Elementalist

Elementalist
Chapter 31 - Melanjutkan Perjalanan


__ADS_3

Alalea menutup pintu kamarnya secara perlahan, ia bersandar pada pintu itu sambil memandang langit-langit dengan tatapan kosong. Lamunannya tiba-tiba buyar ketika mendengar suara ketukan dari jendela beranda kamarnya.


Dia berjalan perlahan mendekati jendela tersebut, awalnya dia terlihat ragu karena menganggap bahwa dirinya hanya salah dengar. Namun keraguan itu segera menghilang setelah ia mendengar ketukan itu sekali lagi.


Dengan cepat Alalea segera membuka jendela itu sambil melemparkan pandangan cermat ke sekeliling beranda kamarnya, dia sempat melihat sekilas kelebatan jubah dari orang yang baru saja meninggalkan tempat itu.


Alalea mengangkat sebelah alisnya melihat hal tersebut, saat ia hendak menutup kembali jendela itu. Gerakannya terhenti karena melihat sesuatu yang seharusnya tidak ada ditempat itu, sebuah vas bunga indah yang berwarna kebiruan terlihat telah menunggunya disana.


Vas itu berisi bunga-bunga azalea yang terlihat baru saja dipetik, segera saja Alalea berusaha mengangkat vas tersebut. Betapa terkejutnya dia saat menyentuh vas bunga itu.


"Dingin! Apa benda ini terbuat dari es?" seru Alalea tidak percaya.


Sekali lagi dia berusaha mengangkatnya dengan lebih berhati-hati. Saat itulah dia menyadari bahwa vas bungan tersebut menindih sebuah perkamen, Alalea langsung mengambil perkamen tersebut dan membaca isinya dengan berbisik pelan.



Untuk Alalea


Aku hanya ingin meminta maaf atas semua hal yang telah kulakukan selama aku berada disini, maaf karena selalu merepotkanmu. Sungguh aku tidak pernah bermaksud untuk melakukannya, dan aku juga minta maaf karena selalu membuatmu jengkel (walaupun sejujurnya aku tidak mengerti kenapa kau selalu kesal saat melihatku).


Tapi kau tidak perlu khawatir, besok aku dan Rena akan segera pergi. Jadi kau sudah bisa tenang lagi sekarang, vas bunga ini adalah hadiah permohonan maaf dariku. Aku membuatnya sendiri, semoga kau menyukainya. Sampai jumpa lagi sepupu! (walaupun aku tau kau mungkin tidak berharap kita bertemu lagi) hahaha.


Salam hangat


Arya Frost


 


 


Alalea melipat perkamen itu lalu meremasnya dengan kuat, dengan kedua tangan ia mendekap perkamen itu ke dadanya sambil berkata dengan nada suara sendu.


"Bagaimana mungkin aku bisa tenang, saat aku tau kau akan segera pergi. Bodoh!"


-----------------------------<<>>-----------------------------


Arya sedang bersenandung pelan sambil meletakkan barang-barang bawaannya di luar rumah Eridan, pagi itu sangat cerah dan menurutnya memang cuaca yang sangat ideal untuk melanjutkan perjalanan.


Dia memeriksa barang-barang itu sekali lagi, takut ada barang penting yang tertinggal, beberapa saat kemudian Rena juga muncul dari dalam rumah dengan barang bawaan yang tidak kalah banyaknya dengan yang dibawa Arya.


Arya segera membantunya, karena jika tidak segera dibantu Rena terlihat akan menjatuhkan barang-barang bawaanya itu.


"Mmm....Rena? Bagaimana kalau aku saja yang membawanya?" tanya Arya sambil menunjuk sebuah kain coklat sepanjang 1,5 meter.


"E..e..eh?! ta...tapi kan---"


"Tidak apa, aku tak mungkin membiarkanmu membawa barang berat seperti itu sendirian" Arya meyakinkannya.


"Ba..ba..baiklah kalau begitu" balas Rena sambil mengangguk pelan.


Arya langsung memindahkan kain coklat itu ke bagian barang-barang bawaanya, kain coklat itu berisi dahan pohon Hellig, barang yang dengan susah payah akhirnya bisa mereka dapatkan. Dan bisa dibilang sebagai alasan utama mereka datang ke tempat ini.


Rena sangat senang saat Arya menunjukkan dahan pohon itu padannya, bahkan Arya yakin jika Eridan tidak ada di tempat itu. Rena pasti akan segera memeluknya seerat yang dia bisa, tapi kenyataannya dia memang melakukan hal itu. Walaupun pada akhirnya dia melepaskan pelukannya pada Arya dengan wajah semerah tomat.



Hari ini mereka berdua akan segera melanjutkan perjalanan, dan dari yang dia dengar. Mereka akan diantar ke perbatasan secara langsung oleh Ratu Diana, walaupun menurut Arya hal itu tidak perlu dilakukan. Tapi jika Ratu telah berkata demikian, dia bisa apa.


"Apa kalian sudah selesai?" tanya Eridan yang baru saja keluar dari pintu.


"Seperti yang kau lihat" balas Arya sambil mengikat beberapa dahan kayu.


"E...? Tuan? Untuk apa dahan-dahan kayu itu?"


"Aku juga penasaran" tambah Rena.


"Ini? Hanya untuk jaga-jaga" jawab Arya sambil lalu.


Eridan terlihat menggigit bibir bagian bawahnya, dia terlihat tidak tenang. Akhirnya dia bertanya cukup pelan sehingga hanya Arya dan Rena yang bisa mendengarnya.


"Apa kalian yakin akan pergi?" bisik Eridan dengan hati-hati.


Arya dan Rena saling menatap satu sama lain untuk beberapa saat, lalu menjawab bersamaan dengan nada suara penuh keyakinan "Tentu"


"Tidak bisakah kalian---"


"Tidak bisa Eridan, kau seharusnya orang yang paling tau bahwa kami masih punya ujian yang harus kami selesaikan" potong Arya segera.


Eridan terlihat tidak setuju, tapi dia hanya diam sambil mengangguk-angguk perlahan.


"Tenang saja, kita pasti akan segera bertemu lagi. Dan berjanjilah saat itu tiba, kau harus menjadi lebih kuat dari yang sekarang" kata Arya sambil memegang pundak Eridan.


Eridan mengusap matanya, lalu mengangguk dengan bersungguh-sungguh sambil berkata "Pasti! Saat kita bertemu lagi, aku berjanji akan menjadi peracik strategi terhebat di dunia!"


-----------------------------<<>>-----------------------------

__ADS_1


"Sampai kapan kau akan berbaring disitu?" tanya Azalea sambil merapikan rambutnya didepan cermin.


Alalea yang berbaring tengkurap di tempat tidur tidak memperdulikan pertanyaan dari ibunya, dia sudah melakukan hal itu kurang lebih hampir satu jam. Tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.


"Hei! Orang-orang bisa menganggapmu sudah mati kalau kau terus bersikap seperti itu tuan putri" coba Azalea sekali lagi.


Alalea hanya mengerang pelan untuk menanggapi pernyataan Azalea, dia sedang tidak ingin berdebat dengan ibunya. Azalea dengan kursi kayunya segera mendekat ke tempat tidur lalu mengelus kepala Alalea dengan lembut.


"Kau yakin tidak ingin ikut mengantarnya?" tanya Azalea lagi.


Alalea tidak merespon, dia sudah diam seribu bahasa sejak tiba di tempat itu. Azalea lalu menghela napas panjang sambil menuju ke arah pintu.


"Aku harap kau tidak akan menyesal, dia akan pergi dan mungkin saja kalian tidak akan bertemu lagi. Cinta adalah perasaan yang aneh bukan? Kau tak paham apa yang sedang terjadi padamu saat kau mengalaminya" ucap Azalea lirih kemudian membuka pintu dengan suara derit keras.


Secara tidak terduga, setelah mendengar kata-kata itu Alalea membalas pelan.


"Aku tidak pantas untuknya, setelah semua yang aku----"


"Celahmu akan dianggap sempurna oleh hati yang memang ditakdirkan untukmu" potong Azalea cepat sambil menutup pintu secara perlahan.


Alalea bangun dari tempat tidur itu, dia menatap kosong kearah jendela seakan-akan sedang memutuskan sesuatu hal yang sangat penting.


-----------------------------<<>>-----------------------------


Seperti dugaan Arya, ternyata rombongan yang mengantar mereka sangat banyak dan meriah. Itu membuat dirinya dan Rena merasa kurang nyaman. Bukan hanya Diana, Azalea, Eridan, dan Reiss saja yang mengantar kepergian mereka kala itu.


Banyak para Elf lainnya juga ikut dalam rombongan itu setelah melihat Arya dan Rena, tapi walaupun begitu. Ada juga beberapa Elf yang melihat mereka dengan sinis sambil tersenyum mengejek melihat kepergian mereka.


Sepertinya banyak yang tidak menyukai keputusan dari Diana untuk bekerja sama dengan Pax dan perubahan perlakuan terhadap para Dwarf. Dan yang menyebabkan kedua hal itu terlaksana tidak lain dan tidak bukan adalah Arya sendiri, Arya bisa merasakan tatapan tidak senang itu dari mereka.


Tapi hal itu berbanding terbalik dengan para Dwarf yang ada di Fairy Forest, mereka melambai dengan penuh semangat dan hormat pada Arya dan Rena. Arya bisa melihat Stämmig dan Klug berada dibarisan terdepan, Arya hanya tersenyum dan membalas hormat mereka.


Dia juga beberapa kali sempat melihat sekilas para Pixie, Druid, dan Pohon Kehidupan melambai padanya dengan hati-hati. Saat dia berusaha mencari Eudart diantara kerumunan orang-orang itu dia gagal menemukannya.


"Yah...dilihat dari sifatnya, dia memang tidak akan mengucapkan selamat tinggal padaku" celetuk Arya pelan.


Tapi firasatnya itu terbukti salah beberapa menit kemudian, Arya melihat Uil dengan mata biru hinggap disalah satu pohon memperhatikannya tanpa berkedip sedikitpun. Arya segera tersenyum dan melambai pada Uil, dia juga memberikan hormat terakhirnya sebelum pergi.


Akhirnya mereka sampai di perbatasan antara Fairy Forest dan Wilayah Netral, Rena segera berterimakasih dan mengucapkan selamat tinggal pada yang lainnya. Dia lebih dulu melewati perbatasan dari pada Arya.


Arya memberikan senyuman untuk terakhir kalinya kepada Diana, Azalea, dan yang lainnya. Kemudian dengan mantap dia melangkah keluar dari sihir pembatas wilayah. Tubuhnya lalu mengeluarkan cahaya menyilaukan dan dia bisa merasakan tubuhnya kembali ke bentuk semula.


Para Elf yang melihat itu hanya diam terkesima, itu pertama kalinya mereka melihat wujud Manusia Arya. Memang mereka sudah terbiasa melihat Rena dalam wujud Manusia, tapi melihat Arya dalam wujud yang ini sangat meninggalkan kesan berbeda dimata mereka.


"Tunggu! Ada yang ingin aku ka----"


Alalea kemudian terdiam, respon yang dia tunjukkan tidak jauh berbeda dengan yang lainnya setelah melihat wujud Manusia Arya.


"Ada apa Tuan Putri?" tanya Arya sambil memiringkan kepalanya.


"A..a..ak..aku-----"


"Mmm....?"


"Nggh....Agh....aku tidak tahan lagi! Aku tidak bisa mengatakannya" seru Alalea lalu segera melangkah keluar dari perbatasan.


"Eh---"


Alalea segera menarik tangan Arya dan mengecup bibirnya pelan, kejadian itu terjadi dan berakhir dengan sangat cepat. Alalea lalu segera menjauh darinya dengan wajah memerah, dan entah kenapa walaupun kejadian itu terjadi dengan sangat cepat, Arya merasa bahwa saat bibir mereka bertemu waktu serasa berhenti untuk beberapa saat.


Arya segera menjauh sambil menutup bibirnya dengan punggung tangan, wajahnya tidak kalah merah dengan Alalea. Dia berbicara dengan suara terbata-bata.


"Aroma buah lem----bu...bu..bukan itu maksudku----A..ap..apa yang kau----I...i...it...itu ciuman pertamaku!" teriak Arya tidak percaya.


"I..it..itu juga ciuman pertamaku! Jadi kita impas!" balas Alalea tanpa berani melihat kearah Arya.


"Impas bagaimana---"


Saat perdebatan Arya dan Alalea terlihat akan semakin membesar, Diana segera mendekati mereka. Dialah satu-satunya orang yang sudah bisa pulih dari keterkejutan akibat kejadian barusan. Diana segera menghentikan pertikaian kedua cucunya itu.


"Arya, aku ingin membicarakan tentang pertunangan kalian" kata Diana dengan serius.


"Hah?! Hal itu lagi? Bukankah permainan peran itu sudah berakhir? Lagipula Alalea juga tidak akan setuju. Iyakan?"


"Aku bersedia kok" sahut Alalea sambil mengembungkan pipinya.


"APUA!? KENAPA?!"


Arya melihat Alalea dengan tatapan tidak percaya, sementara itu Diana hanya mengangkat sebelah alisnya karena tidak menyangka Alalea akan semudah itu menyetujui pertunangan yang dia tolak mati-matian sebelumnya.


"Kau membuatku bahagia lewat cara yang orang lain tak bisa lakukan"


Arya menghela napas panjang sambil menutup matanya. Sejujurnya jantungnya sudah berdetak lebih cepat sejak kecupan yang diberikan Alalea. Tapi ini bukan waktu yang tepat menurutnya untuk hal-hal seperti ini.


Melihat hal itu Diana segera menambahkan.

__ADS_1


"Bagaimana kalau begini saja, karena ras Elf dan Pax sudah setuju untuk bekerja sama. Aku akan mengirim Alalea sebagai perwakilan Elf ke Elemental City"


"Hah?!" terdengar teriakan tidak percaya dari semua orang yang mendengar hal tersebut.


Diana tidak memperdulikannya dan melanjutkan dengan santai, seolah-olah tidak mendengar teriakan heran dari yang lainnya.


"Dengan begitu kau bisa bersama dengan Alalea, kau tidak perlu memutuskan pertunangan ini secepatnya. Tidak ada paksaan, dan setelah kalian berdua bersama cukup lama. Kau bisa memutuskan untuk menerima pertunangan ini atau tidak"


Arya terlihat berpikir cukup lama, entah mengapa pertunangannya ini terasa bisa saja menjadi jembatan hubungan antar ras Elf dan Manusia. Dia menggaruk-garuk kepalanya dengan kesal lalu berkata.


"Baiklah-baiklah, mari lakukan seperti yang nenek katakan"


Diana lalu tersenyum dan kembali ke tempatnya, Alalea juga terlihat senang mendengar hal itu. Arya yang hendak pergi melihat Alalea sekali lagi.


"Kemari" panggilnya.


Alalea yang terlihat bingung segera mendekat, Arya mengeluarkan sesuatu dari tas pinggang miliknya. Dia mengeluarkan sebuah syal berwarna biru lalu memasangkannya di leher Alalea.


"Tidak adil rasanya hanya kau yang memberikan sesuatu padaku, ini ambillah. Aku menjahitnya sendiri di tempat Bibi Azalea, kupikir warnanya akan cocok dengan matamu"


Alalea menggenggam syal itu dengan perlahan, dia bisa merasakan kehangatan dari benda tersebut. Dia lalu tersenyum sambil berbisik.


"Terimakasih"


"Sama-sama, dan pastikan kau menjaganya sampai kita bertemu lagi di Elemental City" balas Arya sambil segera berbalik dan melangkah ke dekat Rena.


Keduanya memberikan lambaian terakhir kepada semuanya, Arya segera memberikan koordinat mereka beserta koordinat tempat yang akan mereka tuju selanjutnya melalui alat komunikasi.


Mereka berdua segera berpegangan tangan, lalu Arya merasakan sensasi badannya terhisap ke sebuah lubang. Kemudian secara perlahan gambaran Fairy Forest hilang dari pandangannya.


-----------------------------<<>>-----------------------------


Seorang Elf berambut pendek dengan pakaian serba putih memasuki sebuah ruangan gelap, hanya ada sebuah lilin yang menjadi sumber penerangan di tempat itu. Elf itu segera membuat formasi sihir dengan tangannya untuk mengunci ruangan tersebut.


"Anak itu sudah pergi" katanya lirih.


"Apa kau yakin Razel?"


"Tentu, aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Mengapa kau selalu ragu padaku Regulus? kalau kau terus seperti itu sebaiknya kau melakukan semuanya sendiri" sahut Razel kesal.


"Apa salahnya memastikan" balas Regulus dengan nada suara sama kesalnya.


"Sudah-sudah kalian berdua" terdengar suara lain menenangkan.


"Kau terlalu santai Alba!" bentak mereka berdua bersamaan.


"Eh...." erang Alba lelah.


"Berhentilah merepotkan dirimu sendiri untuk merelai mereka Alba"


"Sepertinya yang kau katakan benar, Falxus" ucap Alba sambil mengangguk-angguk.


"Bagaimana bisa kau setenang itu setelah menebas tangan adikmu sendiri?" komentar Regulus tiba-tiba.


"Dia akan mengerti, ini semua demi rencana kita" ujar Falxus tidak peduli.


"Kau terlalu kejam dan dingin seperti biasanya, Falxus"


"Lihat siapa yang berbicara? Tapi aku tidak pernah menyangka rencana yang kau buat akan gagal Orion" balas Falxus dingin.


"Hehehe begitulah, rencanaku gagal karena tidak memperhitungkan kemunculan bocah-bocah Elementalist itu dan karena sedikit gangguan dari adik kecilku yang manis. Itulah mengapa kita berkumpul disini untuk membuat rencana B" kata Orion dengan tenang.


"Kau terlihat cukup tenang, untuk orang yang rencananya baru saja gagal. Padahal sudah dipersiapkan selama bertahun-tahun" celetuk Regulus.


"Tentu saja, dengan kejadian ini kita berhasil mengetahui pergerakan para Elementalist. Dengan memperhitungkan informasi itu, rencanaku selanjutnya pasti tidak akan pernah gagal" jawab Orion dengan penuh percaya diri.


"Lalu? Bagaimana dengan gangguan-gangguan dari adik kecilmu?" tanya Audax sambil terkekeh.


"Mmm? Untuk apa kau menanyakan hal yang sudah jelas seperti itu? Tentu saja aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri jika dia berani menganggu" ucap Orion lirih sambil tersenyum.


-----------------------------<<>>-----------------------------


"Brrr.....Arya? Sebenarnya sekarang kita ada dimana?" tanya Rena dengan gigi gemertuk karena kedinginan.


"Ahh....maafkan aku, aku tidak pernah memberitahumu kemana kita akan mencari bahan Elemental Weapon milikku ya?"


Rena hanya mengangguk sambil terus memeluk kedua tangannya dengan erat, perubahan suhu yang tiba-tiba membuat tubuhnya terkejut.


Arya segera melepas mantel miliknya dan memasangkannya pada Rena yang terus menggigil kedinginan. Rena segera berterimakasih dan bertanya lagi.


"Jadi? Dimana ini?"


"Kutub Utara" sahut Arya santai.


"Oh....kita ada di kutub----EH?! KUTUB UTARA?!"

__ADS_1


__ADS_2