
Po berjalan mendekati dinding terluar Elemental City, tangannya yang cukup besar meraba benda tersebut kemudian terdiam beberapa menit. Berbekal Agnet, ia menganalisis serta mencari kerusakan pada tiap jengkalnya namun hasilnya nihil.
“Para pria malang....” Po mengela napas begitu merasakan jasad – jasad patroli sekitar sana.
“Hihihi.....kakak lihat ini, kau pasti menyukainya....kekeke.....”
“Hmmm....”
Magna Po terusik oleh suara nyaring sebelumnya hingga akhirnya menoleh, dia menemukan satu batalion Goblin berjumlah kurang lebih tiga ratusan mengenakan perlengkapan perang lengkap menghampirinya.
Jauh dibagian belakang ada sosok agak berbeda, tingginya diatas rata – rata Goblin biasa, Pengawas Po dapat memastikan kalau ialah pemimpin mereka. Si ketua membalas tatapan Po dengan senyuman lebar sambil memamerkan taring runcing kekuningan miliknya.
“Daging.....banyak....penuh....lemak....”
BUMM....!!!
“Maaf....tapi aku pastikan menyantap pria seusia diriku tak akan enak....kalian nanti menyesal” jawab Po santai tanpa memperdulikan debuman senjata gada raksasa barusan.
“Heemmm....ada benarnya juga kak, pasti wanita – wanita jauh lebih lezat....”
“Persetan, serang....”
“Gyahahaha orang – orang bodoh!? Kalian dengar perintah—“
WUSH.....!!! GRAB!
“ARGH....SIAPA....KAU....!?”
Hanya dalam sekian detik, tempat itu telah dipenuhi potongan – potongan mayat Goblin dan bau amis darah. Pemimpin pasukan tadi tidak mengerti apa yang baru saja terjadi, dia melihat manusia gemuk sebelumnya berdiri dekat dinding terluar tetapi sekarang tiba – tiba sudah berada dihadapannya.
Menit berikutnya ia sadar seluruh anak buahnya diratakan, makhluk hijau ini mengerang kesakitan akibat cengkraman Magna Po terhadap tengkoraknya. Sang Goblin berusaha memukul maupun menendang supaya bisa terlepas.
KRAKKK...!!!
Bunyi tulang retak barusan disusul tubuh lemas Demon tersebut, Po pergi menjauh sambil membersihkan bekas darah sekitar telapak tangannya terus bergumam pelan. “Nyatanya kualitas Rare-Tier tidak berbeda jauh dari perang dahulu....”.
Kilasan pertempuran melawan ras – ras lain bersama gurunya sekelebatan memenuhi pikiran Po, ketika dia dan sembilan Pengawas Ujian sekarang masih mengekor kemanapun para Elementalist generasi sebelumnya pergi.
SYUU...!!!
“Pengawas Po?”
“Tuan Eridan?”
“Namme menemukan sebuah fakta menarik, saya pikir anda harus melihatnya....” Eridan akhirnya menjelaskan sesudah menelan ludah berat serta diam cukup lama memelototi bekas lokasi dimana batalion Goblin harusnya berada.
“Tolong tunjukan jalannya”
__ADS_1
“Mari ikuti saya....”
Keduanya bergerak cepat layaknya bayangan, setibanya beberapa kilometer dari lokasi tadi tibalah mereka pada sebuah bekas desa yang telah menjadi reruntuhan. Berkat tindakan sigap Pusat Penelitian mengirim regu pengaman, korban akibat serbuan Goblin sukses diminimalisir, Namme nampak tengah membongkar puing – puing bangunan seakan mencari sesuatu.
“Lagi?” ujarnya heran.
“Tuan Namme....”
“Eh? Pengawas Po, terima kasih mau memenuhi panggilanku. Kau berhasil membawanya kemari Eridan....”
“Soalnya aku juga tak mengerti maksud penemuanmu itu....” Eridan menggaruk – garuk kepala malu.
Namme kemudian meminta Pengawas Po mendekat terus memperlihatkan sebuah gambar aneh pada lantai bekas gudang itu. Ia memberitahu sudah menemukan hal yang sama kesekian kalinya, karena penasaran ketiganya bekerja sama untuk membersihkannya agar lebih jelas. Lingkaran sempurnapun muncul dipenuhi huruf – huruf asing di setiap jengkalnya.
“Mustahil....bukankah.....!? Tuan Eridan?! Anda sungguh tidak mengenali apa ini!?”
“Eh? Runenya agak sedikit berbeda dari sepengetahuanku....” dua bocah laki – laki tersebut kebingungan menanggapi respon panik Po.
“Celaka!? Kita harus cep—“
BUMMM.....BUMMM....BUMMM.....!!!!
Ledakan memekakan telinga berurutan memenuhi udara mengakibatkan mereka terkesiap, awan hitam membumbung tinggi dan semuanya berasal dari arah Distrik Perak. Lokasi seluruh pengungsi sekarang dan tujuh puluh persen populasi penghuni Elemental City berada.
“TERLAMBAT!? AYO CEPAT KEMBALI!” perintah Magna Po sembari membentak.
“Pengawas ada apa!? Bunyi barusan itu....?”
“Berarti....?” mata Eridan melebar seketika.
“Tepat, begitulah cara makhluk – makhluk sialan tersebut menyusup ke dalam Elemental City. Pasti terdapat orang ketiga yang membuatnya, ada....pengkhianat diantara para penduduk....” Po menggeram murka sebelum menambah laju geraknya.
------><------
“Uhuk – uhuk! Ugh....”
Alalea terbatuk – batuk akibat debu yang bertebaran dimana – mana, hal terakhir dalam ingatanya adalah dirinya berkumpul bersama Callista dan Kizuna ketika mereka baru kembali ke Distrik Perak. Tetapi tidak berselang lama tiba – tiba terbentuk semacam lingkaran sihir pada sejumlah gedung lalu disusul bunyi ledakan saling bersahutan.
Kizuna bertindak cepat mengeluarkan kesembilan ekornya untuk melindungi kedua sahabatnya itu, namun meski demikian hempasan angin dampak fenomena tadi menyebabkan semuanya terlempar sehingga sekarang malah terpisah – pisah.
Sang Putri Elf syok bukan main melihat puing – puing bangunan berserakan mengelilinginya, nyatanya hampir lima puluh persen wilayah paling ramai di Elemental City ini mengalami kerusakan parah bahkan banyak tempat tinggal atau kerja rubuh berantakan.
ROAAARRR....!!!
“Mustahil....Wyfern?! Bagaimana mereka—teman – teman!?”
__ADS_1
Detak jantung Alalea bertambah kencang menyadari makhluk bersayap menyeramkan memenuhi langit dalam pelindung kota. Dia berusaha sesegera mungkin meninggalkan lokasi untuk mencari tau kejelasan situasi, pikirannya kacau akibat perasaan cemas tentang nasip para warga sipil juga rekan – rekannya.
Sewaktu mencapai titik berpijak tertinggi supaya mampu mengawasi daerah sekitar, Alalea terperangah atas pemandangan dihadapannya. Diondra nampak melayang sambil melebarkan tangan penuh konsentrasi, payung biru miliknya berdiri tegak menutupi batang hidungnya.
Berkat pengendalian sihir luar biasa Diondra banyak sekali reruntuhan bangunan berhasil dihentikan dari menimpa masyarakat. Jujur saja bagi Alalea kejadian barusan adalah kali pertama ia menjadi saksi kemampuan gadis pemegang gelar Blue Witch tersebut.
“Aku harus menolongnya....”
“Menunduk!”
SYUU....!!! JLEB!
Refleks Alalea bekerja sangat baik mendengar teriakan peringatan mendadak tadi, sebuah tombak kemerahan melesat tepat menuju letak kepalanya berada beberapa detik yang lalu. Menancap hingga menembus leher seorang Ghoul laki – laki.
“Callista?! Kau baik – baik saja?” seru Alalea menemukan si pelaku utama pelemparan.
“Begitulah, kita harus membantu Diondra dengan melakukan mengevakuasi. Dia tidak akan bisa menahannya dalam jangka waktu lama....”
“Cih!? Ada apa sebenarnya?”
“Kau sungguh bertanya kepadaku? Situasi kita sama disini....” Callista menatapnya heran.
“Biar aku hubungi Pusat Peneli—tunggu dulu! Alat komunikasi ini tak berfungsi....” ujar Alalea mengotak – atik benda di telinganya.
“Milikku juga, ckk!? Mereka sudah memperkirakan semuanya agar kita kesulitan menghubungi para Elementalist serta bertukar informasi satu sama lain....ayo cepat! Nanti pikirkan jalan keluarnya, sekarang ada masalah yang lebih genting”
Usai memahami maksud Callista keduanya buru – buru memindahkan warga, terutama orang – orang dibawah bogkahan bangunan melayang hasil sihir penahan Diondra. Urat saraf sang Putri Atlantos menegang, sementara dilain sisi tim gabungan Witch ditambah Werebeast berwujud burung seperti Harpyja dan Macow melindunginya dari serangan Wyfern.
Kizuna sendiri mengaktifkan Mythical Werebeast Armor terus menggunakan ekor – ekornya menyelamatkan banyak korban. Alalea hendak berangkat menjemput tuk kesekian kalinya ketika dia akhirnya menemukan sesosok remaja perempuan dengan kaki terkilir.
Baru bergerak selangkah, bunyi keras terdengar dan bangunan lain dekat sana rubuh ke arah gadis tadi. Diondra menyadarinya namun tidak bisa berbuat apa – apa, Alalea menerjang secepat mungkin tetapi sayang jaraknya terlalu jauh. Saat semua telah menganggapnya terlambat, muncul pria berambut hitam panjang membawa pedang kayu.
SRAT! BRRR....!!!
Hanya berbekal ayunan santai, reruntuhan gedung itu tercincang menjadi serpihan – sepihan kecil. Si laki – laki langsung membawa anak barusan ke tempat aman. Alalea masih melongo, otaknya belum bisa menerima kejadian menakjubkan tersebut.
“Senior Shu memang sedikit berlebihan, Nona Alalea?”
“Eh!? Pengawas Astral?” Alalea terkesiap sebab Giovani van Astral sudah berdiri disebelahnya entah sejak kapan.
“Anda tak perlu khawatir, situasinya masih aman terkendali. Benar mungkin sampai sekarang kami belum bisa membujuk mereka, tetapi sekarang para Hidden Suzerainity tidak punya pilihan selain bertarung....”
“Siapa maksud anda....Hidden Suzerainity?”
“Manusia – manusia pengguna Agnet sama seperti Kesepuluh Pengawas Ujian....veteran – veteran perang antar ras beberapa dekade yang lalu....” jawab Astral sembari melonggarkan dasi miliknya.
__ADS_1
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.