Elementalist

Elementalist
Chapter 272 - Nothing


__ADS_3

“Apa yang sebenarnya kalian berdua lakukan?” tanya Kris keheranan usai memisahkan pertikaian rekan – rekannya.


“Ini hanya salah paham tapi Moona tidak mau mendengarkan penjelasanku....” Lorem membalas sambil memunculkan kepalanya dari balik punggung Pride Sins.


“Simpan omong kosongmu itu untuk lain kali sialan!!!” geram Moona mengepalkan tangan dengan urat pelipis berkedut – kedut kesal.


Suara berisik pertikaian anggota Tujuh Dosa Besar diabaikan oleh para Fatum sekitar situ, Greenhook lebih memilih memulihkan kondisi maupun tenaganya dari pada terlibat pertengkaran konyol tersebut. Kedatangan pimpinan – pimpinan lima ras langsung memberikan perubahan signifikan, dalam sekejap Zayn dan lima makhluk panggilan Arya dilumpuhkan.


“Mau sampai kapan bermain – mainnya?”


Kata – kata Garyu menyebabkan Bunny juga Baekho tak bisa mengangkat wajah, keduanya menundukan kepala disertai badan gemetar. Sesungguhnya mereka hendak memberitahu kalau kemampuan musuh terutama yang sedang diduduki oleh Garyu menurun drastis sejak mantra Friska dipatahkan, waktu Percivale mencoba bangkit pijakkan keras mengakibatkan mukanya kembali terbenam ke tanah.


Sementara beberapa meter dari sana nampak Regulus meringkus Zayn, ia memegang kuat tengkuk juga pergelangan si Elementalist Kegelapan sampai sulit bergerak. Zayn mencoba memberontak namun kuncian raja baru ras Elf di belakangnya terlalu erat, napas berat Friska terdengar jelas setelah memenangkan pertarungan satu lawan satu menghadapi Silvesta meski mendapat sedikit bantuan menyebalkan.


Matanya bertemu dengan milik penolongnya, Merlin melayang santai mendekatinya diikuti tiga sosok berzirah hitam pekat kaku terseret yaitu Zulqar, Luisa, dan Giuliano bersamaan. Meskipun tidak bermandikan keringat muka Orange Witch menegang penuh konsentrasi mengontrol sihirnya untuk mengekang mereka.


“Kau terlihat sedikit kewalahan Friska....” sapanya pelan.


“Hah?! Mau kupinjamkan cermin?”


“Terima kasih banyak atas pertolongan anda Nona Merlin....” Hayha memberi hormat walau kedengaran kurang tulus.


“Kau tau aku tak pernah berniat menolong bahan perocbaan menjijikan sepertimu bukan?”


“Ahahaha bicara seorang Penyihir Agung pengganti ternyata cukup besar ya?


“Kau—!?”


“Abaikan saja, dia dan bosnya sama – sama berisik. Aku mengurus ketiga Undead khusus ini cuma demi membalas dendam. Camkan itu....sekarang mari temui pemiliknya” ujar Merlin menenangkan sahabatnya sebelum menoleh.


Hayha hanya berdecak kesal karena rencananya memancing Merlin gagal, perempuan tersebut menatap prajurit – prajurit berzirah yang berbaris rapi membentuk lingkaran sambil mengeluarkan aura mengerikan. Louis lebih dulu masuk ke sana tanpa mengucapkan apa – apa selagi empat petinggi lain menolong anggota – anggota kewalahan, Merlin mengarahkan ujung payung jingganya terus membisikan mantra lantang.


“Rakbong....”


SYUUU....!!! JDUASH....!!!


Sinar terang meluncur cepat kemudian menghancurkan seluruh lapisan kehitaman dari makhluk –makhluk panggilan tadi. Pelindung itu perlahan runtuh lalu memperlihatkan dua orang anggota Fatum tengah menyudutkan pemuda berambut putih di sebuah area pemakaman suram.

__ADS_1


------><------


“Hah....hah....hah....”


Asuna menyeka darah yang mengucur dari pelipisnya sambil berusaha mengatur napas, ia bersandar pada reruntuhan bangunan dengan tangan memegang erat Amaterasu Range Mode. Usai ledakan besar penyebab terputusnya informasi dengan kawan – kawannya duel Asuna menghadapi Dexi masih berlangsung sengit, adu panah mereka telah berlangsung lama bahkan mengakibatkan terciptanya lubang tak terhitung jumlahnya sekitar lokasi.


“Kalau sangat khawatir sebaiknya kau segera pergi, aku merasa situasinya semakin buruk....”


“Ugh—?!”


Tanpa membuang waktu Asuna langsung melemparkan dirinya menjauh dan cepat – cepat menyiapkan busurnya menghadap dinding tempatnya barusan, dia yakin sekali suara Dexi datang melalui balik tembok tersebut.


“Hei tenang....jika memang berniat jahat aku bisa membunuhmu tadi....”


“Apa maumu!?” Asuna menghardik keras.


“Seperti yang aku bilang, kau tidak ingin membantu temanmu?”


“Kau sungguh perlu menanyakan hal sudah jelas begitu!”


“Iyaa....makanya silahkan, aku bersumpah tak akan menyerangmu atau sebagainya....” balas Dexi serius.


Mendengar tuntutan gadis itu Dexi menggaruk – garuk kepalanya bingung, akhirnya sesudah terdiam cukup lama ia menjelaskan karena bentuk terima kasihnya kepada Arya telah menolong Callista. Entah sejak kapan Dexi merasa iba terhadap adik bungsunya namun sebelum operasi penyelamatan Arya memang dialah yang paling sering mengunjungi sel Callista untuk menemaninya bicara.


“Puas? Sana berangkat, kau pun dapat merasakan energinya bukan? Aku curiga ayahku bersama rekan – rekannya menemukan Kaptenmu....”


Asuna masih sedikit ragu, tetapi ucapan Dexi mengenai Agnet berbahaya berkumpul mengelilingi Arya benar dirinya rasakan. Dengan menarik napas dalam – dalam dia menguatkan hatinya dan berterima kasih lalu berlari bahkan tak perduli semisal ada anak panah mendarat pada punggungnya sekalipun.


Menyadari bunyi langkah kaki Asuna makin menjauh, Dexi memulai rencana menganggu keluarganya agar para anggota Pax terdekat dapat terlepas kemudian ikut serta menyusul ke medan perang utama.


------><------


Mengerahkan seluruh sisa tenaganya Asuna bergegas sembari mencoba memanfaatkan alat komunikasi supaya mengetahui titik – titik Elementalist lain berada, saat sukses mencapai area terbuka dia melihat Kevin bersama Timothy sedang bergumul menghadapi seorang Ghoul berkekuatan penuh.


Ketika Asuna menempelkan tangan ke mulut hendak memanggil, ia menyaksikan Louis mengangkat tinggi – tinggi senjatanya. Petir hitam melapisi sabit mengerikan itu siap dilepaskan kapan saja menuju Arya yang telah mencapai batasnya, Asuna mengumpat terus melompat tanpa pikir panjang.


“KEVIN!?” serunya kencang.

__ADS_1


Sang pemuda pirang menoleh kemudian segera paham maksud Asuna, tapi Sekitsu milik Avarum menariknya hingga terjerembab. Untungnya Timothy bertransformasi memanfaatkan kekuatanya elemennya menjadi sosok berzirah keren dan menebas ikatan terhadap Kevin sebelum menerjang Gluttony Sins supaya berhenti mengganggu.


“Uomo di Ferro!”


“Keparat kecil!” Avarum meraung murka mencoba memukul – mukul Timothy agar pelukannya terlepas namun dia tidak bergeming sedikitpun.


Kevin cepat – cepat mendekati Asuna kemudian membentuk sebuah busur petir berukuran jumbo menggunakan kemampuannya, sedangkan Asuna sudah menyiapkan pilar api sepanjang lima meter mengelilingi lengan kanannya.


“Teknik Sinkronisasi; Takemikazuchi!!!”


JGERR....!!!



Disertai gemuruh guntur luar biasa keras serangan gabungan berupa petir merah berekor api membara melesat hampir berbarengan dengan ayunan sabit Louis, berkat bidikan Asuna Takemikazuchi mengenai tebasan energi ciptaan Louis bahkan sebelum disadari semua anggota Fatum.


Sebuah ledakan aura panas ditambah sinar menyilaukan mengejutkan mereka, Louis melompat mundur sementara Mira dijemput oleh Hayha. Momen ini tak disia – siakan Zayn untuk melepaskan diri dari Regulus dengan menenggelamkan tubuhnya ke lantai.


Sewaktu efek jurus mulai meredup dan pengelihatan orang – orang kembali normal, muncul gelombang pasir tinggi mengincar Louis bersama rombongan. Menyadari bahaya tentu masing – masing ingin menghindar tapi secara ajaib muncul sulur – sulur tanaman berduri menjerat kuat.



BUMMM....!!!


Tsunami kecokelatan menimbun seluruh kelompok tersebut sampai tak terlihat lagi, ketika nampak pergerakan pada permukaan lapisan pasir barusan. Bongkahan – bongkahan batu berbagai ukuran menghujani layaknya rintik air saat musim penghujan.


Kesunyian akhirnya tercipta terus pecah akibat lubang hitam yang merupakan bayangan mengeluarkan dua pemuda, Zayn menempatkan sebelah tangan Arya sekitar lehernya sendiri demi membantunya berjalan. Beberapa detik berselang enam orang lainnya ikut menghampiri sambil memasang ekspresi khawatir.


“Ar—“


“Jangan lengah! Ini belum berakhir!”


SYUU....!!!


Benar saja aura merah pekat membumbung tinggi ke udara menembus timbunan pasir ratusan kilogram, perlahan pelindung raksasa bulat berwarna jingga keluar menuju permukaan tanpa ada goresan sedikitpun menghiasinya.


^^^

__ADS_1


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.


__ADS_2