
Setelah Arya dan Rena meneriakan jawaban teka-teki itu, Dungeon bergetar dengan hebat sehingga membuat Arya dan Rena memasang sikap siaga. Mereka masih belum tau apakah jawaban yang mereka berikan benar atau salah, dan mereka juga tidak tau konsekuensi apa yang bisa mereka dapatkan.
Namun semua itu segera terjawab saat sang Protector Knight tiba-tba menekuk lututnya lalu menancapkan pedang miliknya ke tanah. Secara perlahan tubuh sang ksatria es meleleh dan dari tempat yang seharusnya ia berada sebelumnya munculah sebuah altar, altar itu naik secara perlahan ke permukaan seolah-olah tumbuh begitu saja.
Sebuah kristal berwarna kebiruan mengeluarkan cahaya terang dari atas altar tersebut, Arya dan Rena saling bertukar pandang senang kemudian keduanya melakukan tos untuk merayakan keberhasilan mereka. Karena terbawa euforia keduanya tidak menyadari munculnya sesosok berwarna putih dihadapan mereka.
Saat mereka berdua akhirnya menyadari hal tersebut, keduanya terdiam dengan mata terbuka lebar. Dengan terbata-bata keduanya berusaha berteriak.
"Ha..ha..hantu!!?"
"Oh....ayolah! Apakah begitu cara kalian menyapa seseorang di zaman ini?" protes sosok putih itu.
-----------------------------<<\ data-tomark-pass >>-----------------------------
Arya dan Rena yang sudah hendak mengambil langkah seribu dari tempat itu segera berhenti dan segera menoleh ke arah sosok tersebut dengan wajah heran. Sosok itu terlihat seperti pria tua dengan jubah usang.
"Kau....bisa bicara?" tanya Rena ragu.
"Tentu aku bisa bicara" sahut sosok putih itu dengan senang karena akhirnya memproleh perhatian dari mereka berdua.
"Aku baru tau ada hantu yang bisa bicara" celetuk Arya sambil mengelus dagunya.
"Apa kau bilang?! Jangan kurang ajar ya bocah! Seenaknya saja kau memanggilku hantu" hardiknya kesal.
"Mmm....lalu? kalau bukan hantu? Kau ini makhluk apa pak tua?" tanya Arya tanpa memperdulikan respon dari sosok putih tersebut.
"Aku adalah pecahan jiwa yang ditanamkan di benda ini" jawabnya sambil menunjuk kristal kebiruan yang berada di atas altar.
Setelah mendengar hal itu Arya memperhatikan sepertinya sang sosok putih muncul dari dalam kristal tersebut, dia seperti sebuah hologram yang diproyeksikan oleh kristal itu. Kemudian dengan perlahan Arya mendekat ke arahnya, sosok itu mulai terlihat senang karena Arya sepertinya mulai mengerti seberapa penting dirinya.
Dengan santai Arya menjulurkan tangan menembus kepala dari sosok putih tersebut, dia menarik tangannya lagi sambil menghela napas dan melirik sosok itu dengan tatapan mengejek.
"Aku tidak tau apa perbedaanmu dengan hantu, karena di tempat asalku sosok yang tidak memiliki tubuh fisik disebut H.A.N.T.U" ucap Arya dengan sengaja menekankan ejaan pada lima huruf terakhir.
Ekspresi sosok putih itu menjadi kesal, terlihat urat saraf pada pelipisnya mulai berkedut-kedut karena marah. Dia mengepalkan tangannya dengan erat sambil menggeram "Dasar bocah tengik keparat....!"
"Pfft....hmm....memangnya apa yang hendak kau lakukan? Menembus tubuhku sampai hari kiamat?" ejek Arya sambil menahan tawa.
Ekspresi sosok putih itu segera berubah menjadi murung, sepertinya dia menyadari apa yang Arya katakan barusan ada benarnya. Sekesal apapun dia pada Arya, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Rena kemudian segera menarik Arya mendekat lalu berbisik pelan di telinganya dengan nada suara mendesak.
"Apa yang sebenarnya kau lakukan?!"
"Menyadarkan pak tua itu kalau dia sudah tidak memiliki tubuh dan tidak ada yang bisa dia banggakan lagi" balas Arya jahil.
Sebenarnya Arya mengatakan hal menyakitkan itu bukan tanpa sebab, ia bisa melihat keangkuhan yang berlebihan dari mata sosok putih itu dengan jelas. Dia hanya ingin membuatnya tersadar dengan caranya sendiri, sejujurnya sudah lama dia merindukan bagaimana rasanya membuat orang lain kesal.
Disaat-saat seperti itulah Timothy biasanya menjadi tempat pelampiasannya, sayang sudah lama dia tidak membuat bocah itu merasa sakit hati. Hari-hari indah itu terasa sudah lama sekali terakhir kali terjadi karena semua urusan-urusan Ujian Elementalist ini.
"Jadi....apa kau sudah menyadari dirimu itu makhluk apa, pak tua?" tanya Arya lagi dengan santai.
"Baiklah-baiklah, kau menang. Kau bisa menyebutku hantu atau apa sajalah sesuka hatimu, aku tidak pernah tau ada bocah semenyebalkan dirimu di dunia ini" sahutnya ketus.
"Oh....kasihan, duniamu pasti sangat kec—aww! Rena untuk apa yang barusan itu?!" desis Arya saat merasakan cubitan keras Rena pada perutnya.
"Sudah cukup Arya! Eee...bagaimana caraku memanggilmu Tuan—? "
"Poles, Voreia Poles" jawab sosok itu antusias karena Rena terlihat jauh lebih menghormatinya dari pada Arya.
"Tuan Poles, Bolehkah kami tau kau itu....siapa sebenarnya?" tanya Rena hati-hati.
"Aku? Kalian tidak mengenalku tapi berani datang ke tempat ini? Yah tapi sudahlah. Aku adalah pencipta benda itu sekaligus bisa dibilang pemilik tempat ini" jawabnya sambil menunjuk ke arah kristal biru pada altar kemudian ke sekeliling ruangan.
"Tunggu sebentar, pencipta benda itu katamu?" ulang Arya dengan alis terangkat.
"Huum, benar"
Arya dan Rena saling menatap satu sama lain dengan mulut terbuka lebar. Mereka berteriak bersamaan dengan nada suara tidak percaya.
"Kau....! Si Kakak dalam cerita?!"
-----------------------------<<\ data-tomark-pass >>-----------------------------
"Si Kakak dalam cerita?" Ulang Voreia dengan alis terangkat.
"Benar bukan? Kau adalah salah satu dari dua bersaudara yang dikisahkan berperang sampai membelah sebuah benua" jelas Arya cepat.
"Ah....kalian tau tentang kejadian itu? Aku tidak menyangka kalian mengetahuinya, apa kejadian itu diceritakan dari generasi ke generasi hingga sekarang?" tanya Voreia balik dengan penasaran.
__ADS_1
Kemudian mereka berdua menjelaskan sebenarnya kebanyakan orang menganggap kisah itu hanya sebagai dongeng atau legenda semata, dikarenakan sampai saat ini bukti mengenai kejadian tersebut saat sulit ditemukan.
"Omong kosong! Tidak mungkin kejadiannya sudah selama itu! Memangnya ini tahun berapa?" komentar Voreia dengan alis mengkerut.
Arya dan Rena saling bertukar pandang sesaat kemudian menjawab bersamaan dengan lirih " Ini tahun 2XXX"
Arya bisa melihat warna dari Voreia semakin pucat, wajahmu menunjukan keterkejutan yang sangat terlihat jelas. Ia perlahan menyentuh pelipisnya dengan kedua tangan sambil bergumam.
"Tidak mungkin....tidak mungkin tidak mungkin tidak mungkin, apa aku benar-benar telah berada di tempat ini selama 2000 tahun lebih?"
"Belum tentu benar, bisa saja lebih lama lagi. Tahun yang kami gunakan sekarang adalah setelah masehi, siapa tau masamu ada pada tahun sebelum masehi" timpal Arya tanpa rasa bersalah.
Voreia semakin lemas mendengar itu, dia sampai-sampai bertekuk lutut sambil menatap ke tanah dengan tidak percaya. Arya dan Rena kebingungan, sehingga membiarkan dia meratapi nasipnya untuk sesaat. Sampai pada akhirnya dia berbicara kembali.
"Bagaimana dengan adikku? Apa dia juga tidak pernah terlihat lagi?"
"Begitulah, bukankah sudah kami bilang kalau cerita kalian biasa digunakan untuk menjadi pengantar tidur" balas Arya lagi dengan cuek.
"Hmm kalau itu dia, dia pasti akan melakukan hal yang sama denganku. Ugh....apasih yang kalian para manusia lakukan selama ini?! Kenapa baru sekarang ada yang menemukan mahakaryaku?!" ujar Voreia kesal.
"Hei hei hei tunggu sebentar, aku tidak terima kalau kau berkata seperti itu. Kau pikir ini salah siapa? Apa kau benar-benar berharap manusia biasa akan menemukan tempat ini dan memasukinya? Dengan seluruh jebakan dan lokasi yang berada di pedalaman Kutub Utara?! Kau pasti sudah gila pak tua"
Voreia sepertinya menyadari kesalahan yang dia lakukan sehingga tidak melanjutkan keluh kesahnya. Rena kemudian menarik-narik baju Arya untuk menyuruhnya meminta maaf atas perkataan-perkataan yang dia lontarkan barusan.
"Oh....ayolah Rena, dia ini....tapi kan—baiklah-baiklah aku minta maaf" akhirnya Arya berkata dengan berat hati. "Aku ingin tau sebenarnya apa yang menyebabkan kalian sampai berseteru, kau dengan adikmu".
Voreia mengangkat kepalanya sambil menatap Arya sebentar, kemudian dia menghela napas panjang sambil bergumam "Sesungguhnya hanya alasan yang konyol, aku juga tidak menyangka sampai jadi seperti ini".
"Maukah kau menceritakannya kepada kami Tuan Poles?" tanya Rena ramah.
"Rei, berhentilah memanggilku seperti itu Nona manis. Dan panggil aku Rei, semua orang memanggilku seperti itu" jawab Rei dengan senyuman hangat pertama yang dia tunjukan pada mereka.
Rei kemudian menceritakan tentang pertengkaran yang terjadi antara dia dan adiknya bermula karena pertemuan keduanya dengan seorang gadis. Mereka berdua jatuh cinta pada gadis yang sama dan ingin membuatnya kagum, disaat itulah semuanya sudah terlambat.
"Kalian sudah tau kelanjutannya ceritanya, oh iya. Dan nama gadis itu adalah Shion, Shion Frost"
-----------------------------<<\ data-tomark-pass >>-----------------------------
Arya hampir mati tersedak ludahnya sendiri setelah mendengar hal itu, Rena segera membantu Arya dengan cara mengelus-elus punggungnya. Rei mengangkat sebelah alisnya sambil menatap Arya dengan tatapan bertanya.
"Ada apa denganmu nak?"
"Benar, Shion Frost sang Elementalist Es" jawab Rei sambil mengangguk.
Seketika itu juga Arya meledak "KALIAN BERDUA MEMBELAH SEBUAH BENUA BESAR HANYA KARENA SEORANG WANITAAA!!?" teriak Arya tidak percaya.
Rei tentu saja kaget melihat reaksi Arya, dia tidak menyangka responnya akan seperti itu. Bukan hanya dia, Rena juga hampir melompat saat Arya berteriak.
"Hei hei apa kau tidak pernah belajar sejarah? Banyak perpecahan yang terjadi di dunia ini hanya dikarenakan seorang wanita" sahut Rei membela diri.
"Dan yang lebih bodohnya lagi kalian melakukan hal itu karena ingin membuat kagum salah satu leluhurku?" ujar Arya sambil menepuk jidatnya.
"Leluhurmu?" ulang Rei bingung.
Arya kemudian menggosok-gosok rambutnya yang berwarna putih seperti salju. Mata Rei melebar menandakan dia memahami sesuatu.
"Kau....adalah salah satu keturunan Shion? Apa kau kemari untuk mencari bahan Elemental Weapon?" tanyanya dengan antusias.
Arya mengangguk tanpa ekspresi. Rei segera mengacungkan kepalan tangan ke udara " Yes! Woho! Rasakan itu adik kecil, dia lebih memilih mahakaryaku. Eh?! Tapi tunggu sebentar, untuk apa aku senang?! Dengan kehadiranmu disini berarti Shion sudah menikah dengan laki-laki lain bukan?"
"Tentu saja! Untuk apa dia menunggu dua laki-laki tidak jelas yang mengurung dirinya sendiri di dua poros dunia?" bentak Arya kesal.
Lagi-lagi Rei terlihat lesu, dia seperti meratapi seluruh kehidupan yang ia jalani sampai saat ini.
"Dan juga kau harus tau, aku tidak memilih karyamu. Aku akan menggunakan kedua karya kalian" lanjut Arya.
Rei mengangkat kepalanya dan menatap Arya dengan ekspresi aneh "Kau pasti sudah gila!"
"Lihat wajahmu sendiri sebelum mengatakan hal seperti itu pada orang lain pak tua, tidak. Aku sangat waras. Aku berencana membuat sebuah senjata hebat dari dua unsur poros dunia"
"Hah....kau sadar bukan kalau kedua mahakarya kami saling berlawanan dan menolak satu sama lainnya? Bagaimana mungkin kau ingin menyatukan keduanya?" komentar Rei sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Itulah mengapa hal ini patut dicoba" sahut Arya.
"Eh?"
"Kalian hanya pernah membenturkan kekuatan keduanya, bukan meyatukannya. Kau pikir apa yang akan terjadi apa bila keduanya disatukan?" tanya Arya dengan alis terangkat.
Mendengar hal itu Rei tidak bisa menahan diri untuk tertawa keras. Membuat Arya dan Rena keheranan, "Kau bocah yang menarik, walaupun sedikit menyebalkan sih. Baiklah, bawa North Blue Frozen Crystal bersamamu. Aku ingin lihat seperti apa jadinya nanti"
__ADS_1
Setelah Rei mengatakan itu, seluruh Dungeon bergetar sekali lagi. Tapi getarannya jauh lebih besar dari yang sebelumnya.
"Ah....sepertinya ini peringatan terakhir" celetuk Rei pelan.
"Peringatan terakhir?" ulang Arya dan Rena bersamaan.
"Huum, apa kalian ingat getaran yang terjadi sebelumnya? Itu adalah peringatan pertama untuk penghancuran diri tempat ini, kalian seharusnya langsung keluar setelah merasakan peringatan pertama" jelas Rei.
Wajah Arya dan Rena memucat, Arya segera berlari dan meraih kristal biru yang ada di altar sambil berteriak "Lalu untuk apa kau mengajak kami berbicara sejak awal dasar pak tua bodoh!"
-----------------------------<<\ data-tomark-pass >>-----------------------------
"Rei!?" teriak Arya dengan napas terengah-engah.
"Ya?" sahut Rei santai.
Sosok Rei sudah tidak terlihat, hanya saja sekarang Arya dan Rena masih tetap bisa mendengar suaranya yang berasal dari North Blue Frozen Crystal. Mereka berdua sedang berlari sekencang mungkin menuju pintu keluar sambil berusaha menghindari reruntuhan Dungeon.
"Bersyukurlah kau tidak memiliki tubuh fisik, karena kalau tidak aku akan—"
"Ini bukan waktu yang tepat Arya" rengek Rena yang berlari disebelahnya.
Arya sedang menunggu-nunggu sebagian besar langit-lagit Dungeon untuk runtuh, kemudian tanpa peringatan ia segera bersiul sekuat tenaganya. Beberapa saat kemudian sesosok kuda putih bersayap terbang melalui celah yang ada di langit-langit dengan kecepatan tinggi ke arah mereka.
"Wow! Seekor pegasus" desis Rei kagum.
"Rena naiklah ke punggung Stella dan keluarlah lebih dulu dari sini" perintah Arya.
"Apa?! Bagaimana dengan—"
Sebelum Rena menyelesaikan kata-katanya, Arya segera menempatkan North Blue Frozen Crystal digenggaman Rena kemudian melemparkan tubuh Rena ke udara yang segera saja disambar oleh Stella.
"Pergilah! Aku akan baik-baik saja" desak Arya.
Rena dan Stella terlihat berat hati untuk pergi, tapi karena situasi yang semakin mendesak. Akhirnya mereka terpisah dan terpaksa meninggalkan Arya. Arya yang masih berada disana terhimpit salju dan es dari berbagai arah dengan jumlah yang tidak sedikit.
Puncaknya, langit-langit Dungeon runtuh tepat ke arahnya. Dengan sigap ia menghancurkan langit-langit es tersebut namun malah tertimbun oleh pecahannya, ditengah-tengah napasnya yang semakin berat ia berpikir "Apa cuma sampai disini?"
-----------------------------<<\ data-tomark-pass >>-----------------------------
Stella mendarat tidak jauh dari reruntuhan Dungeon, Rena segera turun dari punggungnya kemudian berteriak memanggil nama Arya sekuat mungkin. Tapi tentu saja tidak ada jawaban.
"Tidak....mungkin" bisiknya.
Beberapa saat kemudian sebuah ledakan muncul dari dalam reruntuhan Dungeon, ledakan itu membuat es dan salju terlempar ke segala arah. Lalu terlihat sesosok makhluk besar yang diselimuti zirah.
Ragna muncul memakai zirah lengkap dengan Arya bergelantung pada tubuhnya. "Terimakasih....Ragna" bisiknya lemah.
Rena dan Stella segera berlari mendekati mereka, Rena memberikan pertolongan pertama pada Arya. Saat kondisinya sudah stabil, Arya menanyakan dimana letak North Blue Frozen Crystal. Tanpa menunggu lagi Rena segera memberikan benda itu kepada Arya.
"Ahaha....halo nak, ternyata kau cukup tangguh juga" sapa Rei.
Arya segera melemparkan kristal biru itu lagi ke arah reruntuhan Dungeon dengan sekuat tenaga.
"WAAA....!!?? Hei Arya....?! Kau tidak akan meninggalkanku disini bukan? HEI....?! Rena....?! Rena....?! Kau tidak sejahat Arya bukan? TOLONG JANGAN TINGGALKAN AKU DISINI?!"
-----------------------------<<\ data-tomark-pass >>-----------------------------
Besok harinya Arya dan Rena berpamitan pada kaum Polarian, Arya memeluk Ragna dan tidak lupa terus berterimakasih padanya atas bantuan yang dia berikan selama mereka berada disini. Ragna lalu berkata padanya kalau dia akan selalu diterima di tempat ini sampai kapanpun.
Arya lalu mendekati Stella kemudian mengelus kepalanya dengan lembut. "Stella, aku tidak bisa membawamu dengan alat teleportasi dan aku juga tidak ingin melibatkanmu dalam bahaya. Jadi tinggalah di tempat ini bersama Ragna atau kembalilah ke tempat asalmu"
Stella meringkik sedih sambil menggosok-gosokan kepalanya pada Arya, saat Arya hendak memeluknya. Rena lebih dulu merangkul leher sang kuda dengan air mata berlinang.
"Terimakasih untuk semuanya, aku akan merindukanmu" bisiknya.
Arya yang melihat hal itu tentu mengangkat sebelah alisnya dengan heran. Dia tidak menyangka Rena akan seemosional itu berpisah dengan Stella, mengingat pengalaman-pengalaman terbang yang kurang menyenangkan untuknya.
"Oh....perpisahan yang sangat mengharukan" celetuk Rei.
"Apa kau lupa hukumanmu? Dilarang berbicara jika tidak diminta, sepertinya kau benar-benar ingin untuk dibuang di tengah lautan agar tidak bisa ditemukan lagi oleh orang lain" ancam Arya dingin.
"Ti..ti..tidak Tuan! Aku mengerti, aku tidak akan mengulanginya lagi" sahut Rei cepat.
"Bagus"
Setelah Arya dan Rena sudah berjalan cukup jauh, mereka menoleh dan memberikan lambaian terakhir pada kawanan Polarian dan Stella. Keduanya bergandengan tangan kemudian menghilang dari tempat itu.
Saat membuka mata Arya terkejut karena tidak bisa melihat apapun, seingatnya tadi di Kutub Utara masih pagi hari. Tapi disini, di Kutub Selatan. Ia tidak bisa melihat apapun, kemudian ketika dia dan Rena masih belum pulih dari keterkejutan mereka terdengar suara lolongan yang membuat bulu kuduk berdiri.
__ADS_1
"Werewolf" celetuk Rei dengan suara bergetar.