
Pada sebuah ruangan gelap, satu – satunya sumber cahaya menerangi meja bundar yang dikelilingi lima buah kursi. Empat diantaranya sudah terisi, nampak para hadirin tersebut agak kurang senang berada berdekatan satu sama lainnya.
“Aku harus mandi menggunakan cairan khusus sepulang dari sini....hihihi....tolong ingatkan aku Greenhook” pria berwajah pucat terkikik geli menunjukan taring – taring tajam nan menyeramkan miliknya.
“Bukankah kalimat tadi lebih pantas diucapkan olehku? Mengingat bau amis menjijikan sekujur tubuhmu makhluk penghisap darah sial.....” desis satu – satunya wanita disana.
“Teruslah mengoceh agar aku punya kesempatan membakar kalian....” balas seseorang.
“Katakan sekali lagi? Pedangku telah lama mendambakan darah naga....” laki – laki bermata emas memelototi sosok barusan.
Bukan cuma keempatnya saja yang mengeluarkan aura membunuh, masing – masing ditemani satu pengawal. Dan tak ada tanda – tanda persahabatan terlihat sampai menyebabkan orang – orang pasti heran mengapa mereka dapat berkumpul di suatu lokasi sama.
Sebelum sempat melemparkan kata – kata cacian lain, suara pintu terbuka memenuhi ruangan. Dari dalam kegelapan keluar dua individu baru, keduanya mengenakan tudung jubah untuk menutupi wajah. Salah satu segera mengambil posisi duduk tanpa berkata apa – apa, seolah tidak memberikan muka sedikitpun kepada tamu disekitar sana.
Helaian rambut putih panjang sedikit muncul, anak buahnya berdiri tenang didekat sang tuan. Bunyi geraman kurang puas disusul hantaman keras gada menubruk lantai mencuri perhatian semuanya, beberapa mulai menoleh.
“LOUIS....!!!”
“Hmm...? Ahh...halo? Senang melihatmu masih hidup Goblin tua.....”
“Setan kecil in—“
“Greenhook....” laki – laki pada kursi dihadapannya mengangkat tangan supaya ia menenangkan diri.
“Kris....jangan halangi—“
“Aku harus, dialah yang memanggil kita kemari....”
“Ukh....”
Mendengar ucapan Kris barusan Greenhook hanya bisa mengepal kuat – kuat sembari mengumpat dalam hati, Kris menghela napas bersyukur karena kawannya itu mampu berpikir jernih. Sementara pria yang dipanggil Louis oleh Greenhook tersenyum tipis dibalik jubahnya.
Meski terlihat santai juga tidak semencolok empat orang lainnya, kedatangan Louis merubah suasana ruangan. Layaknya tiap anggota pertemuan ragu harus bersikap bagaimana menghadapinya, antara marah namun enggan menimbulkan masalah. Mereka seperti mengakui kemampuannya ditambah sedikit penasaran karena dia belum menunjukan seluruh kartu – kartu ditangannya.
“Baiklah, sebab semuanya sudah datang. Izinkan aku menyambut kalian....”
Akhirnya Louis angkat bicara, dirinya perlahan melirik letak Kris dan Greenhook berada lalu mengucapkan senang diberikan kesempatan menjamu Pride Sins maupun Greed Sins. Kemudian lanjut menuju tamu – tamu berikutnya.
Hebihime bergidik pelan sewaktu Louis menyebut namanya bersama Garyu, awalnya Garyu berencana pergi sendirian. Tetapi Hebihime memaksa ikut serta terus berakhir disini, berikutnya ada dua gadis perwakilan ras penyihir. Sang Orange Witch Marylin Merlin ditemani koleganya yaitu Black Mara, Friska Lullaby.
__ADS_1
“Hentikan omong kosongmu, cepat katakan alasan kau mengundang kami kemari....”
“Mmm....aku tak tau kau begitu ingin merebut tahtamu Regulus....mengingat hubunganku dengan tangan kananmu cukup dekat, nanti kau bisa meminta penjelasan lebih detail kepadanya” ucap Louis setelah terdiam beberapa saat.
“Orion?”
“Aku telah mendengar sebagian rencananya....” Elf bermata biru disampingnya menjawab.
Louis kembali melanjutkan, tetapi kini pengakuannya menyebabkan beberapa peserta terkejut. Ia menyatakan kalau dirinya adalah pendiri organisasi Fatum sekaligus orang dibalik menyebarnya pemahaman kelompok tersebut ke seluruh ras yang ada.
“Dikala rasmu bersembunyi menghindari perang, kau mau memulainya?” celetuk Hebihime mengangkat sebelah alis.
“Kau terlalu meremehkan Manusia, bahkan sejak dimensi terpisah. Kami bisa melawan, hehehe....tidakkah kau berpikir wahai Snake Shio? Jika tak yakin mampu menghadapi kalian maka mustahil aku sepercaya diri ini....”
“Omonganmu besar sekali....” Merlin menyindir.
“Lihat siapa yang bicara? Aku paling tidak mengharapkan kalimat tadi berasal darimu, lihatlah kelak....mau itu melawan kau, kau, kau, ataupun kau....aku tidak takut.....” kata Louis menunjuk mereka satu per satu.
Deklarasi Louis menyebabkan udara terasa berat, tentu masing – masing kurang setuju atas ucapan angkuhnya mengenai Manusia, ras yang dianggap sampah punya kesempatan menang melawan mereka.
“Tapi impian ini mempunyai satu masalah.....”
“Tepat, Elementalist. Aku membutuhkan bantuan kalian semua untuk menghapuskan sistem sampah tersebut....”
“Maksudmu?”
“Menurutku umat Manusia sudah tidak membutuhkan Elementalist lagi demi bertahan hidup, sehingga buat apa dipertahankan?” bola mata biru Louis menyapu ruangan.
“Dengan kata lain kau hendak berkata mau menghabisi para Elementalist?”
“Yaa....”
“Caranya?” tanya Regulus tertarik
“Dengarkan....rencananya sedang berjalan, saat semuanya usai terserah kalian mau berbuat apa. Yang jelas perang antar ras....pasti terwujud....dan kami yakin menang......”
------><------
Arya melakukan pencarian menyeluruh terhadap Reika ke penjuru Elemental City, ia memulai dari kediaman Kemala karena memang sahabat adiknya itu bisa dibilang adalah orang terakhir yang bertatap muka secara langsung dengan Reika.
Kemala tentu kaget saat Arya menjelaskan kalau Reika sudah tidak pulang selama dua hari, dia mengatakan keduanya berpisah di stasiun kereta. Arya segera berangkat selesai mengorek informasi tadi, sesampainya menuju lokasi Efbi dan Safira masih belum menemukan tanda – tanda mencurigakan.
__ADS_1
Arya bertanya kepada para petugas soal Reika namun hasilnya nihil, ketika masih berpikir. Tiba – tiba ada seorang pria tua menyeletuk tentang pengumuman mendadak pihak stasiun suatu malam, Arya mendekat kemudian bertanya apakah beliau ingat hari ataupun tanggal kejadian.
Benar saja si laki – laki sepuh menyebutkan malam dimana Reika bersama Kemala keluar untuk mencari udara segar. Arya terus menyusuri tiap titik sambil membawa foto Reika, sesekali dia beruntung karena ada yang melihatnya tetapi lebih sering sampai pada jalan buntu.
Akhirnya berkat bantuan salah satu pemburu Distrik Perunggu, Arya menemukan sebuah gudang tersembunyi dekat hutan – hutan dinding bagian terluar Elemental City. Arya membuka pintunya, baunya tak terlalu lembab menandakan beberapa waktu lalu tempat ini masih ditempati.
‘Arya? Aku mencium aromanya lagi usai menghilang begitu saja sekitar gang sebelumnya.....’ Safira mendesis.
‘Aku pun demikian Ayah....’ ujar Efbi menambahkan.
“Mustahil....”
Mata Arya melebar ketika membuka kain putih penutup dekat sana, truk berwarna kuning tidak asing berada disana seperti baru. Bahkan setitik debu saja tak menghiasai badannya, Arya mengumpat dalam hati. Seharusnya dia tau ada hal aneh tentang kendaran tersebut waktu itu.
‘Tuan? Semua bukan salahmu.....’
“Maaf, hanya saja aku ternyata hanya dipisahkan jarak setipis benang....”
Efbi maupun Safira keluar menunjukan wujud binatang kecil mereka lalu mengendus tiap sudut bangunan. Ketika masih sibuk mencari, panggilan Efbi menarik perhatian Arya. Ia sukses menemukan semacam alat besar aneh dengan empat tiang mengelilinginya.
“Alat teleportasi?” Arya berbisik kemudian cepat – cepat menghampiri.
CTAK! CTIK! CTOK!
Tanganya bergerak sangat cepat mengotak – atik benda tadi, seharusnya dia mampu memperoleh informasi pemakaian terakhir serta koordinat tujuan dari pengguna sebelumnya. Arya menggigit bibir sampai berdarah menyadari kebodohan dirinya pergi bersenang – senang melihat festival saat Reika disekap.
TING! TING! TING!
“Ketemu.....ckk....!? Mereka..... telah pergi meninggalkan Elemental City” gumam Arya perlahan, tatapan matanya terkunci kepada titik merah layar digital dihadapannya.
Author Note :
Doain aja semoga bulan depan bisa up tiap hari.....
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.
__ADS_1