Elementalist

Elementalist
Chapter 94 - Gejolak


__ADS_3

Para Vampir menerjang bertepatan dengan gigi Callista menancap pada kulit pundak Arya, ledakan Agnet seketika terjadi sehingga menghempaskan mereka semua. Warna mata Callista menyala terang, perlahan tapi pasti hisapannya semakin kuat seakan tak mampu mengontrol diri.


Cairan dingin menyegarkan terasa membasahi tenggorokan miliknya yang sudah tidak pernah meminum darah selama sepuluh tahun. Hal ini berbanding balik dengan Arya, ia mengerang menahan sakit karena merasa darah dan Agnet di dalam tubuhnya seolah terhisap keluar.


Tentu saja tubuhnya pun semakin melemah, saat Arya sudah merasa mencapai batasnya. Akhirnya Callista berhenti, namun kejadian berikutnya malah badan gadis itu terangkat beberapa senti dari tanah. Aura hitam kemerahan pekat memancar menggebu – gebu dari sekelililingnya.


Pemandangan tersebut menjadi gambaran terakhir yang dapat diingat oleh Arya sebelum kehilangan kesadaran, Callista menyadarinya kemudian bergerak cepat menghampiri. Berusaha memastikan kalau pria itu baik – baik saja.


Dia panik setelah merasakan kondisi tubuh Arya memburuk dengan cepat, tapi suara gemersik mengalihkan perhatiannya. Sepuluh orang Vampir sudah mengelilingi mereka dan siap menyerbu kapan saja, beberapa menit kemudian Ayah bersama kedua kakak kembarnya tiba.


“Callista putriku, akhirnya kau memutuskan untuk tidak menolak jati dirimu yang sebenarnya” Kris tersenyum bahagia.


Semua tentu terkejut akan perubahan Callista, namun Dexi nampak lebih santai dari pada saudarinya. Mata Aris berkilat menyeramkan seolah ingin melahap adik bungsunya tersebut.


“Kemari....biarkan Ayah melihatmu dari dekat....wahai—“


“Aku menolak” Callista memotong perkataan Kris penuh keteguhan hati.


“Ohh....Callista, kau tau bukan? Aku pasti mendapatkan apa yang aku inginkan”


Bertepatan sehabis Kris mengucapkan kalimat tadi, Aris melesat dengan kecepatan tinggi sambil mengambil ancang – ancang memukul. Tanpar sadar, Callista maju ke depan berusaha melindungi tubuh Arya.


DUAR!


Angin kencang berhembus ke segala arah waktu Callista menahan pukulan sang kakak hanya menggunakan tangan kanannya. Mata Aris melebar, ia tidak pernah menyangka adiknya yang selama ini dijuluki si cacat mampu menangkap tinjunya tanpa kesulitan sedikit pun.


Cuma terpaut sepersekian detik, Callista langsung menyerang balik. Tendangan telak mendarat pada perut Aris lalu membuat gadis itu terbang menghantam pepohonan dibelakang Ayah dan saudara kembarnya.


Callista sendiri tidak kalah terkejut dengan semua yang menyaksikan kejadian barusan, ini menjadi kali pertama dirinya bisa membalas serangan dari Aris. Kesepuluh Vampir pengepung segera bergerak serempak ke arah Callista.


Tiba – tiba karena alasan tidak jelas, ujung – ujung jarinya terasa gatal. Ia pun mengentakkan tangan ke tanah, tanpa aba – aba darah beku berbentuk tajam muncul menembus setiap bagian tubuh para pengepung.


Memanfaatkan kejadian tersebut, Callista cepat – cepat membawa Arya lari sejauh mungkin. Walau memiliki kekuatan baru dia tidak bodoh, di dalam hati Callista tau. Jika sampai Ayahnya yang turun tangan, maka selesai sudah.


Dilain pihak, Kris merasa begitu senang melihat kekuatan hebat yang ditunjukan putri bungsunya. Tanpa bisa menyembunyikan senyum, ia pun memberi komando.


“Aku ingin mereka berdua hidup – hidup”


Tubuhnya berubah menjadi bayangan diikuti oleh Aris dan Dexi, di belakang mereka nampak puluhan sosok sama terbang mengikuti sang Pride Sins.


------><------


Kris tertegun beberapa saat, ada sesuatu mengganjal di pikirannya akibat melihat hutan disekitar sini. Hal penting yang seharusnya dia tidak lupakan. Matanya melebar ngeri setelah mendapati Callista telah melewati garis pembatas merah di tanah hutan.


‘INIKAN!?’


Tanpa segan – segan, Kris langsung menahan Aris dan Dexi yang sudah hendak meyebrang. Tentu saja kedua anak itu menatap Ayahnya penuh tanda tanya, vampire – vampire lain mulai menyusul mereka satu per satu.


Ketika sekitar lima puluh orang sudah ada di dalam pembatas tadi, beberapa hitungan detik kemudian tubuh mereka meletup bersamaan bagai balon air tertusuk jarum. Suara senandung pelan memenuhi udara.


“Mundur” perintah Kris kepada yang lain.

__ADS_1


Dikejauhan mulai terlihat sosok gelap berjalan santai ke arah mereka, disaat sudah cukup dekat. Barulah semuanya tau kalau ternyata yang datang adalah seorang perempuan pembawa payung berwarna merah.


Dia memiliki rambut pendek berwarna hitam juga mata dengan warna yang sama dengan payung miliknya, senyuman pada wajah perempuan tersebut begitu menawan seperti membius setiap orang.



“Kupikir siapa yang cukup bodoh memasuki pekaranganku, nyatanya aku menemui beberapa hama pengganggu beserta wajah lama di sini”


“Kruel” Kris berdesis pelan.


“Yo, lama tidak berjumpa. Apa gerangan yang membawamu kemari? Sepupu”


------><------


“Aku tidak ingin mencari masalah, aku cuma mau membawa putriku pulang”


“Aku jadi kurang paham disini, kenapa kau berpikir putrimu ada di pekaranganku?” perempuan bernama Kruel itu memiringkan kepala.


“Dia melarikan diri ke sana”


“Ah!? Kalau begitu kita semua sudah tau nasipnya, kalian lihat sendiri dengan mata kepala masing – masing tentang apa yang menimpa penyusup di wilayahku bukan? Aku turut menyesal, tapi namanya juga konsekuensi. Apa boleh buat?”


Kruel melambaikan tangan ringan sebelum berbalik hendak pergi, Kris mengepalkan genggaman kuat – kuat. Aura ungu mengguyur deras keluar dari tubuhnya, membuat para Vampir di sekitar kesulitan bernapas.


“Jangan main – main Kruel!? Kita berdua tau alasan kau melindungi mereka karena anak itu!?”


Langkah kaki Kruel berhenti, ia balik menatap Kris. Tanah di sekitar bergetar waktu aura yang tidak kalah hebat dengan milik Kris juga terpancar dari perempuan tersebut. Orang selain mereka berdua langsung bertekuk lutut akibat merasakan beban bak batu raksasa menekan pundak masing – masing.


“Apa kau bilang wanita jal—“


BUMM!


Telinga Aris meletup begitu saja saat berusaha membela Ayahnya. Kruel menunjukan senyum sinis pada mereka.


“Jangan kira aku tak mampu membidik kepalamu nona muda, Ayahmu tidak bernilai apapun di mataku. Merasa aman berada di sisinya bukanlah pilihan bijak, camkan itu”


Kris menggigit bibirnya sendiri sampai berdarah, dia lalu segera berbalik pergi menjauh dari sana sambil berteriak lantang.


“MUNDUR!”


Kruel diam menunggu sampai suara gerombolan tadi hilang. Ia mengetuk salah satu pohon di dekatnya menggunakan payung kemudian berkata.


“Berhenti bersembunyi, ikuti aku. Dan jangan banyak bertanya”


Callista menelan ludah berat sebelum mengikuti arahan Kruel, perempuan misterius tersebut membimbing mereka menuju sebuah kastil megah tersembunyi. Hutan menyamarkan lokasi ini dengan baik.



Beberapa pelayan segera menyambut Kruel, mereka di suruh untuk membopong Arya yang sedang pingsan. Callista awalnya tidak setuju, tapi bagaiamana pun ia tidak memiliki kuasa menolak perintah Kruel.


Akhirnya Kruel sampai dan duduk manis disebuah kursi megah layaknya singgasana, Callista berdiri diam tanpa berani bersuara.

__ADS_1


“Apa ada yang ingin kau katakan?” tanya Kruel pelan.


“T..t..terima kasih....Nyo—“


“Tak perlu seformal itu, seperti yang kau dengar. Kita berdua masih keluarga, walau memiliki hubungan cukup unik sih”


Callista mengangguk sedikit ragu, permintaan Kruel dia anggap sedikit kurang sopan dilakukan terutama pada orang yang baru dikenal seperti ini.


“Aku juga mengenal ibumu”


“Sungguh?” Callista mengangkat kepala cepat medengar celetukan Kruel.


“Iya, sangat disayangkan hak miliknya ada pada Kris. Aku turut sedih setelah tau kabar tentangnya, tapi lupakan hal itu sejenak. Izinkan aku mengucapkan selamat kepadamu atas keberhasilan mencapai kedewasaan”


“Terima kasih”


“Kau terlihat santai sekali, apa kau tau jati diri orang yang memberikan darahnya padamu? Tidakkan kau penasaran tentang kekuatannya?” Kruel mengangkat sebelah alisnya.


“Dia...dia cuma orang yang dikirim untuk menyelamatkanku”


Kruel menghela napas sambil menggeleng – gelengkan kepala. Dia mendekat dan memegang kuat kedua pundak Callista.


“Selamat Callista, kau adalah Vampire pertama yang meminum darah Elementalist saat ritual kedewasaan”


“Elementalist? Maksudnya? Dia?” ulang Callista bingung.


Para pelayan membawa tubuh Arya ke ruang singgasana, pakaiannya telah diganti. Kruel menunjuk bekas gigitan Callista pada pundak laki – laki itu, pembuluh darah disekitarnya menegang seperti mau pecah. Keringat dingin membasahi tubuhnya, terlihat jelas raut kesakitan di wajah Arya.


“T..t..tapi kenapa? Sampai mengirim Elementalist hanya untuk—aku tidak mengerti!”


“Kesampingkan dulu alasannya, yang penting sekarang kau tau akibat dari gigitanmu bisa berdampak apa padanya bukan?”


“Blood Servant?”


“Benar, tapi kondisi tubuhnya tidak stabil. Kurang dari dua puluh empat jam, dia akan mati” jelas Kruel tenang.


“Apa?!”


“Tak perlu cemas, aku bisa membantunya. Oleh sebab itu mari kita buat kesepakatan”


“Apa yang anda inginkan?”


“Berikan hak kepemilikannya padaku”


Author Note :


Update agak lama, lg sibuk kuliah. Ada yang nanya :


R : Kak di cerita ini Heroine nya berapa? Kok banyak bgt?


M : Sekitar 20 Heroine, seiring berjalannya cerita bisa bertambah. Tapi gk mungkin kurang

__ADS_1



__ADS_2