
“Ugh....hei cepatlah! Kenapa malah kalian yang laki – laki jauh lebih lama berdandan dari pada kami sih?!” seru Hanna tidak sabaran.
“Se... sebentar!!?” terdengar suara Arya menyahut.
Beberapa menit kemudian Ryan, Ikey, dan Shaqihr keluar asrama mengenakan setelan jas mewah lalu menghampiri keenam gadis barusan. Semua telah siap pergi memenuhi undangan sekolah kecuali satu orang, ketua mereka.
“Apa perlu aku bawakan seseorang untuk mengajari kalian berpakaian?”
“Tenanglah Nona Vonsekal, kami berusaha agar kalian tidak kenapa – kenapa nantinya” Ryan melirik malas diikuti anggukan dua temannya.
“Eee....kawan – kawan? Kupikir sebaiknya aku tak ikut saja....”
“Hah? Kau ini bicara apa? Mana bisa seorang ketua absen dalam acara penting begini? Kereta jemputan kita telah datang lho” komentar Kyra mengangkat sebelah alis.
“T..te...tetapi haruskah pakiannya semencolok ini....”
“Apa maksudmu? Semua sudah disiapkan keluargaku, jangan banyak protes. Kualitasnya juga pasti terjamin”
Laura menepuk pundak putri bangsawan tersebut, sebelum berjalan ke pintu bertujuan untuk membukannya sembari berkata riang. “Sudahlah Hanna, ayo cepat Arya. Apapun yang kamu kenakan kupikir tidak buruk....sama sekali.....”.
KRIET....
Si gadis Shaman berambut biru gagal menyelesaikan kalimatnya, Arya telah berdiri menunggu sedikit malu di muka pintu. Jas hitam berkilau seakan melekat sempurna pada tubuhnya, bagian atas kepalanya telah tersisir rapi ke bagian belakang.
“Awas jangan sampai mimisan....” peringat Ryan dan langsung menyadarkan lamunan perempuan – perempuan anggota kelompoknya.
Tak jauh dari tempat mereka berdiri, ada dua kereta berjejer ditarik oleh makhluk gagah bertubuh singa dengan kepala serta sayap elang. Sama persis seperti kendaraan yang digunakan Turin tuk membawa Arya menuju Magihavoc.
Begitu berpencar menjadi dua kelompok masing – masing lima orang, seluruh Figment Squadron masuk penuh antusias. Arya menyempatkan diri mengelus paruh kedua Griffon kemudian menyusul rekan – rekannya.
Malam ini adalah hari pembukaan Five Heavenly Stars Tournamen, untuk itu diadakan pesta besar di salah satu lokasi istimewa bernama Lembayung Hall. Salah satu pulau melayang terbesar dan megah di seluruh wilayah kekuasaan Witch.
Divina Academy, Evil Destroyer, Wonder Invocation, Holy Fist, juga Death Gates harus memberi salam sebagai tanda sportifitas. Oleh karenanya para pewakilan kelima akademi diwajibkan menghadiri undangan mereka.
“Kuharap makanannya enak, bagaimana denganmu Arya? Arya?” panggil Sierra.
Namun mata Arya masih terpaku keluar jendela, ia takjub terhadap pemandangan rantai raksasa dekat kereta. Setelah ditelusuri ternyata benda tersebut mengarah ke lokasi tujuan, penasaran. Diapun berpura – pura lupa lalu bertanya.
“Mengapa dirantai? Tidak ada alasan khusus kok” Bella menjawab santai.
“Terus?”
“Kalau mampu, pasti sudah dilepaskan sejak lama. Rantai itu dilapisi sihir kuno misterius, jika mau menggoresnya saja kau pastilah harus sungguh – sungguh berbakat” celetuk Laura.
Tak lama berselang, roda kereta kembali menyentuh tanah. Waktu keluar terlihat banyak kendaraan sihir berbagai jenis memadati Lembayung Hall. Figment Squadron berkumpul kembali dan bersama – sama memasuki pesta besar dihadapan.
------><------
Para undangan hadir dengan penampilan terbaik mereka, bukan cuma berasal dari lima akademi sihir peserta turnamen saja. Tapi bangsawan juga orang – orang penting nan berpengaruh di Magihavoc memamerkan wajah di sini.
__ADS_1
Acaranya meriah sekali, hidangan – hidangan lezat tersedia kemana pun mata memandang. Alunan musik merdu mengisi udara, Arya sempat sekelebatan melihat kenalannya seperti Iruphior, Brevil, dan Profesor – Profesor lain.
Meski semua langsung menghilang saking penuhnya tempat tersebut, tatapan tajam menusuk mengakibatkan Arya menoleh. Rhilore Lefay berjalan membelah lautan manusia diikuti murid – murid Holy Fist.
Gerombolan itu berhenti tepat di depan dirinya, Arya menundukan kepala sebagai tanda sopan santun. Wajah sang Warlock tidak menunjukan perubahan signifikan, tamu – tamu sekitar mulai memperhatikan mereka sembari berbisik satu sama lain.
“Sudah kuduga kau pasti lolos eh? White....”
“Saya merasa tersanjung mendengarnya”
“Mengingat kau mengalahkan salah satu penyihir muda kami, tentu bukan suatu hal yang sulit berada di sini”
“Eee...tidak juga, sebenarnya aku bisa dibilang beruntung hehehe....” Arya tertawa merendah.
“Hoo....sikapmu patut dipuji, mari lihat sampai kapan kau mampu tersenyum ******** kecil....” bisik Rhilore sebelum melenggang pergi.
Anak laki – laki berambut cokelat bertatap muka langsung dengan Arya, keduanya saling membalas senyum. Melihat kondisi sudah kembali kondusif, teman – temannya bergegas mendekat khawatir dia terluka atau apa.
Sementara Rhilore masih melangkah, pria tersebut melirik murid kesayangannya penasaran dan bertanya. “Bagaimana menurutmu?”.
“Hmm....? Menarik, aku makin tak sabar menanti turnamen”
“Pastikan kau menghancurkan bocah itu, Daniel”
“Iya – iya”
------><------
Arya bersama Friska maju berdampingan, perhatian paling besar tetuju kepada kedua murid Divina Academy tersebut. Selain kejutan – kejutan dari Arya, fakta keberadaan Black Mara mempunyai daya magnet tersendiri.
Ilzaxar Iruphior memberikan senyum hangat sambil memegangi pundak anak laki – laki dan perempuan itu. Masing – masing kepala sekolah memperkenalkan kepada semua orang wakil mereka, sorak – sorai dukungan bergemuruh tiap kali nama – nama diserukan.
Sebagai penutup, Kelima Penyihir Agung menyatukan senjata dan membuat api hijau berukuran besar untuk menandakan mulainya Five Heavenly Stars Tourneament. Arya cepat – cepat meninggalkan lokasi.
Tetapi sial bertepatan sekali dengan dibukanya lantai dansa, hal ini membuatnya terseret arus hingga kehilangan jejak teman – temannya. Sembari menghela napas lelah, dia meminum jus dekat meja makan.
Matanya mengikuti para pasangan yang sedang menari lincah, sampai sekarang Arya masih kurang paham mengapa banyak sekali orang menyukai dansa. Tiba – tiba suara bising membuatnya menoleh, sekitar dua puluh laki – laki mengerubungi Friska. Bahkan Arya mengenali diantara mereka ada perwakilan dari sekolah lain.
“Nona Lullaby bersediakah?”
“Aku—“
“Oi oi oi menyingkirlah udik”
“Hey—“
“Berisik! Enyah sana”
“Ugh....”
__ADS_1
“Friska? Maaf membuatmu menunggu lama” Arya datang membawa dua gelas penuh berisi minuman.
“Eh?”
“Permisi tuan – tuan”
Arya menyerahkan bagiannya, sebelum menarik Friska menjauh. Ekspresi si gadis masih terlihat kebingungan, tapi akhirnya ia sadar alasan dibalik tindakan pria ini.
“Terima kasih telah mengeluarkanku dari sana....”
“Ahh...sama – sama, lagi pula kita teman satu sekolah bukan?” jawab Arya sambil lalu.
“Kau....ingat tidak sih pertaruhan dengan Merlin? Aku dipihaknya lho”
“Terus?”
Friska tertawa kecil menanggapi tingkah aneh Arya, tanpa disadari keduanya telah berdiri di lantai dansa.
“Eee....gawat, mau bagaimana lagi?”
“Heh!?” sang Black Mara terkesiap kaget waktu Arya menyentuh pinggulnya.
“Kau....keberatan?”
“Ahh....tidak sama sekali” sahutnya cepat.
“Bagus, tapi kuingatkan aku buruk dalam hal ini”
Pasangan itu mulai menari, orang – orang memberikan ruang bagi mereka. Ryan sigap mengajak anggota tim lain keluar dari sana.
“Hmm? Ada apa Ryan? Kita harus mencari Arya” Fibetha bertanya heran.
“Mmm....kupikir dia tidak ada di dalam, mari lakukan di halaman belakang saja”
“Kau yakin?” ujar Kyra curiga.
“Huum”
‘Kau berhutang padaku satu set action figure Rias-Senpai kawan!’ Ryan berucap dalam hati tak bisa membayangkan apa yang terjadi jika sampai gadis – gadis ini melihat Arya berdansa dengan calon musuh.
------><------
“Hah....lama juga....” Arya menghembuskan napas panjang sambil melonggarkan dasinya.
Ia terbawa suasana, entah sudah berapa tahun sejak dirinya berdansa terakhir kali. Setelah dipikir – pikir lagi ternyata cukup mengasyikkan.
BUUMM!
Suara ledakan tertahan membuatnya waspada, cahaya jingga menyilaukan terlihat di kejauhan. Tanpa menunggu lebih lama Arya segera bergerak ke sumbernya. Berjarak sekitar dua puluh lima kilometer dari bangunan utama ada cekungan tanah cukup dalam, terdapat sosok mungil tak sadarkan diri terbaring di sana.
__ADS_1
“M...?! Kamu kenapa!?”