Elementalist

Elementalist
Chapter 213 - Proyek Rahasia


__ADS_3

“Bagaimana....?” Arya masih berusaha memahami situasi dihadapannya.


“Eee.....biar aku saja yang jelaskan....” ujar Kevin mengajukan diri.


Disanalah Arya diceritakan kalau ternyata sejak awal dia dan Zayn telah dibuntuti oleh mereka bertiga. Masing – masing bersiap diluar Elemental City kemudian saling mengabarkan kemana tujuan keduanya, Timothy menambahkan jika keadaan Pusat Penelitian agak panas sebab Asuna mengajukan penolakan atas segala tugas Elementalist hingga Arya kembali. Gadis itu juga dalang dibalik berangkatnya sisa anggota laki – laki untuk menyusul.


“Tapi kami tidak merasakan kehadiran kalian sama sekali”


“Kapten? Bukan hanya kau yang bertambah kuat, lagi pula aku mampu memperkirakan jarak keahlian pendeteksimu” Timothy membusungkan dada.


“Lalu dimana Zayn?”


Kevin, Timothy, serta Ali saling bertukar pandang sebentar kemudian menggelengkan kepala, Ali menaikan sebelah alis sembari memperagakan bahasa isyarat yang kurang lebih bermakna kalau mereka tak tau karena langsung mengikuti Arya kemari.


“Intinya ia masih di Seoul”


“Kenapa kalian tidak berusaha menolongnya?!”


“Kenapa kau meninggalkannya?”


“Itu....” jawaban Arya tercekat ditenggorokan mendengar pertanyaan barusan.


“Sebab kita sama – sama percaya kalau Zayn akan menang dan menyusul bukan? Prioritas utama adalah menyelamatkan Reika, Zayn juga mengetahui hal ini” Kevin menegaskan.


“Mau sampai kapan kalian mengabaikan kami hah?! Winnie!?”


SYUU!!!


“Awas!?”


“WOAA!?”


Masing – masing Arya maupun Kevin berhasil menarik kerah jubah Timothy juga Ali demi menghindari ayunan dahan pohon besar, ternyata si boneka beruang memungut salah satu dari permukaan rawa lalu menjadikannya sebagai senjata.


“Berpencar!?” perintah Arya segera.


Keempat Elementalist pria tersebut langsung mengeluarkan benang yang mengikat dahan pohon sekitar kemudian melesat menuju arah berbeda. Belum sempat Arya, Kevin, Timothy, dan Ali mendarat, kilatan cahaya ditambah bunyi khas pertanda bahaya membuntuti mereka. Jaring dengan aliran listrik mengincar tubuh para Elementalist.


SRRTT...!!!


“Jangan pikir bisa lari....”


“Conductor....” Kevin berbisik lembut, seketika seluruh petir sekitar sana terhisap. Meninggalkan suasana sunyi senyap seperti saat pemadaman listrik, empat pemuda itu sukses bersembunyi.


“Aaaah....apa – apaan ini? Kalian sungguh masih berani mengaku sebagai laki – laki sesudah kabur dari dua orang gadis tidak berdaya?” celetuk wanita bersayap.


“Sejujurnya aku sulit menyebut pengguna Agnet dalam kateogori individu tak berdaya....” sahut suara Arya melalui balik pepohonan.


TINGG...!!! SYUU!!! KRAK!!!

__ADS_1


Tanpa basa – basi perempuan tadi melemparkan tombaknya yang langsung menancap pada pohon cukup dalam, namun sayang tidak mengenai siapapun. Padahal dia yakin mendengar Arya menyahut dekat titik itu.


“Cih!? Meleset.....”


Arya menghela napas lega karena serangan sebelumnya mengenai sebelah lokasi persembunyian Timothy bukan dirinya, usai mengatur napas Arya terus menanyakan identitas kedua penyerang. Awalnya mereka enggan melakukannya tetapi akhirnya memenuhi permintaan Arya.


“False Vanguard Number Eight, Annabelle” kata anak perempuan berambut jingga pelan, detik berikutnya boneka beruang raksasa disampingnya mengecil lalu diam damai dipelukannya.


“False Vanguard Number Seven, Lilian”


“Maksudnya?” Timothy mendesis heran.


Kevin dan Ali mengangkat bahu sebagai jawaban kalau masing – masing juga tidak mengerti, hanya Arya yang terdiam dengan mata melebar. Memorinya ketika mengotak – atik data laboratorium sebelumnya muncul, disanalah dia pertama kali membaca tulisan Project False Vanguard.


Arya menyampaikan hal ini kepada ketiga kawannya serta memberitahu kemungkinan kalau lawan Zayn di kota Seoul bisa jadi anggota kelompok itu, kalau terkaan tadi benar maka sang Elementalist Kegelapan berada dalam bahaya besar.


“Mereka menggunakan DNA Manusia tertentu untuk menciptakan pasukan Mutant super kemudian mencampurkannya dengan sel – sel ras lain? Iyuh....” ujar Timothy mengeluarkan lidahnya.


“Begitulah isi dokumen tersebut, sayang bagian tujuan mereka diciptakan telah terhapus....”


“Berarti selain mampu memakai Agnet, dua musuh disana....” Kevin mengelus dagu.


“Benar, gadis pemilik boneka beruang adalah seorang tipe Creation tingkat tinggi yang dikombinasikan gen Witch. Sedangkan temannya bisa saja Strengthening tulen berdarah Werebeast?” gumam Arya sambil berpikir.


“Hey....? Tidakkah nama Annabelle sedikit familiar ditelinga kalian?”


Celetukan Timothy menyadarkan ketiganya, setelah dipikir – pikir lagi ucapan si besi karatan barusan masuk akal juga menurut Arya. Nampaknya Kevin pun mempunyai pendapat sama sehingga ia terdiam berusaha mengingat – ingat sementara Ali tak tau apa – apa.



“Boneka terkutuk Annabelle!?” bisik Arya, Kevin, dan Timothy berbarengan.


“Tidak! Tidak! Tidak! Mustahil, Annabelle itu boneka. Bagaimana mungkin punya DNA....” Kevin mencoba menenangkan diri.


“Bagiamana kalau ternyata mereka menemukan DNA pemilik asli atau pembuatnya?” tambah Timothy sekali lagi.


Langsung saja keempatnya mematung, jujur diantara mereka tidak satupun penyuka film bergenre horor. Masing – masing juga tidak ada keinginan berhubungan dengan hal – hal berbau mistis seperti itu, selang beberapa lama Arya mengambil alih diskusi sembari menjentikkan jarinya.


“Baiklah cukup, lagi pula dia sekarang hidup. Apa yang kalian takutkan? Waktu kita terbatas. Begini rencananya.....”


------><------


“Hoam....aku bosan, sudah sepuluh menit terlewat. Mau sampai kapan kalian berniat bersembunyi?” Lilian menguap malas.


“Datang!? Sergapan!?” seru Annabelle memperingatkan.


Secara mengejutkan tiga orang Elementalist menerjang cepat melalui berbagai arah siap mengayunkan senjata mereka. Lilian tersenyum mengejek lalu menyiapkan tombaknya, benda itu datang seolah tertarik oleh magnet sementara Annabelle mengeluarkan semacam belati dari balik gaunnya dan melemparkannya tepat menuju kepala salah satu musuh.


JLEB!!!

__ADS_1


“Kau tau tidak seharusnya berteriak bukan Anna? Aku hanya memancing saja....”


“Refleks, mau bagaimana lagi?”


KRAKK...!!!


Tangan keduanya yang tidak memegang barang digunakan untuk menghabisi pemuda terakhir dengan mematahkan leher juga lengannya, para anggota tubuh lunglai itu segera terdiam akibat luka fatal masing – masing.


“Ternyata semudah ini? Aku jadi sedikit kurang puas mendapat promo—“


“Lilian? Apa kau tak merasa janggal ketika menusuk tembus badannya?”


“Eh? Kenapa kau bertan—“


GRAB...!!!


‘Masidat Alraml....’


Pertanyaan Lilian gagal diselesaikan sebab tiba – tiba tangan Arya menggenggam erat tombak yang menembus perutnya, perlahan tapi pasti sosoknya meleleh menjadi tumpukan butiran bewarna cokelat. Wanita tersebut terpekik kaget, Annabelle hendak menoleh mencari tau alasan teriakan Lilian tertahan karena tangan Kevin menangkap pergelangan kakinya dan terakhir Timothy memeluk keduanya erat – erat.


“PASIR!?”


“SEKARANG!!!”


Suara lantang Arya bergema ke setiap sudut rawa. Dia ditemani Kevin serta Timothy langsung melesat diatas pepohonan pergi sejauh mungkin berusaha meninggalkan lokasi, Lilian maupun Annabelle menggeram mencboa melepaskan diri namun sia – sia. Seorang pria melayang diatas pasir menyaksikan mereka ingin keluar dari tekniknya.


“ALI....!? KAU HARUS CEPAT YAA...!!!” sorakan kecang Arya, Kevin, juga Timothy sampai ke telinga pemuda itu. Ketiganya mengucapkan kalimat perpisahan sebelum wujud si Elementalist Pasir hampir tidak terlihat lagi.


Ali tanpa menoleh cuma mengacungkan jembol tangan kanannya, cengiran puas menghiasi muka tiga Elementalist lainnya lalu mereka memanggil Elemental Dragon milik masing – masing untuk segera hengkang secepat mungkin menyusul penculik Reika.


“Kau....? Artificial Elementalist bisu....Ali Sand....” geram Lilian waktu wajahnya hampir tertelan seutuhnya oleh pasir.


“Umm....” Ali mengangguk tenang merespon sapaan kasar tersebut.


“JANGAN BERCANDA!!! KAU MEREMEHKAN KAMI ATAU APA HAHHH!?”


JDUARRR....!!!


Hentakan kaki Lilian menyebabkan ledakan Agnet cukup kuat hingga menghempaskan setiap butiran pasir yang menyelimuti tubuhnya dan Annabelle, ia memutar – mutar tombaknya dengan sangat ahli. Matanya mengeluarkan kilatan murka ingin mencabik laki – laki dihadapannya, Ali melompat turun setelah menyiapkan dua buah pisau sembari tersenyum menyadari pertarungan ini tidak bakal mudah.



Author Note :


Sekali penegasan ya, bisu itu gangguan berbicara. Bukan tidak bisa bersuara (teriak dan sebagainya). Sehat thor? Kok lama up? Sehat, cuma lagi susah nyari mood nulis aja. Laptop jg kadang eror jadi begitulah.....



^^^

__ADS_1


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.


__ADS_2