Elementalist

Elementalist
Chapter 26 - Stupid Date


__ADS_3

Arya sedang bermeditasi seperti biasanya, kemampuannya dalam mengumpulkan Agnet dari alam meningkat dengan sangat pesat. Sampai-sampai para penghuni Fairy Forest kagum dibuatnya, satu-satunya orang yang melihat perkembangannya dengan tatapan biasa hanyalah Eudart. Karena perkembangannya ini, sewaktu Arya bermeditasi hewan-hewan kecil seperti burung dan tupai terkadang terlihat hinggap dan bermain-main disekitarnya. Seolah-olah dia adalah sebuah pohon yang sudah menjadi bagian dari hutan itu.


Beberapa saat kemudian Arya mulai membuka matanya, belum sempat ia bernafas dengan tenang Eudart langsung menyerangnya dengan tongkat. Arya segera menghindari ayunan tongkat tersebut dengan cara berjungkir balik, hantaman tongkat itu membuat tanah tempat Arya bermeditasi sebelumnya berhamburan ke udara. Belum selesai sampai disitu, Eudart kembali menyerang Arya dengan tongkatnya.


"Aspída" bisik Arya sambil mengarahkan telapak tangannya ke arah Eudart.


Sebuah pelindung tidak terlihat muncul dihadapan Arya, pelindung itu menahan ayunan tongkat Eudart. Tapi, walaupun serangan itu tertahan. Pelindung Arya tetap hancur dan membuatnya terpental ke belakang. Arya menggertakan gigi karena sihir Protection miliknya belum mampu menahan serangan Eudart, serangan Eudart masih berlanjut. Ia mengambil batu kemudian melemparkannya ke arah Arya, batu tersebut telah dialiri Agnet yang membuatnya mengeluarkan cahaya kebiruan dan melesat secepat peluru.


"Aporro" teriak Arya dengan lantang.


Telat sedetik saja dia membaca mantra Absoprtion, bisa dipastikan batu itu akan menembus pundaknya seperti jarum yang dilemparkan pada balon. Dengan menyibakan tangan, muncul riak pada udara yang ada dihadapannya, batu tersebut secara ajaib terserap dan menghilang dari pandangan. Aryapun menghembuskan nafas lega, tapi tanpa ia sadari. Lagi-lagi Eudart sudah berada disebelahnya sambil mengayunkan tongkat miliknya.


Tanpa pikir panjang Arya segera menunduk dan dengan cepat berkata "Eláte Edó katana". Setelah membaca mantra tersebut, Arya bisa mendengar suara udara terbelah saat katana miliknya melesat langsung ke arahnya. Melihat hal itu dia tersenyum, karena sepertinya mantra Comers miliknya telah berhasil. Ia segera menggapai pedang itu dan berbisik lagi "Áfxisi".


Sebuah cahaya muncul dari bilah katana tersebut, ia bisa mendengar suara mendengung sesaat sewaktu Agnet menyelimuti bilah pedang miliknya. Tanpa menunggu waktu lama Aryapun segera melakukan serangan balik ke arah Eudart, saat pedang dan tongkat mereka beradu angin kencang segera bertiup ke segala arah. Dari awal tongkat Eudart juga telah diselimuti oleh sihir Reinforcement, hal inilah yang membuat tongkat tersebut sekeras baja. Dan bahkan bisa menyamai pedang yang Arya gunakan.


Mereka berdua kembali saling menyerang satu sama lain, dan pada akhirnya seperti yang sudah diduga Arya kalah. Dengan berhasilnya Eudart melucuti katana miliknya, Eudart kemudian menancapkan katana Arya ditanah kemudian berbalik dan berjalan ke arah pohon raksasa sambil berkata.


"Aku sudah memenuhi janjiku untuk mengajarimu sihir dasar, sudah tidak ada lagi yang bisa kuajarkan padamu"


Arya segera memberi hormat dengan cara merundukan kepalannya ke arah Eudart sambil berkata dengan sungguh-sungguh "Terima kasih, Master". Arya hanya pernah memberi hormat seperti itu pada dua guru bela dirinya, hal ini menunjukan betapa dia menghormati seseorang. Sebenarnya secara tidak langsung Eudart juga telah melatih Arya cara menggunakan pedang sehingga gerakan Arya semakin mantap dan tajam, Arya tentu sudah menyadari hal ini sejak awal sehingga dia sangat bersyukur telah meminta Eudart untuk melatih dirinya.


Arya lalu segera mengambil katana miliknya serta meletakannya kembali dibelakang pinggangnya, saat itu di lembah hanya ada mereka berdua. Para penghuni Fairy Forest lainnya sedang membawa Rena untuk berkeliling hutan, hal ini sudah menjadi rutinitas mereka. Dan Rena juga sudah terbiasa sehingga dia sudah dengan mudah dapat menemukan tempat ini lagi tanpa perlu bantuan Arya.


Arya sudah bersiap kembali ketika tiba-tiba ia mendengar Eudart memanggil namanya, itu adalah pertama kalinya dia mendengar Eudart menyebut namanya. Ia segera menoleh dengan ekspresi wajah kebingungan, dia melihat Eudart yang sedang duduk bersila sambil memunggungi dirinya. Eudartpun melanjutkan.


"Semoga beruntung, kau akan membutuhkannya"


Sekali lagi Arya memberi hormat pada Eudart, lalu dengan cekatan meloncat ke atas pepohonan untuk kembali ke kediaman Eridan.


-----------------------------<<>>-----------------------------


Selain pergi ke lembah untuk berlatih sihir, sebenarnya Arya juga memiliki sebuah rutinitas lain. Yaitu mengunjungi Azalea di menara miliknya, entah mengapa dia merasa nyaman berbicara dengan wanita itu. Dia juga sempat mengajari Azalea cara merajut, walaupun terlihat seperti ini. Sebenarnya Arya cukup jago dalam menjahit dan merajut, itulah sebabnya dia jarang menghabiskan uang untuk membeli pakaian. Karena ia bisa menjahit dan merajut baju yang dia sukai sesuka hatinya.


Karena hal ini juga hubungannya dengan Azalea semakin dekat tetapi, hal ini berbanding terbalik dengan hubungannya dengan Alalea. Alalea beberapa kali memergoki Arya sedang bersama ibunya, hal tersebut membuatnya sangat kesal. Ia mengira Arya hanya mendekati ibunya hanya agar dirinya setuju dengan pertunangan mereka. Dia beberapa kali mengusir Arya, yang pada akhirnya menyebabkan pertengkaran antara dirinya dengan ibunya sendiri.


Arya tidak tahu bagaimana cara memperbaiki hubungannya dengan Alalea, dan sesungguhnya dia juga tidak terlalu perduli. Kalau Alalea memang tidak menyukainya ya mau bagaimana lagi? Dia mengaku sebagai calon tunangannya hanya karena Ratu yang mengatur hal tersebut. Tapi ternyata, cara memperbaiki hubungannya dengan Alalea itu muncul secara tidak terduga saat dia tiba di depan pintu rumah Eridan.


Eridan keluar dari rumah dengan wajah semeringah diikuti oleh Rena, ternyata Rena sudah kembali terlebih dahulu dari dirinya. Eridan semakin bersemangat setelah melihat Arya, dan diapun berseru "Ada berita bagus Tuan!" sambil menyeret Arya yang terlihat kebingungan ke dalam rumah.


-----------------------------<<>>-----------------------------


"Ugh....Apa aku benar-benar harus mengenakan ini?" keluh Arya.


"Tentu saja, anda harus terlihat menakjubkan hari ini" balas Eridan dengan tegas.


Saat itu Arya sedang melihat dirinya di depan cermin, ia sedang mengenakan sebuah pakaian yang diberikan Eridan padanya. Dari yang dia dengar dari Eridan, sepertinya pakaian tersebut adalah pakaian bekas milik ayah Eridan saat masih muda. Yang ternyata memiliki ukuran yang pas dengan Arya, pakaian itu sejujurnya terlihat cukup mahal. Seperti pakaian para bangsawan yang Arya lihat saat pertama kali dibawa ke ruang tahta Ratu.


"Mmm Nona Rena? Bisakah kau berbuat sesuatu dengan rambut Tuan Arya? Selagi aku mempersiapkan hal yang lainnya" kata Eridan sambil segera keluar ruangan.


Rena segera mendekati Arya yang segera duduk di kursi yang telah disediakan, Rena mulai menyisir rambut berantakan milik Arya dengan lembut sambil bertanya "Bagaimana perasaanmu?".


"Aneh" balas Arya singkat.


Rena tertawa pelan lalu melanjutkan menyisir Arya sambil berkata "Setidaknya kalaupun kita tidak bisa mendapatkan bahan Elemental Weapon¸ kita berdua harus bisa menyelasaikan misi yang diberikan pada kita untuk menjalin aliansi dengan Elf. Jadi kau harus serius dalam kencan ini"


Arya hanya diam dan tidak berkata apapun sampai pada akhirnya Rena selesai merapikan rambutnya, rambutnya sekarang terlihat klimis dan rapi. Hal yang sangat jarang terjadi, dia segera menoleh pada Rena dan berkata "Aku tahu, terima kasih atas bantuannya".


"Apa semuanya sudah siap?" tanya Eridan yang hanya menjulurkan kepalanya dari luar ruangan.


"Sepertinya begitu" jawab Arya santai.


"Anda terlihat luar biasa sekali, bagaimana menurut anda Nona Rena?" tanya Eridan lagi.


"Kau....kau....terlihat luar biasa" jawab Rena pelan sambil merunduk dengan wajah memerah.

__ADS_1


"Terima kasih lagi atas pujiannya" komentar Arya sambil tertawa dan mengelus kepala Rena.


-----------------------------<<>>-----------------------------


Arya sudah berada di tempat yang menjadi lokasi pertemuan dirinya dengan Alalea, banyak orang-orang yang menatap ke arah Arya dengan tatapan bertanya karena penampilannya. Sejujurnya ini membuatnya tidak nyaman, tatapan mata Elf maupun Manusia sama saja mengganggunya pikir Arya. Setelah cukup lama menunggu akhirnya Alalea muncul, dia mengenakan gaun putih yang memiliki corak indah berwarna biru.


Ia terlihat sangat tidak senang, hal itu terlihat sangat jelas dari wajahnya yang cemberut. Tapi walaupun begitu, kecantikan dirinya tetap memancar dan malah membuatnya semakin menarik untuk dilihat orang. Sejujurnya Arya ingin sekali berteriak dengan keras "Aku juga merasakan hal yang sama denganmu" pada Alalea, tapi tentu saja dia tidak mungkin mengatakan hal tersebut.


Sebenarnya rencana kencan ini dibuat oleh Azalea, ini adalah hukuman yang diberikan olehnya pada Alalea karena tidak menghormati Arya. Tapi yang membuat Arya sedikit keberatan adalah karena Azalea tidak meminta pendapatnya terlebih dahulu, itulah mengapa saat ini posisi Arya dan Alalea sama-sama tidak senang. Perbedaanya adalah Arya menyembunyikan ketidak senangannya itu sedangkan Alalea menunjukannya dengan jelas.


"Apa kau sudah lama menunggu?" tanya Alalea ketus.


"Tidak juga, saya baru saja tiba" balas Arya dengan sopan.


"Baguslah kalau begitu, kau masih punya sopan santun untuk tidak membuat wanita yang menunggu" komentar Alalea acuh.


Arya menahan amarahnya mendengar hal itu, "Kaulah yang tidak memiliki sopan santun karena membuatku menunggu. Aku tamu disini, kau ingat?" batin Arya. Tapi dia hanya bisa tersenyum dan menjawab "Tentu saja Tuan Putri".


"Jadi? Apa yang ingin kau lakukan hari ini?" tanya Alalea lagi.


"Mmm...sejujurnya saya tidak tahu mau melakukan apa, karena saya juga belum mengetahui banyak hal tentang tempat ini. Jadi saya memutuskan untuk megikuti apa yang ingin Tuan Putri lakukan saja"


"Melakukan apa yang ingin aku lakukan ya...." celetuk Alalea pelan lalu melajutkan langkahnya.


Arya segera mengikutinya tanpa berkomentar apapun, Arya berjalan sedikit dibelakang Alalea. Sesungguhnya ini tidak terlihat seperti kencan dimata Arya. Hal ini lebih terlihat seperti seorang majikan yang berjalan dengan seorang pelayannya untuk melihat-lihat keadaan desa, orang-orang yang melihat mereka berduapun segera memberi jalan dan memberi hormat pada Alalea.


Para Elf sebenarnya sedang gencar menghias kota mereka, untuk merayakan ulang tahun Ratu mereka yang ke 300 tahun. Arya dan Rena sebenarnya cukup terkejut setelah mengetahui hal ini, karena tidak menyangka bahwa secara kebetulan kedatangan mereka ke Fairy Forest bertepatan dengan akan diadakannya ulang tahun Ratu Diana yang akan dilangsungkan beberapa hari lagi.


Alalea terus berjalan entah kemana tanpa memberitahu Arya tujuan mereka, Arya hanya diam dan mengikuti langkahnya. Ia beberapa kali berusaha mengajak Alalea berbicara, tapi dia selalu diacuhkan. Akhirnya mereka keluar dari pemukiman para Elf dan memasuki sebuah taman yang sangat indah, taman itu berisi penuh dengan bunga-bunga berwarna-warni yang belum pernah Arya lihat sebelumnya.



Arya berdecak kagum melihat keindahan bunga-bunga tersebut, Alalea membawa dirinya ke salah satu bagian taman bunga yang penuh ditumbuhi bunga berwarna biru. Arya mengenali bunga tersebut sebagai Blue Azalea Flower, Alalea berhenti dan duduk disebuah bangku yang ada disana. Dia melihat ke arah bunga-bunga itu sambil berkata "Aku ingin berada disini untuk beberapa saat, lakukan apapun yang kau mau".


Arya diam berdiri disana sambil menatap Alalea yang sedang melihat-lihat bunga tersebut, kemudian Arya duduk sebelah Alalea dengan perlahan. Takut Alalea akan merasa terganggu, tapi ternayata dia tidak mempermasalahkan hal tersebut, Arya lalu menangkap sebuah daun yang terbawa angin. Ia menempelkan daun tersebut pada bibirnya lalu mulai meniupnya.


Saat Arya berhenti memainkan seruling daun miliknya, Alalea mulai berbicara tanpa melihat ke arahnya "Apa kau tahu asal-usul dari bunga-bunga ini?". Arya segera menjawab bahwa ia tidak tahu asal-usul dari bunga-bunga tersebut.


"Bagian taman ini adalah milikku, akulah yang menanam bunga-bunga Azalea ini. Karena bunga ini adalah bunga favorit ibuku"


"Bukankah nama Nyonya Azalea diambil dari bunga-bunga ini?" tanya Arya dengan hati-hati.


"Benar, bunga ini juga adalah bunga favorit nenekku. Triana, itulah kenapa dia menamai ibuku dengan nama bunga ini"


Mereka berdua terdiam untuk beberapa saat, kemudian Alalea melanjutkan dengan suara lembut "Kau tahu? Bunga-bunga ini tidak berasal dari Fairy Forest, dari yang aku dengar. Dulu sekali ada orang dari luar yang membawa bunga ini dan menanam beberapa bibit di Fairy Forest, sejak saat itu bunga ini tumbuh subur di tempat ini"


Mendengar hal itu, Arya punya firasat kalau dia mengetahui siapa yang telah membawa bunga itu ke tempat ini, dia menghela nafas panjang sambil berharap semoga firasatnya tentang kakeknya yang telah membawa bunga itu salah.


"Tapi kau tidak terlihat terkejut melihatnya, apa kau sudah pernah melihat bunga Azalea sebelumnya?" tanya Alalea dengan penasaran.


Arya lalu menjelaskan bahwa bunga Azalea tumbuh banyak di tempat dia berasal, ia juga menjelaskan pada Alalea bahwa bunga Azalea memiliki warna yang bermacam-macam dan bukan hanya warna biru seperti yang ada disini. Alalea terlihat sangat tertarik mendengar hal itu, tapi ia berusaha menyembunyikannya dan segera berdiri untuk pergi dari taman tersebut.


-----------------------------<<>>-----------------------------


Alaela duduk kembali disebuah bangku yang berada ditengah kota sambil memegang-megang kakinya, saat itu sudah siang hari sehingga cuaca cahaya matahari cukup terik dan membuat rasa dahaga timbul. Arya segera menawarkan pada Alalea untuk mencarikannya minuman, Alalea hanya diam dan tidak menanggapinya, tanpa menunggu apa-apa lagi Arya segera pergi untuk mencari minuman.


Saat Alalea sedang asyik memerhatikan orang-orang yang sedang menghias kota, tiba-tiba seorang anak laki-laki yang sedang menghias rumah dengan ibunya mengejar sebuah hiasan pita berwarna emas yang tertiup angin. Bocah itu terus mengejar hiasan tersebut tanpa memperhatikan sekitar, kemudian Alalea menyadari diujung jalan ada sebuah gerobak berisi buah-buahan yang sedang meluncur cepat ke arah anak tersebut.


"Varrel!"


Teriak histeris ibu dari anak tersebut, kejadian itu terjadi dengan tidak terduga sehingga semua orang yang berada disana telat untuk merespon dan mencoba menyelamatkan anak laki-laki itu. Tepat saat Alalea berusaha bergerak menyelamatkan anak itu. Jarak anak tersebut dengan gerobak tersebut hanya tersisa satu 1 meter saja, saat mereka semua sudah berpikir semuanya sudah terlambat. Arya dengan saat cepat melesat dan mendekap anak itu dipelukannya.


Saking cepatnya Arya melesat, ia sampai terpental ke dinding rumah yang ada di dekat sana. Tapi ia dengan sepenuh tenaga berusaha melindungi tubuh anak tersebut agar tidak terluka, semua orang segera mengelilingi mereka. Anak laki-laki itu terlihat sangat syok dan bersalah saat melihat Arya meringis kesakitan sambil memegang pundaknya.


"Hei kawan kecil, kau tidak boleh menangis. Kau laki-laki bukan?" kata Arya sambil mengusap kepala anak tersebut.

__ADS_1


"Varrel! Apa yang kau lakukan nak?" teriak ibunya sambil memeluk bocah itu.


Ibunya segera menceramahi anak tersebut untuk hati-hati, ia juga berterima kasih sekali pada Arya karena telah menyelamatkan anak laki-lakinya. Arya hanya tersenyum dan berkata lain kali harus lebih hati-hati, saat semua sudah tenang dan kembali melakukan aktivitasnya masing-masing. Alalea bertanya pada Arya.


"Bagaimana kau bisa merespon secepat itu?"


"Mmm...? Hahaha mungkin karena naluri saya untuk menyelamatkan orang cukup tinggi"


"Walaupun itu orang yang tidak kau kenal?"


"Memangnya kita hanya boleh menolong orang yang kita kenal? Oh iya dan ngomong-ngomong maafkan saya Tuan Putri, sepertinya saya telah menjatuhkan minuman untuk anda" jawab Arya sambil menunjuk dua gelas minuman yang pecah dipinggir jalan.


-----------------------------<<>>-----------------------------


Arya dan Alalea melanjutkan kencan mereka tanpa masalah sampai mereka melihat seorang Elf pria dewasa sedang menendang sebuah makhluk kerdil yang terlihat membawa banyak barang, Arya segera kesana dan menghentikan pria itu. Awalnya pria itu merasa kesal dan ingin mencari masalah dengan Arya, tapi setelah melihat Alalea berdiri dibelakang Arya dia memilih untuk berbicara baik-baik.


"Maafkan saya atas pemandangan tidak menyenangkan ini Tuan Putri, hanya saja makhluk cebol ini telah menabrak saya dan tidak mampu mengganti rugi" ujar Elf pria itu sambil membungkuk.


Arya melihat makhluk cebol itu dengan mata terbelalak, makhluk itu memiliki janggut yang cukup lebat. Tapi badanya sangat pendek, bahkan hanya sampai pinggang Arya. Dwarf itu meringis kesakitan akibat tendangan dari Elf tadi. Arya tidak habis pikir kenapa dia bisa berjumpa dengan Dwarf di tempat ini.


Arya segera protes kepada Elf tersebut atas perlakuanya, tetapi dia membela diri dan tidak menunjukan rasa bersalah sedikitpun. Lalu saat keadaan terlihat semakin buruk, munculah ibu serta anak yang telah ditolong oleh Arya sebelumnya. Ternyata Elf itu adalah ayah dari anak laki-laki yang sebelumnya ditolong oleh Arya, ia segera meminta maaf dan berjanji tidak memperpanjang masalah ini. Tidak lupa dia juga berterima kasih atas bantuan Arya pada anaknya.


Setelah keluarga itu pergi, Arya segera membantu Dwarf tersebut berdiri. Arya juga membantu mengumpulkan barang-barangnya yang terjatuh.


"Terima kasih Tuan, ternyata masih banyak orang baik seperti anda" ucap Dwarf tersebut sambil mengangkat topinya.



"Tak apa, memang seharusnya kita saling menolong seperti itu bukan?" jawab Arya sambil tersenyum.


Dwarf itu melongo beberapa saat, lalu tertawa terbahak-bahak. Dia mengatakan dia tidak pernah bertemu dengan Elf yang lebih aneh dari Arya, kemudian ia memberikan sebuah kartu nama pada Arya. Dia berkata jika butuh sesuatu silahkan datang dan mencarinya ke alamat yang tertera disana.


Setelah Dwarf itu pergi Arya segera menoleh pada Alaela dan berkata "Apa yang dilakukan Dwarf di tempat ini?"


"Mmm...? Kenapa kau bertanya? Apa kalian para Elf di luar hutan tidak memiliki Dwarf"


"Jawab saja pertanyaannya" balas Arya singkat.


"Para Dwarf memiliki kemampuan menempa senjata yang sangat tinggi, kau harusnya sudah mengetahuinya. Karena hal ini Dwarf kebanyakan dijadikan penempa senjata oleh ras-ras lainnya, tidak terkecuali kita para Elf" jelas Alalea.


Mendengar hal itu mata Arya melebar, dia menggertakan giginya karena kesal. Dia tidak menyangka ada ras lain yang diperlakukan seperti itu, dia tidak bisa membayangkan jika posisi para Dwarf saat ini digantikan para Manusia. Melihat orang-orang diperlakukan semena-mena seperti itu benar-benar membuatnya tidak senang.


"Aku tidak menyangka kalian sekeji itu" bisik Arya pelan sambil menatap Alalea dengan tatapan dingin.


Itu pertama kalinya Arya menatap Alalea dengan tatapan seperti itu, tatapan itu membuat Alalea bergidik pelan. Tapi ia dengan tenang berkata "Akhirnya kau memperlihatkan sifat aslimu".


"Ya, kau benar. Maafkan aku tapi, Aku sudah muak berakting seperti ini"


"Sudah kuduga kau hanya seorang penipu, aku heran kenapa ibuku bisa percaya padamu"


"Entahlah, aku juga tidak tahu. Asal kau tahu saja, aku juga sama tidak inginnya bertunangan denganmu" ujar Arya sambil menggaruk-garuk kepalanya.


"Lalu apa sebenarnya tujuanmu?"


"Aku tidak punya kewajiban menjawabnya"


"Aku akan melaporkan hal ini kepada nenek" seru Alalea sambil menunjukan senyum kemenangan.


Arya yang sudah hendak pergi mendengar hal itu segera menoleh kembali ke arah Alalea, dia melihat Alalea sambil tersenyum dingin "Eh...kau ingin melaporkanku? Silahkan saja, tapi kalau aku jadi kau, aku tidak akan melakukannya. Kau pikir apa yang akan dipikirkan Ratu ketika tahu bahwa cucu kesayangannya bermain-main di perbatasan wilayah"


Setelah Arya berkata seperti itu, ekspresi Alalea seperti tersambar petir. Dia sepertinya menyadari sesuatu, sesuatu yang harusnya dia sudah sadari sejak lama.


"Kau....kau orang yang berada di perbatasan wilayah malam itu" katanya tidak percaya.


"Aku tidak pernah mengatakan hal seperti itu lho"

__ADS_1


"Kau berani mengancamku?!" tanya Alalea dengan marah.


"Tentu saja tidak, aku hanya mengingatkanmu saja. Tarianmu diatas pepohonan waktu itu sangat indah lho, Tuan Putri" sahut Arya lalu dengan cepat melesat ke atas pohon dan menghilang dari pandangan.


__ADS_2