Elementalist

Elementalist
Chapter 50 - Gadis Menyebalkan


__ADS_3

Setelah teriakan Lexa mulai terdengar, dengan terburu-buru Arya mencari keberadaan gadis itu. Dia melesat dengan tingkat konsentrasi yang sangat tinggi untuk menghindari semua perangkap dan rintangan yang ada.


Matanya memandang kesana kemari demi melacak dimana letak keberadaan Lexa, sebenarnya kebanyakan perangkap yang dilewatinya sudah terbuka. Mungkin karena sudah dilewati oleh gadis itu terlebih dahulu, hal ini memudahkan Arya untuk menambah kecepatan pencarian.


"Struktur tempat ini mirip sekali dengan Dungeon milik Rei" celetuk Arya pelan.


Akhirnya ia menangkap arah suara Lexa berasal, dia berbelok pada tikungan yang ada diujung lorong dan menemukan lubang berbentuk kotak besar di tanah. Pada dasar lubang tersebut terlihat sebuah kubus batu seekuran manusia dewasa. Teriakan histeris Lexa terdengar dari dalam sana.


"Lexa?! Lexa?! Kau tidak apa-apa?"


Gadis itu masih terus berteriak histeris, seakan suara Arya tidak bisa menggapainya. Karena merasa usahanya tidak membuahkan hasil, Arya mencoba sekali lagi. Dia menarik napas dalam-dalam lalu memanggil Lexa dengan sekuat tenaganya.


Kali ini berhasil, sepertinya Lexa mendengar suara Arya sehingga teriakannya berhenti digantikan oleh suara cegukan orang yang menahan tangis.


"Kau mendengarku? Bagaimana keadaanmu?" tanya Arya kali ini dengan suara lembut.


Lexa tidak segera menjawab, dari sudut pandangnya. Arya merasa Lexa seperti orang yang sangat ketakutan akan sesuatu.


"Aru....tolong....tolong aku...." rintihnya pelan beberapa saat kemudian.


"Pasti, aku akan menjemputmu dalam 5 menit. Jad kumohon, bertahanlah"


Arya mulai memejamkan mata, aura biru memancar dari dalam tubuhnya. Udara dingin itu dengan perlahan tapi pasti menyebar ke seluruh penjuru Earth Temple, dia bisa merasakan seluruh inderanya menajam.


"Maximum Sense" bisiknya sambil membuka mata.


Seluruh gambaran tempat itu masuk ke kepalanya seolah-olah film yang diputar dengan sangat cepat, teknik yang sedang dia lakukan ini masih baru. Dengan memanfaatkan udara dingin yang tersebar luas, Arya menganalisis sekitarnya.


"Dapat" seru Arya dan langsung bergerak.


Dia memiliki keyakinan kalau ada jalan lain menuju kubus tempat Lexa terkurung, Arya bisa saja langsung melompat ke dalam lubang itu. Tapi hal tersebut terlalu beresiko pikirnya, bisa saja itu adalah jebakan berlapis yang akan membuatnya terperangkap.


Setelah menemukan tangga untuk menuju ke terowongan bagian bawah, akhirnya Arya sampai dihadapan kubus batu itu. Dia sudah mematikan semua perangkap yang ada diterowongan bagian bawah Earth Temple dengan kekuatan es miliknya, ia kemudian mengetuk kubus itu untuk memberitahukan posisinya pada Lexa.


"Lexa aku sudah sampai, berusahalah untuk menjauh dari sisi sebelah sini" perintahnya.


Arya mencabut Mandalika dari sarungnya lalu mengambil posisi siap menebas, dia menguatkan tumpuan kakinya sambil berbisik pelan.


"Apa kau bisa melakukannya? Mandalika?"


"Aku adalah sebuah pedang yang melayani Tuannya, aku akan memotong apapun yang kau inginkan bahkan jika itu benda terkeras didunia sekalipun. Tapi, aku tidak akan bisa memotong bahkan selembar kertas sekalipun jika kau tidak menginginkannya. Semuanya tergantung padamu"


"Bagus sekali, kalau begitu ayo kita potong kubus ini tanpa melukai Lexa"


Dengan sekali ayunan, sisi kubus itu terbelah rapi menjadi dua bagian. Arya lalu menarik salah satunya agar bisa menjadi jalan keluar bagi Lexa. Saat kubus bagian dalam mulai terlihat, ternyata Lexa sedang duduk sambil menutup mata dan kedua telinganya sekuat tenaga.


Arya memanggilnya dengan suara lirih, mendengar hal itu ia membuka matanya secara perlahan. Air mata mulai mengucur dari sudut kedua matanya. Secara tidak terduga Lexa kemudian langsung berdiri dari posisi duduknya dan menerjang ke arah Arya.


Arya yang tidak siap sama sekali dengan terjangan itu langsung terjatuh, Lexa memeluk tubuhnya dengan erat sambil membenamkan wajahnya ke pakaian Arya.


"ARYA....! ARYA....! ARYA....!" isaknya.


"Hei hei hei, ada apa?" tanya Arya kebingungan.


Sebenarnya Arya mempunyai sebuah rahasia yang tidak diketahui banyak orang, dia tidak tahan mendengar suara tangis perempuan. Jika hal itu sampai terjadi, maka ia akan merasa was-was dan pusing kepala seperti saat ini.


Kelemahan inilah juga yang sering dimanfaatkan oleh Reika, tapi dia hanya menyimpan hal ini sebagai senjata terakhir yang dia beri nama dengan Sister Tears. Karena Reika tau, kalau dia sampai mengeluarkan teknik ini Arya tidak akan menolak apapun permintaanya.


"ARYA....! AKU TAKUT...., TAKUT SEKALI...." Lexa melanjutkan dengan tubuh gemetar hebat.


Arya kemudian berusaha menenangkan gadis itu sambil terus mengelus kepalanya, dia sebenarnya tidak tau apa yang terjadi pada Lexa. Namun ia yakin kalau gadis itu benar-benar ketakutan, sebab itu adalah kali pertama Lexa memanggil namanya.


-----------------------------<<>>-----------------------------


"Kau....kau mempunyai fobia pada kegelapan dan ruang sempit?" ujar Arya heran.


"Umm" sahut Lexa sambil mengangguk dengan posisi yang masih berada didekapan Arya.


Arya menggeleng-gelengkan kepalanya, dia tidak percaya kalau gadis yang sedang meringkuk didekapannya ini memiliki gabungan Nyctophobia dan Claustrophobia. Maksud Arya adalah....gadis ini adalah Lexa...., iya! Lexa yang itu! Tidak mungkin bukan?.


Saat Arya masih merasa linglung akan kenyataan yang baru saja dia terima, Lexa menyeletuk pelan.


"Aku....benar-benar orang yang menyedihkan bukan?"


"Mmm....? Karena memiliki fobia? Menurutku itu bia—"


"BUKAN! Bukan karena itu!" bentak Lexa dengan tubuh yang mulai bergetar hebat lagi.


Arya kemudian tidak berkata apa-apa, dia hanya menatap Lexa dalam diam. Untuk membiarkan Lexa melanjutkan.


"Aku tau, aku hanyalah seorang gadis menyebalkan yang bodoh....,


Lexa lalu mengeluarkan semua isi hatinya dihadapan Arya, dia bercerita bagaimana waktu kecil ia sering dihina dan dijauhi teman-temanya karena menyebalkan. Kebencian tersebut semakin bertambah karena Lexa selalu mengungguli mereka dalam segala aspek bahkan jika dia sendiri tidak berusaha keras.


itulah mengapa aku selalu memanggil kalian dengan panggilan konyol, aku mencari perhatian dari kalian dengan cara itu. Aku tidak ingin hal yang sama terulang lagi....Arya....aku takut....aku takut....akan dijauhi oleh kalian karena aku menyebal—aw!?"


Arya menyentil kepala Lexa sebelum dia menyelesaikan kata-katanya, gadis itu meringis pelan sambil menatap Arya kesal dengan mata berair.


"Sakit tau! Apa-apaan itu!?"


"Kau ini....memang bodoh ya?" Arya balik bertanya dengan mata kosong.


"KAN AKU SUDAH BILANG KALAU AKU INI MEMANG BOD—"


"BUKAN ITU MAKSUDKU DASAR LAMBAT!" Arya balas membentak sampai membuat Lexa terlonjak kaget.


Arya lalu menambahkan dengan wajah serius, "Kau harus bisa membedakan mana orang yang tulus kepadamu dan tidak, dewasalah Lexa. Apakah kami terlihat seperti orang-orang itu dimatamu?"

__ADS_1


Dengan wajah cemberut Lexa menggelengkan kepalanya, ia mengerti apa yang Arya maksud. Para Elementalist lainnya memang tidak terlihat seperti orang-orang yang menjauhinya saat kecil. Arya mengehla napas sambil berdiri.


"Kalau kau masih khawatir ditinggalkan oleh yang lainnya begini saja. Bahkan jika dunia ini dan seluruh isinya sekalipun menolak keberadaanmu ingatlah, aku akan selalu ada disini"


Arya tersenyum hangat sambil mengelus kepalanya, itu pertama kalinya Lexa merasakan hal yang seperti itu. Entah kenapa wajahnya terasa panas dan dia tidak sanggup mendongak untuk membalas tatapan Arya.


Dia menyentuh dadanya yang terasa sesak, jantungnya berdebar semakin cepat. Ia bertanya-tanya dalam hati apa yang sedang terjadi padanya? Apa dia akan mati?


"B..be...benarkah itu?" bisik Lexa masih dengan kepala menunduk.


"Huum tentu saja! Bukankah kita teman?"


KRAKK!



Raut wajah Lexa berubah jadi gelap, dia berdiri sambil bertanya lagi.


"Bisa kau ulangi?"


"Bukankah kita teman?"


"Benar sekali! Kita adalah teman, ngomong-ngomong Arya. bisakah kau mengunci perutmu?" tanya Lexa sambil tersenyum manis.


"Tentu, memangnya kenapa?"


"Tidak ada, lakukan saja"


"Mmm....seperti in—"


BUKK!


Lexa melayangkan pukulan keras ke arah perut Arya sampai membuatnya terpental jauh.


"Hah....puasnya....sekarang aku mulai mengerti" ujar Lexa senang.


"Uhuk....uhuk....ugh....MENGERTI?! MENGERTI APA?! DAN UNTUK APA ITU TADI?!" balas Arya dengan suara tercekat sambil memegangi perutnya.


"Aku mengerti kenapa Una, Ena, dan Eli sering kesal padamu tanpa alasan yang jelas. Juga mengapa Rose memintamu untuk mengelus kepalanya"


"HAH?! Apa urusannya hal ini dengan mereka berem—"


"Sudahlah, ayo! Kita harus mencari dimana letak makhluk itu, Elemental Beast aku datang...." potong Lexa sambil menyeret Arya yang masih terkapar.


"Hey tunggu dulu....! Lexa....!!!"


-----------------------------<<>>-----------------------------


Arya dan Lexa kemudian tiba disebuah aula yang sangat besar, langit-langit tempat itu mungkin setinggi hampir 20 meter. Pada tengah lantai aula terdapat simbol elemen tanah yang terukir dengan rapi.


"Tapi....dimana makhluk itu ya?" timpal Lexa dengan pandangan yang berkeliaran kemana-mana.


"Mungkin dia sedang bersembunyi, tapi Lexa. Ada yang ingin kutanyakan"


"Hmm?"


"Kalau kau memang memiliki fobia, kenapa tidak ada reaksi sama sekali darimu saat kita melewati Mole Pathway?" tanya Arya sambil mengangkat sebelah alisnya.


"Eh....? Bukankah itu sudah jelas? Arya....pikiranmu ini lambat sekali...." balas Lexa sambil menggeleng-geleng heran.


"Hah?! Kau bilang ap—"


"Tentu saja karena kala itu kau dan Tin berada didekatku, fobia itu hanya muncul saat aku sendirian. Bodohnya dirimu"


"Apa?! Apa gadis bodoh ini baru saja memanggilku dengan panggilan bodoh?!" ujar Arya dalam hati.


Tiba-tiba tubuh Lexa memancarkan cahaya kecokelatan, matanya juga ikut menyala terang. Sinar itu lalu menghilang secepat kemunculannya, pandangan mata Lexa berubah serius.


"Aku menemukannya, Arya tolong jaga tubuhku sebentar. Aku akan segera membuat kontrak dengan Elemental Beast" kata Lexa kemudian melemparkan barang-barang bawaanya pada Arya.


"Woi?! Jangan asal lempar seperti itu! Dan berhentilah menggunakan kata-kata yang bisa membuat orang lain salah paham!?" protes Arya geram.


"Memangnya aku mengatakan apa?" timpal Lexa polos.


"Lupakan, aku menyesal berbicara denganmu" jawab Arya lelah.


Lexa lalu mengambil posisi duduk ditengah aula, beberapa saat setelah itu cahaya cokelat tersebut muncul kembali. Arya bersandar pada dinding aula sambil bersiaga, pembuatan kontrak memang selalu menjadi situasi yang sangat rawan.


"Ini akan menjadi proses yang panjang dan melelahkan" katanya pelan.


-----------------------------<<>>-----------------------------


Sekitar 1 jam kemudian Lexa membuka matanya dan langsung berdiri, secara tidak terduga muncul sebuah rantai dari udara kosong yang menjerat tangan kanan miliknya. Tangan Lexa dan rantai tersebut menegang seolah-olah saling menarik satu sama lain.


Ujung lain dari rantai itu tidak dapat terlihat karena berada didalam sebuah portal yang membelah udara. Tubuh Lexa mulai terseret ke arah lubang dimensi kecokelatan itu.


"Butuh bantuan?" tanya Arya dari dinding aula.


"Tak apa, aku masih bisa" balas Lexa dengan gigi menggertak.


Dia lalu membuat kakinya diselimuti oleh tanah sekitar dan langsung menarik rantai itu sekuat tenaga, sebuah ledakan besar terdengar saat sesuatu berhasil keluar dari portal tersebut. Aula itu dipenuhi oleh debu yang bertebaran kemana-mana.


Tanpa menunggu lagi Arya segera menyusul ke tengah aula, disana Lexa dengan senyum berseri-seri sudah menunggunya sambil memeluk seekor hewan dipangkuan.


"Arya aku berhasil!" serunya senang.


"Ini kan? Jangan bilang padaku kalau ternyata makhluk ini yang kau sebut-sebut sebagai hamster sampai sekarang" kata Arya sambil memandang makhluk yang ada dipangkuan Lexa.

__ADS_1


"Mmm....iya! Dia imut bukan?"


"Ini tikus tanah dasar bodoh! Hamster dari mananya hah?!" bentak Arya kesal.


Makhluk itu adalah seekor tikus tanah berwarna cokelat dengan serpihan-serpihan batu pada kulitnya. Arya langsung bisa mengenali binatang itu sebagai tikus tanah karena kuku-kuku miliknya yang panjang.



"Memangnya beda ya? Bukankah mereka sama-sama makhluk kecil berbulu halus?"


"Ahh sudahlah, aku malas berdebat denganmu. Mana ada hamster memiliki kuku kotor seperti itu. Lalu....siapa namanya?"


"Rake, bukankah itu nama yang bagus?" jawab Lexa senang.


"Lebih mirip nama alat pembersih pekarangan rumah bagiku" bisik Arya sedikit menyindir.


Rake menatap Arya dengan tidak senang, seolah mengerti kalau anak ini sedang merendahkannya.


"Apa?! Kau punya masalah hah?" cibir Arya pelan.


"Dia bilang kalau kau menyebalkan" kata Lexa sambil terkkik geli.


"Dasar tikus tidak tau diri, pemilik dan peliharaan sama saja. Ayo kita pergi, aku punya pengalaman buruk berlama-lama ditempat seperti ini" Arya mengingat kejadian di Dungeon milik Rei.


Saat Arya bersiap menyalakan alat teleportasi, tiba-tiba matanya menangkap sosok binatang berbulu putih dipintu masuk aula. Makhluk itu mulai berlari ke arahnya.



"Rubah?" ujar Arya bingung.


"Ada apa?" tanya Lexa.


"Lexa apa kau melihat rubah itu?"


"Rubah? Rubah apa?"


"Menyingkir! Dia menuju ke arah kita!" teriak Arya.


Tapi semua sudah terlambat, binatang itu menerjang mereka berdua dan secara mengejutkan alat teleportasi mereka aktif lalu mengirim keduanya pergi entah kemana.


-----------------------------<<>>-----------------------------


Sementara itu di Underground Paradise sedang terjadi ketegangan, Vermaand dan para penasehatnya bergerak cepat menuju gerbang masuk kota. Sesampainya disana Ruck menunduk hormat pada sang Raja sambil berkata.


"Maafkan aku memintamu untuk datang Yang Mulia"


"Tidak apa, hal ini memang harus aku urus sendiri" jawab Vermaand tegas.


Diluar gerbang sudah menunggu dengan santai 11 sosok berjubah hitam. Mereka semua memiliki bagian tubuh hewan yang menempel ditubuhnya. Seorang laki-laki berambut hitam dengan warna merah diujungnya berdiri paling depan.


Pria itu memiliki tato berbentuk naga yang melingkari tangan kirinya serta tanduk gagah menghiasi kepalanya.



"Yang Mulia" sapanya pelan.


"Apa alasanmu datang kemari Garyu?" balas Vermaand tanpa berbasa-basi.


"Aku datang kemari untuk melakukan transaksi seperti biasanya Yang Mulia, tapi penjaga gerbang anda tidak mengizinkan aku masuk. Kalau anda tidak muncul lebih cepat mungkin aku sudah membobol gerbang kalian" jawab Garyu sambil tersenyum.


"Aku tidak keberatan kalian membeli senjata dari kami, tapi....haruskah kau datang dengan sepuluh Shio lainnya?"


"Sebenarnya....itu—"


"Kami yang meminta mereka datang" potong suara wanita.


Bunny dan Gokong menampakan sosok mereka sambil berdiri disebelah Garyu. Vermaand menatap mereka dengan mata menyipit.


"Aku memang sudah menduganya setelah melihat kemampuan kalian di Duo Battle Festival"


"Kalau begitu ini akan lebih mudah, kami ingin bertemu kedua anak itu lagi" kata Bunny bersemangat.


Vermaand diam sesaat, ia kemudian memberitahukan kalau kedua anak tersebut sudah tidak ada di tempat itu. Seketika itu juga udara terasa berat, ekspresi Bunny berubah buruk.


"Jangan berbohong padaku!" gertaknya.


Garyu segera mengangkat tangannya untuk menghentikan gadis itu, ia menatap Bunny dengan tatapan sinis.


"Bunny, kita kemari untuk transaksi. Jaga sikapmu"


"Cih" balas Bunny kesal lalu mengayunkan sebuah tendangan yang membuat tanah disana terbelah.


"Aku minta maaf atas ketidaksopanan ini Yang Mulia" Garyu meminta maaf sambil menunduk.


"Huh....kalian memang keras kepala, ngomong-ngomong dimana Nezumi?" tanya Vermaand sambil menatap orang-orang yang ada dibelakang Garyu.


"Tetua Nezumi tidak ikut bersama kami, karena dia sedang melatih anggota baru"


"Kalau begitu kau bisa melupakan transaksi ini, aku hanya akan berbicara pada kalian jika pak tua itu ada disini"


"Untuk ukuran orang kerdil kau cukup angkuh ya—" celetuk Gokong dengan toya yang sudah mengarah ke Vermaand.


"Gokong! Hubungi Tetua segera, beritahukan padanya apa yang terjadi" perintah Garyu.


Gokong mendengus kesal lalu segera melaksanakan perintah, Garyu meminta maaf sekali lagi pada Vermaand. Raja Dwarf itu hanya mengggeleng-geleng sambil berjalan kembali menuju Underground Paradise. Saat Vermaand sudah tidak terlihat Garyu menyeletuk pelan.


"Aaahhh....tubuhku sudah gatal sekali ingin membakar makhluk cebol angkuh itu"

__ADS_1


__ADS_2