Elementalist

Elementalist
Chapter 80 - Menepati Janji


__ADS_3

“Kalian berdua mohon te—“


“Hi no Umi”


“Light of Penance”


“Prickly Flower Pollen”


“Flowing Shark Bite”


Arya gagal meminta Alalea dan Lexa untuk tenang karena harus menghindari empat serangan dari arah berbeda. Ia terlihat bingung sambil memandangi para penyerang.


“Woa?! Apa yang kalian lakukan?! Kenapa malah menyerangku?!”


“Laki – laki sepertimu pantas mati” rambut Asuna berkobar bak api raksasa.


“Seorang kakak harusnya memberitahu adiknya sesuatu sepenting pertunangan” Elizabeth tersenyum dingin menyeret Theia di lantai layaknya seorang algojo.


“C....ci...ciuman....ciuman....pertama—” bisik Selena dengan tubuh bergetar, sekilas dapat terlihat ujung matanya yang berair.


“Aku tidak paham apa yang kalian bica—bahkan kau juga Rena?! Kau kan harusnya sudah tau akan semua in—TIDAK....!!!”


Perkelahian dua gadis sebelumnya berhenti, mereka malah asyik menonton Arya berlari menghindari serangan demi serangan yang dilemparkan empat perempuan kesal itu kepadanya.


------><------


“Kapten?” lirik Kevin, Zayn, Timothy, dan Ali.


“Maaf, aku benar – benar minta maaf. Aku berjanji akan mentraktir kalian sebagai tanda permintaan maaf” Arya berbisik lemah.


Akhirnya kondisi dapat dikendalikan setelah Arya meminta bantuan para Elementalist laki – laki, mereka berhasil bukan mulus tanpa cedera. Memar terlihat disana sini, ruangan Pengawas Astral juga hancur berantakan.


Para gadis barbar sudah Arya suruh keluar karena dia ingin merapikan tempat itu, ia mempersiapkan diri untuk menghadap Astral. Arya duduk menatap lantai dikelilingi oleh teman – temannya, melihat ekspresi bersalah Arya. Keempat orang ini memutuskan membantu bersih – bersih.


Mereka hati – hati keluar dari ruangan karena seluruh tubuh mereka terasa kaku. Alalea datang menghampiri Arya tanpa ada ekspresi bersalah sedikitpun sambil cengar – cengir.


“Wajahmu terlihat kacau hihihi”


“Kau pikir ini salah siapa?” Arya menggertakan gigi kemudian langsung menyambar pipi Alalea.


“Aw...aw....aw!? Hei beraninnya kau mencubit seorang Tuan Putri”


“Aku tidak perduli!”


Sepuluh Pengawas Ujian tiba – tiba muncul disekitar keduanya, menundukan kepala untuk memberi hormat.


“Hee keluar juga, kalian orang – orang yang hawa keberadaanya sedari tadi aku rasakan bukan?” celetuk Alalea tertarik memandangi satu persatu Pengawas Ujian.


“Sumpah Pengawas, kalian semua jahat sekali. Apa tidak ada yang punya inisiatif untuk membantuku disituasi tadi hah?!” Arya mulai protes.


Para Pengawas Ujian memperkenalkan diri masing – masing kepada Alalea, mengatakan kalau mereka telah berbincang mengenai beberapa hal dengan perwakilan Elf lainnya. Tidak lupa Arya terus meminta maaf kepada Pengawas Astral.


“Angkat kepalamu Tuan, kamilah yang harusnya meminta maaf karena tidak membantu. Tapi seperti kata peribahasa. Siapa yang menanam, maka dia yang akan menuai. Jadi saya pikir anda harus menyelesaikan situasi tadi seorang diri”


“Aku tak ingat pernah menanam kebencian pada mereka” balas Arya dengan ekspresi wajah datar.


“Ohoho lihat disini, ada Tuan Putri Kerajaan Elf. Nona? Wajahmu bagaikan mentari yang menyinari di malam ge—Eph!?—”


“Jangan macam – macam”


“Hei?! Lepas—lepaskan aku!? Tidak....Tuan Putri....!!!”


Berlin dan Gustav bergerak cepat membawa Varuq sejauh mungkin dari Alalea, Astral memberitahukan kalau dia sudah mengurus informasi mengenai semua kejadian pembentukan kerjasama kedua ras untuk para Pengawas dan orang – orang di Pusat Penelitian. Sehingga Arya tidak perlu khawatir.


Mereka semuapun pamit undur diri, saat itulah Arya menyadari ada sesuatu yang janggal.


“Bukannya tadi mereka bilang perwakilan Elf yang lain? Siapa?”


“Nenek memintaku membawa sepuluh Pengawal terbaik keluarga Azuldria untuk jaga – jaga”


“Ohh begitu, baguslah. Mereka akan sangat membantu, iyakan Eridan?”


GEDEBUG!

__ADS_1


Terdengar suara jatuh keras dibalik salah satu tiang dekat Arya dan Alalea berdiri, seorang Elf laki – laki keluar dari sana memasang wajah canggung.


“Ahahaha halo....Tuan Arya, lama tidak bertemu”


“Hai”


“Dimana sopan santunmu Eridan? Kau bahkan tidak bersedia menemaniku untuk bertemu Arya” tegur Alalea.


“I...it...itu karena saya harus berbicara dengan para Pengawas Ujian”


“Kau tinggal menyerahkannya pada yang lain, apa susahnya?”


“A...AK...AKU MINTA MAAF TUAN” Eridan menundukan kepala sungguh – sungguh.


“Hah? Kenapa?”


“Aku dengan sombongnya berjanji akan menjadi peracik strategi terhebat di dunia saat kita bertemu lagi...., tapi seperti yang anda lihat. Tidak ada perubahan signifikan yang kualami, aku gagal memenuhi janjiku”


Arya berjalan santai melewati Eridan sambil menguap lelah “Aku tidak ingat pernah berjanji seperti itu, lupakan saja”


“Baik, terima kasih Tuan” kata Eridan dengan mata berkaca – kaca.


------><------


“Asun—“


“Menyingkir!”


“Eliza—“


“Aneh, aku mendengar ada suara memanggilku. Tapi wujudnya tidak terlihat”


“Re—“


“S..se..sepertinya aku dicari oleh Pengawas Rea”


“Lex—“


“Sele—“


“Kita pernah bertemu sebelumnya?”


JDAAR!


Arya meletakan keras nampan makanannya di meja dengan wajah terpukul, dia sudah berusaha menyapa para gadis itu namun malah diabaikan oleh mereka semua. Alhasil kali ini dirinya duduk sendiri waktu sarapan.



‘Kalau kalian memang ingin bermain begitu, baik! Akan aku ladeni!’


“Wahh....menyenangkan sekali, ada banyak Manusia dan mereka semua ramah – ramah. Aku juga penasaran bagaimana rasa makanan – makanan disini” Alalea duduk bersebrangan meja dengan Arya.


“Ennaakkk....!!! Eh? Ngomong – ngomong kenapa kau duduk sendirian? Dimana teman – temanmu?”


‘KAU PIKIR INI SALAH SIAPA BAMBANG!?’


“Sepertinya mereka sedang sibuk” terlihat garpu ditangan Arya perlahan diselimuti butiran es.


“Begitu ya, Eridan bersama yang lain juga nampaknya berusaha mengakrabkan diri. Sup ini nikmat sekali, aku mau tambah hehehe”


Perhatian semua orang di Kantin tertuju pada Alalea, aura kecantikannya benar – benar berbeda. Membuat ribuan pasang mata tak mampu melepaskan diri darinya.


“Itukan hanya sup saus tiram, apa istimewanya?”


“Saus tiram?”


“Ahh aku lupa, Elf jarang berinteraksi dengan lautan”


Arya mulai menjelaskan mengenai tiram pada Alalea, matanya memancarkan semangat begitu membara setelah mendengarnya.


“Jadi maksudmu, masih banyak makanan enak yang bisa dibuat menggunakan bahan dasar hewan ini?”


“Eee....i....ya”

__ADS_1


“Maukah kau membuatkannya untukku? Kumohon!” pinta Alalea sungguh – sungguh.


“Tentu, jika ada kesempatan”


“Yes!”


“Mmm ngomong – ngomong Alalea? Apa kau mengubah penampilanmu?” Arya bertanya sambil memiringkan kepala.


“Kau baru menyadarinya sekarang? Hah....tidak juga sih, aku cuma memanjangkan dan mengikat rambut setelah mendengar saran dari ibu”


“Oh....begitu”


“Kenapa? Apa aku terlihat lebih menarik dimatamu sekarang? Hihihi” Alalea memasang senyum jahil.



“Mmm tergantung, apa kau bersedia membatalkan rencana pertunangan ini kalau aku bilang tertarik?”


“Tidak akan” senyuman diwajah si Putri Elf semakin melebar.


“Baiklah, mari lupakan pembicaraan tadi” saran Arya sebelum menghirup sisa sup miliknya.


Di meja lain, sembilan Elementalist memperhatikan tingkah kedua orang tersebut. Kevin, Zayn, Timothy, dan Ali tidak ingin ikut diamuk massa sehingga terpaksa menjauhi Arya untuk saat ini.


“Ahh benar juga, ada sesuatu yang terlupa” Alalea menepukan tangannya sekali.


“Hm?”


“Ini, aku....tidak berani menggunakannya kemarin. Takutnya malah kusut”


Alalea mengeluarkan syal berwarna biru dari balik jubah miliknya, mata Arya sedikit melebar menyadari benda apa itu. Dia bangun dari kursi kemudian menyentil dahi Alalea sehingga membuat gadis tersebut meringis pelan.


“Aww sakit....tau”


“Dasar bodoh, kalau kau tidak mengenakannya. Untuk apa aku repot – repot membuatkannya untukmu?”


“Tapikan aku tidak ingin syalnya jadi—“


“Terima kasih, telah menepati janjimu” Arya tersenyum tulus, sesuatu yang sudah lama tidak terlihat diwajahnya.


“Bukankah mereka sangat serasi?”


“Ekh!?—“


Eridan baru saja tiba ditempat para Elementalist lain duduk bersama sambil memperhatikan Arya dan Alalea dari kejauhan. Timothy segera menarik elf muda itu kedekatnya lalu berbisik.


“Eridan bukan?”


“Benar, dan anda....pasti sang Elementalist besi. Tuan Timothy”


“Iya, kau mungkin belum tau situasinya tapi....aku sarankan jangan pernah mengatakan hal seperti tadi lagi”


“Kenapa?”


“Bagaimana cara menjelaskannya ya? Intinya adalah....nyawamu bisa terancam”


“Eh?”


“Tidakkah kau merasakan tekanan tinggi disekelilingmu?!”


Begitu Eridan memperhatikan sekitar, barulah dia sadar sudah mengucapkan sesuatu yang salah. Aura dimeja ini begitu mencekam sampai membuat dirinya kesulitan bernapas.


“Asuna!? Asuna?! OI ASUNA?! SUPNYA! LIHAT SUPNYA OE!? ITU MULAI MENDI—“ teriak Kevin cepat namun semuanya sudah terlambat.


PRANKK! SPLASH!


-Fourth Test Arc Elementalist Status : Finished-


Author Note :


Elemental City adalah sebuah pulau melayang (cuma satu), ukurannya tidak besar dan juga tidak kecil. Dengan populasi sekitar 1 Milyar jiwa (sudah jauh berkurang sejak perang dan perbudakan dari ras lain mulai terjadi). Tidak ada Negara di Elemental City, hanya ada MANTAN PEMIMPIN NEGARA, karena sudah tidak ada lagi yang namanya batasan wilayah. Seluruh sisa umat Manusia berkumpul di tempat ini hidup berdampingan tak memandang perbedaan bangsa demi keberlangsungan hidup. Fungsi MANTAN PEMIMPIN NEGARA hanya sebagai perwakilan rakyat - rakyat dari seluruh Dunia, mereka diberikan kedudukan tinggi dalam sidang Dewan Keamanan PBB mewakili suara rakyatnya. Orang - orang cenderung lebih mendengarkan kata - kata perwakilan dari golongannya masing - masing, hal ini bertujuan untuk menjaga kerukunan umat Manusia agar tidak terjadi perpecahan yang tidak perlu.(Panjang X Lebar) -__-


__ADS_1


__ADS_2