Elementalist

Elementalist
Chapter 271 - Ketemu


__ADS_3

“Dua orang ini benar – benar merepotkan....”


Merlin berujar lalu membersihkan debu pada jubah miliknya, terlihat dia bersama empat petinggi aliansi Fatum lainnya menatap ke sosok pria bertangan satu yang masih berdiri tegak walaupun telah kehilangan kesadaran. Meski buntung, genggaman eratnya terhadap gagang pedang sebagai penyangga tetaplah kokoh.


“Dasar bocah keras kepala....” celetuk Kris sambil tersenyum tipis.


“KEPARAT!!!”


“Boss!? Hati – hati!?” keempat anggota Vanguard berteriak serentak melihat musuh mereka mengubah haluan.


Bahkan tanpa diperingati sekalipun Louis sudah menyadari kedatangan Po, si Pengawas Ujian menggunakan teknik khusus sehingga lengan juga kakinya berwarna kehitaman seperti batu bara. Saat Louis hendak mengayunkan sabitnya tiba – tiba Regulus menggambar semacam mantra sihir di udara.


“Afbøjning af Perfektion”



Seketika awan – awan terbelah akibat jatuhnya benda raksasa berujung runcing, pusaka tersebut bergerak cepat menembus punggung Po terus menancap dalam ke tanah. Darah segar menyembur deras dari mulut laki – laki itu, sekeras apapun ia mencoba untuk maju tidak membuahkan hasil seolah tubuhnya sendiri ikut menolak.


“Kau pasti gatal ingin membantu sejak tadi namun terhalang dinding energi buatan kawanmu....” komentar Garyu melirik malas.


“Terima kasih Yang Mulia....”


“Berhenti mengucapkan hal tak perlu” Regulus membalas dengan tampang kurang senang.


James, Shakespeare, Eric, dan Joana buru – buru mendekat kemudian meminta maaf atas kelengahan masing – masing sampai hampir menyebabkan sang pemimpin dalam bahaya. Louis hanya melambaikan tangannya seakan memberitahu mereka supaya tenang.


“Jadi....? Kita pergi begitu saja?”


“Apa yang kau harapkan? Mencabut nyawa mereka? Kau sangat jahat Merlin....”


“Aku tidak sudi mendengar kalimat barusan dari mulutmu kelelawar kotor....” hardik Merlin jengkel.


“Hohoho....lidahmu tajam juga, bagaimana menurutmu?”


“Terserah....jika kalian berpikir masih ada nilainya menghabisi mereka, waktunya berangkat menuju pertunjukkan utama” Louis menjawab tanpa menoleh kepada Kris.


Dia langsung melesat cepat disusul para anak buahnya, Regulus, Garyu, juga Merlin mengekor di belakang. Kris mengangkat kedua bahu sebelum mengikuti rekan – rekannya, sebenarnya kalau sejak awal bertarung serius ada kemungkinan hadangan Astral dapat disingkirkan secepat kilat.

__ADS_1


Tetapi kelimanya sengaja menyimpan kartu as sebab tau perjanjian damai ini cuma bersifat sementara, mewaspadai satu sama lain juga saling curiga memang sudah menghiasi rencana pembentukan aliansi itu. Mereka sadar betul cepat atau lambat akan menodongkan senjata menuju leher masing – masing, untungnya masalah tersebut dapat menunggu hingga kerikil terbesar yaitu Elementalist dibinasakan.


Perlahan pusaka panggilan Regulus mulai menghilang menyisakan Po yang terluka parah jatuh dalam posisi tengkurap, ia mengangkat kepalanya dan merayap seperti ulat mendekati badan sahabatnya. Meski rahangnya patah suara panggilan lirih terus terucap, “G....o....ja...ngan...ma...ti....”.


------><------


Mira nampak masih berusaha mencerna pemandangan di hadapannya, berharap menemukan lokasi persembunyian atau tempat krusial yang dapat menguntungkan pihaknya. Setelah memindai area sekitar entah tuk keberapa kalinya dia tetap punya keyakinan gerbang hitam maupun pagar tinggi itu adalah semacam kamuflase semata.


Kalau tidak mengapa pemuda ini berjuang sekuat tenaga melindunginya bahkan terus mencoba kembali kemari, pasti ada alasan penting dibalik semua tindakannya bukan?. Demikianlah isi benak Mira lalu karena belum juga menemukan jawaban ia akhirnya memutuskan bertanya, “Katakan padaku apa spesialnya? Kalian menyimpan senjata? Jalur evakuasi?”.


“Kau melihatnya sendiri menggunakan mata kepalamu, harusnya kau sudah paham....”


“Jangan bercanda!” bentak Mira kehabisan kesabaran.


“Apa aku terlihat sedang bergurau bagimu!!!”


“Lalu kenapa kau melindunginya bahkan menggunakan sihir kuno?! Pasti tidak mungkin tanpa alasan!”


“Itu....” Arya yang semula ikut tersulut api amarahnya gagal melanjutkan usai memperhatikan wajah lawan bicaranya.


“Cukup! Kalau kau tak mau memberitahu biar aku pastikan sendiri....”


Dengan langkah tangkas Mira mendekat sembari menyiapkan tongkatnya bersiap - siap semisal terdapat perangkap menunggunya, tapi sewaktu kulitnya menyentuh besi dingin gerbang bahkan memasuki area kuburan cuma ada kesunyian yang menyambut. Frustrasi, Mira berkeliling mencari petunjuk sayang semaksimal apapun memanfaatkan kelima inderanya hanya terdeteksi batu nisan sejauh mata memandang.


Ketika benar – benar mencapai ambang batas kekesalannya, Mira menggertakan gigi terus secara mengejutkan mengeluarkan percikan Agnet bagai listrik melalui tiap inci tubuhnya. Jika memang sebegitu baiknya mereka menyembunyikan rahasia tempat ini biar luluh lantakkan sajalah seluruhnya pikir Mira.


CTAAKK....!!!


Tepat saat Mira hampir menyelesaikan gerakan ayunan tangannya untuk melepaskan ledakan kekuatan besar Arya datang menahannya meski nampak sangat kewalahan berjalan, ekspresi Mira segera memburuk. Urat saraf pada pelipisnya berkedut – kedut pertanda murka dan tanpa basa – basi menghempaskan pria tersebut ke salah satu nisan terdekat.


BRUAKH!!!


“Ugh!?”


“Berhenti main – main denganku!? Katakan sejujurnya mengapa kau mementingkan tumpukan jasad tidak berguna!!!”


“A...ku sejak awal....memberitahumu....tak ada yang istimewa....” desis Arya pelan.

__ADS_1


“Baiklah! Kau menang! Selamat telah menghilangkan alasan terakhir aku membiarkanmu hidup, matilah....wahai Elementalist Es”


WUSH! WUSH! WUSH! SYUUU....!!!


Mira memutar – mutar senjatanya hendak memberikan serangan penghabisan, napsu membunuhnya merembes deras hingga Arya dipaksa menutup mata bersiap menerima rasa sakit. Namun entah mengapa menit demi menit berlalu hujaman Mira tak kunjung mendarat, penasaran Arya akhirnya memberanikan diri mengintip.


Sekujur tubuh Mira menegang aneh, alhasil menciptakan jarak antara ujung tongkatnya dengan leher Arya kurang lebih setengah senti. Tatapan perempuan itu tertuju kepada sebuah nama yang menghias batu nisan tempatnya menyudutkan Arya.


“Amira Putri Bintang Nasuti—ukh!?” Mira mengernyit karena kepalanya tiba – tiba berdenyut menyakitkan.


‘Lain kali biasakan mengatakan tolong agar orang tau jika kau berada dalam kesulitan, nih. Jaga baik – baik biar tidak terlepas lagi’


Gambaran seorang anak dengan wajah kabur yang memberikannya sebuah balon memenuhi benaknya disusul berbagai ingatan membingungkan sebab Mira merasa tak pernah mengalami hal tersebut, perasaan nyeri terus menggorotinya sampai memaksanya terpejam sesaat.


Dan sewaktu bisa melihat kembali betapa terkejutnya Mira menyaksikan sosok agak transparan mirip sekali dengan dirinya menahan laju tongkatnya sampai dia merasa tengah bercermin, menyadari niat wujud misterius itu Mira menggunakan kedua tangannya untuk mendorong tapi sia – sia. Senjatanya tidak bergerak sedikitpun sehingga Arya menatapnya kebingungan.


“Ke...na....pa...!!!”


‘Tidak boleh....kau dilarang melukainya....’


“Kenapa....hiks....aku....tak bisa melakukannya....hiks!?” isak Mira berlinang air mata.


Kemudian secara perlahan memori samar – samar sebelumnya mulai jelas dan wajah anak laki – laki barusan digantikan oleh pria di hadapannya. Arya terenyuh serta mencoba mencerna situasinya, ia bingung soalnya sekarang pipinya telah basah terkena tangisan Mira, saat baru ingin mencoba menyentuhya insting Arya memberikan alarm tanda bahaya lalu tanpa menunggu lama melepaskan tendangan demi menjauhkan si perempuan.


DUK! SYUU....!!! SLASH!!!


“Aduh—“


“ARGGHHH!?”


Ternyata sebuah tebasan energi besar entah dari mana baru saja mengincar mereka, teknik tadi menyayat lengan kiri milik Arya cukup parah. Dia seharusnya sempat menghindar namun memilih tetap bertahan agar makam Amira tidak hancur berantakan, pelaku penyerangan mendarat tepat di atas sebuah nisan sambil menatapnya dalam – dalam.



“Ketemu....”


^^^

__ADS_1


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakars a.com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.


__ADS_2