Elementalist

Elementalist
Chapter 192 - Wanio vs Arya


__ADS_3

Ekspresi terkejut kebanyakan orang membuat Rena keheranan, terutama kedua Putri Atlantos yaitu Diondra dan Edlyn yang notabene sudah menghabiskan waktu bersama Arya cukup lama. Penasaran, akhirnya ia pun bertanya.


“Ada masalah Tuan Putri?”


“Rena....A..Ar...Arya....itu....laki – laki?”


“Hmm? Tentu saja, apa kalian baru menyadarinya?”


“EH!!!???”


Para prajurit juga menganga lebar setelah mendengar pernyataan barusan, terutama beberapa orang diantara mereka yang ikut mengawal rombongan Elementalist menghadap Raja satu minggu lalu. Terbersitlah pikiran alasan mengapa Arya mampu dengan mudah mengalahkan Kepala Penjaga.


BLUSH!!!


Uap panas keluar dari kepala Diondra, dia segera berjongkok kemudian membenamkan wajah merah padamnya ke lutut. Kalau semua ini adalah kenyataan, berarti bisa dibilang Arya menjadi pria pertama yang memiliki hubungan cukup dekat dalam hidupnya sampai sekarang.


Karena sejak kecil Diondra hanya diizinkan oleh sang Ayah bermain bersama pelayan – pelayan wanita Kerajaan serta adiknya saja, selain tidak ingin ada lawan jenis berani menyentuh anaknya. Raja Neptune juga mau meminimalisir geraknya supaya lebih gampang menangani kondisi tubuh spesial putri pertamanya itu.


Edlyn sendiri masih menatap punggung Arya lekat – lekat sambil menggigit bibirnya, muncul dorongan untuk meninggalkan benteng lalu kembali ke kastil dan mengunci diri di dalam kamar tidurnya. Rasa malu menggerogoti tubuhnya akibat selalu bersikap terlalu dekat kepada Arya, penyebabnya adalah ia sempat menganggap si Elementalist Es sebagai kakak perempuan sama seperti dirinya melihat Diondra.


“Ayah....?” panggil mereka bersamaan.


“Hmm...?”


“Apa Ayah sudah mengetahuinya dari awal?”


“Tentu saja, lagi pula aku mengenal baik kedua Elementalist Es terdahulu. Itulah kenapa aku sukar memberikan izin bocah tersebut memberikan latihan sihir kepadamu” jawab Neptune kesal.


‘WAAA...!? Apa yang sudah kulakukan?! Jadi selama ini kakak berada dalam bahaya gara – gara usulanku!? Dasar adik bodoh! Adik bodoh! Adik bodoh!!!’ Edlyn memukul – mukul jidatnya.


‘Ugh....dan aku dengan polosnya pernah mengajak Arya menginap di rumah’ batin Diondra penuh sesal.


“KENAPA AYAH TAK BILANG DARI AWAL!?”


“Hah? Justru kalian berdualah yang aneh, tidak bisa membedakan jenis kelamin seseorang. Kok malah menyalahkan Ayah?”


------><------


Wanio menganggap misi pemberian Shayu berikutnya terlalu gampang, sehingga hanya membawa pasukan berjumlah empat ratus lima puluh orang saja dan lima Meriam Sihir Air. Menurut pendapatnya perisapan tersebuh sudah lebih dari cukup untuk menghabisi sisa – sisa prajurit penjaga Atlantos.


Kekhawatiran kakaknya serta saran memimpin seribu pasukan beserta Sepuluh Meriam Sihir terdengar sangat boros juga berlebihan. Oleh sebab itu, Wanio penuh percaya diri berenang ke perairan yang lebih dangkal agar mudah mengamati pertempuran.

__ADS_1


Dia menyukasi sensasi mengendap – endap kemudian menerkam mangsa seperti ini, ditengah gempuran tembakan. Wanio bingung ketika para Mermaid kembali ke dalam Kota, karena seingatnya selama pertempuran melawan Atlantos belum pernah kejadian seperti tadi terlihat. Prajurit mereka terkenal keras kepala dan berani mati.


“Apa ikan – ikan keparat itu akhirnya menyerah?”


Tak lama berselang, keluarlah empat sosok asing berenang santai menuju pasukan miliknya. Awalnya Wanio menganggap kalau pemuda – pemudi tersebut merupakan tumbal atau sebagainya, namun semua berubah ketika sinar cahaya menyilaukan meledak.


Sang Mythical Werebeast takjub melihat tiga orang berani menyerbu anak buahnya, semua ketenangan Wanio menghilang saat satu per satu Meriam sihir dihancurkan dalam waktu amat singkat. Ia bahkan tertegun beberapa menit sebelum menggertakan gigi murka.


Baru hendak menolong, sebuah tebasan pisau Agnet hampir membelah tubuhnya. Tanpa bisa menahan diri lagi, Wanio melesat ke bawah geram. Berjanji dalam hati akan mencabik – cabik dan memberikan kematian menyakitkan pada si penyerang.


Kemarahannya kian memuncak sewaktu orang itu dengan sangat terampil meladeni hujanan ganas serangannya, Wanio mengumpat ketika hanya berhasil memotong rambut pria tersebut. Keduanya berhadapan penuh waspada, ada satu hal menyebalkan bagi Wanio. Bocah dihadapannya tersenyum enteng, suatu tindakan yang tidak pernah dilakukan oleh musuh – musuhnya sampai sekarang kecuali Dua Belas Shio.


“Kau bukan Mermaid, siapa kau sebenarnya?”


“Jati diriku tidak penting, pertanyaanya adalah kau mau mundur baik – baik atau tidak?”


“GRRR.....KUCABIK MULUT ANGKUHMU BRENGSEK!!!”


“Baiklah, aku anggap jawabannya tidak”


BANG!!!


Arya menahan ayunan senjata Wanio menggunakan tendangan memutar kaki kanannya, mereka terus saling beradu jurus. Pertarungan tersebut menyebabkan air di sekitar bergetar hebat, pada satu kesempatan. Arya berhasil mematahkan kail Wanio akibat kecerobohannya dalam melakukan serangan membabi buta.


Sang Elementalist menghilang, detik berikutnya tiga hantaman keras bertubi – tubi menghujam sekeliling leher Wanio. Arya memutari tubuh Werebeast buaya tersebut dan mendaratkan tendangan kuat nan telak.


BUK! BAK! BUAKH!


“Teknik Taekwondo Pamungkas Aliran Lee; Se Ssangdung-i San”


Masing – masing tendangan Arya mengandung gelombang kejut yang menyebabkan bagian dalam tubuh Wanio bergejolak hebat. Seketika darah mengucur deras dari mulutnya, dia bertekuk lutut sembari memegangi bagian dadannya.


Arya sempat mengira semua telah berakhir, tetapi tiba – tiba Wanio bangkit menyatukan kedua tangan sebelum melepaskan serangan mematikan. Energi kuat menerjang punggung Arya, ia menarik napas dalam – dalam bersiap menahan.


“Thanatifóro Dánkoma!!!”


“Teknik Taekwondo Pamungkas Aliran Lee; Bangpaje!”


Arus air terdorong kuat ke arah berlawanan akibat kedua jurus barusan, sehingga Arya terpaksa melindungi matanya. Wanoi memanfaatkan momentum itu demi menyelamatkan diri, dia mengeluarkan suara mengerikan sebagai pertanda mundur bagi pasukannya.


Beberapa anggota yang masih tersisa langsung mengambil langkah seribu, berusaha kabur sejauh mungkin dari Kevin, Selena, dan Elizabeth. Ketiganya juga tak bisa melakukan apa – apa karena gelombang air sebelumnya.

__ADS_1


Arya berdecak kesal, buru – buru ia memungut salah satu batu kecil pada permukaan dasar laut. Mengalirkan Agnet serta kekuatan elemen es kemudian melemparkannya sekuat tenaga.


“Selena!”


Si gadis berambut biru melihatnya, menggunakan Leviathan Selena memutar operan Arya tuk menambah laju serta pengendalian airnya. Terakhir dia memberikannya kepada satu orang lagi.


“Kevin!”


Kevin menarik keluar Chac, sambil mengalirkan listrik betegangan tinggi. Bocah laki – laki pirang itu memukul kuat pemberian Selena layaknya pemain Baseball profesional. Batu tersebut melesat seperti kesetanan, seolah berjanji pasti mengenai targetnya.



“Teknik Sinkronisasi Tiga Elemen; Zig Zag Missile!!!”



WUSH!!! SYUU!!!


Peluru kendali tadi menembus pundak Wanio, rasa sakit luar biasa merayapi sekujur tubuhnya. Badan Wanio menjadi kaku serta kejang – kejang. Para anak buah yang masih tersisa berusaha membantunya, mereka cepat – cepat kembali tuk melaporkan semua kejadian dan membawa tubuh kritis Sang Mythical Werebeast Buaya Purba.


“Maaf Kapten, sepertinya aku meleset. Serangan barusan gagal membunuhnya”


“Tidak apa – apa, setidaknya kita berhasil memberikan luka parah kepada salah satu pimpinan musuh” kata Arya memuji kinerja ketiga rekannya.


“Hehehehe” Elizabeth tertawa cengengesan.


“Kerja bagus semuanya, waktunya kembali dan menerima sambutan hangat penduduk Atlantos”


Author Note :


Se Ssangdung-i San : Tiga Gunung Kembar


Bangpaje : Pemecah Gelombang


JANGAN LUPA JUGA MAMPIR KE TROIE :


*The King of Seoris Kingdom And His Children (Bing Lian & Bai Wen)***( ^ω^)**



^^^

__ADS_1


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.


__ADS_2