
“Aura? Kenapa tiba – tiba kau bereaksi?” ujar Merlin heran.
Dia sedang duduk menantikan dimulainya Ujian masuk Divina Academy, penasaran bagaimana kemampuan para calon murid dalam tes pengukuran energi sihir. Juga melihat teman masa kecilnya yaitu Friska sang Black Mara yang juga mendaftar.
Tapi ditengah – tengah duduk santainya, secara mengejutkan payung jingga miliknya bereaksi. Karena penasaran, akhirnya Merlin menerawang peserta – peserta ujian. Sebab dalam persepsinya cuma Friska seorang pemilik kemampuan menjanjikan di sana.
“Mmm? Kok terasa familiar? Apa aku pernah bertemu dengannya?”
Merlin menemukan anak berambut putih diujung barisan, bocah laki – laki itu nampak kurang nyaman. Ada juga beberapa energi kuat lain ikut menyoroti dia dari berbagai penjuru.
“Kekuatan ini? Si pak tua memperhatikannya?” sang Orange Witch melirik Iruphior yang duduk dikejauhan.
Ketika masih bertanya – tanya tentang apa gerangan alasan Kepala Sekolah, acara dimulai. Berbagai kejadian berikutnya membuat Merlin melupakan sosok anak misterius tadi, beberapa tepuk tangan penonton membuatnya mencibir.
“6500? Itu sih kemampuanku ketika berumur lima tahun, Nona bangsawan Vonsekal mau membanggakannya?”
Saat giliran Friska maju, barulah Merlin memperbaiki posisi duduk. Ketika angka energi sihir sahabatnya mencapai titik tertinggi, ia tertawa geli. Sebab dulu waktu mendaftar juga Merlin melakukan hal sama.
Merasa sudah tidak ada alasan lagi menonton, dia meninggalkan lokasi kemudian menghampiri Friska. Gadis tersebut kelihatan tidak terlalu mengharapkan kehadiran Merlin.
“Dasar tukang pamer!”
“Bukannya itu alasanmu menonton?”
“Hehehe...iya sih, cepatlah naik ke bintang sepuluh. Aku akan menunggumu”
“Bicara memang mudah”
Sayang keduanya tak tau kalau sebenarnya ada monster lain dalam ujian masuk yang telah mampu melampaui rekor angka tertinggi pengukuran sihir mereka. Kabar ini dijaga kerahasiaannya oleh orang – orang pilihan Iruphior sehingga Orange Witch maupun Black Mara baru sadar ketika final Five Heavenly Stars Tournament.
------><------
Marylin Merlin bersama Morgiana Lefay berjalan menyusuri koridor Divina Academy sewaktu muncul banyak rombongan berlarian ke arah berlawanan dengan mereka, penasaran. Merlin meminta kepada Morgiana untuk bertanya kemana kelompok ini pergi.
“Duel murid baru?”
“Huum, sepertinya melibatkan putri keluarga Vonsekal. Makanya orang berbondong – bondong ingin menonton” jawab Morgiana.
“Tuan putri manja macam dia akan habis kalau mencari masalah dengan Friska, tetapi kupikir ia tidak akan berani” Merlin memutar kedua bola matanya.
“Kupikir bukan melawan Black Mara, kalau tak salah dengar dia menantang duel seorang Necromancer karena tidak terima kalah dalam kecepatan penggunaan mantra”
“Hmph!? Konyol sekali, aku jadi penasaran. Ayo kita mampir sebentar” ajak Merlin tertawa geli.
Setibanya di tempat pertarungan, Merlin dan Morgiana mencari titik paling mudah menyaksikan seluruh arena. Keduanya cukup terkejut mendapati tingginya antusias penonton untuk duel ini, saat dua Witch muda memasuki lokasi. Morgiana mengangkat sebelah alis sebelum menyeletuk.
“Kau yakin mau menontonnya, kupikir sudah jelas siapa yang akan keluar sebagai pemenang. Ternyata hanya ingin mempermalukan satu pihak, sungguh hiburan tak berkelas”
“Eh? Memangnya menurutmu siapa pemenangnya?”
“Jelas bukan, pasti putri keluarga Vonsekal”
“Hahahaha....mari lihat kalau begitu, jika lawannya berhasil bertahan satu menit. Kau harus ikut menonton sampai selesai” ujar Merlin mengingat anak berambut putih di arena.
“Mary? Kau menaruh harapan sebesar itu padanya?” Morgiana memasang raut wajah keheranan.
__ADS_1
Benar saja, setelah pertarungan berjalan. Morgiana melongo, jelas sekali takjub melihat kemampuan bocah yang dia remehkan beberapa menit lalu. Merlin sendiri walaupun diam dan terlihat santai, tubuhnya bergetar tiap kali orang tersebut menghindari serangan putri keluarga Vonsekal.
“Morgiana? Kau adalah seorang Warlock, jawab aku sejujurnya”
“Ah?! I..iy..iya?”
“Ketika masih bintang satu, apa kau bisa bergerak seperti dia?”
“Glek! Tidak, terlebih tanpa menggunakan perlengkapan sihir. Menurutku sangat mustahil” sahut Morgiana menelan ludah berat.
“Sudah kuduga, namun bocah di sana seorang Necromancer bintang satu dan dia mampu memanfaatkan kecepatan setingkat Warlock bintang lima”
Ketika Hanna Vonsekal menggunakan Cahaya Penyucian, Merlin dan Morgiana tau semuanya sudah berakhir. Namun waktu mau meninggalkan lokasi, kecurangan membuat tubuh Merlin bergerak sendiri. Ia melompat masuk ke arena sambil memasang wajah dingin.
“Mary?! Apa yang kau—?!”
------><------
“Duel tadi membuat kepalamu tidak berfungsi? Gadis ini baru saja ingin menyerangmu dari belakang lho?” kata Merlin bingung.
Arya berusaha menenangkan diri, aura perempuan dihadapannya sangat mencekam. Dia berbicara masih dengan sikap sesopan mungkin. “Benar, itulah mengapa tadi aku berterima kasih padamu. Lagi pula bukankah senior sudah memberinya pelajaran? Tolong kemurahan hatimu tuk melepasnya”.
“Aku menolak, menurutku dikeluarkan dari sekolah adalah pilihan terbaik”
“Tidakkah terlalu berlebihan melakukan itu? Hanna juga memiliki mimpi yang ingin dicapai”
“Tentu tidak sama sekali, terwujudpun hanya memperburuk situasi—“
“Kalau begitu apa boleh buat, aku menantangmu berduel” Arya mengangkat tongkat sihirnya.
Para penonton menarik napas keras, Ryan mengumpat dalam hati. Ucapan Arya benar – benar tak masuk akal.
“Hei apa dia tau siapa orang dihadapannya?”
“Witch bintang satu menantang Witch bintang sepuluh? Ini akan jadi berita besar”
Merlin menoleh, urat saraf muncul menghiasi pelipisnya. Kenapa bocah bodoh ini tidak mengerti?. Bukankah dia baru saja hampir dicurangi?. Menyadari situasi semakin diluar kendali Morgiana ikut datang ke arena.
“Bocah!? Tarik kembali kata – kata—“
“Morgiana, kau jadi jurinya” bisik Merlin menurunkan perlahan tubuh Hanna dari udara.
“Heh? Tunggu Nyonya dia cuma—”
“Diam! Aku tidak mungkin menolak ajakan duel yang sudah lama tak kudapatkan”
Mau tak mau, Morgiana melakukan perintah. Ia berdiri menengahi Arya dan Merlin, tepat ketika seruan mulai terdengar. Sang Orang Witch mengangkat satu jarinya tanpa membaca mantra, sembilan pedang cahaya berwarna jingga mengelilingi Arya kemudian menerjang bersamaan.
Kecepatannya benar – benar gila, Arya berhasil selamat memanfaatkan tiga Undead miliknya juga berbekal reflek hebat. Tetapi tetap saja tubuhnya terluka berat, belum selesai. Merlin sekali lagi mengangkat tangan tinggi diatas kepala.
“Irahatam Latoth!”
Bola api berukuran sangat besar membuat udara terasa terbakar, serangan tersebut dilepaskan ke arah Arya. Tak ada keraguan sedikitpun ia akan selamat jika sampai terkena matahari mini tersebut.
__ADS_1
JDUAR!!!
“Cukup”
Sihir Merlin menghilang begitu saja, lima pembimbing Class berdiri melindungi Arya. Suara barusan bukan berasal dari salah satu diantara mereka.
“Merlin? Kau!?” aura kehitaman memancar ke sagala arah ketika Arietta Brevil melihat kondisi muridnya.
“Halo Profesor? Kenapa semarah itu?” Merlin tersenyum mengejek
“Nag’nolol!”
“Aura? Kyma—eh?”
DUAKH!
Sang Orang Witch terkena telak tembakan kepala Undead milik Brevil sehingga terpental, ia menatap heran payung miliknya yang seakan tidak berfungsi beberapa saat lalu.
“Ugh....Arietta....”
“Kubilang cukup”
Ilzaxar Iruphior muncul dari udara kosong, tatapan matanya sangat dingin. Mengakibatkan orang – orang tak berani bernapas terlalu keras.
“Profesor sekalian, tolong bawa Tuan White untuk diobati”
“Tunggu....uhuk....sebentar, ini masih belum berakhir” Arya sekuat tenaga berusaha berdiri sendiri.
“Hmm? Kemarilah, aku akan dengan senang hati melayanimu” ujar Merlin senang.
“Profesor Iruphior....saya”
“Hanna Vonsekal tidak dikeluarkan, masalahnya selesai. Oke?” Iruphior menegaskan.
“Apa?!”
“Aku belum kalah....” bisik Arya lemah.
“Sadarlah, dengan kemampuan sepertimu. Mustahil dapat mengalahkanku”
Menggunakan sisa tenaga, Arya mengajukan sebuah persyaratan pada Merlin. Orang – orang yang mendengarkan itu melebarkan mata. Berusaha meyakinkan diri kalau pendengaran mereka baik – baik saja.
“Pftt....huahahaha baiklah, kalau kau menang. Aku akan menundukan kepala meminta maaf pada gadis itu, tetapi jika kau sampai kalah. Bersiaplah mati ditanganku hehehe”
Author Note :
Wah.....gila capek bgt, gk terasa udah update 52 Chapter aja bulan ini yang berarti sekitar 60.000 kata. Berhubung tanggal 26 Januari adalah Ulang Tahun MC kita, ya ada kejutan dikitlah. Kalau ada yang penasaran sama tanggal lahir serta biodata karakter Elementalist bisa dilihat di WP (Tp jgn berharap akan ada kejutan pada tgl ulang tahun karakter lain).
Curhat dikit, gw sebenarnya UAS itu dari tanggal 6 sampai 16 Januari kemarin. Tetapi ya gw sempat - sempatin update, dan akan mulai kuliah lagi dari tanggal 27 bulan ini. Jadi untuk sementara saya rehat dulu, we will back in February oke? Bye.....hoam.
__ADS_1