Elementalist

Elementalist
Chapter 200 - Master


__ADS_3

Arya memejamkan mata sembari menyatukan kedua telapak tangan, saat akhirnya membuka pandangan cahaya kebiruan menyorot kedepan. Perlahan tapi pasti sekujur tubuhnya dikelilingi hawa dingin luar biasa.


Bongkahan es berbagai ukuran bergabung menjadi satu, membentuk badan semacam makhluk tanpa kaki. Arya berada tepat ditengah – tengahnya, mengendalikan tiap inci pergerakan raksasa putih tersebut.


Neptune, Diondra, Selena, dan Rena merasakan turunya suhur air di sekitar mereka. Perhatian semuanya langsung terpaku ke arah Arya, Rena segera memutuskan mundur agar bisa mengetahui gerangan apa yang terjadi.


“Selena ini—“


“Iya, Arya memasuki tahap Master lagi”


“Tetapi....kenapa berbeda dengan cerita Asuna, Kevin, dan Elizabeth dulu ya?” Rena menatap belakang perubahan Master milik Arya sambil menelan ludah berat.


Memang penampilan kekuatan es Arya sekarang berbeda dari ketika mengamuk di Zoonatia, ukurannya jauh lebih kecil. Namun itu bukanlah berita buruk sebab sebagai pertanda kalau sekarang ia mampu mengendalikannya secara utuh, bukan karena sesuatu mengambil alih pikirannya.



“Entahlah....aku pun sama tidak tau menahunya” jawab Selena menggelengkan kepala.


‘Jadi begini rasanya....?’ Arya membatin, dia merasa tubuhnya sangat ringan. Seakan tak memiliki beban, perlahan Arya menggerakan tangannya sendiri pada dalam pusat Master. Posisinya layaknya jantung bagi makhluk itu.


Arya mengedarkan pandangan, pusaran air raksasa dikejauhan benar – benar mengganggu. Banyak korban dari pihak Atlantos akan berjatuhan jika terus dibiarkan, Ia menarik napas tuk menenangkan diri sebelum berdeham.


‘Mandalika? Efbi? Safira? Kalian masih baik – baik saja?’


‘Iya....’ ketiganya menyahut pasti tapi suara masing – masing sedikit bergetar.


‘Lengah sedikit, semua bisa berakhir buruk....’


‘Kami tau....’


‘Baiklah, mari lakukan sedikit percobaan atas kekuatan baru kita.....’


Dalam sekejap Arya menemukan lokasi Shayu yang masih bertahan dari kuatnya arus air, mundurnya Rena membuat sang Mythical Werebeast lebih leluasa. Perubahan Arya mengejutkannya, namun karena belum ada tanda – tanda pergerakan ia berusaha tenang memikirkan jalan keluar.


Waktu Arya menargetkannya, insting Shayu langsung memberi sinyal bahaya. Buru – buru dirinya ingin berenang demi menjaga jarak, belum sempat melaju satu meter. Sepuluh es berujung runcing tercipta dan menikamnya serempak.


Shayu tanpa basa – basi melakukan manuver agar terhindar, rentetan serangan sama terus menerus muncul kemanapun dia pergi. Berbanding terbalik dengan usaha keras Shayu menghindar, Arya cuma menggerakan dua buah jarinya.


“Keparat!? Hah!? Jangan pikir permainan anak kecil dapat mengalahkan—Akh!!!“



BUMM!!!


Shayu gagal menyelesaikan kalimatnya, ketika merasa telah lolos terjangan tombak es Arya. Tiba – tiba sebuah bongkahan batu dingin raksasa menggencetnya dari arah atas. Suara mengerikan terdengar saat benda itu menghantam dasar laut. Darah segar mengalir melalui mulut Shayu, tubuhnya seakan remuk berkeping – keping.


“Ice Cube; Elephant Toss”


Mulut Diondra, Rena, dan Selena yang melihat kejadian barusan terbuka lebar, sementara Neptune terperangah. Ia pernah melihat Master milik Elementalist Es terdahulu namun usianya tidak semuda Arya saat ini. Sulit dipercaya kemampuan pengendaliannya sudah berada ditahap menakjubkan.


‘Kupikir serangan tadi cukup menahannya, berikutnya ayo kita urus pusaran air disana....’

__ADS_1


Badan tahap Master Arya mulai bergerak, telapak tangannya diarahkan menuju fenomena layaknya tornado dikejauhan. Ia mengumpulkan tenaga beberapa menit lalu segera menggenggam penuh.


“Glacier Winked!”


------><------


“WOAAA!!!”


“Elizabeth....!?”


“Apapun yang terjadi jangan pernah lepaskan....!!!”


Teriak Elizabeth menguatkan Edlyn, keduanya terombang ambing arus pusaran air. Si Elementalist Cahaya menumpu semua kekuatannya pada tangan agar tak kehilangan sang putri bungsu Kerajaan Atlantos, geraman disekitar juga memberitahunya kalau Wanio juga ikut bersama mereka.


‘Gawat kalau terus begi—‘


KRETEK...! KRATAK.....! BRRR!!!


“Eh?”


Elizabeth dan Edlyn memekik kaget sebab seluruh cairan disekeliling membeku kemudian mengakibatkan pergerakan semuanya terhenti seketika. Tetapi anehnya kejadian ini tidak mempengaruhi dua gadis tersebut.


“Apa – apaan—Ugh....!?” Wanio menggeram murka badannya dikekang oleh es.


“Elizabeth? Kau tau ada a—“


“Kak Arya!!!” seru Elizabeth gembira, yakin seratus persen kalau penyebab utama efek luar biasa itu adalah sang ketua.


Sementara duel seru antara Kevin melawan Balaeno terpaksa berhenti, namun kondisi masing – masing berbeda. Si paus terselimuti air beku sedangkan Kevin masih aman bersama Ecuxor, dia bernapas terengah – engah sembari melihat sekeliling bingung.


“Brengsek! Sihir apa yang kau gunakan!?” Balaeno mengumpat kesal.


“Kau lihat sendiri dari awal pertarungan dimulai kita selalu bersama dasar paus bodoh” balas Kevin tersenyum, dia berterima kasih dalam hati karena memang cukup terdesak menghadapi musuhnya. Syukurlah bantuan datang tepat waktu.


------><------


“Selena? Rena? Keluarkan mereka dari sana....” perintah Arya.


Kedua gadis yang dipanggil tersentak, suara Arya terdengar sedikit aneh nan menakutkan sebab seperti saling tindih antara tiga sampai empat orang. Mereka saling pandang sebentar sebelum mengangguk dan pergi.


“Laksanakan!”


WUSH!


“Raja Neptune? Tarik mundur seluruh pasukanmu....”


“Apa?”


“Cepat, atau mereka akan terluka saat aku tidak kuat lagi menahan ini”


“Tapi—“

__ADS_1


GRAB! TUTUUT! TUTUUTT!


Neptune terkesiap akibat Diondra merebut terompet miliknya lalu menggantikan sang ayah untuk meniupnya. Neptune mau protes namun segera menyadarkan diri, Diondra terus melakukannya supaya para Fin Raider dapat selamat.


“Terima kasih Tuan Putri....”


------><------


“Selena!? Aku menemukan Elizabeth dan Edlyn!” panggil Rena cepat.


Selena menyentuh air disekitar situ, menyebabkan esnya mencair sementara. Rena mengendalikan sulur – sulur tananaman untuk menarik Elizabeth maupun Edlyn. Keduanya berteriak karena tindakan tiba – tiba barusan, mereka baru tenang saat melihat pelakunya.


“Rena? Kenapa—”


“Ceritanya panjang, ayo segera kembali!”


Saat Rena, Elizabeth, dan Edlyn melaju pergi. Selena mendapatkan lokasi Kevin, siluet tubuh raksasa Ecuxor si Ocean Eel Eaters mudah dideteksi. Selena melakukan hal sama untuk kedua kalinya terus memanggil nama temannya tersebut kencang.


“Oi Kevin!?”


“Ah? Selena?” Kevin menoleh kebingungan.


“Segera keluar!”


“Hah?—“


“Cepaaattt! Tidak ada waktu lagi!” bentak Selena gusar.


“B..ba..baiklah! Ayo kawan besar bangun!”


Setelah menyadarkan belut rakasasa didekatnya, Kevin meninggalkan Balaeno dengan menunggangi kepala Exucor. Selena bergabung bersamanya ketika sudah menutup kembali lubang es cukup besar untuk mereka lewat.


“Hei kembali! Mau kabur kemana kau pengecut! Benda beku sialan!!!” Balaeno berteriak sembari meronta.


Saat semua telah berhasil berkumpul, para pendatang baru terenyuh melihat sosok Arya. Terutama Kevin serta Elizabeth, ekspresi keduanya makin tak karuan mendengar penjelasan Selena. Penampilan Master milik Arya sungguh berbeda dari sebelumnya.


Tetapi kekuatan yang terpancar benar – benar mengingatkan masing – masing akan teror di Zoonatia dulu. Kejadian itu sulit dilupakan sebab dua Elementalist ini membantu Asuna mengeluarkan Arya dari kondisi tersebut.


“Apa semuanya sudah disini?” ujar Arya melirik kelompok dibelakangnya.


Selena memberikan tanda aman, Arya mengangguk pelan. Dia terdiam sebentar, ada getaran hebat berkumpul pada telapak tanganya. Detik berikutnya dia menggenggam kuat sambil berbisik.


“Winter Phantasm!”


BANG! KRETAK! KRUTUK! KRAAKK!!!


Author Note :


Terima kasih buat yang masih mengikuti cerita ini walaupun updatenya lagi satu kali seminggu, akhirnya Elementalist mencapai 200 Chapter. Terima kasih atas dukungan kalian, rencananya nunggu pengumuman lomba dlu baru fokus kesini lagi. Buat yang masih nanya update mata kalian picek atau apa sih? Thanks for your support guys! Ciao!


__ADS_1


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.


__ADS_2