Elementalist

Elementalist
Chapter 262 - Ancaman


__ADS_3

SRET! SRAT! JLEB!!!


“Ugh....hama – hama ini mengganggu sekali....” ujar Inuki usai menghabisi beberapa musuh.


Falxus mengabaikan komentar sang Werebeast kemudian melanjutkan pencariannya terhadap lokasi persembunyian pengendali Drone. Memanfaatkan kemampuan penciumannya tiba – tiba Dog Shio bergerak mendekati salah satu titik dekat kantor kepolisian Distrik Perak yang berdekatan dengan tembok emas kemudian mulai menggali, meninggalkan tubuh – tubuh tak bernyawa lawannya.


Belum sepuluh menit, berkat kekuatan fisik luar biasa ia telah menemukan sesuatu. Kukunya menggores benda keras misterius. Seketika persinggungan antara kulitnya terhadap objek janggal tersebut membuatnya mengangkat sebelah alis.


“Ketemu! Hmm....besi? Ahh....sepertinya ada semacam rongga di dalamnya! Orya!!!”


Inuki mencabik pipa metal dihadapannya layaknya kertas, tanpa kesulitan berarti jalan masuk menuju lorong panjang dipenuhi lampu redup berwarna kehijauan nampak. Dia terkekeh puas sambil menggosok – gosok hidungnya, namun siluet seseorang melesat cepat melewatinya mengakibatkan Inuki memaki.


“Hoi keparat! Jangan menyerobot seenaknya! Dasar Elf tidak tau malu!!!”


“Berisik, kau bisa diam disitu mengagumi diri sendiri selagi aku menuntaskan tugas....” Falxus melanjutkan langkahnya cuek.


“Grrr....! Kalau bukan karena aku kau pasti masih berkeliaran seperti anjing kehilangan majikan....”


“Bercerminlah dan lihat siapa sebenarnya yang anjing?”


“Eh?—Ugh....brengsek! Berani sekali kau menghinaku!? Hey!? Tunggu iblis bertelinga panjang!” panggl Inuki buru – buru ikut melompat masuk takut kehilangan jejak si Ksatria Pentagram.


------><------


Di lain sisi alarm tanda bahaya pada ruang pengendali berbunyi sehingga keempat Nyanko Kyōdai yang sedang bertugas tersentak. Shirone langsung sigap memunculkan gambaran rekaman kamera pengintai, mereka semua langsung pucat ketika menyaksikan dua orang tidak diundang beraura menakutkan melintas sembari menghancurkan satu per satu kamera demi mengurangi kemampuan mendeteksi tim itu.


“Semakin dekat....” kata Midori mengabari dengan mata terpejam, telinganya bergerak – gerak pertanda tengah bekerja.


“Kak Kin!? Bagaimana ini?” Pinka bertanya panik.


Kinichi menggigit ibu jarinya berusaha mencari mencari jalan keluar, sel – sel otaknya ia paksa bekerja keras memikirkan probabilitas kedepannya. Shirone terdiam menatap sang putra sulung, tak ingin mengganggu konsentrasi pemuda tersebut karena dia yakin akan kemampuan sang kakak tertua.


“Lanjutkan, kita harus meneruskan pekerjaan atau korban dari pihak Pax semakin bertambah....” akhirnya Kinichi menjawab.


“Tapi—“


“DIMENGERTI!”


Pinka menoleh ke asal suara barusan, Shirone memberinya anggukan untuk menguatkan tekad adiknya tersebut. Dan ruangan akhirnya kembali beroperasi menyebarkan informasi medan perang kepada semua rekan – rekan mereka.


“Kami serahkan keselamatan isi ruangan ini padamu.....Kuro”


------><------


“Hmm....? Hei? Nampaknya kau harus mengurusi orang – orangmu....”


“Hah!? Kau bicara ap—eh?”

__ADS_1


Protes Inuki terhenti sebab baru memahami maksud Falxus barusan, di ujung lorong terlihat pintu masuk yang merupakan tujuan utama mereka. Tetapi ada sesosok Werebeast berpakaian serba gelap menghalangi jalan untuk lewat.


“Ckk!? Oi nak? Menyingkirlah, aku enggan menghabisi sesama ras....” tegur Inuki lelah.


Sayangnya pemuda tadi tak bergeming sedikitpun, ia menghela napas sampai udara dari paru – parunya kelihatan jelas. Lalu secara mengejutkan bagian tangan maupun kakinya dilapisi Agnet merah, menyadari hal itu bukan pertanda baik Falxus maupun Inuki bersiap.



“Akai Tsume!”


JDAS!!!


Kurobara menerjang maju berbekal satu pijakan, dalam hitungan detik kedua lawannya sudah masuk dalam jangkauan serangan miliknya. Dia berputar mengincar masing – masing kepala pria dihadapannya sambil teringat permintaan Kinichi.


‘Kuro? Kau adalah yang paling ahli berkelahi, walaupun paling tua aku tidak dapat diandalkan dalam hal demikian. Sampai sejak dulu kau harus turun tangan dan pulang dengan tubuh babak belur tuk membela saudara – saudari kita, maafkan betapa tidak bergunanya diriku hahaha. Jadi pada kesempatan ini juga....mohon bantuannya ya?’


Tekadnya benar – benar sudah bulat untuk memenuhi janjinya melindungi ruang kendali, Kurobara percaya kekuatannya meningkat usai latihan bersama Shu maupun Lee. Dua guru dari Arya, sekaranglah peluangnya melihat sejauh mana perkembangan kemampuan dirinya.


BUAKH...!!!


‘Kena!’


Bunyi keras memenuhi udara, debu bertebaran kemana – mana akibat jurus Kurobara. Anak ketiga Nyanko Kyōdai itu yakin sekali mengenai sasaran, namun saat pandangannya menjadi jelas kembali ternyata Falxus dan Inuki sengaja membiarkan tubuh mereka terkena. Keduanya bahkan tak berusaha menghindar juga terlihat baik – baik saja.


“Hadeh....inilah mengapa aku membenci kucing....”


“Kalian memang ras yang tidak mempunyai tata krama ya?” Falxus berkomentar sinis.


Bersamaan dengan mengajukan pertanyaan, Inuki melepaskan tendangan kuat tepat mengenai perut Kurobara sampai tubuhnya membuat penyok bagian atas lorong pipa besi tersebut. Masih menatap kesal Ksatria Pentagram Negdria disampingnya, Inuki menginjak kepala Kurobara ketika badannya mendarat lagi.


“Jika bukan karena perjanjian damai, aku bersumpah mencabut dua kipas penghias kepalamu itu!”


“Silahkan coba kalau kau memang mampu....”


Sikap angkuh Falxus jelas sekali menyebabkan Inuki naik pitam, ia berdecak kesal sebelum mengekor dibelakang si Elf. Tapi langkah keduanya terpaksa terhenti akibat cengkraman kuat terhadap pergelangan kaki masing – masing, Kurobara belum mau menyerah melindungi para Nyanko Kyōdai di sana.


“Enyahlah....”


BUAKH....!!!


Inuki tertegun ketika ayunan kakinya sekarang sukses ditangkap oleh pemuda dengan beberapa tulang patah tersebut, Kurobara mengeluarkan geraman lirih. Seluruh matanya memerah seperti iblis dari neraka, rambutnya perlahan berdiri tegang seolah dialiri listrik.


“Ultra Instinct!!!”


“Oh....ayolah kau benar – benar ingin membuang waktu kami....?” seru Inuki menepuk jidatnya keheranan.


------><------

__ADS_1


Keadaan di luar ruang pengendali kacau balau, banyak bekas cabikan serta tebasan menghiasai tiap sisi lorong. Tubuh Kurobara nampak menempel ke dinding akibat tusukan pedang Falxus sementara Inuki menjilati beberapa lukanya sendiri. Sang Elf bermata hitam mencabut senjatanya secara perlahan terus bergumam, “Kau harus bangga membuatku sampai melakukan ini....”.


“Heh....dasar pembual! Kau cuma memberikan pukulan akhir ketika ia kelelahan meladeniku....”


KIIIT....!


“KURO....!!!”


“KAK KIN?!”


“Hmm?”


Diskusi kedua anggota Fatum mendadak selesai akibat gangguan tidak terduga, pintu ruang kendali terbuka sehingga menarik perhatian mereka. Kinichi berlari keluar sembari membawa sebilah pisau, adik – adiknya memanggil dari belakang penuh perasaan was – was.


“Kalian sebenarnya ada berapa banyak sih?!”


“HYAAA...!—KHH....ARGH....!”


TRANG....!


Kinichi menjatuhkan benda tajam pada genggamannya karena gerakan secepat kilat Kinichi yang tiba – tiba sudah mencekik kuat lehernya. Dia berusaha meronta melepaskan diri namun sia – sia, terus kesulitan bernapas mengakibatkan kesadarannya pun perlahan mulai menghilang.


“Hoi telinga kipas? Habisi gadis – gadis di sana, mari selesaikan semua ini....”


“Jangan seenaknya memerintahku anjing kampung....” Falxus membalas jijik.


TAP....TAP.....TAP!


Suara langkah bergema di kejauhan menarik perhatian mereka, dua petinggi asal ras Werebeast maupun Elf tersebut menoleh penasaran. Munculah sesosok pria bertopi jerami pada tikungan yang masing – masing lewati sebelumnya, ia ditemani binatang mungil berkaki empat aneh dengan warna seperti kayu.



“Hah....aku selalu penasaran bagaimana cara si bocah tengik itu mengetahui hal – hal begini....”


“Siapa kau?” tanya Inuki waspada, meski hanya seorang Manusia. Ada sesuatu sulit dijelaskan membuat bulu kuduknya berdiri menatap pendatang baru tersebut.


“Aku? Hanya pendekar pedang yang tidak sengaja lewat hehehe.....”


Bersamaan momen menjawab tadi, tubuhnya menghillang dari pandangan. Hati Inuki mencelos karena merasakan kulitnya telah disentuh. Ia buru – buru melepaskan cengkraman ke leher Kinichi sebab jika tidak sebuah firasat aneh memeringati lengannya bakal terputus kalau memaksa terus bertahan.


Falxus lebih siap sehingga menyadari kedatangan lawan barunya, dia melepaskan tusukan kuat mengincar jantung sang laki – laki. Tetapi sukses dihindari, detik berikutnya Falxus merasakan musuhnya menjadikan pundak miliknya sebagai pijakan untuk lompat menghampiri ruang pegendali.


“Huff....baiklah, jaga mereka dan biarkan kawan kecil ini merawatnya....” pecahan Deera mendekati badan terluka Kinichi dan Kurobara.


“Shu....sensei....ugh....hiks....”


“Aduh....jangan menangis oke? Kalian aman, serahkan sisanya padaku....” Shu mengelus kepala Pinka sembari tersenyum menenangkan dari balik topinya.

__ADS_1


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.


__ADS_2