Elementalist

Elementalist
Chapter 298 - Nil


__ADS_3

“Jangan khawatir, kau mendengar penejelasanku sebelumnya tidak sih?” gumam orang tua itu menenangkan Arya yang panik sembari mengupil.


Dia mulai memberitahu kalau manipulasi elemen merupakan hal wajar pada realitas tersebut, perlahan ia mulai memperagakannya. Secara bergiliran dan cepat kulit lengannya bertranformasi keras seperti besi kemudian dikelilingi pusaran angin terus terselimuti oleh api putih bersuhu tinggi.


“Bagaimana—“


“Makanya kalau orang bicara usahakan tak masuk telinga kanan keluar telinga kiri bocah tengik, kemampuan ini adalah hal lumrah di realitas kami. Tetapi jangan salah mengartikan, keduanya sangat berbeda jika dibandingkan kekuatan pengendalian milikmu serta teman – temanmu.


Teknik dihadapanmu sekarang hanya bisa memanipulasi unsur alam dalam lingkup kecil sehingga mempunyai batasan, sedangkan kalian Elementoto—“


“Elementalist”


“Yah itu maksudku, mengendalikan keseluruhan elemen tersebut secara sempurna. Walaupun terbatas pada satu jenis saja”


“Lalu mengapa aku tidak mampu menggunakannya lagi?” Arya masih kelihatan bingung.


Si pria tua menatap seolah dirinya merupakan individu paling idiot di dunia sebelum menghela napas panjang, intinya adalah sistem yang ada pada realitas mereka berbeda sehingga cara mengaplikasikan kekuatan pun tidak bisa dipukul rata. Contoh sederhananya hukum di suatu negara belum tentu berlaku di negara tetangganya, barang yang ilegal pada sutau tempat tak menjadi jaminan akan ilegal juga di tempat lainnya.


“Di mana bumi dipijak....di situ langit dijunjung”


“Oh? Kau nampaknya mempunyai bakat membuat syair, kalimatmu tadi boleh juga”


“Kata – kata barusan peribahasa dan bu—bukan itu masalahnya....! Aduh....!!!”


Arya memijat keningnya frustrasi kemudian mulai berjalan mondar – mandir diikuti gerakan kepala pak tua di hadapannya. Dia berpikir keras mencari solusi atau jalan keluar dari situasi tersebut namun pikirannya benar – benar buntu.


“Ada apa lagi? Kau sembelit?”


“Tentu saja tidak dasar tu—hemm....hah sabar Arya. Ingat, kelak kau akan menua juga tetapi bersumpahlan tidak menjadi orang semenyebalkan dirinya”


“Bicara sendiri eh? Dasar gila....apa pukulan tongkatku terhadap kepalamu terlalu keras?” celetuknya cuek.


“BUKAN BEGITU BAU TANAH!!! AKU SEDANG BERTANYA – TANYA MENGAPA AKU DIKIRIM KEMARI JIKA PADA AKHIRNYA TAK BISA MENGGUNAKAN KEKUATANKU?! BAGAIMANA CARANYA AKU BERLATIH UNTUK MENJADI LEBIH KUAT!? LAGI PULA KALAU PENJELASANMU TEPAT MENGENAI SISTEM, PULANG SAJA AKU SEKARANG TIDAK MAMPU! AHHH....!!!”


Arya meledak dan berteriak sekuat tenaga membiarkan suaranya bergema terus menyebabkan kumpulan burung berterbangan akibat terkejut, ia melompat – lompat kesal serta menghentakkan kaki kuat – kuat di tanah sampai memukulkan kepalanya ke dahan pohon hingga berdarah.


“Pfft!?”


“Apanya yang lucu?”


“Tidak, aku hanya berpikir aneh saja. Bukankah kau mempunyai ketergantungan berlebih kepada kemampuan pengendalianmu? Padahal cuma dekorasi semata”


“Tarik ucapanmu” geram Arya naik pitam.


“Buktikan kalau aku salah”


“Keparat ini!”

__ADS_1


“Hehehe semisal memang sehebat itu, tidak mungkin kau kalah dalam perang lalu kabur kemari”


“Ugh...”


“Lihat? Kau bahkan tidak mampu menyangkalnya” pria tua tersebut terkekeh geli.


Dia berandai – andai jika dirinya menjadi Arya dengan kemampuan Elementalist Es miliknya maka tak perlu bertarung susah payah. Tinggal bekukan darah semua musuh dalam perang kemudian hancurkan tubuh mereka layaknya es serut.


“Meskipun sama – sama cairan darah dan air sangat berbeda, mustahil melakukan igauanmu tadi. Lagi pula semuanya terus beredar dalam badan”


“Itulah mengapa aku menyebutnya dekorasi, berhenti bergantung pada kekuatan rumit begitu dasar payah”


Sang pria tua meyentil dahi Arya hingga memerah, suaranya sangat keras sampai lebih cocok disebut sebagai tamparan. Bukannya tak mencoba menghindar, namun Arya tidak bisa mengikuti sama sekali gerakan orang itu.


“Adududuh....jidatku!!! Pak tua!? Siapa kau sebenarnya!?”


“Aku? Aku punya banyak nama atau julukan yang bahkan telingamu kurang pantas mendengarnya. Dewa, Mahaguru, Patih, Datuk, Sri, Empu, sampai aku sendiri lupa sebutan apalagi orang – orang ini sematkan kepadaku. Tetapi....kau boleh memangilku Nil”


><


Setelah mendapat ceramah dari Nil kemudian memikirkannya semalaman penuh Arya menarik kesimpulan kalau ucapannya memang ada benarnya. Ketimbang meratapi nasip lebih baik ia melatih apa yang ada seperti kemampuan fisik, mental, dan penguasaan Agnet miliknya.


Oleh karenanya dia menghabiskan tiga hari berikutnya berlatih sampai mencapai batas, parahnya lagi dirinya masih kesulitan mengkonsumsi apapun di realitas itu lalu hanya mengandalkan air untuk menjadi bahan bakar dalam beraktivitas. Hingga pada suatu waktu menemukan beberapa berry liar yang kemudian dia tumbuk menjadi cairan dahulu sebelum dapat diteguk.


Saking enak rasanya Arya merasa bersyukur masih hidup terus berkesempatan menyicipinya, sekarang dia malah makin penasaran tentang buah – buah pemberian Nil dulu. Orang tua menyebalkan tersebut sesekali nampak berkeliling melakukan apapun sesuka hati bahkan menontonnya berlatih sekaligus mengejek Arya dengan kata – kata setajam silet.


“Hadeh....anak muda, tak pernah menerima kritik” ujar Nil mengangkat bahu.


“Apa kau bil—“


“Begini cara yang benar memukul”


PSSYUU!!! JDASH!


Arya terdiam seribu bahasa saat Nil mengayunkan tangannya lunglai usai menguap ke arah pohon beringin raksasa. Seluruh daun atau bagian atas tanaman tadi hilang tak bersisa, bogem Nil terlihat mengeluarkan asap saking pekatnya Agnet menyelimutinya.


“Oi bocah”


“Hah?” Arya terkesiap akibat cukup lama termenung menyaksikan aksi barusan.


“Kekuatan ini....kau menyebutnya apa? Bukankah dari tempatmu berasal juga ada?”


“Agnet....”


“Begitu ya....di sini mereka disebut sebagai Orphic Plasma, pada dasarnya semua berasal dari kumpulan energi alam yang terperangkap dalam suatu objek bernama Essence. Entah itu manusia, hewan, maupun tumbuhan masing – masing menghasilkan gas kehidupan istimewa ini


“Makanya tubuh dapat memproduksinya kemudian dimanfaatkan oleh beberapa penggunanya secara berkala, sayangnya jika hanya mengandalkan hal tersebut jumlahnya sangat terbatas. Orang – orang dari berbagai dunia selalu memberikan sebutan berbeda seperti Tenaga Dalam, Qi, Mana, Reiatsu, Chakra, Nen, Aura, Haki, Spirit, Tao, dan lain – lain” tutup Nil bangkit kemudian melangkah pergi.

__ADS_1


Walaupun diam, Arya tau bahwa Nil ingin ia mengikutinya. Keduanya pergi menembus bagian terdalam pegunungan itu sekaligus wilayah yang belum pernah didatangi Arya, Nil berjalan santai tetapi dengan kecepatan tidak masuk akal sehingga Arya kewalahan dibuatnya.


Terlebih dia merasa diawasi oleh banyak pasang mata dari berbagai penjuru, ketika akhirnya Nil berhenti Arya sudah bermandikan keringat sementara pria itu masih mengupil dan terlihat bugar bahkan berpeluh pun tidak.


“Benda itulah yang disebut Essence”


Sambil masih terengah – engah memegangi lutut Arya mendongak ke arah Nil menunjuk, mereka telah sampai di sebuah lembah luas dipenuhi pohon serta danau lumayan luas. Tepat pada tengahnya melayang tinggi sebuah benda bulat terang mengeluarkan cahaya menyilaukan.



“Hebat, Agnetnya....pekat sekali” ucap Arya kagum.


“Sepertinya ini memang pertama kali kau melihatnya ya”


“Hei? Apa kau merasa sedang diawasi?”


“Ahh? Maksudmu para kelinci?”


Nil mengarahkan kepalanya kepada pohon di mana terdapat sekumpulan hewan berbulu menghiasi dahannya, Nil menjelaskan kalau dia sering diikuti kemungkinan besar sebab rasa penasaran padahal masing – masing telah hidup cukup lama berdampingan. Lagi pula lembah itu juga sebenarnya sarang mereka.


“Baiklah....satu, dua, tiga, huppla....”


“Eh? Woaaa....!?”


SYU! JDAK! JDUG! GRUDUK!!!


“Apa – apaan kau pak tua sial!?” Arya mengumpat sembari memegangi kepalanya yang perih akibat terjatuh.


“Saatnya kau membiasakan diri di dekat Essence! Berjuanglah! Aku akan menjemputmu satu bulan lagi! Kalaupun bisa naik kemari kau tak tau jalan kembali ke lokasi sebelumnya bukan? Kekeke, jangan sampai mati ya!”


“Satu bu—kau gila ya!? Cepat bantu aku keluar!”


“Aku mempunyai empat peliharan cukup kuat di situ, kau kemungkinan membutuhkan waktu seminggu untuk mengalahkan tiap dari mereka. Jadi sebaiknya kau nikmati saja” teriak Nil melambai ceria.


“Kau ini bica—“


Arya langsung memucat saat sekumpulan makhluk kecil berbulu yang disebut kelinci oleh Nil tadi mendekatiknya terus bestranformasi menjadi setinggi lima meter dipenuhi otot serta mulut berhias taring tajam.



ROAAARRR!!!


“Oh sial....seingatku aku tidak pernah membolos kelas biologi tapi sejak kapan KELINCI BISA MERAUNG!? Bukankah kalian makhluk mamalia yang imut!? Aaaaa.....awas saja kau setan tua!!!” jerit Arya melesat untuk menyelamatkan diri.


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.

__ADS_1


__ADS_2