Elementalist

Elementalist
Chapter 226 - Switch


__ADS_3

“First Dance; Swinging a Single Sword”


Sembari berlari Arya melepaskan salah satu tekniknya secepat kilat diantara tempat berdiri dua musuhnya, bekas sayatan pedang panjang menghiasi permukaan tanah sehingga memaksa Subyek 111 dan Aragon menghindar serta terpisah saling berjauhan.


Arya memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menipiskan jarak dirinya dengan Subyek 111 terus tanpa memberikannya jeda waktu berpikir segera menekan. Gerakan tiba – tiba ini tentu menyebabkan laki – laki itu kewalahan, ia terdorong mundur sambil mengendalikan sabit besar miliknya meladeni permainan pedang Arya.


“Sekarang kau tidak bisa banyak bertingkah eh?” Arya mendesis puas.


Aragon menyadari situasi rekannya tak menguntungkan hendak pergi membantu, namun baru dia melangkahkan kaki sekali muncul dinding api setinggi tiga meter dihadapannya. Seketika Aragon menoleh kemudian memiringkan kepalanya karena hembusan besar nan panas melintas ditempat mukanya seharusnya berada beberapa saat lalu.


“Kau mengarahkan pandanganmu kemana? Hi no Shita....”


BURNN...!!! WUSH!!!


Kobaran mengerikan tadi memancar melalui ujung Amaterasu, senyuman Aragon menghilang usai merasakan sendiri kulitnya sedikit terpanggang akibat sergapan Asuna. Duel satu lawan satu keempatnya mulai berlangsung dan secara sekilas nampak pasangan Elementalist mengungguli para False Vanguard.


“Aragon....” panggil Subyek 111 cepat.


“Iya, aku mengerti”


Dalam sepersekian detik, masing – masing melepaskan diri dari musuhnya lalu saling memungungi satu sama lain. Langsung saja hal ini memancing Arya juga Asuna menyerang ke titik yang sama, disitulah momen keasalahan keduanya terjadi.


“Kamai—“


“Nokori—“


TRANG!


Kerja sama Subyek 111 ditemani Aragon berhasil menghalau hujan serangan beruntun Elementalist Es dan Elementalist Api. Waktu dua orang tersebut ingin memberikan jurus pamungkas, bukannya menghajar target sebenarnya senjata mereka malah berbenturan kemudian sama – sama merusak ritme sendiri.


Melihat celah itu, pasangan False Vanguard tidak menyianyiakan peluang untuk menekan balik. Arya maupun Asuna membuat kesalahan demi kesalahan sehingga luka – luka kecil perlahan menghiasi tubuh keduanya. Kombinasi Subyek 111 bersama Aragon begitu sempurna sangat tak sebanding dengan duet berantakan Arya ditambah Asuna, ibarat anak kucing bertarung menghadapi singa dewasa.


Urat saraf Arya menegang ditengah sengitnya tensi duel, dia buru – buru menarik tudung jubah Asuna supaya mundur sesaat soalnya punya firasat jika dilanjutkan begini terus tak akan mendapat hasil baik. Selesai menjaga jarak sekitar lima meter Arya menarik napas panjang sebelum meledak.


“BERHENTI MENGINJAK KAKIKU GADIS BARBAR!?”


“APA!? KAULAH YANG SELALU MENGGUNAKAN BERBAGAI TINDAKAN SIA – SIA LALU MENYEBABKAN RUANG GERAK MENJADI SEMPIT DASAR PRIA BERUBAN....!!!” Asuna membalas murka.


“GRRR....!!!”


Muda – mudi tersebut menggeram sembari saling beradu kepala kesal, Subyek 111 memberikan tanda kepada Aragon supaya menyerang sekarang. Mereka tidak mau mengambil resiko lalu menyesal kalau sampai permasalahan Arya dan Asuna terselesaikan.


“Ckk sial...!? Badai mendekat” umpat Arya pelan.


“Kita harus bagaimana? Meladeninya sama saja bunuh diri....”


“Jika demikian maka menjauhlah....”


“Hah?! Jangan sok kuat, mustahil kau mampu menangani pertarungan dua lawan sa—“

__ADS_1


“Pokoknya enyah dulu!”


BUAKH!!!


“Aww!? Hey dasar brengsek!“


TRANG! TRING! TRANG!


Belum sempat Asuna menyelesaikan kalimat sebelumnya, Arya menendangnya menjauh agar tak terkena tikaman para False Vanguard. Orang awam pun dapat mengetahui jika pertempuran itu berat sebelah, berkat sabit besarnya Subyek 111 berhasil menyulitkan Arya tuk mendekat sementara Aragon memberikan tebasan serta tusukan bertubi – tubi.


Cuma butuh waktu relatif singkat pakaian Arya mulai terkoyak dan berlumuran darah, Asuna tidak tega melihatnya tetapi meski dirinya ikut campur nanti bukannya menolong malah menambah beban bagi Arya.


“Asuna!?”


“Aaa...?”


“Kau ingat tentang Final Fantasy bukan!?”



“Eh? Game....?” Asuna bergumam sambil memiringkan kepalanya bingung.


Dia berusaha menangkap pesan tersirat Arya beberapa menit sebelum akhirnya melebarkan mata pertanda paham, perlahan Asuna berlari dengan Amaterasu ditangan. Agnet kuat menyelubungi senjata tersebut, dua False Vanguard berubah waspada saat melihat Arya tersenyum. Si pemuda berambut putih menanti momen tepat untuk menghempaskan mereka sehingga keseimbangan masing – masing terganggu terus berbisik lembut.


“Switch....”


BURNN!!! WUSH...!!!


“Ugh!?”


Asuna muncul dari belakang punggung Arya dan menabrak lawan sampai terpental mundur, terjangan mengejutkan tadi benar – benar tidak diduga oleh Subyek 111 serta Aragon. Asuna belum berhenti disana, sewaktu mereka masih sibuk menangani luka bakar cepat – cepat ia menghadiahi kombinasi tusukan gesit.


Namun musuhnya bukan sosok sembarangan, cukup beberapa tarikan napas kondisi keduanya sudah pulih kemudian malah balik menekan. Sayangnya pada saat situasi tak menguntungkan Asuna segera melompat tinggi berjungkir balik diudara sambil berteriak kencang. “Switch!”.


“Áfxisi Kamaitachi!”


SLASH! JDUAR!


Kali ini giliran Arya yang menyambar melalui balik badan Asuna, ratusan ayunan pedang cepat menghujani Subyek 111 juga Aragon. Arya menyadari rencana mereka tuk terus memaksa duel dua lawan dua sebab tau kerja sama dirinya bersama Asuna sangat buruk dan tak selaras.


Jika hanya seorang saja mencoba peruntungan meladeni permainan itu para False Vanguard tetap akan memperoleh keuntungan, oleh karena hal tersebut Arya dan Asuna memutuskan silih berganti menyerang supaya tidak saling mengganggu satu sama lain.


Nyatanya rencana Switch sukses besar, bahkan duet False Vanguard teramat kewalahan dibuatnya akibat gaya serangan milik dua Elementalist begitu berbanding terbalik. Arya maupun Asuna merasakan kemenangan di depan mata jadi bersiap menuntaskan semuanya.


“Switch! Asuna!?”


“Berisik!”


Keduanya mulai berlari mengelilingi lawan mereka sembari menghembuskan udara dingin serta panas. Makin lama laju masing – masing semakin cepat, entah uap atau kabut pekat mengepul ke angkasa dikarenakan pertemuan suhu berbeda.

__ADS_1



“Teknik Sinkronisasi....


“Heat....


“Cold....


“Assemble....!!!”


JGERRR!!!


------><------


“Hah....hah....hah....”


Arya terduduk dengan kedua lengan berperan sebagai penopang, Asuna keluar dari balik asap tebal efek Heat Cold Assemble lalu berjalan ke arahnya. Gadis itu tiba – tiba berjongkok terus mengeluarkan perban, Arya menatapnya aneh sembari mengangkat sebelah alis.


“Kau tidak apa – apa?”


“Kurang lebih, kau sendiri sedang?”


“Aku mungkin memang tak mempunyai kemampuan medis seperti Rena atau Selena, namun setidaknya aku bisa membalut—“


“Lupakan, aku ini Half-Elf dan Servant Vampir ingat? Yang kubutuhkan hanya istirahat....” Arya memperlihatkan luka – luka pada lengannya perlahan menutup karena selnya beregenerasi super cepat.


Tubuh Asuna tersentak menandakan dia sungguh lupa mengenail hal barusan, ia kemudian menunduk lesu. Arya menghela napas sadar betul kalau sang Elementalist Api sebenarnya merasa bersalah, tujuannya datang kemari adalah untuk menolong tapi malah nampak hanya menambah beban saja bagi dirinya.


Terbukti bagaimana Arya mendorongnya menyingkir sewaktu musuh melakukan serangan bersama, lagi pula ide bergiliran pun Arya yang mengusulkannya. Terus ketika dia berusaha memberikan pertolongan pertama ternyata Arya mampu sembuh dengan sendirinya, jauh dalam hati Asuna merasa benar – benar tidak berguna.


“Mengapa kau terlihat murung usai kita menang bodoh, kedatanganmu lebih dari cukup. Terima kasih Hime-sama....” ujar Arya bangkit berdiri terus mengusap kepala Asuna sambil berjalan menuju pintu markas di kejauhan.


TIK....


“Oi? Mau sampai kap—kau menangis?”


“TIDAK! Aku cuma berkeringat saja!” Asuna membantah buru – buru menggunakan jubahnya mengelap wajah.


“Dasar cengeng....” cemooh Arya lalu menjulurkan lidah.


“Ugh....”


“Kau ikut atau tidak? Aku tak punya waktu bertengkar di sini atau menunggu yang lain datang, aku harus menjemput Reika. Di dalam pasti lebih berbahaya. Pilihan ada ditanganmu dah....”


“Berhenti memanggilku—hey tung—setidaknya berikan aku kesempatan bica—ARYA?!! TULI?! PAYAH?! MENYEBALKAN....!!!”


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.

__ADS_1


__ADS_2