
SLASH TRING BRUAKH! TAP TAP TAP.....!!!
“Nee Asuna?”
“Hmm...?”
Kedua Elementalist tersebut berlari sepanjang lorong markas rahasia musuh sambil sesekali menghabisi beberapa penghadang. Nyatanya terdapat banyak sekali kumpulan Mutant memenuhi sekeliling mereka dan bersiap menyerang secara membabi buta sewaktu merasakan kehadiran penyusup.
“Kenapa....kau memutuskan untuk datang?”
“Hah? Tentu saja menolong kalian dasar lamban....” gerutu Asuna tidak habis pikir.
“Iya aku mengerti hal itu, tapi maksudku alasannya? Aku tak pernah memintamu menjulurkan tangan ingat?”
Pertanyaan Arya kali ini membuat Asuna tertegun cukup lama, dia membuang muka kemudian berpikir keras mencari jawaban demi mengelak sayang pikirannya benar – benar kosong. Arya memperburuk situasi dengan terus menagih balasan.
“Ugh....!!? Berisik! Berisik! Berisik!”
“Eh?”
“Memangnya salah jika aku mau menyelamatkan Reika karena aku sudah menganggap dirinya seperti adikku sendiri.....?! Bodoh....!”
“Kau baik – baik saja Nona? Apa kepalamu terbentur sesuatu? Reika adalah saudariku bukan kau....” Arya menghela napas terus menggeleng – gelengkan kepala.
“Ekh—!? It—!? Ma—!? K...ka...kau melupakan penjelasan Ayahku sebelumnya ya!? Reika merupakan putri kakaknya jadi kami bisa dikatakan punya hubungan layaknya keluarga....”
“Namun....ia tumbuh besar bersamaku sehingga—“
“HAHH....!? KAU SUNGGUH INGIN MEMPERMASALAHKAN HAL KONYOL BEGITU SEKARANG?! DISINI....!?”
Suara menggema adu mulut mereka berdua malah berperan sebagai penarik perhatian yang mengakibatkan makin banyaknya jumlah Mutant berdatangan dari berbagai arah. Arya dan Asuna menghabisi semuanya sembari masih berdebat seakan tidak memperdulikan situasi di sekitar.
“Oi? Ada persimpangan jalan....belok ke ka—“
“Kiri”
JDUK!!!
“SAA....KIT...!!!” jerit keduanya bersamaan mengusap dahi masing – masing.
“Aku bilang kanan!? Kau tuli ya!?” Arya meringis.
“Harusnya ke kiri!?”
“KANAN!?”
“KIRI.....!?” seru Asuna bersikeras.
------><------
“Kerja bagus....”
Seorang pria berpakaian rapi berjalan memasuki ruangan dimana telah berkumpul sembilan sosok lain, empat diantaranya berdiri bersebelahan seakan tengah menunggu kemunculannya. Rambut putih panjang terikat mengayun indah mengikuti gerakan laki – laki tersebut.
Dia menatap sebuah tabung raksasa berisi air yang di dalamnya terdapat anak perempuan mengambang dengan warna helaian – helaian pada atas kepalanya semakin memudar. Banyak sekali kabel – kabel terhubung ke benda luar biasa itu.
“Hehehe....sebentar lagi akhirnya....”
“Ketua? Soal laporanku—“
__ADS_1
“Aku tau Mira, dia sudah masuk dan sepertinya tak sendiri....”
“Apa!?” Mira, Gehrig, serta James tersentak kaget sementara Hayha terkikik senang.
“Nampaknya bala bantuan Elementalist wanita datang tetapi untuk apa dirisaukan? Ngomong – ngomong mengapa kalian lama sekali? Mereka berempat gatal ingin menyusul terutama Sandayu” si pria mengarahkan pandangan menuju sudut ruangan tempat sisa kelompok mendengarkan.
“Arya Frost.....cukup gigih melakukan pengejaran sehingga kami agak melenceng dari jadwal”
“Omong kosong....”
“Hey Eric? Kalau kau punya masalah katakanlah, biar kita selesaikan secara pribadi....” kata Gehrig dengan urat pelipis menegang.
“HUAHAHAHA....memangnya kau bisa apa? Menghajarku menggunakan alat olahraga?”
“Ohh....mari dengar komentarmu lagi ketika aku memukul Home Run kepala—“
BRUAKH!!!
Gehrig gagal menyelesaikan kalimatnya sebab mulai terdengar suara kegaduhan dibalik pintu masuk ruangan, para penghuni segera menoleh dan bersiaga. Mereka menatap pintu penuh waspada bersiap menyambut apapun yang hendak muncul, pemimpin kelompok itu tersenyum lebar lalu berbisik. “Datang....”.
------><------
“Lihat? Hei Hime – sama pandang kemari....” panggil Arya menepuk – nepuk tembok dihadapannya.
POK POK POK!!!
“Ugh....”
“Mengapa kau sangat keras kepala? Kalau tidak punya kemampuan menentukan jalan lebih baik diam saja....”
“Hah? Aku tak mendengarmu....”
“Diam! Bodoh! Huh!?” Asuna langsung berbalik menuju arah mereka datang.
“Hadeh....memangnya dia pikir salah siapa sampai kita menemui jalan buntu....gadis sial itu...”
Usai menggerutu Arya cepat – cepat menyusul, ia terus menceramahi Asuna hingga perempuan tersebut memilih menutup kedua kupingnya dan terus lanjut bergerak. Arya mempertanyakan bagaimana mungkin Asuna mampu menemukan arah ke tempat ini sedangkan keahlian menentukan jalannya selevel dengan Lexa.
Wajah Asuna kian memerah saking kesalnya mendengar celotehan Arya, beberapa detik kemudian dia memanggil muncul seekor singa betina kecil melalui bayangan sang Elementalist Es. Arya melongo sebentar lalu menatapnya tak percaya.
“Kau memasangiku alat pelacak!?”
“Leona seekor Elemental Beast, bukan—“
“Aku tau!? Namun inti permasalahannya adalah....!?”
Arya kesal karena baru mengetahui fakta ini, dia bertanya kepada para atributnya yang nampaknya sadar tetapi memilih untuk diam. Sepertinya ketiganya telah memperkirakan jika ada kemungkinan bantuan akan datang sehingga memutuskan tak perlu memberitahunya.
“Kau sejenis Stalker atau apa....?”
“Jangan mengatakannya seolah tindakanku perbuatan salah ya!? Nyawa kalian selamat berkat pertolongan kami!” ucap Asuna gusar.
“Dasar penguntit....”
“Katakan sekali lagi maka aku akan—“
“Pintu”
__ADS_1
“Hah?! Apa maksud—“
Arya menggapai puncak kepala Asuna kemudian mengarahkannya ke depan, pada ujung lorong sebuah gerbang besar berdiri megah. Siapapun pasti segera sadar tempat tersebut merupakan lokasi tujuan mereka, terlebih lagi lusinan Mutant berkeliaran di sepanjang jalan menuju kesitu.
Arya menambah lajunya meninggalkan Asuna dibelakang, dia bertekad melupakan masalah tadi sebab misi penyelamatan Reika merupakan prioritasnya. Berbekal gerakan tubuh luntur pemuda itu berputar di tempat memanfaatkan sebelah kakinya sebagai poros dan melepaskan tendangan yang mengeluarkan gelombang kejut.
“Teknik Taekwondo Pamungkas Aliran Lee; Yong Macha!!!”.
JDUAR! BRRR....!!! BANG!!!
Serangan Arya menghancurkan apapun dihadapannya, hanya dalam hitungan detik tubuh tidak bernyawa para Mutant bergelimpangan. Pintu ruangan ikut terlepas dari engselnya akibat dampak jurus barusan, Arya melesat tanpa menghiraukan jasad disekelilingnya sedangkan Asuna tertegun mengikutinya sambil bertanya – tanya sendiri seberapa jauh kekuatan Arya sebenarnya sudah berkembang sejak Ujian Elementalist Pertama.
Waktu Arya menginjakan kaki di dalam debu bertebaran menghalangi pandangannya, namun kejadian tersebut tidak berlangsung lama. Bola mata Arya menyusuri ruangan dan menemukan kumpulan orang berkumpul disana, beberapa pernah ia temui sebelumnya. Tetapi begitu pandangannya terhenti pada tengah ruangan Arya menatap tajam sembari menggeram.
“SIOUL KEPARAT TENGIK INI.....!!!” Arya menggemertakan gigi saking marahnya.
“Hihihi....selamat datang Tuan.....” sambut Sioul membungkuk hormat.
BUMMM!!! BUMM!!!
Gehrig serta Hayha ternyata menangkap lalu menyingkirkan dua sisi pintu besi berat sebelumnya seolah benda itu bukanlah apa – apa. Gehrig berdecak kesal sedangkan Hayha nampak antusias melihat kedatangan Arya berharap dapat melanjutkan pertarungan mereka.
Asuna akhirnya mencapai lokasi, ia cukup terkejut Sioul sungguh dalang penculikan Reika sesuai dugaan Arya. Meski tak mengenali sembilan sosok lainnya aura aneh menyebabkan punggungnya terasa dingin, semua menatap keduanya seakan – akan para predator yang siap menerkam mangsa.
Sayangnya Arya bersikap acuh terhadap hal ini karena teralu fokus kepada Sioul juga tabung tempat Reika disimpan, sebab tidak kuasa lagi menahan diri Arya menerjang gesit. Asuna berusaha menghentikannya namun telat sepersekian detik.
“Hehehe....” Hayha mengambil posisi penuh semangat.
“Gehrig, James, Hayha....menyingkir....”
“Eh?”
“Kalian punya telinga bukan?”
SYUUU!!! BUAKH!!!
Arya terkesiap saat Mira muncul dihadapannya tepat ketika jarak pedangnya dengan Sioul hanya beberapa senti. Pertukaran serangan terjadi dan secara mengejutkan Arya berhasil dipaksa mundur, sebuah senjata berupa tongkat cahaya aneh milik Mira berhasil menghantam perut Arya.
“Uhuk! Uhuk!? Breng—”
“Mira?” panggil Sioul lembut.
“Iya, aku mengerti...”
Arya yang baru bangkit berdiri untuk maju kembali segera mematung, matanya melebar ngeri sewaktu perempuan dihadapannya menurunkan masker pada wajahnya. Langsung saja sekujur tubuh Arya bergetar hebat, dia jatuh lemas bertekuk lutut bahkan tak mampu berkedip sekalipun.
“A...mi...ra?” suaranya terdengar putus – putus nan parau.
Author Note :
Sangat direkomendasikan baca scene terakhir sambil dengar lagunya Tani Yuuki - Myra
Yong Macha : Kereta Naga
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.
__ADS_1