
“Ke mana aku harus membawanya?” gerutu si pria berambut putih.
Arya sedang menggendong M yang tidak sadarkan diri di punggungnya, ia bingung harus membopong gadis kecil tersebut sampai mana. Jika kembali ke Lembayung Hall menurutnya tak membantu sama sekali.
Lagi pula Arya takut akan dianggap sebagai seorang pelaku kejahatan kepada anak dibawah umur bila bertemu orang lain, sebenarnya dia penasaran mengapa M dapat berada di tempat ini dengan kondisi pingsan.
“Mau bagaimana lagi, sepertinya harus kembali ke asrama”
Karena melihat halaman kosong melompong, entah hilang ke mana kereta – kereta penjemput sebelumnya. Arya melangkah ke pinggir pulau melayang, hembusan angin kencang menampar wajahnya, nekat. Dia memberanikan diri mengintip permukaan di bawah.
“Eee....walau memiliki kemampuan pemulihan serta ramuan, kupikir tetap riskan kalau mengambil resiko melompat. Hmm....”
Ketika tengah berpikir, tanpa aba – aba M bergerak. Tubuhnya menggigil akibat terpaan udara bersuhu rendah tersebut, Arya langsung sigap melepas jasnya. Berusaha menjaga suhu hangat untuk perempuan itu.
“Maaf, kumohon bertahanlah sebentar lagi. Kita segera sampai”
“Uhh....siapa....? Aku....”
“Ssstt....jangan banyak bicara”
Arya mengencangkan pegangannya, si bocah berambut putih menghadap ke rantai raksasa pengekang pulau. Ekspresi wajahnya menunjukan keengganan luar biasa, dia mendekat lalu menyentuh beberapa kali besi berukuran besar tadi menggunakan kaki.
“Kokoh....kuharap”
Setelah menarik napas dalam – dalam dan menetapkan hati, Arya mengumpulkan seluruh keberanian tuk melompat. Begitu sepatunya bertemu dengan rantai suara mengerikan terdengar.
KLANG!!!
“Wawawa....jaga keseimbangan, tidak boleh melihat ke bawah. Hah....untunglah volume musik di dalam keras sehingga menutupi bunyi kurang bersahabat barusan, baiklah tujuan berikutnya asrama Candidate of Destiny....Hap!”
------><------
“KYAA....!!!MORGIANA GAWAT....!!!”
Morgiana baru saja tiba dan seketika harus menerima teriakan histeris Olivia, wanita tersebut berlari cepat ke arahnya sebelum memegang tangannya kuat – kuat. Nampak air mata menghiasi wajah cantik sang Arachne.
“A..ad..ada apa? Kenapa anda panik begitu Nona Olivia?”
“A..ak..aku kehilangan....jejak senior”
“Hah!?”
Olivia bertugas mengawasi Marylin Merlin selama tubuhnya menjadi kecil akibat Shooting Star Syndrome melalui bola kaca. Tetapi sial sewaktu keluar sebentar untuk buang air kecil, benda sihir itu malah menampakkan toilet yang baru saja dirinya singgahi.
“Anda....mengawasi tempat macam—“
“Tentu tidak! Aku yakin ada seseorang mengubahnya”
“Untuk apa? Hmm....pokoknya sekarang kita harus mencarinya terlebih dahulu” usul Morgiana mengambil alih kontrol bola kaca.
“Akh.....bagaimana ini!? Aku pasti kena semprot lagi huhuhu....” Olivia meratapi nasipnya.
“Sudahlah, semua orang melakukan kesalahan. Aku akan meminta bantuan Friska dan murid - murid lain”
“Umm....Morgiana!? Kau penyelamatku! Aku mencintaimu! Biarkan aku menciumu muuch...”
“Kyaa!!! Nona Olivia hentikan!!!”
Akhirnya Olivia memutuskan keluar untuk mencari Merlin secara langsung, energi sesama Arcenciel Witch terkadang saling menyahut satu sama lain. Sesudah sosok sang Yellow Witch menghilang, barulah Morgiana memfokuskan diri ke alat sihir di hadapannya.
__ADS_1
“Mary....kau dimana....?” bisiknya khawatir.
------><------
“Huh...huh...aroma sedap apa ini....” M bangkit dari posisi berbaing.
Sambil dengan sebelah mata masih terpejam, dia menatap sekeliling. Gambaran kamar asing memasuki kepalanya, suara penggorengan membuatnya menoleh. Saat itu juga gadis tersebut menyadari kalau dirinya tak sendirian.
“Yo? Bagaimana tidurmu?”
“Ekh...!??”
“Hmm....? Kok takut begitu? Aku bukan orang jahat”
Laki – laki berambut putih tadi berusaha tersenyum ramah padanya, namun M malah merapatkan selimut sembari menatap ngeri. Pandangannya cepat menyusuri seluruh pelosok ruangan seakan mencari barang hilang.
“Kalau mencari payungmu, dia tepat berada dibawah bantal” Arya menunjuk ke satu titik.
“Waa....Aura....” ujar M penuh syukur merangkul benda jingga itu.
“Hehehe...awalnya aku berusaha menaruhnya di tempat lain tapi kau tidak mau melepasnya”
SRANG! SRANG!
Selesai bilang begitu, Arya kembali fokus memasak. Tangannya cekatan menggapai segala sudut dapur demi mengambil alat juga bahan – bahan, M diam memperhatikan takjub. Baru pertama kali ia melihat hal seperti barusan.
Beberapa menit kemudian Arya meletakkan tiga piring hidangan berbeda di atas meja makan, sambil menarik keluar dua kursi. Pria tersebut membuat gestur tangan mengajak M tuk mendekat.
“Kemarilah, kau pasti lapar bukan?”
“Aura....???”
“Tenang saja, aku bersumpah tidak memasukkan sesuatu yang aneh ke dalamnya”
M turun dari atas tempat tidur lalu berjalan hati – hati, tangannya masih menggenggam erat payung jingganya. Begitu duduk, air liurnya hampir menetes. Ia menelan ludah berat berusaha mengendalikan diri.
“Kamu masih punya kebiasaan bicara kepada payungmu ya?” celetuk Arya.
“Eh?”
“Ternyata memang M, kamu belum berubah sama sekali”
“M..ma...maaf, tapi bagaimana kakak tau?” gadis kecil tersebut memiringkan kepala.
“Hah? Apanya?”
“Namaku dan juga berbicara dengan Aura, apa kita pernah bertemu sebelumnya?”
“Heh? Kamu lupa?”
“A...ak...aku....—ugh!?”
“HEY!?”
M mengeryitkan dahi kesakitan, Arya yang hendak menolong mengurungkan niat sewaktu tubuh mungilnya mengeluarkan cahaya terang. Anehnya badan Aryapun bereaksi demikian, saat keadaan telah kembali normal. Perempuan tanpa sehelai kain pada tubuhnya menggantikan posisi M.
“Marylin Merlin???”
------><------
“Ck!? Sampai kapan kau mau melotot dasar mesum!” Merlin memanggil selimut menggunakan sihir sebelum membungkus diri.
__ADS_1
“Maaf!?” seru Arya baru sadar lalu segera membuang muka.
“Laba – laba ceroboh.....lihat saja nanti. Mengapa aku harus berakhir bertemu dengan orang yang paling tidak ingin aku temui sih”
Arya cuma diam, otaknya sedang bergerak mengolah informasi mengejutkan barusan. Fakta kalau M, gadis di Winter Hollow dulu adalah Merlin membuatnya bingung bukan kepalang. Pertemuan mereka seakan telah ditentukan.
“Kau melihatnya....rahasia terbesarku....”
“Maksudmu....? Aku—“
“Jangan pura – pura bodoh, kau melihat tubuh dan kutukanku kan?!”
“Iya....maaf”
“Hah....kenapa malah runyam begini....”
Setengah jam berikutnya, Merlin bercerita mengenai kondisi istimewa miliknya. Dahulu orang tuanya pernah bersikap angkuh lalu mengutuk Tuhan, sebagai balasan. Anak mereka yaitu Merlin sendiri terkena dampak bernama Shooting Star Syndrome.
Dimana setiap bintang jatuh melewati bumi, kepribadian serta tubuh Merlin berubah. Semua ingatannya akan hilang, membuat kacau seluruh memori dalam dirinya. Oleh sebab itu tiap sebelum kutukan dimulai, Merlin menyiapkan seorang penjaga dan membuat catatan pengingat.
“Tapi....Tuhan Maha Adil, aku mempunyai kekuatan sihir luar biasa sejak dini sebagai gantinya”
“Di mana orang tuamu sekarang”
“Sudah meninggal, lagi pula aku tidak perduli. Heeh....untuk apa aku menghabiskan waktu membicarakan hal tak berguna denganmu?”
KRUYUK!
“Sebelum pergi makanlah dulu, aku memang membuatkannya untukmu” tahan Arya.
Merlin menghentikan langkahnya, kemudian kembali ke kursi. Karena lapar sepertinya dia tidak berkomentar apapun tentang makanan yang disajikan Arya. Setelah kenyang, perempuan tersebut langsung bergerak menuju pintu.
Tapi harus berhenti tuk kedua kalinya sebab Arya meletakan jubah di atas kepalanya, baru saja hendak protes, pria itu langsung memotong.
“Kenakanlah, setidaknya mampu menutupi tubuhmu. Yah....walaupun tak sebagus kepunyaanmu”
Merlin mendengus kesal tapi tidak berkomentar lebih jauh, Arya mengantarnya keluar asrama. Tepat sebelum menghilang, telinga Arya menangkap suara bisikan samar – samar.
“Terima kasih, masakannya enak sekali. Berjuanglah dalam turnamen karena kepalamu adalah taruhannya”
SYUU!!!
“Iya – iya, mmm....setelah dipikir – pikir lagi kenapa ia tak mengambil pakaiannya saja di kamar. Bukannya ini asrama, terlebih mau kemana coba malam – malam begini?. Ugh....tapi untunglah tidak ada yang melihat—“
“Tidak ada yang melihat apa?”
HIYY!?
Arya terlonjak kaget sebab seluruh anggota timnya sudah berdiri dibelakang sembari menatapnya tajam. Menuntut jawaban atas hilangnya dirinya ketika acara di Lembayung Hall.
“Eee....hahaha kalian membicarakan sesuatu?”
Ketika mau meledak kesal, seekor burung gagak datang dan hinggap di tangan Arya. Binatang tersebut membawa sepucuk surat, cepat – cepat Arya membuka perkamen itu lalu mengangkat sebelah alis.
“Apa isinya?” tanya Ryan penasaran.
“Jadwal Five Heavenly Star Tournament”
“EH!?” mereka buru – buru melihat.
__ADS_1
“Nampaknya kita harus menghadapi wakil Holy Fist dan Death Gates di babak – babak awal” kata Arya diikuti anggukan siap kawan – kawannya.