Elementalist

Elementalist
Chapter 118 - Gundah


__ADS_3

Garyu menggerakan tangan di udara kosong seolah berusaha meraba sesuatu, sementara Inuki merendahkan badan sambil terus memasang hidungnya. Nampak sedikit ekspresi kebingungan pada wajah si Shio Anjing.


“Aku sangat yakin mereka masih di sekitar sini, baunya tidak kemana – mana tapi....kenapa? Aneh, apa ada yang salah dengan hidungku ya?”


“Penciumanmu baik – baik saja, hanya ada satu masalah di sini. Penghalang transparan”


“Kalau cuma tidak bisa dilihat aku masih percaya, namun disentuh pun tak bisa”


“Tinggal satu pilihan kalau begitu, paksa”


“Oi oi oi, memangnya kau tau letak pastinya?” Inuki mengangkat sebelah alis.


“Apa perduliku?”


Sang Shio Naga mengeluarkan hawa panas dari hidungnya, tumbuh – tumbuhan serta air mulai mengering. Perlahan tubuhnya melayang ke angkasa dengan tangan kanan terangkat, Inuki yang panik berusaha mencari tempat berlindung.


“Woa woa woa sabar sabar! Beri aku waktu seben—“


“Twin Head Temple Special Techniques; Ryu Shuha!”



DUAR! WUSH! KRATAK!!!


Dalam sekejap, lokasi tersebut hangus dilalap api. Inuki keluar dari lubang darurat buatannya sambil mengumpat, untuk sesaat dirinya sempat berpikir akan menjadi anjing panggang kalau sampai telat bertindak.


Garyu mendarat tenang tak memperdulikan omelan – omelan rekannya, merasa kesal atas sikap itu, Inuki memutuskan duduk bersila dan ogah membantu pencarian.


“Dasar barbar, lihat akibat perbuatanmu pada alam indah ini”


“Inuki berhenti mengoceh, cepat kemari”


“Iya – iya kenapa? Dapat sesuatu?”


“Binggo” Garyu merobek udara kosong berbau menyengat kemudian menunjuk tepat ke arah temuannya tadi.


------><------


“Cepat Tuan! Pergi sejauh mungkin dari sini! Jangan menoleh lagi! Kalian akan sampai Kota Klouvi jika menyisiri lereng bagian barat”


“Tapi....bagaimana dengan—“


“Tenanglah, kami baik – baik saja. Sekarang cepat pergi!”


Walau terasa berat meninggalkan desa, Arya menyambar tangan Kizuna kemudian berlari secepat yang dia bisa menembus hutan. Sosok mereka semakin menjauh sampai akhirnya tidak terlihat lagi oleh para penduduk.


Dua puluh orang sepuh itu saling melihat satu sama lain, tiap langkah mantap menapaki tanah bergerak ke pintu masuk Kakkureta Mura. Aura mencekam menyelimuti seluruh wilayah mungil tersebut.


“Kita sudah melakukan yang terbaik” Hazu berbisik pelan.

__ADS_1


“Huum, sekarang tinggal serahkan sisanya pada takdir” ucap Kimba sembari tersenyum.


Tanah dihadapan mereka remuk seketika begitu dua sosok mendarat di sana, tatapan tajam pria – pria ini bisa membuat lawan sekuat apapun gentar. Meskipun masih nampak muda, kemampuan masing – masing orang berada di atas semua penghuni desa.


“Ara? Tak kusangka benar – benar ada orang tinggal di lokasi ini”


“Salam kepada para senior, kami kemari bertujuan mencari laki – laki dan perempuan yang hilang. Apa diantara kalian melihatnya?”


“Ohoho dua anak muda tampan, maaf mengecewakan kalian, tetapi di Kakkureta Mura hanya ada pensiunan seperti kami ini”


Kesunyian bertahan cukup lama setelah kata – kata tadi diucapkan, selang lima menit Garyu langsung memberi perintah.


“Inuki kau bisa?”


“Tak jauh, santai saja”


“Kejar”


“Serahkan padaku guk guk” Inuki menyalak sebelum melesat.


“Hentikan di—“


“Crazy Hound Temple Style; Inu Sentsu!”


WUSH!


Ketika hendak menyusul, Garyu sudah siap memblokade jalan mereka. Dia sedikit menguap dan terkesan malas berurusan dengan orang – orang tersebut. Gemertak keras tulang terdengar saat pria bergelar Shio terkuat itu meregangkan badannya.


“Dua puluh mantan Jenderal Petarung dari masa seratus tahun lalu tinggal bersama di kedalaman jurang misterius, tidakkah informasi ini sungguh luar biasa?”


“Dan orang – orang itu akan menghentikanmu” Xiong memasang kuda – kuda.


“Tolong hentikan, kalian adalah pahlawan perang hebat yang sangat berjasa bagi ras Werebeast. Sudah tak tehitung lagi berapa nyawa telah kalian rengut. Mari kita selesaikan secara baik – baik”



“Itulah alasan tidur kami tidak pernah nyenyak selama seratus tahun terakhir” kata Hazu sambil menggertakan gigi.


“Lalu kenapa kalian membantu buronan?”


“Sebuah penebusan dosa” Kimba mengeluarkan aura putih menyilaukan dari kedua telapak tangannya.


“Hah....mau bagaimana lagi? Dua puluh lawan satu ya? Berjuanglah” gumam Garyu santai.


JDAR!


------><------


Arya dan Kizuna masih belum berhenti lari sejak meninggalkan Kakkureta Mura. Selelah apapun dirinya, langkah kaki terus bergeak berirama. Aura tadi membuka ingatannya tentang kekuatan Tujuh Dosa Besar ras Demon.

__ADS_1


Tangan Arya bermandi keringat, namun berusaha sekuat mungkin tidak melepaskan genggaman pada tangan Kizuna. Sementara gadis itu cuma diam seribu bahasa sedari tadi, akhirnya harapan muncul saat sebuah jembatan mulai terlihat dari kejauhan.


“Kizuna sedikit lagi!”


Tepat ketika keduanya melewati pertengahan jembatan, Kizuna melepaskan diri lalu memotong tali pengikat sehingga jembatan terbagi dua. Dorongan lembut ekor rubahnya berhasil membuat Arya selamat sampai di sisi seberang walau harus bergelantungan pada bekas jembatan tadi.


“Apa yang kau—“


“Cukup sampai di sini, kau pasti juga menyadari kalau kita sedang diikuti bukan?”


“T..ta..tapi kenapa?! Kau bilang tidak percaya perang akan menjadi jalan keluar!”


“AKU SUDAH MENDENGAR MENGENAI IDENTITASMU....!


Tubuh Kizuna bergetar hebat, dia berbalik berusaha sebisa mungkin tidak saling bertatapan mata dengan Arya.


Bagaimana pun aku harus tetap melindungi orang – orang yang berharga bagiku, pergilah! Anggap ini sebagai balasan karena telah menemani dan memberiku makan. Jangan pernah muncul di hadapanku lagi, sampai jumpa. Arya Frost”


Arya mengumpat dalam hati begitu sosok Kizuna perlahan menghilang kembali ke arah desa tersembunyi. Dia memanjat jembatan rusak tersebut sampai berhasil memijak daratan, sembari mengumpulkan Agnet. Arya menarik napas dalam – dalam sebelum berteriak.


“KIZUNA....!!!


Si gadis rubah mendengar panggilan itu dan berhenti, air mata gundah mengalir deras membasahi wajahnya.


AKU PASTI AKAN MENJEMPUTMU!!! KETIKA SAATNYA TIBA, TOLONG TENTUKAN PILIHANMU BERPIHAK PADA SIAPA....!!! JADILAH DIRIMU SENDIRI DASAR KEPALA BATU....!!!”


‘Siapa yang kau panggil kepala batu dasar bodoh! Justru karena itulah kita harus berpisah, aku tidak tau mana jati diriku yang sebenarnya jika terus bersamamu. Pria menyebalkan! Sekarang aku sedikit paham alasan ibu membenci Manusia laki - laki’


Di tengah perjalanan kembali, berpapasanlah Kizuna dengan Inuki. Setelah memastikan kondisinya baik – baik saja. Dia menanyakan tentang keberadaan Arya, Kizuna menjelaskan kalau si Elementalist Es berhasil melarikan diri menggunakan sebuah trik khusus sehingga ia akhirnya kehilangan jejak.


“Ahh begitu, yang penting kau selamat. Syukurlah” Inuki menyalak senang lalu mengajak Kizuna menemui Garyu. Nampak tak ingin membahas lebih jauh mengenai Arya.


Setibanya mereka di luar Kakkureta Mura, bau amis memenuhi udara. Kizuna tidak mampu menahan dorongan untuk berlari, disertai napas terengah – engah si gadis rubah masuk ke dalam desa kemudian berakhir melihat sebuah pemandangan brutal.


Garyu duduk diatas tumpukan mayat para penduduk, tubuhnya dilumuri darah kental. Kondisi Kakkureta Mura sudah tidak sama lagi. Semuanya telah hangus dilalap kobaran api, sang Shio Naga berjalan mendekati Kizuna sambil melempar – lemparkan kepala Kimba menggunakan sebelah tangannya.


“Senang melihatmu lagi” sapanya.


“Garyu...kau....kenapa....” mata Kizuna melebar, dia mengepalkan tangan sangat kuat hingga mulai meneteskan darah.


“Aku juga sebenarnya tak ingin membunuh Werebeast berbakat seperti mereka, karena pasti bisa berguna bagi kita. Tapi semua ini murni keputusan mereka jadi....mau bagaimana lagi?”


Tak kuasa diam, Kizuna berlari mengurus tubuh – tubuh para penyelamatnya itu, Garyu mengangkat sebelah alis heran. Inuki tiba di sampingnya beberapa saat kemudian.


“Kau menyadarinya?”


“Iya, ada yang aneh dengan Kizuna” bisik Inuki membenarkan.


“Benar, awasi dia baik – baik dalam perjalanan pulang”

__ADS_1


__ADS_2