
"Tidak, aku menolak. Kapten itu terlalu memakan banyak waktu, mustahil mampu menyusul mereka jika harus menangani musuh disini bersama...." Kevin menolak usulan Arya.
"Memang kau punya ide lain lebih baik?"
"Serahkan mereka padaku, lagi pula kekuatan petirku sangat berguna melihat tempat bertarung—"
Kalimat Kevin terpaksa berhenti karena Ali telah memegang tangannya kemudian menggelengkan kepala sebelum menunjuk dirinya sendiri, tentu ketiga temannya cukup terkejut juga agak kurang setuju sebab menganggap keputusan meninggalkan Ali resikonya sangatlah tinggi. Namun sebuah tulisan pasir muncuil dihadapan masing – masing.
'Kumohon....percayakan semuanya kepadaku, kita tak punya banyak waktu lagi. Semakin lama berdebat tambah jauh Reika pergi, Kevin kemampuanmu jauh lebih dibutuhkan menghadapi mlawan kuat berikutnya.....'
"Ali? Kau yakin? Rawa bukan lokasi tepat bagi pasirmu?" balas Timothy cemas.
Arya bertukar tatapan serius dengan Ali, melihat betapa besar tekad salah satu sahabatnya tersebut dia akhirnya mau tidak mau menghela napas lalu mengangguk. Ali tersenyum sumeringah sementara Kevin serta Timothy hendak membuka mulut namun mengurungkan niatnya ditengah jalan sebab mengehtaui Arya pasti mempertimbangkan matang – matang keputusan barusan.
"Aku cuma minta dua hal, pertama jangan memaksakan diri dan berjanjilan kau pasti menyusul kami...." Arya mengajukan syarat.
'Pasti! Aku akan menanti Zayn kemudian berangkat bersama menuju lokasi kalian....'
"Kapten!? Kita hampir keluar!?"
"Eh?"
WUSH....!!!
Panggilan Kevin menyadarkan Arya dari lamunan, meski sudah menyetujui juga meninggalkan jauh Ali dibelakang. Arya tetap kepikirian, nampaknya dua orang lain menyadari hal ini sehingga meyakinkannya kalau semuanya baik – baik saja.
"Semoga...." kata Arya pelan sambil meninggalkan tebasan sebagai petunjuk arah mereka pergi kepada pohon terakhir yang dilewati, ketiganya menuju cahaya terang diluar naungan tanaman – tanaman rapat sekitar rawa.
------><------
Lilian menarik napas dalam – dalam lalu mengambil ancang – ancang siap melempar, ia membidik tepat ke punggung Arya. Kejadian berikutnya terjadi begitu cepat sampai sulit diikuti oleh mata, Lilian melepaskan tombak berlapis Agnet sekencang mungkin.
JGER....!!!
"Jangan pikir bisa lolos!"
Suara layaknya bunyi guntur menghiasi udara, Ali menyadari tindakan wanita itu kemudian bergerak sigap. Melalui anggota tubuhnya keluar ribuan butiran pasir membentuk semacam tangan cokelat raksasa, jurus Ali sukses menghalau serangan Lilian terus mengembalikan senjatanya.
Tombak Lilian melesat kembali hampir mengenai dirinya kalau dia tak menggeser kepalannya sedikit, sembari menggeram murka Lilian memungutnya dan maju menerjang Ali. Adu kekuatan keduanya sudah tidak dapat dihindari lagi.
TRANG! TRING! TRANG!
__ADS_1
Lilian menghujani lawannya dengan kombinasi tusukan gesit nan berbahaya, masing – masing mengarah pada titik vital. Ali beruntung mampu meladeninya berbekal belati yang dia gunakan, tetapi lama kelamaan posisinya semakin terdesak.
"Winnie?"
Ketika Ali terus terdorong hingga punggungnya menabrak salah satu pohon, bongkahan batu besar hasil lemparan boneka beruang milik Annabelle mengincar dirinya. Cepat – cepat Ali membentuk pelindung pasir berwujud setengah lingkaran demi menahannya.
"Lilian? Aku tinggalkan Winnie bersamamu, biar aku kejar para Elementalist sisanya...."
"Jangan memerintahku!?"
"Kapan aku memberinya—eh? Woaaa!?"
Saat mau melayang pergi, kaki Annabelle tiba – tiba dijerat oleh pasir kemudian ditarik sekali lagi menuju permukaan. Akibat perbuatan barusan fokus Ali terpecah dan Lilian berhasil mendaratkan ujung tombaknya pada perut si Elementalist namun tak cukup dalam karena perlindungan kekuatan elemenya.
Lilian mengangkat badan terluka Ali ke atas sebelum mengepakakan sayap, keduanya mulai meninggalkan tanah. Tak mau tinggal diam, Ali mengincar salah satu mata Lilian . Sayang belatinya meleset dan hanya menggores pipi perempuan itu.
"Sialan....!!!"
"Ugh..."
'Karkadann!'
Baru saja menyentuh dasar rawa, tali berwarna – warni menjerat pergelangan kaki serta tangan Ali menuju empat arah berbeda. Dia berteriak kesakitan karena merasa kulitnya hampir robek, belum sempat memulihkan diri . Winnie muncul muncul dihadapan Ali kemudian memukul perutnya sampai kesulitan bernapas.
Badan lunglai pria tersebut terpelanting tidak berdaya, diujung jalan telah menanti sebuah rumah kayu berlumut yang memiliki kaki unggas entah ingin melakukan apa. Ali menyadari keberadaan benda aneh dibelakang tapi rasa sakit menyebabkannya kesusahan mempertahankan kesadaran, tanpa basa – basi bangunan tadi terbelah seperti membuka mulut dan melahap Ali ke dalamnya.
"Walking House"
------><------
"Uhuk! Uhuk!"
Ali terbangun akibat napasnya tersedak oleh darahnya sendiri, dia membuka mata dengan susah payah. Kepalanya terasa benar – benar pusing, cahaya minim ruangan tempatnya berada menambah sensasi buruk ini. Selang sekitar lima menit barulah Ali sadar jika dirinya tengah digantung terbalik, tali putih kuat menyatukan kedua kakinya.
"Ukh...." Ali meronta berusaha menjangkaunya namun gagal.
"Sia – sia...."
Celetukan lembut menarik perhatiannya, ternyata sedari tadi Ali tak melihat kalau Annabelle sedang memperhatikannya dari sudut ruangan ditemani puluhan boneka berbagai rupa. Sang gadis terus menatapnya penasaran lalu bertanya.
__ADS_1
"Mengapa? Mengapa kau ceroboh sekali? Cari mati? Pasirmu jelas – jelas melemah sewaktu terkena air dan kau masih berani melawan kami berdua? Jika Elementalist Petir turun tangan mungkin akan lebih masuk akal bagiku....."
Ali memiringkan kepala bingung bagaimana cara meresponya, sepertinya Annabelle juga baru tersadar. Ia berikutnya mengeluarkan sebuah peniti berbentuk tengkorak berwarna merah muda dan memasangkannya ke selendang Ali. Laki – laki itu tentu berusaha menghindar tapi Annabele tetap sukses melakukannya tanpa kesulitan berarti.
"Lepaskan! Aku—eh?"
"Ini adalah alat sihir ciptaanku yang bisa membuat kita dapat mendengar suara hati seseorang, kebetulan kau adalah kelinci percobaan paling tepat" kata Annabelle kembali pada posisi semula.
Ali terpana, dia mencoba sekali lagi memikirkan sesuatu terus beberapa saat kemudian kata – kata dalam kepalanya muncul menggema di udara secara ajaib. Mulutnya bahkan tidak perlu digerakan, Ali senang setengah mati sampai mengucapkan terima kasih terhadap Annabelle.
"Sadari kondisimu, buat apa kau menyanjungku. Aku tak berniat membunuhmu sebab yakin Lilian segera bertindak saat kita keluar...."
"Walaupun demikian aku sangat bersyukur, terima kasih banyak Nona....."
"Huh!? Sekarang jawab pertanyaanku sebelumnya....."
"Alasanya karena aku ingin menolong teman dan yakin mampu mengatasi halangan apapun...." Ali menjawab tenang.
"Bukannya kau bisu bukan buta? Lihat keadaanmu? Lepas saja dari Walking House tak mungkin kau lakukan...."
"Bisa....."
"Ohh sungguh? Perlihatkan padaku...." ujar Annabelle mengangakat sebelah alisnya sinis.
"Anguista...."
KRAKK!!!
"Apa!?"
Annabelle terkejut akibat bunyi keras kayu patah, rumah ciptaanya berguncang hebat tidak karuan. Dinding – dindingnya perlahan remuk memperlihatkan rawa yang ada diluar. Ali memanfaatkan momentum tersebut untuk berayun lalu memotong tali pengikatnya.
Hanya dalam hitungan detik Walking House hancur berkeping – keping, Annabelle mengumpat kesal melihat seekor ulat cokelat raksasa ternyata telah melilit Walking House. Lilian mendekat setelah akhirnya lepas dari belengu penjara pasir, diatas kepala reptil dihadapan mereka Ali berdiri dengan menggenggam senjatanya.
"Serangan balik dimulai...." Ali bergumam pelan kemudian menutupi hidung serta mulutnya.
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.
__ADS_1