
Arya dibuat kehilangan kesadaran akibat hantaman keras pada tengkuknya, ia baru bangun setelah mendengar suara derit pintu tertutup. Ruangan tempatnya berada saat ini sangat gelap, hanya ada sedikit cahaya bulan menembus dari celah – celah dinding.
Ketika berusaha untuk bergerak, barulah Arya tau kalau kedua pergelangan tangannya sudah diborgol. Sehingga posisinya saat ini sedang duduk dengan kedua tangan menggantung, rasa perih menyelimuti bagian belakang kepala serta pergelangan tangan miliknya.
Menandakan kalau dia dibawa kemari dengan kasar, berusaha menenangkan diri. Arya mulai memperhatikan sekitar. Melihat jeruji besi disebelah kanan membuatnya memahami situasi ini.
‘Hah....bodohnya aku sampai bisa dikurung seperti ini, sekarang harus bagaimana?’
Ingatan di dalam kepalanya sedikit samar – samar, yang dia ingat hanya muncul seorang perempuan bermata merah menyergap dirinya beberapa saat setelah ia berpisah dengan Moona. Bercak darah disekitar tangan dan kaki juga mengingatkannya kalau ada empat orang lain menusuk masing – masing bagian tubuh tadi.
Sekarang masalahnya dia tidak tau sedang berada dimana, jangankan mencari lokasi pengirim surat. Memikirkan nasip sendiri saja sudah susah saat ini. Mengumpulkan sisa – sisa tenaga miliknya, Arya melepaskan tendangan keras ke arah jeruji besi dan membuat suara denting nyaring memenuhi udara.
“LEPASKAN AKU!”
“BERISIK DASAR ANJING KAMPUNG! BERSABARLAH DISITU UNTUK MENUNGGU EKSEKUSI MATI MILIKMU KARENA TELAH BERURUSAN DENGAN NONA ARIS!” seorang penjaga membuka pintu kemudian menodongkan tombaknya ke arah leher Arya dari balik besi penjara.
Sesudah berkata demikian, si penjaga segera kembali ke pos miliknya. Arya berusaha mengingat – ingat apa saja yang sudah dia lakukan sampai bisa berurusan dengan perempuan bernama Aris tadi.
‘Apa yang....jangan – jangan.....Ah! Iya? Tiga vampir di desa! Aku tidak menyangka mereka seberharga itu sampai Nona pemilik langsung mengambil tindakan, tapi....bagaimana caranya bisa tau aku pelakunya ya?’
Ketika Arya sedang asyik berpikir, tiba – tiba suara lembut terdengar dari seberang ruangan. Nampak sepasang mata merah balik menatapnya.
“Kenapa ribut sekali? Bisa – bisanya dia menangkap seorang Werewolf dan menaruhnya satu sel bersamaku”
Mata Arya sudah mulai terbiasa dengan penerangan disana sehingga bisa melihat sosok yang berbicara, seorang gadis berambut hitam juga terborgol disisi lain ruangan. Ia menatap Arya malas.
“Ahh....maaf telah mengganggu tidurmu” kata Arya sedikit merasa bersalah melihat kondisi gadis dihadapannya begitu lemah.
“Sebenarnya aku sedang tidak tidur sih, hanya kurang biasa merasakan kebisingan setelah sekian lama merasakan ketenangan di sini”
Dia bersikap sedikit cuek untuk orang yang sudah lama tidak berbicara dengan orang lain menurut pendapat pribadi Arya, entah kenapa Arya sedikit merasa ada suatu hal aneh mengenai gadis ini.
“Eee....apa kau tau kita sedang berada di mana?”
“Tempat mengerikan yang biasa kusebut rumah” jawabnya beberapa saat kemudian.
“Rumah? Kau tinggal di tempat ini?” ulang Arya heran.
“Begitulah”
“Lalu....kenapa kau dikurung?”
“Karena....aku tidak mau mendengarkan perintah Ayahku”
Arya diam sejenak berusaha memikirkan matang – matang apa yang harus dia katakan selanjutnya.
“Itu....tidak bagus, jika tak ingin menjadi anak durhaka seharusnya kau mendengarkan kata – katanya. Yah....walau terdengar sedikit naif sih karena tidak tau secara menyeluruh tentang masalahmu” Arya menyarankan.
__ADS_1
“Kalian para Werewolf yang memiliki rasa kekeluargaan tinggi mana mungkin mengerti” gadis itu menggeleng meremehkan.
Karena tidak ada lagi yang berusaha membuka pembicaraan, akhirnya kesunyian kembali menyelimuti sel. Arya berjuang melepaskan diri sekuat tenaga dari dua rantai pengekang tubuhnya.
“Benda ini....kenapa....tidak....mau...le...pas!”
“Sia – sia saja, itu bukan borgol biasa. Namanya Imperium Restraint, Agnet milikmu akan tersegel setelah mengenakannya. Hal sederhana saja kau tidak tau” komentar si gadis mengamati usaha tanpa hasil Arya.
“Ahaha terima kasih sekali kau baru mengatakannya sekarang” gumam Arya jengkel.
Untuk membuktikan hal itu, Arya berusaha mengalirkan Agnet pada tubuhnya dan menghubungi Mandalika, Efbi, dan Safira. Benar saja, tak terjadi apapun. Sungguh – sungguh membuatnya semakin frustrasi.
“Hah....ngomong – ngomong kita belum berkenalan dengan baik, namaku Arya. Siapa namamu?” Arya tidak tau alasan kenapa ia memperkenalkan diri menggunakan nama asli kepada gadis ini, itu menjadi kali pertama dia menyebutkan namanya sejak tiba di Dark Side.
“Callista” bisiknya pelan beberapat menit kemudian.
“Callista?....tunggu sebentar.....sepertinya....”
“Ada masa—Uhuk! Uhuk! Masalah apa mengenai namaku? Ugh....ah tenggorokanku....”
Arya terdiam sejenak sambil berpikir, berusaha mengingat kembali arti nama Callista.
‘Callista....Callista....Callista....sepertinya kalau tidak salah dalam bahasa Yunani adalah....masa sih? Kondisi tubuh kurang baik? Callista? CT!?’
“K...ka...kau!? si Dewi Cinta Cacat?!”
“Dari mana kau....jangan bilang—kau adalah orang yang dikirm oleh Pax?!” ujarnya tidak percaya.
“I...ya? Dan kau pengirim surat S.O.S bukan?”
“Astaga malangnya nasipku....kenapa kau bisa sampai tertangkap?!” Callista mulai tidak bisa menahan diri.
“Eee....itu...ada sedikit masalah jadi....” ujar Arya berusaha menjelaskan..
“Ouhh....kenapa mereka bisa mengirim orang seceroboh dirimu!?”
“A...ak..aku minta maaf, tapi kau tak mungkin berharap kami mengirim satu pasukan ke Dark Side hanya untuk menyelamatkan seseorang beridentitas tidak jelas bukan?”
Arya bingung harus membela diri seperti apa, memang kesalahannya sampai bisa tertangkap. Callista cemberut menggambarkan bagaimana suasana hatinya sekarang.
“Tenang saja, aku pasti mengeluarkan kita dari sini” pandangan mata Arya jadi serius.
“Oh iya? Boleh aku tau bagaimana caranya Tuan?” Callista memutar kedua bola mata malas.
“Tolong jawab beberapa pertanyaanku terlebih dahulu, kenapa kau menyebut dirimu sendiri cacat?”
Callista menghela napas lelah, ia menceritakan kepada Arya kalau dirinya seorang Half-Vampir. Ayahnya merupakan seorang Vampir dan ibunya adalah Manusia. Itu kisah yang cukup menarik bagi Arya karena seingatnya, bukankah Vampir suka menghisap darah Manusia? Kenapa mereka bisa menikah?.
__ADS_1
Hal ini mengakibatkan Callista memiliki tubuh lemah dibanding saudara – saudaranya, ternyata Ayah Callista terlebih dahulu memiliki dua istri Vampir sebelum ibunya. Fakta tersebut menyebabkan perempuan itu bak perusak rumah tangga bagi mereka.
Keduanya diperlakukan seperti sampah, walau Ayahnya sendiri besikap biasa saja. Namun anggota keluarga lain begitu membenci pasangan ibu dan anak ini. Sehingga akhirnya suatu hari Ibu Callista meninggal demi melindungi dirinya. Tubuh gadis tersebut gemetar hebat saat membahas bagian kematian sang Ibu.
Sejak saat itu, Ayahnya mulai memperhatikanya sedikit demi sedikit. Namun karena tidak mau mengikuti perintah, ia pun dikurung di penjara sampai sekarang.
“Aku....turut berduka mendengarnya” Arya berusaha menghibur.
“Kejadiannya sudah lama sekali, kau tidak perlu begitu. Tapi...terima kasih”
“Sejak kapan kau dikurung?”
“Waktu berumur lima tahun, jadi mungkin sekarang sudah sekitar sepuluh tahun terlewat” sahut Callista dengan tatapan kosong.
“Baiklah cukup, waktunya kita keluar dari sini”
Arya mulai menempelkan kedua pergelangan tangannya diatas kepala sambil menggoyang – goyangkan seperti orang gelisah, Callista yang melihat hal itu cuma mengumpat dalam hati kalau dia sudah duga ini semua tidak akan berhasil, untuk apa ia berharap pada orang menyedihkan di depannya.
KRATAK!!! KRATAK!!! TRANG!!!.
“Aww....! Sial sakit sekali! Kuharap semuanya kembali ke tempatnya semula dengan benar” ringis Arya berusaha mengurangi nyeri pada pergelangannya.
“B..ba..bagaimana—apa yang kau lakukan barusan?” Callista bertanya keheranan tak mampu menyembunyikan keterkejutan dari wajahnya.
“Shh....tidak ada yang istimewa, aku cuma menggeser beberapa persendian lenganku agar bisa terlepas dari kekangan borgol itu. Efbi? Safira? Tolong bebaskan dia”
Mulut Callista membentuk huruf O besar mendengar penjelasan tak masuk akal Arya, terlebih lagi ia mengatakan hal seperti tadi seolah itu biasa saja. Efbi dan Safira bergerak cepat menghancurkan borgol milik Callista dengan gigi tajam mereka.
Gadis tersebut menatap dua besi yang sudah mengekangnya selama ini tak percaya, sementara pria dihadapannya sudah mengeluarkan pedang entah dari mana bersiap untuk menebas jeruji besi penjara.
“Kau tidak apa – apa? Yakin bisa berjalan?” tanya Arya khawatir.
“Tenang saja, aku....jadi sedikit merasa bersalah telah memandang rendah dirimu” Callista menunduk malu.
“Tak perlu dipikirkan, yang penting kita berdua selamat”
Arya mengayunkan sekali pedangnya dan seketika membuat rontok seluruh jeruji penjara, ia berjalan mendekat sambil menjulurkan tangan pada Callista.
“Ayo”
“Terima kasih” Callista menyambut tangannya dengan senang hati.
“Oh iya! Aku baru ingat, kau menulis CT pada surat S.O.S bukan? Apa maksudnya?”
“Itu hanya inisial namaku, Callista Tepes”
Langkah Arya langsung terhenti, ia menoleh sekali lagi ke arah Callista sambil berusaha membersihkan telinga kalau – kalau tadi dia salah dengar.
“Iya? Bisa kau ulangi nama belakangmu? Aku tidak yakin telingaku sedang—“
__ADS_1
“Tidak ada yang salah dengan telingamu, aku memang putri bungsu dari Kris Tepes it—”
“APA KAU BILANG?!” Arya memegang kedua pundak Callista kemudian menggoncangnya kuat – kuat.