Elementalist

Elementalist
Chapter 288 - Unbeatable


__ADS_3

Ten memperhatikan sekali lagi formasi penyerangan para Ksatria Pentagram dengan seksama, Santo Espada merupakan sebuah taktik pertarungan berkelompok milik ras Elf. Mereka membentuk sebuah kesatuan garis lurus layaknya pedang sesuai nama tersebut.


Saat ini sang Raja, Regulus maju menyerang secara langsung ditemani dua petarung lini depan yang kuat yaitu Falxus dan Razel. Seperti sudah diketahui khalayak umum keahlian keluarga Rodria adalah dalam bidang perang sehingga langkah itu dapat dikatakan tepat.


“Hmm....bagaimana kalau aku segera mengincar rajanya” gumam Ten sebelum menghilang dari pandangan.


“Yang Mulia!?”


WUSH....!!!


“Ahh begitu rupanya....”


Ten bersiul cukup kagum ketika Regulus berhasil menunduk menghindari tendangannya padahal telah diserang melalui titik buta, apakah panggilan Orion mempunyai pengaruh besar ataukah ada hal lain?. Tidak membiarkan lawannya berpikir lama kedua pengawal terdepan melepaskan tebasan energi untuk menjatuhkan Ten.


Sayang serangan barusan lenyap bahkan sebelum mencapai jarak satu meter, namun kesempatan berikutnya tak disia – siakan Regulus. Dari balik kepulan asap ujung pedangnya mengincar leher Ten, tetapi pria itu masih sempat menggeser kepalanya dan hanya membuat seluruh usaha si elf bermata emas cuma berhasil memotong beberapa helai rambutnya.


Ten menyentuhkan punggung tangannya ke bilah besi dingin milik Regulus lalu berputar memangkas jarak di antara mereka hanya dalam sekejap mata, yang Regulus ketahui berikutnya dia kesulitan bernapas akibat hantaman kuat menghunjam perutnya sampai terpental.


BUAKH!


“Uhuk!”


“Yang Mulia!? Dasar keparat!” Razel mengumpat usai menangkap pemimpinya bersama Falxus.


“Ini baru saja dimulai....bersiaplah....Yang Mulia”


ZING!


Kala Razel maupun Falxus makin mempererat pegangan keduanya pada senjata masing – masing bersiap menahan gempuran Ten, sosok misterius tersebut menghilang dari pandangan semuanya sehingga menyebabkan kepanikan.


Jantung para Ksatria Pentagram hampir berhenti berdetak sewaktu menyadari kemunculan Ten di hadapan Alba serta Orion. Ia sengaja mengubah sasaran di saat terakhir demi mengincar momen ini juga memperlambat bantuan tiga orang lainnya yang terlampau jauh posisinya.


“Tapi bohong....hehehe, kupikir sang Raja adalah pemegang gagang pedangnya. Taunya kau rupanya....” tatapan tajam Ten tertuju kepada Orion.


BLAARRR!!!


><


“Eh....merepotkan sekali” Ten menghela napas malas menyadari serangannya dihalangi dinding transparan.


Sihir perlindungan Alba berhasil menyelamatkan dirinya dan Orion dari mara bahaya, dalam sepersekian detik sesuai arahan Orion teknik Alba berganti dari mode bertahan ke menyerang. Ten bisa merasakan ada sesuatu energi menahannya agar tidak bisa lari, tanpa membuang waktu tiga orang tersisa segera menyergapnya dari belakang.


Teriakan kemenangan lima elf itu berubah menjadi tarikan napas kebingungan saat pedang masing – masing hanya menebas angin serta menggores tanah. Ten sudah berdiri santai di tempatnya semula tanpa kesulitan sama sekali.


“Bagaimana—“

__ADS_1


“Hmm....sekarang aku paham, alasan mengapa kalian dapat bergerak sangat terorganisir pasti karena jurus elf bermata biru di sana. Nampaknya kau juga yang memecahkan waktu penggunaan pelindung transparanku lalu mengabarkannya kepada para Demi-Human sebelumnya, keturunan keluarga Azuldria memang luar biasa....” puji Ten bertepuk tangan antusias.


“Cih!”


“Kenapa? Kau kesal karena segala siasatmu ketahuan?”


“Berisik! Biar kubungkam mulut banyak bicaramu makhluk tengik!” Razel menggeram sebelum maju secara membabi buta.


“Oi tungg—!? Si bodoh itu!?”


“Hadeh kau ini....tidak mengenal alat bernama cermin ya?” ujar Ten memasang wajah heran.


BUK! BAK! BUK! BAK! KRAKKK!


Razel tertegun ketika masing – masing tangan maupun kakinya patah begitu saja, disitulah ia baru tersadar sehingga muncul pertanyaan dalam benaknya. Bagaimana cara menang duel melawan orang yang bahkan tidak bisa kau ikuti pergerakannya?. Hal terakhir dalam ingatannya adalah sosok Ten menghilang sebelum dirinya sempat mendaratkan satupun tikaman.


Sekarang laki – laki tersebut muncul kembali, merebut pedang dari genggaman lunglainya akibat cedera tulang parah kemudian bersiap memenggal kepalanya. Namun kumpulan sihir putih menghujaninya sehingga gerakannya agak melambat, oleh karenanya Regulus dapat menyusul tepat waktu untuk menghalau tebasan Ten sementara Falxus berhasil membawa mundur rekannya.


TRANG!!!


“Oh Yang Mulia? Kau telah pulih? Padahal aku lumayan keras lho memukulmu sebelumnya. Bocah Blandria itu sangat merepotkan, sebaiknya aku mengincarnya dulu supaya tak mampu memberikan sihir penyembuh....”


“Kongens Autoritet!” Regulus mengabaikan ocehan Ten terus menatapnya dalam – dalam.


Regulus terperangah hingga mengeluarkan keringat dingin, teknik mata emasnya seharusnya mampu membuat siapapun bertekuk lutut. Efek paling dasarnya bisa menyebabkan orang merasa kesulitan berdiri seolah berat badan mereka bertambah berkali – kali lipat atau bahkan menjadi penurut kepadanya.


“Maaf Yang Mulia tetapi....otoritasmu tidak akan bekerja kepadaku, kau tau mengapa? Sebab aku merupakan orang yang independen....” bisik Ten membalas tatapan Regulus dengan kekuatan tak kalah hebat.


PSYUUU....!!! JDUAR! SRRR...!!!


“Hah....hah....hah....”



“Yang Mulia? Anda baik – baik saja?” Orion bertanya sambil memegang busur bercahaya terang.


“Iya....terima kasih”


Kelima elf kembali memandang ke arah terakhir Ten berada sebelum terkena tembakan dari Orion, kepulan debu di sana menyebabkan mereka waswas. Meski tau kalau serangan tadi memiliki kemungkinan kecil sukses menghabisinya, jauh dalam lubuk hati masing - masing berharap jika sang lawan telah tewas.


“Menganggetkan saja, dasar anak muda zaman sekarang tak punya sopan santun....” terdengar omelan pelan lalu perlahan seorang pria muncul kelihatan baru saja menangkap sebuah anak panah beraura kuat.


“Monster....”


“Selain memotong pembicaraanku sampai terdorong mundur beberapa meter menahan benda ini, sekarang kau malah mengataiku? Jahat sekali....”

__ADS_1


PSSS....!!!


“Dia....menghancurkannya!?”


“Reliquia kah? Sepertinya kalian mulai serius, mmm tombak hitam, kapak merah, pedang emas, busur biru, dan tiara putih. Ahh....terserahlah, lagi pula cepat atau lambat semuanya segera berakhir. Maju sini....” tantang Ten usai entah bagaimana memanggil kembali tongkat milik Gokong ke tangannya sembari tersenyum tipis.


><


“Hoammm....lumayan – lumayan”


Ten duduk di atas sebuah batu menenteng senjatanya, area sekitarnya telah hancur berantakan menandakan betapa dahsyatnya pertarungan beberapa saat lalu. Lima Ksatria Pentagram termasuk sang Raja Regulus D’Orodria tergeletak kehilangan kesadaran, mereka nampaknya menderita luka dalam cukup fatal.


“Ekh...si...al” Orion menyeret badannya keluar dari timbunan tanah.


“Hmm....ah kau masih bisa mempertahankan kesadaranmu rupanya. Hebat juga, tetapi dengan otak cerdasmu itu pasti kau tau kalau kalian sudah tidak bisa melakukan apa – apa lagi”


“Sebenarnya....seberapa kuat dirimu?”


“Aku? Hmm....bagaimana ya? Mungkin gambaran sederhananya adalah aku ahli dalam memakai berbagai jenis senjata. Namun sebenarnya aku adalah seorang pendekar pedang....”


“Terus kenapa—“


“Karena kalau sampai menggunakan pedang, aku akan kesulitan menahan diri untuk tidak menghilangkan anggota tubuh musuhku. Aku tak tau apakah kau bisa mendapatkan pencerahan dari—”


Tiba – tiba Ten terdiam, ekspresinya berubah serius. Dia menancapkan tongkat Gokong ke tanah dengan sangat keras sampai menyebabkan Orion bingung sekaligus ketakutan, baru saja hendak bertanya Orion kaget melihat ada tiga orang Ten berdiri di hadapannya. Satu saja telah sangat merepotkan, ia tidak bisa membayangkan jika orang tersebut sampai menjadi tiga. Mereka berpencar bersamaan dan hilang dalam sekejap.


WUSHH! JDASH!


><


JDESH!


“Sial!?”


“Aduh....licik sekali. Kupikir kemana ternyata di sini ya? Hehehe....” Ten menggoyang – goyangkan tangannya setelah menepis jurus elemen angin Xavier.


“Kapten?”


“Kak Arya? Kau masih hid—“


“Tunggu Elizabeth!? Teman – teman jangan mendekat! Dia....bukan Arya”



“Eh...kau cukup peka ya? Nona....kau mengingatkanku pada kenalan lama, kalian semua sih sebenarnya” gumam Ten menatap dalam – dalam seorang gadis bermata merah layaknya buah apel yang matang pada pohonnya.

__ADS_1


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.


__ADS_2