Elementalist

Elementalist
Chapter 145 - Serba Salah


__ADS_3

Para gadis menjalani hari – hari berikutnya dengan semangat rendah, sudah tidak ada lagi diantara mereka yang berencana memberikan cokelat untuk Arya saat Valentine akibat kejadian memalukan kemarin.


Terlebih banyak sekali orang yang menyaksikan peristiwa tersebut, rasa malu menggerogoti hati masing – masing. Kenapa bisa mereka ceroboh sekali tak memperhatikan tanggal secara benar, fakta itu makin konyol karena dilakukan bersama – sama.


Bertepatan empat belas Februari, Selena beranjak malas dari kasurnya. Waktu hendak melihat pantulan diri pada kaca, tanpa sengaja kakinya menyenggol sesuatu. Selena terlonjak kemudian hampir berteriak saking terkejutnya.


Penasaran, diapun menunduk sambil menggapai penyebab kejadian tadi. Sebuah bungkusan kecil berhias pita biru, di dalamnya terdapat sekitar sepuluh butir permen cokelat. Ketika membukanya, ternyata terselip selembar kertas yang sudah digulung pada pengikat.


“I..in...ini?! Sungguhan!?.....” wajah Selena langsung memerah begitu membaca pesan bertuliskan indah ‘Selamat Valentne” dari surat mini itu.


Cepat – cepat dirinya menutup mulut agar tak mengeluarkan jeritan histeris. Selena tau betul tulisan siapa yang ada di sana, hanya saja ia masih kurang yakin akan pengelihatannya. Bayangan cermin balik menatapnya, Selena berani bersumpah nampak sekilas asap mengepul dibalik telingannya.


“Masa sih? Tapi....kalau begitu....bagaimana cara aku membalasnya....? Seharusnya minimal kusiapkan saja satu kotak!? Ahh....bodohnya aku....!!!”


Tanpa menunggu lama, si Elementalist Air berpakaian lalu menyelinap keluar asrama. Selena berlarian mencari toko buka di tengah – tengah Distrik Perak yang sudah ramai sejak pagi karena hari libur.


Untung saja banyak stan penjual cokelat berjajar sekitaran sana, setelah membeli satu dan menaruh surat kecil sebagai balasan. Selena segera kembali ke Pusat Penelitian, terkikik geli sampai akhirnya tiba di pintu masuk Asrama Putri.


“Eh?”


Secara mengejutkan kelima Elementalist Perempuan bertemu, dari penampilan mereka jelas kalau masing – masing baru saja pergi ke permukaan.


WUSH!


“Ahahaha....”


Tawa canggung mulai terdengar, lima – limanya saling menatap cemas seperti pelaku kejahatan yang tertangkap basah. Namun ada satu kesamaan, mereka berlima menyembunyikan sesuatu di punggung.


“Silahkan masuk Asuna” celetuk Selena halus.


“Eh?! Eee....kupikir Rena duluan lebih baik”


“Hah? E..El...Elizabeth? Kudengar tadi kamu bilang punya keperluan mendesak”


“Aku?! Itu cuma omong kosong, hei Lexa? Kau juga berkata ingin mandi dan segera pergi ke suatu tempat bukan?”


“Huum, tetapi aku harus megikat tali sepatu terlebih dahulu. Kenapa tidak Sel saja?”


UGH....!?


Sebab tak ada yang mau mengalah dan sama – sama keras kepala, mereka setuju bergerak serempak. Kelimanya bergegas masuk kamar kemudian keluar kembali hanya sepuluh menit kurun waktu berselang.


Selanjutnya berlarian lagi menuju ke Ruang Latihan, membuka pintu bersamaan lalu jatuh bergelinding ke dalam saking buru – burunya. Ternyata disana bukan hanya ada mereka. Alalea, Callista, dan Kizuna telah duduk manis menunggu.


Tiga gadis ini saling menatap penuh rasa tidak suka sebelum akhirnya terkejut akibat kedatangan heboh lima Elementalist perempuan. Alalea berdiri diikuti dua putri lainnya, ia mengangkat sebelah alis sembari bertanya.


“Apa gerangan keperluan kalian datang kemari? Sepagi ini pula”


“Latihan pagi?” gumam Callista penasaran.


“Aneh sekali....” Kizuna memiringkan kepala.


“Brrr....terserah dong! Inikan rumah kami!” protes Elizabeth.


Ketika perdebatan baru hendak dimulai, suara langkah kaki juga kuapan seseorang mengalihkan perhatian para gadis. Si pendatang berhenti tepat di depan ruangan.

__ADS_1


“Hmm? Sudah terbuka? Tumben seka—“


“ARYA!?”


“WAAA!!!”


Sang Elementalist Es hampir membanting kembali pintu tersebut karena kaget, dia memegangi jantungnya sambil memperhatikan orang – orang di situ. Seakan bertanya – tanya ‘ada apa sih?’.


“Eh?”


Barulah perempuan – perempuan itu sadar kalau yang lain juga mengeluarkan bungkusan cokelat, walau masih tak tau apa alasan masing – masing. Berusaha memimpin, Selena maju terlebih dahulu kemudian berterima kasih.


“Terima kasih atas cokelatnya!”


“Kau bermimpi ya? Cokelatnya diberikan ke aku!” ujar Kizuna heran.


“Hah? Apa maksudmu? Kak Arya itu memberi cokelat padaku!” Elizabeth mendelik.


“Salah! Salah! Salah! Pasti untukku kan?!” Alalea bersikeras.


“Argh....! Berisik! Mari kita buktikan saja kalau begitu!” kata Asuna kesal.


“Baik! Siapa takut! Satu! Dua! Tig—Eh???”


Mereka semua menunjukan cokelat yang ditemukan pada kamar sendiri tadi pagi, lalu menatap bolak balik antara Arya dan bungkusan ditangan.


“Kalian ini meributkan apa? Aku sengaja mengirim untuk semua, sudah kusesuaikan dengan selera tiap orang. Terutama dirimu Callista! Pastikan dimakan, aku harus meneteskan darah segar demi adonan itu”


KRAKK!!!


“Yo selamat pagi semua, hari yang cerah! Oh iya ngomong – ngomong terima kasih tuk cokelatnya Kapten! Enak sekali!” seru Timothy penuh semangat ketika memasuki Ruang Latihan.


“Huum. Sama – sama, sini bayar lima ratus ribu”


“HAHH!?”


Empat teman laki – lakinya juga mengangguk setuju dan memperlihatkan cokelat milik masing – masing. Tenaga menguap begitu saja dari kaki kedelapan perempuan tersebut, semua bertekuk lutut menghadap lantai seolah seseorang menaruh batu besar pada punggung mereka.


‘Bahkan pria juga dapat???.....’


“K..ka..kawan – kawan? Kalian tidak apa – apa?” Arya bertanya sedikit takut.


“AR...YA....!!!”


“HIYY!?”


“BISAKAH KAU MEMPIKIRKKAN PERASAAN ORANG LAIN SEBLEUM MELAKUKAN SESUATU!!!” teriak Asuna mencekik lehernya.


“Woa!? Sabar! Justru karena aku memikirkan perasaan kalian makannya kubagikan untuk semua!”



“BUKAN ITU MAKSUDKU DASAR BODOHHH!!!”


“KYAAA!!!”

__ADS_1


------><------


“Ugh....aku tidak pernah mengerti wanita...., kenapa tak ada gadis sederhana sepertimu sih....Amira?” gerutu Arya berjalan pelan supaya nyeri tubuhnya berkurang.


Dia sedang dalam perjalanan menuju ruangan Pengawas Astral, kabarnya ia mendapat sebuah misi khusus lagi kali ini. Namun semoga saja mudah, kepalanya dipenuhi banyak masalah beberapa waktu terakhir.


“Hmm? Ini....??? Bau bawang” dia berhenti tepat sebelum mengetuk pintu.


TOK! TOK TOK!


“Masuklah”


“Biar aku yang bukakan, lama tidak berjumpa Shiro”


“Apa yang kau lakukan di tempat ini Wibu Sialan?”


“Kukuku...., entahlah. Siapa yang tau? Hihihi....” Ryan tertawa santai.


------><------


Astral menjelaskan garis besar tugas kepada Arya, ekspresinya makin memburuk seiring berjalannya waktu. Ketika selesai, ia langsung mengangkat tangan tuk memastikan sekali lagi.


“Pengawas? Maksud anda? Aku harus....”


“Benar, pergi bersama Tuan Gerrow”


“Ohh....tidak, cobaan apa lagi ini?” bisik Arya lemah.


“Hei ayolah! Tidak buruk kok, kita akan menjelajahi dunia sihir berdua. Bukankah itu sinopsis yang bagus?” Ryan menenangkan.



“Kepalamu!”


Misi tersebut diberikan oleh salah satu mata – mata Pax, beliau mendengar kalau para Witch mulai melakukan pergerakan. Akan diadakan sebuah Turnamen Sihir berskala besar di Ibukota Magihavoc, lima akademi sihir hebat dipastikan ikut serta meramaikan ajang ini.


Tujuan utamanya adalah mencari bibit unggul lalu diberi pusaka – pusaka serta sihir tingkat tinggi suapaya dapat menjelma sebagai pilar utama ras Witch dalam perang. Arya dimintai tolong menggagalkan rencana itu.


“Kenapa aku? Bukan penyihir lain saja” tanya Arya bingung.


“Itulah alasan saya meminta Ryan menemani anda”


“Bukan begitu maksudku!”


“Kita membutuhkan kemampuan anda Tuan Arya, para Witch memiliki perangai yang sangat buruk. Terutama kepada Manusia. Ini bisa menjadi ancaman besar kedepannya, lagi pula anda memiliki bakat sihir” Astral berbicara hati – hati supaya dapat meyakinkan dirinya.


“Sihir Elf dan Witch sangat berbeda lho”


“Hehh....kalau masalah kecil begitu sih tenang saja, oleh sebab itu kita berdua akan mendaftar ke Divina Academy. Sekolah sihir terhebat sepanjang masa” ujar Ryan percaya diri.


“Eh?!”


- Divina Academy Arc Status : Begin -


__ADS_1


__ADS_2