Elementalist

Elementalist
Chapter 251 - Sumpah Hidup-Mati


__ADS_3

“Ada yang bisa menjelaskan kepadaku mengapa kita semua berada di atas tembok terluar sebuah kota yang akan segera diserang memakan pasta tepat sebelum perang besok pagi?” ujar Timothy kebingungan menatap bergiliran antara piringnya dengan pemandangan janggal dihadapannya.



“Tanya gadis disebelahmu....” Arya membalas sembari menuangkan saus dari salah satu kuali untuk Hachiru dan Kyuran.


“Lexa?”


“Mummhmhmhmm...arffff.....emuuuhhh”


“Hah....lupakan....mustahil mulutnya kosong dalam situasi begini....” kata Timothy menghela napas pertanda menyerah kemudian memutuskan ikut serta menikmati masakan tersebut.


Arya menatap semua orang dalam lingkup acara kecil – kecilan itu, sesuai permintaanya Kevin mengundang para Elementalist, Alalea, Eridan, Callista, Kizuna, Ryan, Diondra, juga seluruh anggota Nyanko Kyōdai.


Namun gerakan matanya tiba – tiba berhenti karena melihat sang Blue Witch nampak memutar – mutar piringnya penuh selidik, Arya tersenyum tipis lalu dalam hati memuji kepekaan Diondra lalu akhirnya menyeletuk.


“Bukan seleramu?”


“Eh tidak?! Maaf aku tidak bermaksud begitu, aromanya enak sekali kok hanya saja....” Diondra buru – buru mencari alasan.


“Ada apa Diondra? Kau bisa memberiku jatahmu kalau sudah kenyang?” tawar Pinka menjulurkan tangan.


KRUYUKKK....!


Bunyi keras barusan disambut oleh gelak tawa semuanya dan wajah merah merona Diondra, dia sigap menekan perutnya terus menyembunyikan mukanya akibat malu. Tak ada satupun orang asing yang melihat kegiatan mereka akan mengira selepas malam ini masing – masing punya kemungkinan sulit berkumpul lagi atau bahkan mustahil dapat bersama kembali.


“Hei hei hei semuanya ayolah, Diondra cuma sedang bingung karena menjaga gravitasi kota....” Arya mengingatkan agar kawan – kawannya berhenti .


“Ahahaha....ada benarnya juga sih....hap....” timpal Diondra mengambil suapan pertama.


Matanya langsung melebar jelas sekali kaget dengan rasa makanan itu, dalam hitungan menit entah berapa kali sendoknya bergerak ke mulut. Ekspresi berserinya meyakinkan Arya dirinya telah melupakan kejadian sebelumnya.


Usai memastikan setiap orang sudah mendapatkan bagian mereka, ia bangkit terus berjalan menuju tepian tembok. Pandangannya lurus menuju perkemahan musuh, barisan cahaya dari iring – iringan para pengungsi membelah kegelapan malam itu. Kurang lebih tepat enam puluh detik berikutnya Arya akhirnya bicara lirih, “Berdiri....”.


SRAKK....!


Dua puluh empat individu disitu bergerak serentak mengikuti perintahnya, mereka saling bertukar pandang aneh bertanya – tanya mengapa hal tersebut dapat terjadi. Belum sempat siapapun berkomentar Arya kembali memberi arahan berikutnya.


“Sekarang menoleh kesini dan jangan bergerak.....”


“Apa – apaan!?”


“Badanku!? Kaku!?” Kurobara berseru dengan urat – urat menegang pada sekujur tubuhnya.


“Arya sialan!? Kau pasti melakukan sesuatu kepada masakan tadi!? Ugh....!?” teriak Asuna kesal.

__ADS_1


“Sausnya lebih tepat, Obedient Elixir....” Arya berbalik santai sambil menunjukkan botol kaca kecil kosong.


------><------


“Ramuan pembuat patuh?”


“Yap, meskipun efeknya hanya berlangsung sekitar sepuluh menit saja sih. Dan berhenti menatapku memelas begitu karena mustahil akan kuberikan resepnya kepada kalian bertiga....” jelas Arya mengarahkan telunjuknya begiliran dari Timothy, Ryan, kemudian terakhir Kinichi.


“Eh!? Kena—“


“Apa kita sungguh harus membahasnya? Orang bodohpun pasti tau benda begini tak boleh jatuh ke tangan salah seperti kau, kau, juga kau.....”


“KAU MEMBUAT KAMI TERLIHAT LAYAKNYA PEALAKU KEJAHATAN TIDAK BERMORAL!?”


“Kenyataan memang demikian.....”


“Jangan – jangan.....” Alalea nampak terperanjat.


“Benar sekali....”


Arya sempat cemas karena kedatangan si putri Elf agak terlalu cepat, untung saja waktu itu ia kurang fokus dan tidak memperhatikan kalau Arya tengah menuangkan ramuan tersebut. Obedient Elixir merupakan salah satu ramuan istimewa yang tertera pada buku tua Alchemist perpustakaan miliknya.


Keraguan Diondra sebelumnya menurut Arya akibat ada kemungkinan dirinya menyadari keanehan dalam hidangan pada piringnya sehingga berusaha menganalisis, namun untungnya berkat sedikit dorongan akhirnya dia ikut menyantapnya.


“Sejujurnya aku merasakan aura sihir tipis menyelimutinya tadi....ternyata....” celetuk Diondra pelan.


“Ckk?! Aku bahkan tidak mampu mendeteksinya sedikitpun!? Dasar licik!? Oi Uban – san!? Jangan bilang kau ingin melakukan hal sama saat di Magihavoc!? Buang jauh – jauh pikiran bodohmu!? Kami mengenalmu dengan baik!!!” bentak Ryan gusar.


“Memangnya apa yang Tuan Arya lakukan?” Midori menimpali.


Ryan terdiam sebentar, dia sudah berjanji tidak membocorkan hal ini kepada siapapun sebelumnya tentang bagaimana Arya merencanakan pengkhianatan menyakitkan final Five Heavenly Stars Tournament agar seluruh anggota The Figment Squadron membenci mereka berdua lalu tidak terkena hukuman sebab membantu para pemberontak.


Semuanya terlihat terkejut karena baru pertama kali mendengar kisah ini, Arya sengaja meminta Ryan menutupinya soalnya sadar betul hal tersebut akan menyebabkan pro dan kontra berbagai pihak. Tindakannya sekilas nampak mulia tetapi dilain sisi agak gegabah padahal mempunyai kesempatan mengurangi kekuatan pihak lawan jika kesalahpahaman ras Witch barusan dibiarkan.


“Kau sungguh berpikir mampu membuat kami berpikir demikian?!” geram Selena.


“Terima kasih atas perhatian kalian.....sayangnya bukan begitu rencanaku....Digitus Promissionem.....”


Arya mengeluarkan tongkat sihirnya terus mengetuk tanganya sambil mengucapkan mantra tadi, sebuah benang tipis bercahaya terang muncul mengitari kelingkingnya menyebar ke setiap tangan orang di sana dan menjerat jari serupa. Kegiatan sama persis yang dulu dia lakukan bersama Kenya Weahl sewaktu menukar satu resep ramuan demi penelitiannya.


“Ini!? Sumpah Hidup-Mati?!” Ryan bersama Diondra berseru berbarengan.


“Arya?! Jangan bilang kau ingin kami berjanji untuk membiarkanmu bertarung sendirian!?” Nashumi menatapnya tak percaya.


“Hummm....tidak, sepertinya prasangka tadi agak sedikit bodoh melihat jumlah pasukan musuh....”

__ADS_1


“Lalu apa?! Kau mau kami diam menyaksikanmu melakukan semuanya?! Aku muak melihat punggungmu!? Berhentilan bersikap sok keren dan hargai hidupmu sendiri sialan!?” bentak Asuna naik pitam.


“Ouuhhh....manis sekali, kau mengkhawatirkanku? Mau pergi berkencan sekali lagi sebagai gantinya?”


“Ap—“


“Bercanda bercanda aku cuma berusaha mencairkan suasana tegang ini hahaha.....permintaanku adalah semisal aku tewas dalam pertempuran, tidak ada yang boleh menyusulku entah itu melalui bunuh diri, meladeni pertarungan konyol menghadapi musuh jauh lebih kuat, dan seterusnya....” Ekspresi Arya berubah serius.


Benang sihir Arya memancarkan energi kuat menandakan terkonfirmasinya pengajuan janji, dalam pelaksanaan Sumpah Hidup-Mati harus ada persetujuan dari kedua belah pihak. Karena tau pasti teman – temannya akan menolak, disitulah fungsi Obedient Elixir diperlukan.


“Tida—“


“Dilarang melakukan penolakan....”


“Ugh...!?”


Seluruh usaha untuk menggagalkan pelaksanaan ritual itu terhenti seketika, Arya heran mengapa mereka semua hampir menggigit lidah masing – masing demi membatalkan kontraknya. Secara mengejutkan tiba – tiba mata Callista juga Kizuna menyala terang.


“Jangan lanjutkan....!!!”


“Maaf MiLady, ditolak....Break!” Arya berubah ke dalam mode Servant sembari tersenyum.


PRANG!?


“Apa!?” Callista jelas terkejut perintahnya mampu ditepis oleh Arya.


Kizuna mencoba hal serupa memanfaatkan posisi Arya sebagai Guardian Orb namun sama – sama tak membuahkan hasil, Arya sudah sejak lama mampu mengontrol setiap perubahaanya berkat Three-Colour Emperor Eye. Dia menganggukkan kepala sesaat sebelum berbisik untuk memberikan perintah terakhir, “Setujui sumpahnya.....”.


“KA....MI....BER....SE....DIA....!?”


BOOMMM!?


Semuanya kecuali Arya jatuh bertekuk lutut, benang sihir sebelumnya telah menghilang digantikan sebuah lambang berbentuk tengkorak hitam menghiasi kelingking mereka. Tubuh dua puluh empat orang tersebut bergetar hebat membuktikan betapa kerasnya usaha penolakan yang dilakukan, Arya berjalan melintas tanpa terlihat menyesal sedikitpun.



“Bagaimana jika kamilah korbannya nanti?” gumam Kizuna sehingga sang Elementalist Es menghentikan langkahnya.


“Tidak akan kubiarkan satupun dari kalian tewas, pegang kata – kataku....”


“Terus mengapa kau bersikap seolah cuma dirimu—“


“Entahlah, firasat mungkin. Lagi pula pemimpin musuh nampaknya punya dendam pribadi kepadaku, dan terakhir kalau aku sungguh mati. Elementalist hanya bakal kehilangan satu anggotanya kemudian kalian masih dapat melanjutkan tugas melindungi umat Manusia menggantikanku, ayo....ada rapat strategi perang yang harus kita hadiri....” Arya kembali bergerak menjauh meninggalkan teman – temannya dengan memasang wajah tanpa ekspresi.


“DASAR EGOIS....!?” gema teriakan itu mengiringi tiap pijakan kakinya namun ia tidak perduli.

__ADS_1


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.


__ADS_2