Elementalist

Elementalist
Chapter 244 - Her True Feeling


__ADS_3

Arya menyusuri jalan kacau balau dengan perasaan penuh bersalah, dia tidak mampu tenang jika memikirkan berapa jumlah jatuhnya korban akibat insiden ini. Terlebih semuanya terjadi saat dia bersama para Elemenatalist lain sedang tak berada di lokasi.


“Aku akan cari tau dalang dibalik semuanya lalu—ah...!? Sudah terlihat....”


Akhirnya matanya menemukan gedung putih yang dikenalinya sebagai Rumah Sakit Jiwa, dia bersyukur bangunannya masih berdiri kokoh dan tidak bernasip sama dengan beberapa gedung lain sekitarannya.


Untuk mengurangi durasi pencarian, Arya sekali lagi memanfaatkan kemampuan hawa dingin miliknya demi menemukan keberadaan orang yang dicarinya. Ternyata wanita tersebut masih duduk dalam kamarnya memegangi sesuatu padahal tempat itu telah kosong ditinggalkan pekerja – pekerjanya.


“Cih!? Bagaimana mungkin mereka meninggalka—“


BOOOMMMM!?


Belum selesai Arya mengeluhkan perlakuan pihak RSJ, ledakan super besar terjadi tepat di tengah Kota. Bahkan dampak tiupan angin ikut mendorong Arya dari posisinya berdiri, ketika menatap ke arah datangnya suara wajah Arya seketika memucat. Asap hitam juga kobaran api menyelimuti lima puluh persen Distrik Perak lalu nampaknya masih akan terus bertambah luas.


“Mustahil.....apa yang baru saja ter—“


Mulut Arya gagal menyelesaikan kalimatnya sebab tubuhnya maupun benda – benda dekat dirinya berdiri terangkat ke udara. Tanah Elemental City perlahan tapi pasti bergerak miring menuju arah sembilan puluh derajat, teriakan panik memenuhi udara seolah akhir dunia tepat dihadapan mereka.


------><------


“Kingka? Bagaimana? Kau sudah menemukan teknologi kuno penggerak utamanya?”


SLURP! SLURP! SLURP!


“Hey!? Jawab aku bunglon rakus!?”


“Ckk!? Berisik! Ini aku tengah memasang benda titipanmu mata empat!” sahut Kingka kesal berhenti menjilati jari – jari tangannya.


Kingka duduk di lantai berlumuran darah, tumpukan mayat korbannya bergelimpangan sekitar sana. Sebuah pilar setinggi puluhan meter yang terus menerus menyebarkan aliran listrik berwarna keunguan luar biasa menuju segala penjuru berdiri dihadapannya.



“Kau kira aku tak mendengar suara menjijikanmu menjilati darah sialan!?” James membalas sama geramnya.


“Bukankah hal terpenting adalah aku menyelesaikan tugasku? Jadi tutup mulutmu....”


Selagi masih berdebat melalui alat komunikasi, Kingka bergerak mendekati dasar mesin menakjubkan barusan lalu menempelkan benda lainnya. Dia meminta kode pengaktifan kepada James sebelum memasukan empat digit angka. Begitu selesai munculah penampakan hitungan mundur sejumlah lima belas detik.


TIT...TIT...TIT...!!!


“Puas? Suara tadi sudah cukup jadi bukti bagimu? Misi berhasil....waktunya aku kembali....” ujar Kingka merogoh sebuah batu bertuliskan rune bercahaya dari balik pakaiannya.

__ADS_1



“Tunggu sebentar!? Apa kau telah memastikan tidak ada warga sipil dalam radius sepuluh kilometer?”


“Tentu....lagi pula kebanyakan dari mereka mati ditanganku.....” Kingka tersenyum memelankan suaranya pada bagian akhir seolah hanya berbicara sendiri.


Ia meremukkan benda sihir sebelumnya hanya berbekal kekuatan genggamannya, tubuhnya perlahan berubah menjadi partikel – partikel kecil berwujud layaknya debu keunguan kemudian hilang tak bersisia seperti tidak pernah berada di sana.


Tiga detik berselang Kingka berteleportasi, bomnya pun meledak. Meluluhlantakkan pusat Elemental City, Zayn yang berada paling dekat dengan lokasi berhasil melindungi dirinya dan orang – orang terutama para petugas penyelamat berkat kemampuan manipulasi bayangannya membentuk semacam kubah hitam. Dia hendak mencari tau apa gerangan penyebab kejadian tersebut namun tiba – tiba seluruh kota tertarik gravitasi Bumi.


------><------


Insting Arya langsung memberikan sinyal bahaya, dalam sepersekian detik kondisi kacau itu terjadi dia segera bergerak cepat menuju Rumah Sakit Jiwa. Arya buru – buru mengeluarkan benang kemudian menjeratkannya kepada benda apapun supaya dapat membantunya mencapai tujuan karena pondasinya berdiri sudah tidak stabil.


“Cepat....!!!” desisnya memaksa semua ototnya bekerja keras.


Berkat satu dorongan kuat ia sukses menerjang masuk dengan cara memecahkan kaca salah satu jendela, kemiringan tanah membuatnya sadar kalau dirinya tengah dikejar oleh waktu. Arya menyusuri lorong lantai dua memanfaatkan segala hal sebagai pijakan, mau itu langit – langit, dinding, bahkan perabotan sekalipun digunakannya untuk bergerak.


Ketika sampai pada ruangan incarannya Arya berdiri di muka pintu mengamati kamar pasien tersebut, seorang wanita nampak duduk diatas sebuah kursi roda sembari memegangi semacam gelang manik – manik berwarna – warni.


“Nyonya! Jangan bergerak....”


Ia seolah menutup mata atas kondisi kurang bersahabat ini, Arya memutar otak mencari cara mengeluarkan ibunda Amira itu dengan aman. Hal paling mengkhawatirkan sekarang baginya adalah jika sampai engsel pengekang tempat tidur terlepas, barang – barang tadi akan langsung jatuh menuju lokasi Bintang berada.


“Nyonya!? Aku berencana mengeluarkan anda, tolong pegang benang yang bakal saya lemparkan”


“Kenapa....?”


“Huh?”


“Mengapa kau perlu repot – repot menolong Manusia sampah sepertiku?” gumam Bintang lemah.


“Saya tidak me—!?”


KREEKK...!? TRANG!?


Kemiringan yang terus bertambah menyebabkan mur tak kuasa menahan tarikan gravitasi, hampir seluruh benda terjatuh diwaktu bersamaan. Arya berdecak sebelum melesat menggapai wanita tersebut, dia memeluk Bintang agar terlindung dari segala ancaman terus memecahkan kaca memakai sikunya.


PRANKKK....!!!?


Saat terombang – ambing di udara Arya berhasil memanfaatkan sebelah tangannya melepaskan benang sehingga sukses menjerat celah ventilasi udara Rumah Sakit Jiwa. Keduanya bergelantung dalam situasi membahayakan, rentetan barang – barang melintas hanya berjarak beberapa senti saja dari mereka.

__ADS_1


“Hah....hah....hah....anda baik – baik saja?”


“Lepaskan aku....”


“Jangan konyol!!!” bentak Arya akhirnya.


“Tuan Elementalist....kau tidak mengerti.....”


Bintang menghela napasnya lalu bercerita kalau dirinya sudah lelah begini, ia merepotkan suami serta putrinya cuma karena keegoisannya yang enggan menerima fakta jika anak perempuan pertamannya telah tewas.


Dia bahkan menyalahkan sahabat sekaligus sosok paling berharga bagi putrinya agar dapat menemukan kambing hitam. Sekaranglah waktu tepat untuk menebus segala dosanya tersebut, disanalah Arya menyadari kondisi kejiwaan Bintang yang sebenarnya.


“Kau lihat gelang ini? Anakku membuatnya sehari sebelum dia meninggal, dia berpesan supaya aku memberikannya kepada bocah itu sebagai hadian ulang tahun. Namun aku malah menyimpannya, betapa busuknya diriku ini hehehe.....” Bintang tetawa hampa


“Nyonya sudahlah....ia pasti mengerti....tentu mana ada ibu ingin merelakan peninggalan terakhir—“


“Tutup mulutmu! Jangan bersikap seakan kau memaha—“


“Justru karena aku paham situasinya!” potong Arya.


“Kau—“


“Apakah anda pikir putri anda menginginkan ibundanya depresi kemudian menyerah seperti ini? Lalu bagaimana dengan suami anda dan Kemala? Pernahkah anda memikirkan perasaan mereka kalau anda mati? Keduanya sedang menunggu kepulanganmu....”


Kata – kata terakhir Arya membuat air mata wanita paruh baya tersebut tak terbendung lagi, dia terisak sedih melepaskan semua perasaannya terus berucap pelan, “Aditya....Kemala....aku ingin menemui orang – orang yang aku sayangi juga menyayangiku....”.


“Safira....”


WUSHH...!!!


Betapa terkejutnya Bintang ketika seekor naga biru muncul entah dari mana, Arya melepaskan pegangannya sehingga keduanya terjatuh diatas punggung Safira. Arya memintanya agar berpegangan sekuat mungkin agar tidak terlempar.


“Maaf mengganggu istirahatmu usai terbang jauh kemari, tetapi aku butuh uluran tanganmu....”


‘Heh?! Bisa apa kau tanpa bantuanku?’ balas Safira sombong.


“Iya – iya....sekarang berangkat ke Distrik Emas....”


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.

__ADS_1


__ADS_2