdiam, bahkan Audax sendiri tidak menyangka bahwa Arya akan berkata seperti itu padanya. Wajahnya memerah karena naik pitam.
"Apa yang kau----"
"Sudah-sudah, bisakah kau tenang?" tahan Daemord.
"Mmm....tuan aku juga merasa sangat diremehkan disini" ujar Eridan dengan nada suara sedih.
"Tidak, aku serius. Serang aku dengan seluruh kemampuanmu" balas Arya sambil menatap mata Eridan.
Melihat tatapan Arya itu raut wajah Eridan menjadi serius, dia mengambil kuda-kuda siap untuk menyerang. Arya hanya diam dan menunggu, kemudian Eridan dengan cepat mengangkat pedang diatas kepalannya dan melakukan tebasan vertikal ke arah Arya. Tapi ternyata itu hanya gerak tipu, sehingga ditengah gerakan tebasan yang Eridan lakukan ia mengubahnya menjadi tusukan dengan sangat cepat.
__ADS_1
Arya menghindari tusukan itu dengan berputar pada pijakannya lalu dengan sigap mengaitkan pergelangan tangan kirinya pada pergelangan tangan kanan Eridan kemudian ia mencabut katana miliknya dengan cepat dan melakukan tebasan.
Pertandingan itu berakhir dalam waktu yang singkat, Arya dan Eridan sudah saling memunggungi satu sama lain. Arya memutar-mutar pedangnya lalu dengan perlahan memasukan pedangnya kembali kedalam sarungnya, tepat saat suara gagang pedang dan sarung pedang miliknya beradu. Pedang milik Eridan terpotong menjadi dua bagian. Hal itu cukup untuk membuat semua orang yang menonton pertandingan itu membisu.
"Jadi........rupanya, ternyata sebuah jarum dapat memotong sebuah pedang" celetuk Arya sambil menoleh.
-----------------------------<<>>-----------------------------
Seketika Audax langsung berdiri dan menghampiri Arya, ia menarik pelindung badan yang dikenakan oleh Arya sambil mendekatkan wajahnya.
"Jangan terlalu sombong orang asing, hanya karena kau bisa memotong pedang si payah Eridan bukan berarti kau---" bisiknya dengan nada mengancam.
Secara refleks karena melihat bahaya, Eridan pun segera menarik Arya untuk menjauh karena takut situasinya semakin gawat. Daemord dan Rexy juga dengan cepat memegangi kedua tangan Audax agar dia tidak bisa melakukan apa yang dia inginkan.
"Terlalu sombong katamu? Apa kau tidak punya.....cermin?" pancing Arya sambil memiringkan kepalanya.
Urat pada pelipis Audax semakin menegang mendengar perkatan Arya itu, ia mulai meronta berusaha membebaskan diri dari pengangan kedua temannya.
"Biarkan aku memberikan pelajaran pada bocah sombong itu" katanya dengan nada murka.
"Hei.....hei tenangkan dirimu, dia itu tamu Ratu. Kau bisa merusak semuanya" desis Daemord.
"Benar, gunakan kepalamu sedikit" tambah Rexy.
Setelah mendengar perkatan kedua temannya Audax mulai berhenti berontak sehingga Daemord dan Rexy pun melepaskan pegangan mereka, lalu Audax memerintahkan seorang prajurit Elf untuk mengambilkan pedang miliknya. Lalu ia segera mencabut pedang itu.
"Hei?! Apa yang..........."
"Berisik! Aku Audax D'Rodria menantangmu untuk berduel" ucap Audax sambil menegakkan pedang didepan wajahnya.
Tantangan duel itu membuat suasana menjadi gempar, terdengar bisikan-bisikan dari kerumunan yang mengelilingi mereka. Arya menyadari bahwa wajah Eridan memucat mendengar tantangan itu.
"Bagaimana? Kalau begini tidak akan ada masalah bukan? Apakah kau mau menjadi pengadilnya paman?" tanya Audax sambil melirik Reiss.
"Aku sih tidak masalah, tapi kalau ini duel tidak resmi maka aku tidak------"
"Aku yang akan meresmikannya" potong Alalea.
"APA?!"
Teriakan itu muncul dari mulut Eridan tanpa bisa ia tahan lagi, dia tadi sudah merasa lega karena menganggap bahwa Ratu tidak akan mengizinkan duel ini. Tapi jika Putri Alalea meresmikannya maka duel itu akan terwujud.
"Sekarang tidak ada yang menghambat kita lagi, atau jangan-jangan kau takut?" kata Audax dengan seringai mengejek.
"Tu----"
Belum sempat Eridan menahannya, Arya mencabut katananya dengan cepat dan menegakkan pedang itu dihadapannya.
"Dengan senang hati, aku terima tantanganmu" ujar Arya tanpa ekspresi.
-----------------------------<<>>-----------------------------
Dari tadi ia mondar mandir sambil mengoceh tidak jelas disekeliling Arya yang sedang mengenakan perlengkapan duelnya, Arya hanya diam sambil mengencangkan tali pelindung lengan miliknya dengan gigi.
"Hei tuan? Apa anda mendengarku?" tanya Eridan lagi.
"Eridan dengar, aku tidak suka mereka menjelek-jelekan temanku. Mereka selalu menyebutmu payah, bahkan Sang Putri yang nyatanya adalah teman masa kecilmu juga meragukan dirimu. Mereka tidak berhak melakukan itu, mereka tidak tahu apa-apa" kata Arya sambil menatap Eridan.
Lalu Eridan terdiam sejenak dan menghela nafas panjang sambil membalikan badannya, ia sepertinya sudah tidak berencana menghalangi Arya lagi.
"Hah.....kalau anda sudah bilang begitu mau bagaimana lagi? Sepertinya aku harus memanggil Nona Rena"
"Kalau begitu sebaiknya kau bergegas, aku akan menyelesaikan ini secepat mungkin" ujar Arya sambil berjalan menuju arena.
-----------------------------<<>>-----------------------------
"Kemana perginya si payah itu? Apa dia tidak sanggup melihat temannya ini akan dihajar olehku?" celetuk Audax saat Arya tiba di arena.
"Teruslah mengoceh selagi kau masih sempat" balas Arya sambil tersenyum.
Kerumanan orang sudah berada disekeliling arena tempat mereka bertanding, lebih banyak dari saat mereka latihan. Dikerumunan itu Alalea beserta yang lainnya ikut menonton duel tersebut, Reiss kemudian melangkah ke tengah arena.
"Aku Reiss D'Rodria akan menjadi pengadil, hanya dibenarkan menggunakan pedang pada duel ini. Bertarunglah dengan jujur, pertarungan akan berakhir apabila salah seorang tidak bisa melanjutkannya lagi. Mengerti?"
Arya dan Audax mengangguk, lalu dengan segera Audax mencabut pedangnya disambut oleh teriakan-terikan dari para penonton. Sedangkan Arya hanya diam seperti saat ia melawan Eridan sebelumnya, ia hanya menempatkan tangan pada gagang pedang miliknya.
"Sebaiknya kau jangan menyamakanku dengan si payah itu atau kau akan menyesal" kata Audax pada Arya.
"Tentu mana mungkin aku menyamakan dirimu dengannya, Eridan jauh lebih baik dari dirimu" balas Arya tenang.
Kesal mendengar perkataan Arya, Audax langsung mengambil inisiatif menyerang. Tanpa menunggu waktu lama Arya mencabut pedangnya sehingga pedang mereka pun beradu diudara dan menyebabkan percikan api akibat gesekan kedua pedang tersebut. Audax belum berhenti disana ia terus melancarkan serangan-serangan mematikan ke arah Arya.
Jujur saja jika dia dalam kondisi normal Arya akan sangat kesulitan menghadapi Audax, padahal ia memprediksi tebasan Audax akan lebih berat dan membuat dia kewalahan. Tapi saat ini entah kenapa tubuhnya terasa sangat ringan dan relaks sehingga ia bisa dengan mudah menghindari dan membelokan serangan dari Audax.
Tapi tetap saja Arya bisa merasakan tubuhnya tergores oleh tebasan pedang Audax, tidak mau kalah ia terus meladeni serangan Audax dan melancarkan serangan-serangan balik yang ia yakini juga melukai Audax sama parahnya.
"Apa hanya ini kemampuanmu? Kau hanya bisa menghindar seperti pengecut" seru Audax.
Arya hanya diam dan terus melakukan hindaran dan tangkisan sebaik yang ia bisa, lalu saat ia menyadari gerakan Audax semakin melambat dia berbalik menyerang. Dengan cepat ia menghindari tebasan Audax dan melangkah sambil berputar ke belakang Audax, ia pun mendaratkan tebasan yang cukup dalam pada betis kanan Audax sehingga membuat dia menekukan kaki kanannya.
Belum berhenti disana Arya melakukan langkah memutar lagi dan menebas betis kiri Audax sehingga membuat ia sekarang bertekuk lutut, lalu sekali lagi ia berputar sambil melangkah kehadapan Audax kemudian dengan menggunakan pedang miliknya ia menghempaskan pedang Audax ke udara. Gerakan itu sangat cepat dan indah sehingga membuat Arya terlihat seperti menari-nari mengelilingi Audax.
Arya menangkap pedang milik Audax dengan tangan kirinya, lalu menghunuskan kedua pedang yang ia pegang kearah leher Audax. Lalu dengan sengaja ia menggunakan kedua ujung pedang tersebut untuk mengangkat dagu Audax sehingga dia bisa melihat wajahnya dengan jelas.
"Dance of three clover leaves" bisik Arya dengan wajah tenang.
Langsung saja semua penonton bertepuk tangan dan bersorak menyambut sang pemenang, perasaan Audax terlihat jelas dari wajahnya, wajahnya memerah karena marah dan malu. Lalu dengan mata menatap tajam ia mengarahkan telapak tangannya kepada Arya, Arya sempat melihat telapak tangan itu mengeluarkan cahaya merah namun dengan sigap Reiss menangkap pergelangan tangan Audax dan melemparkan tubuhnya ke luar arena.
__ADS_1
"Kau hanya akan mempermalukan dirimu lebih jauh lagi, kau sendiri yang menantangnya untuk berduel menggunakan pedang dan kau sendiri yang ingin melanggar hal itu dengan menggunakan sihir?" hardik Reiss sinis.
"Tuan Arya?!"
Eridan beserta Rena bergegas mendekati Arya yang terduduk ditengah arena, keseimbangannya tiba-tiba hilang dan rasa sakit menyengat dari luka akibat goresan pedang Audax baru saja terasa olehnya.
"Apa sih yang kau lakukan?" tanya Rena cemas.
"Maaf, tapi bisakah kau membalut luka-luka ini terlebih dahulu Rena" jawab Arya sambil mengernyit.
Lalu dengan cepat Rena mengeluarkan perban dan membungkus luka-luka Arya, Eridan ikut membantu. Sekilas pandangan Arya dan Eridan bertemu, Eridan mengusap hidungnya sambil tersenyum dan berkata.
"Anda hebat sekali tuan, terima kasih"
Audax juga sudah dikelilingi oleh teman-temanya, lukannya jauh lebih parah dari Arya. Terutama luka tebasan pada kedua betisnya, luka itu membuat ia tidak bisa berdiri sendiri.
"Sial!!!" umpatnya kesal.
"Bagaimana rasanya dipermalukan didepan banyak orang?" ledek Cessa.
"Berisik!" bentak Audax.
"Dia hebat" kata Daemord.
"Bukan hanya hebat, dia luar biasa. Aku belum pernah melihat gerakan seperti itu sebelumnya" celetuk Cessa.
"Aku setuju, itu bukan gerakan biasa" ucap Rexy sambil mengangguk.
"Berhentilah mengoceh, kalian membuatku merasa lebih buruk dari sebelumnya"
"Bawa dia kemari, aku akan menyembuhkannya menggunakan sihir" panggil Alalea.
"Sungguh? Terimakasih Tuan Putri" kata Audax girang.
Mereka menyandarkan Audax pada pohon, Alalea menempatakan kedua telapak tangannya diatas kedua kaki Audax. Lalu sebuah cahaya biru lembut menyinari kaki dan beberapa saat kemudian dia sudah bisa berdiri kembali seakan tidak terjadi apa-apa.
"Tuan Putri bisakah----------"
Arya segera menghentikan Eridan, ia memegang tangan Eridan sambil menggelangkan kepala. Eridan menatapnya dengan tatapan bertanya.
"Tidak perlu, aku tidak apa-apa" bisik Arya menenangkan.
"Tapi jika Putri Alalea menyembuhkan anda, itu akan jauh lebih baik"
"Tak apa, luar biasa ya sihir itu? Aku baru pertama kali melihat sihir seperti itu"
"Aku juga, lukanya seakan tidak pernah ada" timpal Rena.
"Sihir penyembuhan itu memang sihir khusus dan rumit, hanya orang-orang tertentu yang bisa menguasainnya" jelas Eridan.
"Jadi kau tidak bisa menggunakan sihir itu?" tanya Arya.
"Kalau bisa, aku tidak mungkin meminta pada Putri kan tuan?" jawab Eridan tanpa ekspresi.
"Ahh benar juga hahaha"
"Jadi benar kalau Elf dia luar hutan tidak menggunakan sihir?"
Tanpa Arya duga yang berbicara ternyata Reiss, Reiss berdiri didekat mereka sejak tadi dan memperhatikan Rena yang membalut luka-luka Arya. Arya hanya mengangguk dan tidak berkata apa-apa. Lalu tiba-tiba Reiss menekukan lututnya pada Arya.
"Saya meminta maaf atas perbuatan memalukan yang dilakukan oleh keponakan saya, dan saya juga meminta maaf atas perlakuan tidak sopan saya selama ini kepada anda Tuan"
"Eh?! Tidak apa, kau tidak perlu bicara seformal itu padaku" kata Arya cepat.
"Tapi----"
"Kau hanya melakukan tugasmu, jadi kau tidak perlu minta maaf. Kami juga salah karena memasuki hutan secara diam-diam" ucap Arya sambil tersenyum.
"Kau terlalu baik, dan sekarang aku mengerti kenapa kemampuan bertarungmu hebat. Kalian para Elf diluar hutan tidak menggunakan sihir sama sekali bukan? Itu menyebabkan kalian meningkatkan kemampuam fisik kalian sampai batas maksimalnya" kata Reiss sambil mengangguk-angguk.
"Hahaha begitulah" jawab Arya sambil menatap kearah lain. Sampai kapan kebohongan ini akan berlanjut pikirnya.
-----------------------------<<>>-----------------------------
"Cihh bagaimana mungkin aku bisa kalah oleh orang asing sombong seperti dirinya" gumam Audax masih kesal dengan kejadian tadi.
Saat itu Audax beserta tiga orang lainnya sedang berjalan pulang menuju rumah mereka.
"Bukan hanya Arya yang luar biasa" kata Daemord.
"Kau benar" timpal Rexy.
"Mmm? Apa maksud kalian?" tanya Cessa.
"Yang luar biasa adalah Eridan" jawab Rexy tenang.
"Hah?! Kenapa kau bisa bilang si payah itu luar bisa?" tanya Audax heran.
"Kau mungkin tidak menyadarinya tapi........dia sudah memprediksi dan menganalisa bahwa kau akan dikalahkan oleh Arya" jelas Daemord.
"Apa?!" kata Cessa dan Audax bersamaan.
"Kalian pikir saja, dia berani membiarkan tamu yang diserahkan Ratu kepadannya untuk berduel. Pemandu tamu macam apa itu? Dan juga dia sudah tahu bahwa Arya hanya akan mendapat luka ringan, dia bisa saja pergi ke kastil dan meminta tabib pada Ratu tapi dia malah memanggil gadis itu. Yang berarti dia sudah memprediksi seberapa parah luka yang dapat kau berikan pada Arya" ujar Rexy sambil memegang dagunya.
"Maksudmu si payah itu sudah tau hasilnya akan seperti ini?" tanya Audax lagi tidak percaya.
"Benar, sebaiknya kita tidak boleh meremehkannya. Kakakku Regulus selalu berkata bahwa kakak dari Eridan. Orion adalah peracik strategi dan orang terpintar yang pernah dia kenal"
__ADS_1