
Arya baru berhenti berlari setelah sampai di ECP dan yakin kalau mereka sudah terbebas dari Reika, Alalea memutuskan tidak banyak bertanya walau bingung. Arya menghargai keputusan itu. Dia tidak bisa membayangkan masalah yang timbul jika kedua gadis tersebut bertemu.
Pada akhirnya kembali lagi ke Taman Kota, orang – orang sudah memadatinya karena kabar akan diadakan sebuah pertunjukan kembang api sihir. Lokasi ini menjadi salah satu tempat paling strategis untuk menikmati hal tersebut tentu saja.
“Bagaimana kalau disini?” Arya menunjuk lahan kosong dibawah pohon Kasturi rindang.
“Tidak masalah bagiku” sahut Alalea mengangguk setuju.
Arya mulai mengeluarkan beberapa barang bawaanya, seperti permadani lipat dan lain – lain. Juga menata rapi makanan – makanan yang dia beli bersama Alalea sebelumnya ketika berkeliling.
“Fyuh...., walau gagal menemukan benda itu. Setidaknya kita dapat membeli banyak makanan, tapi....ngomong – ngomong kenapa kesukaanmu semua?” kata Arya menghela napas panjang setelah melihat sajian disana.
“Ah....hahaha, karena kau terlihat tidak memiliki makanan khusus yang diinginkan jadi aku sedikit....” Alalea buru – buru memalingkan muka.
“Sedikit?! Kalau bilang ini sedikit?!”
“Ugh....maaf”
“Hah....aku sungguh tidak berani menengok isi dompetku lagi, takut terkena serangan jantung. Kau yakin bisa menghabiskan semua ini?”
“Sepertinya sih tidak”
“Jadi sudah diputuskan?”
“Huum”
“Baiklah, kalian sudah dengar? Mau sampai kapan mengendap – endap seperti itu?’ Arya menoleh ke arah pohon Kasturi.
GEDEBUK! GUBRAKK!!!
Terjadi keributan disisi lain pohon sewaktu para penguntit menyadari kehadiran mereka sudah diketahui, perlahan anak – anak itu mulai muncul dengan Timothy sebagai yang berdiri paling depan. Wajah kesepuluhnya tersenyum canggung.
“Hahaha halo Kapten, Tuan Putri. Kebetulan sekali bisa bertemu disini, apa kalian juga ingin menonton pertunjukannya? Hahaha” sapa Timothy berkeringat dingin.
“Begitulah, ayo kemari. Ada banyak makanan, kalian pasti lapar” Alalea memanggil mereka.
Semuanya menelan ludah, karena terlau asyik membuntuti Arya dan Alalea. Perut sudah tidak dapat berkompromi lagi, makanan terakhir yang menjanggal perut mereka adalah sarapan tadi pagi.
Akhirnya dengan sedikit rasa bersalah, mereka memutuskan untuk duduk. Arya dan Alalea membagikan makanan serta minuman untuk sepuluh orang ini. Mereka makan dengan lahap, kata – kata makanan apapun akan terasa enak ketika lapar sepertinya memang benar.
“Hei makannya pelan – pelan saja” tegur Arya meneguk susu strawberry miliknya.
“Iya, kami berdua juga sudah kenyang. Bagaimana? Rasanya enak?” Alalea bertanya sambil tersenyum.
“Humm....ini benar – benar enak seka—“
“Jadi? Ada apa kalian mengikuti kami?” potong Arya.
FWUH.....!!!
Hampir tidak ada diantara mereka yang tidak tersedak atau meyemburkan makanan dan minuman dari mulutnya ketika Arya menanyakan itu. Bahkan Timothy serta Eridan harus dibantu agar bisa bernapas normal kembali.
“Uhuk! Uhuk! Dadaku....! Aku sempat melihat leluhurku melambai dari sisi lain sungai, nyaris saja aku menyebrang” Eridan bergumam berat.
“Uhuk! Oek!? Hah.....hah.....hah, apa maksudmu Kapten? K...ka...kami tidak mengikuti—“
Timothy tidak berhasil menyelasaikan kalimatnya setelah melihat tatapan tak percaya Arya.
“K...ki...kita hanya bertemu tanpa sengaja karena sama – sama ingin menyaksi—ohh baiklah! Dari kapan?”
__ADS_1
“Sejak awal” Arya mengatakannya tanpa beban.
“APUA!? Kalian menyadarinya!? Putri Alalea?” Timothy terlihat seperti orang yang baru saja tersambar petir.
“Eeehh sebenarnya aku juga sudah tau dari awal” jawab Alalea malu.
Seketika mereka langsung berubah murung, Arya dan Alalea tidak berani mengatakan kalau mana ada yang tidak menyadari diikuti oleh sepuluh orang berisik seperti mereka. Takut semakin merusak suasana hati kesepuluh pemuda pemudi ini.
Padahal menurut Arya, jika hanya Zayn seorang. Mungkin dia dan Alalea tidak akan sadar dibuntuti, namun karena jumlah kelompok terlalu besar, tentu saja sangat mudah untuk diketahui.
“Apa ada yang ingin kalian katakan?” Arya memandangi mereka dengan sebelah alis terangkat.
“Maaf....” serempak kata – kata itu keluar dari mulut masing – masing orang.
“Hadeh....kalau dari awal bilang mau ikutkan pasti aku ajak”
“Eh? Tapi....bagaimana dengan Tuan Putri?”
“Apa dia terlihat keberatan? Tujuan kami berkeliling adalah untuk mengenalkan kota padanya. Jadi bukankah semakin banyak yang ikut lebih baik? Wawasan Alalea juga bisa bertambah luas mengenai kehidupan ras Manusia”
Alalea mengangguk walau didalam hatinya tidak terlalu setuju dengan perkataan Arya, tujuan utamanya adalah mengganti kesalahan kencan bodoh perbuatannya tempo dulu.
Dia tidak mengambil tindakan karena sepuluh orang ini masih berada dijarak aman sehingga ia memutuskan untuk mengabaikan mereka saja.
“Hah....sudahlah, jika kalian menyesalinya. Lihat, pertunjukannya mau dimulai” Arya menggeleng – gelengkan kepala melihat perilaku rekan – rekannya sebelum mendongak ke langit.
Ratusan cahaya warna – warni ditembakan melalui berbagai penjuru. Tak butuh waktu lama, letupan – letupan indah bunga api menghiasi langit malam itu. Membuat senyuman menghiasi wajah masing – masing dari mereka.
Mata Alalea dan Eridan berbinar – binar melihat pemandangan indah tersebut, Arya ingat betapa antusiasnya sang Putri Elf ketika mengetahui penerangan Manusia menggunakan energi listrik. Dia ingin tau apa hal ini juga berlaku dan bisa diterapkan di Kerajaan Elf.
“Sepertinya mereka menembakan sihirnya dari gedung – gedung tinggi yang ada di kota” komentar Kevin setelah cahaya kembang api terakhir meredup.
“Kapten....” panggil Timothy tiba – tiba tanpa mengalihkan perhatian dari pohon diatas kepala mereka.
“Hmm?”
“Bukankah seharusnya pohon Kasturi ini tidak bisa berbuah?”
“Begitulah”
“Eeee....kalau begitu, apa ada yang bisa menejelaskan padaku tentang benda – benda menggantung di atas itu?“
Mereka semua melihat ke arah pandangan Timothy, karena gelap. Akhirnya Eridan mengeluarkan cahaya kecil seukuran biji kenari menggunakan sihir. Setelah Elf pria itu melemparkannya ke atas pohon, Arya dan teman – temannya tidak dapat menahan diri.
“Buahnya banyak sekali!!?” Elizabeth terbelalak.
“Aku baru pertama melihat buah Kasturi sebanyak ini!” gumam Lexa semangat.
“Tidak mungkin....itu bukan buah Kasturi biasa” Arya menelan ludah.
“Ini....Red Heart Kasturi” bisik Rena kagum.
“Apa lagi yang kau tunggu! Rena? Gunakan kekuatanmu untuk memanen mereka!” Timothy buru – buru memohon.
“T..t..tapikan....ini pepohonan taman, apa tidak apa – apa?”
“Tenang saja, benar begitu Kapten?”
__ADS_1
“Kenapa malah bertanya padaku?”
Akhirnya Rena mengeluarkan Gaia kemudian memukulkan tongkat tersebut pada batang pohon Kasturi, tanaman itu mulai bergoyang dan dengan perlahan mulai menjatuhkan buahnya.
“Kejar! Siapa yang mengumpulkan paling sedikit harus bertanggung jawab melaporkan semua ini kepada para Pengawas” teriak Arya bergerak cepat menangkap satu persatu buah tadi.
“APA!?” balas empat Elementalist laki – laki lainnya.
“Eridan kau juga ikut!” perintah Timothy.
“Eh?! Kenapa saya juga harus—“
“Kau akan mengetahuinya setelah mencoba es buah Red Heart Kasturi buatan Gustav, itu adalah salah satu makanan pencuci mulut terbaik di Elemental City!” Arya tertawa senang.
Red Heart Kasturi adalah salah satu tanaman magis yang tersebar diseluruh Elemental City, tapi sangat jarang berbuah. Sehingga banyak orang lebih memanfaatkannya sebagai pohon lindung saja, buah tanaman ini cukup unik.
Berbentuk layaknya makhluk kecil dengan kaki dan tangan, terdapat rongga didalam tubuhnya berisi sebuah lapisan berwarna merah. Itulah yang biasa dikonsumsi oleh orang – orang, hebatnya setelah jatuh dari pohon.
Mereka akan mulai berlarian kesana kemari mencari tanah tempat menancapkan akar sebelum menjadi pohon baru. Karena sebab inilah Arya dan kawan – kawan harus cepat mengumpulkan buah – buah kerdil tersebut.
Banyak orang – orang yang melihat dari jauh berhenti heran bertanya – tanya kenapa beberapa anak muda berlarian disekitar pohon Kasturi. Pemandangan tidak lazim ini menarik perhatian mereka.
Selagi para laki – laki mengumpulkan buah, gadis – gadis hanya diam sebagai penonton saja. Keheningan pecah waktu Alalea menyeletuk pelan.
“Maaf ya, aku bersikap sedikit kasar kepada kalian padahal kita baru bertemu”
Betapa terkejutnya mereka saat melihat sang Tuan Putri menundukan kepala sungguh – sungguh untuk meminta maaf, tak pernah terbayangkan dalam mimpi sekalipun kejadian itu akan terjadi. Kelima Elementalist perempuan jadi sedikit salah tingkah.
“T...T...Tuan Putri!? Tolong angkat kepalamu” Rena memegang pundak Alalea pelan.
“K..k..kami juga minta maaf karena mengganggu waktu kalian berdua, padahal sudah lama tidak bertemu” kata Elizabeth tanpa mampu memandang wajah perempuan dihadapannya.
“Tidak apa, mulai sekarang kesempatan untuk melakukan itu ada banyak. Perilaku yang kuperlihatkan pada kalian sebelumnya benar – benar bertolak belakang dengan tujuan utamaku datang sebagai perwakilan Elf.
Padahalkan harusnya sebagai simbol kerja sama antar kedua ras, haduh....benar – benar deh. Kuharap kita bisa akur mulai sekarang”
Permintaan Alalea disambut anggukan oleh kelima gadis tersebut, mereka mulai menatap ke arah para pria. Tempat Arya dan yang lainnya tertawa terbahak – bahak mengejar buah Kasturi.
“Aku hanya ingin kalian tau, kalau aku benar – benar mencintainya. Aku bahkan rela menyerahkan semua milikku untuk dia”
“A...a...akupun begitu” Rena berkata tegas mengejutkan keempat temannya.
“Waah....sepertinya banyak yang terjadi saat kalian melanjutkan perjalanan waktu itu, aku tidak ingat kau merasa begitu padanya saat terakhir kali kita bertemu Rena” Alalea melirik si gadis berambut hijau.
“Aku tidak perduli kau seorang bangsawan ataupun pewaris tahta Kerajaan Elf sekalipun, tak akan kuserahkan Kak Arya padamu” kata Elizabeth ketus.
“Hanya saat bersama Arya aku bisa menunjukan sikap asliku, jadi tolong. Bisakah kalian mundur dan menyerahkan dia padaku saja” Lexa mengeluarkan pendapatnya sambil memasang wajah polos.
“Dia harus bertanggung jawab karena telah mengubah perasaanku dan mengambil c...ci...ci....Ahh sudahlah. Akhirnya aku mulai mengerti apa yang kalian bicarakan, mundurpun sudah terlambat untuk sekarang” ujar Selena mengangkat bahu.
Mereka berlima menoleh ke arah Asuna, hanya tinggal dia yang masih diam seribu bahasa. Ketika semuanya mengambil kesimpulan si Elementalist Api tidak akan mengatakan apa – apa . Suara berbisik pelan membuat tubuh kelima gadis itu menggigil.
“Akulah yang pertama kali menemukannya, kalian pikir kalian siapa seenaknya saja mau merebutnya dariku?”
“Pfft!? Hahahaha kau adalah gadis paling keras kepala disini, aku tak pernah menyangka akan mendengar kata – kata itu keluat dari mulutmu” Alalea tertawa lepas merasakan hawa panas mulai menjalar disekitar mereka berenam.
Author Note :
__ADS_1
Gitu dong Asuna! NgeGas! (≖ ‿ ≖)