
“Baiklah para penumpang, aku Kapten kalian Davy Jones siap mengantar” suara menggelegar terdengar ketika kapal berlabuh.
Demon – Demon di sekitar mulai berkumpul dan berbaris rapi untuk naik ke atas Flying Dutchman. Arya serta Pedis mengikuti, terlihat salah satu Skeleton yang sepertinya pekerja di kapal tersebut mulai mendata semua penumpang.
Dia meminta sekeping emas untuk tiap kepala mereka, kegitan berjalan lancar sampai akhirnya tiba giliran Arya. Si Skeleton memandanginya cukup lama sebelum mengambil uang milik Arya, tapi ketika kakinya hendak menginjak dek dia dihentikan.
“Tunggu sebentar Tuan” datang Skeleton lain mengenakan jubah lusuh sambil membawa sebuah lentera di tangan.
“Ada masalah?” tanya Arya tanpa mengubah ekspresinya sedikit pun.
“Maaf atas ketidaknyamanan ini, aku punya beberapa pertanyaan untukmu”
“Tentu”
“Siapa kau?”
“Apa menurutmu sopan menanyakan identitas orang lain sebelum memperkenalkan diri terlebih dahulu?”
“Akulah yang bernama Davy Jones, Kapten kapal yang hendak kau tumpangi”
“Ahh begitu rupanya, namaku Fenrir. Salam kenal” Arya mulai memahami situasi ini.
“Tuan Fenrir, berhubung aku adalah seorang Kapten kapal. Aku hampir selalu mengingat wajah para penumpang. Namun aku tidak pernah melihat wajahmu, demi keamanan. Bisa kau beritahu dari mana dirimu berasal?”
“Aku bersama seorang teman berasal dari Tenggara Dark Side, kami datang ke Wilayah Netral menggunakan sebuah sampan kecil demi meningkatkan kemakmuran. Sayang tidak berhasil, itulah sebabnya aku ingin kembali” mulut Arya berbicara fasih mengeluarkan cerita karangan singkat buatannya.
Tanpa diduga sang Kapten malah tertawa terbahak – bahak diikuti para anak buahnya, mereka melakukannya begitu keras sampai – sampai terlihat seakan tulang belulang itu akan terlepas dari tubuh masing – masing.
“GYAHAHAHA!!! Sampan? Lucu sekali! Buka tudung kepalanya!”
Dua Skeleton maju menarik jubah Arya, tawa langsung tidak terdengar lagi setelah pandangan semuanya tertuju pada telinga putih diatas kepala pria itu. Davy Jones dengan sedikit ragu berbicara pelan.
“Anda seorang....Werewolf?”
“Lalu? Apa seorang Werewolf dilarang menaiki kapalmu?”
“Bukan begitu Tuan, k...ka...kami diperintah untuk meningkatkan keamanan karena kejadian tak terduga akhir – akhir ini. Itulah sebabnya pemeriksaan penumpang sangat ketat”
Para Demon lain disekitar memilih memalingkan muka tidak ingin terlibat, Arya punya perasaan kalau mereka merasa kurang nyaman membuat seorang Werewolf dalam masalah seperti sekarang. Ketegangan nampak jelas pada seluruh awak kapal Flying Dutchman.
“Kelihatannya kalian sudah melakukan tugas dengan baik”
__ADS_1
“Eh?” semua yang mendengar perkataan tadi terheran – heran.
“Kalau memang tidak diizinkan ya sudah, akan aku kucari cara lain untuk kembali”
“Aku mana berani Tuan, h...ha...hanya saja—“
“Sudahlah Davy, izinkan Tuan Fenrir masuk. Aku jamin dia orang baik – baik”
“Pedis? Kau mengenalnya”
“Iya....walaupun cuma sekitar tiga puluh menit yang lalu”
“Ahh....baiklah, lagi pula kita tidak boleh membuang – buang waktu untuk ini. Anda boleh ikut Tuan Fenrir, tapi dengan syarat kami akan mengikat anda selama perjalanan. Untuk jaga – jaga saja”
“Hei kau sudah gi—“
“Tidak masalah bagiku” Arya menyetujui tanpa berpikir dua kali.
Para pekerja segera membawa Arya ke dek kapal sebelum megikat kedua tanganya menggunakan tali, setelah insiden berakhir. Semua penumpang berhasil melewati pemeriksaan dengan cepat, kapal tersebut akhirnya mulai berlayar.
Arya duduk di dek seorang diri sambil memejamkan mata, sembari menghirup aroma lautan yang khas. Walau ada sedikit campuran bau memuakan Demon mengelilinginya, Pedis memperhatikan pria itu dari jauh kemudian berjalan mendekati Davy Jones.
“Kau benar – benar cari mati, mengikat seorang Werewolf?”
“Bersyukurlah dia seorang yang berhati besar, kalau aku berada diposisinya mungkin sudah kuhancurkan kapalmu. Memperlakukan Noble-Tier seperti penyusup? Entah kau bisa tidur tenang atau tidak malam ini kawan”
“Aku sudah siap dengan segala konsekuensinya”
“Sebaiknya begitu, kau tentu tau suasana hati Nona Moona sedang tidak baik. Jika sampai ketahuan perlakuan kurang ajar didapat oleh anak buahnya, selesai sudah” ujar Pedis menggeleng – gelengkan kepala.
Sebenarnya Davy Jones juga sangat cemas akan situasi buruk tak terduga ini, semua Demon tau alasan mengapa Moona mendapat julukan Wrath Sins. Semakin tinggi tingkat amarah dia, maka tambah menggebu – gebu pula kekuatan miliknya.
Bukan tidak mungkin perempuan Werewolf tersebut akan melenyapkan seluruh Pirate Skeleton seorang diri akibat perbuatan Davy Jones. Kawanan mereka dikenal paling ganas diantara pasukan Tujuh Dosa Besar lainnya.
Beban pikiran sang Kapten kapal Flying Dutchman harus terhenti ketika melihat pusaran air raksasa dikejauhan, Arya yang merasakan perubahan arus pada lambung kapal akhirnya membuka mata. Pedis ternyata sudah berdiri tepat disebelahnya.
Si Skeleton menjelaskan kepada Arya kalau pusaran air itulah jalan masuk ke Dark Side, mereka menyebutnya Last Destination. Setelah lewat berarti bisa dipastikan kalau kapal ini sudah tiba di Wilayah kekuasaan Demon.
“Tapi, ada satu masa—“
Belum sempat Pedis menyelesaikan kata – katanya, permukaan air bergejolak dan secara perlahan tapi pasti mulai terlihat sesosok makhluk raksasa mengerikan melingkar pada sekeliling badan kapal. Kepalanya menghadap langsung ke arah mereka.
__ADS_1
“Makhluk apa itu?” tanya Arya penasaran.
“Ocean Eel Eaters, Imaginary Animals yang menetap disekitar Last Destination. Dia biasanya selalu meminta sesuatu sebagai bayaran untuk membiarkan kapal – kapal lewat dan masuk ke Dark Side” Pedis menjelaskan dengan suara tidak senang.
Davy Jones berjalan penuh percaya diri menuju kepala kapal, ia memberi salam kepada monster menyeramkam serta bergigi tajam itu.
“Aku sudah menyiapkan semuanya seperti bia—“
“Tutup mulutmu tengkorak tak beguna! Aku sedang tidak ingin tumbal biasa hari ini” suara berat bergema ke segala penjuru.
“Hah? Apa maksudmu?”
“Berikan separuh penumpang kapal ini, maka sisanya akan kubiarkan lewat”
Senyum memuakkan meghiasi kepala si monster raksasa, Davy Jones tak mampu mengeluarkan sepatah katapun setelah mendengar permintaan tidak masuk akal tersebut. Dia tidak mungkin menyerahkan nyawa para penumpang yang rela membayar untuk naik ke kapalnya.
Disaat suasana semakin mencekam, semua mata tertuju pada seseorang dengan tangan terikat yang melangkah santai melewati Davy Jones. Arya menatap langsung mata Ocean Eel Eaters.
“Menyingkirlah, biarkan kami lewat. Aku sedang buru – buru”
“PHUAHAHAHA! Serigala kecil, rasmu memang hebat di daratan sana. Tapi ini adalah wilayah kekuasaanku, akan kuperlihatkan kekuatan makhluk perkasa nan kuat ini padamu. Kumakan kalian semua, mulai dari kau terlebih dahu—“
BUAKHH!!!
Arya melepas ikatan tangannya hanya menggunakan entakan pelan, ia kemudian melompat serta menggapai kepala si monster laut sebelum menghantamkan keras lutut kanannya ke dagu Ocean Eel Eaters.
Makhluk itu langsung oleng menghempas permukaan air, membuat banyak cipratan membasahi udara. Rahang bawah semua Skeleton terlepas dari wajah masing – masing setelah melihat pemandangan luar biasa tadi.
“Sudah selesai bicaranya? Jangan buat aku mengulangi kata – kataku”
Ocean Eel Eaters berubah jinak akibat diberi pelajaran oleh Arya, dia dengan sukarela mengantar Flying Dutchman sampai ke Dark Side. Semua Demon yang menumpang juga benar – benar berterima kasih kepada Arya.
Seketika seluruh awak kapal berubah sikap seratus delapan puluh derajat, mereka tidak mengikatnya lagi dan memperlakukan Arya bak tamu kehormatan. Sesampainya di pelabuhan Dark Side, Arya menoleh sekali lagi ke arah Ocean Eel Eaters.
“Berhentilah menindas yang lemah, jika sampai aku dengar kau masih melakukannya.....
Safira merasuki tubuh Arya dan mengambil alih sesaat, matanya mendelik tajam penuh ancaman.
Bersiaplah menerima akibatnya”
Si belut mengangguk cepat sebelum segera meninggalkan Dark Side kembali ke tempat tinggalnya, Arya menanyakan kepada Davy Jones dan Pedis tentang keberadaan lokasi paling ramai di Wilayah Demon akhir – akhir ini.
__ADS_1
Keduanya menyarankan Arya menuju kota bernama Sinner Places, dimana markas utama Tujuh Dosa Besar berada. Dia hanya tinggal pergi ke arah utara dari pelabuhan hingga sampai kesana, setelah mengucapkan terima kasih. Ia langsung menuju tempat paling potensial menjadi lokasi pengirim kartu S.O.S tersebut.