
‘Tuan....? Anda serius?’
‘Iya, tolong rahasiakan dari yang lain. Aku hanya memberitahu kalian rencana ini....’
‘Tapi bagaimana caran—‘
‘Tenang saja....’
‘Mr.Gerrow!?’
‘Beliau bersedia meminjamkan mahakarya miliknya’
‘Anda terlalu muji, itu cuma coretan di tanah berumur puluhan tahun hehehe....’
‘Tolong jangan berkata demikian terhadap hasil jerih payahmu, namun kalian harus ingat ada tiga hal pemicu dilaksanakan rancangan darurat ini. Pertama, dibobolnya shelter pengungsian di Distrik Emas. Kedua, tewasnya salah satu Pengawas Ujian. Dan terakhir sinyal peringatan dariku....’
‘Tuan Arya....mustahil kami—‘
‘Kumohon....aku mempercayai kalian. Eridan...., Kinichi....’
“Kakak?”
“Eh?” Kinichi tersentak kaget.
Tanpa sadar ia melamun sesaat, gambaran Arya menundukkan kepala menghilang digantikan wajah khawatir Pinka serta Midori. Kinichi menarik napas dalam – dalam sebelum menepuk keras pipinya, tangannya mulai bergerak cepat mengirimkan koordinat Ryan ke seluruh pemilik alat komunikasi sambil meminta kedua adiknya berkemas.
“Hah? Sebenarnya ada apa kak? Jelaskan rencana yang dimaksud oleh Pengawas Varuq dong!” protes Pinka cemberut.
“Tak ada waktu! Cepat! Eridan? Orang – orang di lapangan aku serahkan kepadamu....”
“Aku mengerti, tapi kemungkinan sedikit terlambat akibat keparat – keparat ini....”
“Katakan dulu kenapa kak!?” dua gadis tadi semakin memaksa.
“Ckk! Karena kita akan pergi meninggalkan Elemental City!”
><
“Hmm....tiga puluh lima orang ya....kalian cukup berbahaya tapi sudahlah lagi pula kalian semua berkumpul di—“
SYUU....!!!
Semua individu dalam jangkauan Ten bergerak serentak menjauh usai mendengar peringatan Xavier sekaligus merasakan sendiri getaran Agnet tidak wajar pada pria tersebut, entah mengapa untuk pertama kalinya para aliansi membuang harga diri mereka di depan masing – masing.
“Ahh....lempar palu ke burung dara....sepertinya....aku terlalu cepat bicara. Sayangnya tidak akan kubiarkan semudah itu....” Ten mengangkat tangan kanannya setinggi dada dengan jari telunjuk dan tengah menempel.
“Perasaan tertekan ini!?”
“Sial! Terlambat!” umpat Xavier menengadah ngeri di mana lingkaran berwarna biru perlahan terlihat.
“Tundra Circle....”
__ADS_1
BLAST!!!
><
SUIT....!
“Lumayan....ternyata kalian tanggap juga. Walaupun tadi belum seberapa sih....” Ten berkomentar sembari bersiul santai mengedarkan pandangan menuju hamparan putih yang mengelilinginya.
Dia masih merasakan aura kehidupan cukup kuat dari kelompok barusan, meski semuanya mengalami cedera nampaknya tak terlalu parah. Ten tersenyum karena memang tujuan utamanya menggunakan jurus Tundra Circle agar mereka tetap berkumpul pada satu area, dan tentunya tiap pihak Pax dalam radius tekniknya tidak tergores sama sekali.
ZAP....!!!
“MATI KAU MANUSIA BUSUK!!!”
Tiba – tiba Greenhook dalam mode kekar muncul di belakang Ten siap menghantamnya menggunakan bogem seukuran ban buldoser, kekuatan ayunan pukulannya sangat dahsyat sampai bisa membuat manusia paling berani sekalipun gentar dibuatnya.
“Baju baru dibelai sayang....bagian seru dimulai sekarang....heh!”
“Ap—‘’
BUAKH! SRAT! KRAKK...!!!
Greenhook terkejut sebab bukannya menghindar Ten malah berbalik dengan seringai lebar sebelum menantang serangan itu menggunakan genggamannya sendiri. Saat kedua tinju bertemu, otot dan daging lengan Greenhook terlepas dari tulangnya seketika. Saking cepatnya kejadian tersebut ia lupa menjerit kesakitan lalu hanya menatap kosong setengan badannya yang hancur.
Begitu Ten hendak melancarkan hantaman susulan ada sesuatu benda kecil dilemparkan kemudian mendorong sang Goblin King hingga berhasil selamat. Baru saja Queri menghela napas lega di tempat persembunyiannya atas tindakan tadi perasaan dingin menusuk punggungnya.
“Kau tidak mungkin berpikir aku gagal menemukan lokasimu dari arah lemparan pergelangan tanganmu barusan bukan?”
“Ugh!“
BRUAKK...!!!
Ia terhempas sampai menabrak gedung berikutnya, belum sempat Queri memulihkan diri akibat kunjungan kejutan tersebut. Ten mencabut salah satu tombak dekat situ sembari mengalirkan kekuatan elemen es dan segera melemparkannya.
JLEB!
“Akh...!” erang Queri kesakitan karena tubuhnya tertancap ke dinding sekaligus tak dapat bergerak lagi.
“Untuk kelas Demon daya tempur kalian para Zombie cukup rendah, bahkan mungkin lebih lemah dari Succubus. Makannya kalian selalu bersembunyi memberikan bantuan berbekal kemampuan pemulihan, iyakan?”
SRAT!
Ten tiba dihadapannya lalu mengibaskan tangan, detik berikutnya seluruh bagian tubuh Queri kecuali kepala terlepas dari intinya. Meski seorang mayat hidup Queri tetap bisa merasakan sakit sehingga tindakan Ten benar – benar menyiksanya, tapi si pria malah cuek sambil menendang – nendang organ Queri menjauh agar mereka membutuhkan waktu lama menyatu kembali.
“Tampan? Maukah kau berdansa denganku?”
“Hmm?” Ten menoleh merasakan seseorang menepuk pundaknya.
“Petrify Radiance....!”
Ia menemukan wanita berambut ular menatapnya dalam – dalam menggunakan sepasang bola mata hijau menghipnotis, pancaran cahaya dari sana terus menyirami Ten kurang lebih satu menit namun efeknya belum kunjung terlihat.
“Euryale menyingkir! Kutukanmu tidak berpengaruh padanya!” teriak Moona menyadari rencana mereka gagal sayangnya sudah terlambat.
__ADS_1
“AKH!? KYAAAAAA.....!?”
Envy Sins mengeluarkan jeritan mengerikan sembari mundur menutupi mukanya, darah segar terlihat mengucur melalui celah jari – jari tangannya. Moona dan Avarum menggeram murka sebelum melesat maju meninggalkan dua rekan tersisa, Lorem melirik ke samping hendak menanyakan mengapa Kris tidak ikut serta namun langsung terdiam menyadari kalau tubuh sang Vampir menggigil hebat.
“Kau Gorgon yang sangat berani melakukan itu, tetapi jika sinar pembatu milik kalian mampu mengalahkanku mustahil diriku masih belum dihabisi sampai sekarang. Lepas.....” Ten memiringkan kepalanya santai.
Rasa sakit Euryale makin menjadi – jadi sampai akhirnya aura hijau keluar deras melalui sorot matanya, seketika seluruh korban membatu serta belum dihancurkan akibat kutukannya pada perang ini bangkit kembali.
“Brengsekkk!!!”
BANG!
“Oya? Kalian mau turut bermain?”
“Sial!!!”
Umpat Moona maupun Avarum karena cakar dan sekitsui mereka gagal mendarat di kulit Ten dengan jarak terpisah hanya beberapa jengkal, seolah terdapat pelindung transparan tipis menyeliputi orang tersebut.
Ten menggapai lengan kedua anggota Tujuh Dosa Besar itu menarik mereka ke dekatnya kemudian mendorong pelan perut masing – masing. Tetapi cukup dengan begitu saja musuhnya terpental entah kemana, kemampuan Wrath Sins dan Gluttony Sins seperti menghilang tanpa bekas.
><
“Baiklah, berikutnya....”
“Kris! Hey!? Lakukan sesuatu dia sedang menuju kemari!” desak Lorem mengguncang – guncang badan temannya namuh masih tidak mendapat respons.
Lorem menelan ludah berat bingung harus berbuat apa, dia yakin mustahil mengalahkan Ten mengingat si pria mampu menghajar seluruh rekannya semudah membalikan telapak tangan. Namun akhirnya Lorem memutuskan membaca kekuatan lawannya berbekal Clairvoyance.
“Eh....?”
Lust Sins terpaku karena angka yang muncul di matanya tak bisa dibaca, angkanya bergerak secara abnormal dengan kecepatan tidak wajar. Sewaktu masih mencoba mencerna hasil tersebut tiba – tiba Ten sudah berdiri di hadapannya padahal satu detik sebelumnya masih berada dekat lokasi babak belur Queri juga Euryale.
“Nona? Aku sarankan untuk menurunkan pandanganmu....”
“Hah?”
CRAT!
“Awww!?” Lorem mendesis sebab matanya mulai mengeluarkan darah.
“Jangan pernah mencoba mengukur hal di luar batas kemampuanmu....”
Ten mengabaikan Lorem sadar jika wanita itu tak punya hasrat bertarung maupun berani melihat ke arahnya lagi, dia lebih fokus kepada pria satunya yang sedang memegang pedang berwarna merah pekat serta mengenakan cakar kemerahan pada kedua tangannya.
“Usai Werewolf dan Ghoul tadi aku pikir Demon petarung sudah habis, masih ada Vampir rupanya. Kau lumayan serakah ya sampai memiliki dua Grimoire....”
“Ekh....”
SUR....!
“Kawan kau baik – baik saja? Kenapa diam te—pfftt!? Huahahaha....kau mengompol? Nampaknya darah dalam tubuhmu masih mempunyai trauma hebat terhadap mata ini....” gelak Ten menyibakkan rambutnya demi memperlihatkan pupil indah berbentuk kristal es.
__ADS_1
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.