Elementalist

Elementalist
Chapter 93 - Minum


__ADS_3

“PENJAGA?! SI TAHANAN BARU KABUR”


KLANG!


“Apa?! Bagaimana bis—“


Arya yang sudah menunggu dibalik pintu sambil merendahkan badannya langsung menusuk tembus tenggorokan Vampire laki – laki tersebut, matanya melebar menatap Arya penuh kengerian. Taktik memanfaatkan panggilan Callista nyatanya berhasil membuat mereka keluar dari sana.


Arya menggandeng tangan Callista untuk segera membawanya keluar, keduanya menyelinap sangat hati – hati agar jangan sampai ketahuan.


“Kenapa kau baru bilang sekarang kalau dirimu anak monster itu?!” protes Arya memperhatikan sekitarnya dengan teliti.


“Kaukan tidak pernah bertanya?” Callista membela diri tanpa rasa bersalah.


“Kalau seperti ini pokoknya kita harus cepat – cepat pergi sejauh mungkin, memikirkan harus melawan Kris saja sudah bisa membuat kedua kakiku melemas”


“Tenang saja, aku dengar beberapa hari terakhir Ayah sedang jarang berada di rumah. Katanya ia pergi menghadiri pertemuan penting Tujuh Dosa Besar”


Sementara Arya dan Callista sedang mengendap – endap mencari jalur evakuasi, di gerbang kastil mengerikan tempat mereka berada nampak kerumunan yang seperti menunggu kedatangan seseorang.


Sebuah kereta kuda ditarik makhluk – makhluk berkaki empat serta bersayap masuk ke pekarangan dengan kecepatan tinggi. Semua hadirin disana bergegas menghampiri kemudian membuat barisan rapi seperti gang sempit sampai ke dalam kastil.



Pria berwajah angkuh turun dari kereta menatap sekitarnya sambil lalu, sepasang laki – laki dan perempuan berambut cokelat maju bertekuk lutut di hadapannya.


“Selamat datang kembali, Ayah”


“Kalian menjaga kediaman ini dengan baik selama aku beserta Ethel dan Galahad tidak ada, kerja bagus Aris, Dexi”


“Kehormatan bagi kami” jawab kedua anak itu serempak.


“Apa ada kejadian menarik selama aku tak ada di rumah?”


Kris berjalan menuju kastil diikuti dua anak kembarnya, mereka mengekor layaknya penjaga profesional. Dexi menyikut Aris seperti berusaha mengingatkan akan sesuatu.


“Ahh....iya, maaf karena melakukannya tanpa meminta izin terlebih dahulu Ayah. Aku menangkap seorang Werewolf kemarin malam”


“Werewolf? Kenapa?”


“Dia telah membunuh tiga orang pelayanku”


“Maksudmu tiga bocah Rare-Tier tak berbakat itu?” sangat jelas terdengar nada meremehkan dari suara Kris.


“Iya” Aris mengangguk sambil mengepalkan tangan kuat – kuat.


“Ah...sudahlah, lagi pula hubunganku dengan Moona pasti akan selalu bu—!“


Langkah Kris berhenti begitu menginjakkan kaki di dalam kastil, hidungnya mengendus udara seperti hewan penasaran. Tampang sang Vampire berubah serius.


“Kenapa Ayah?” tanya Dexi bingung.


“Geledah seluruh kastil, kalian berdua periksa penjara bawah tanah”


“Hah? Tapi—“


“SEKARANG!”


Arya bersama Callista yang baru saja naik dua tingkat dari lantai paling dasar tiba – tiba mematung, bulu kuduk pada sekujur tubuh Arya berdiri menandakan kalau dirinya masih mengingat pertarungan hidup mati kala itu.

__ADS_1


“Dia di sini” keduanya saling bertukar pandang ngeri.


------><------


Dengan napas terengah – engah, Arya memimpin di depan sambil memastikan jalan yang akan keduanya lewati aman atau tidak. Setelah teriakan menggelegar ada tahanan kabur memenuhi udara, penjagaan pada setiap sudut kastil semakin ketat.


Sudah tidak terhitung berapa kali Arya dan Callista mengubah arah untuk kabur dari sana, di tengah – tengah rasa frustrasi tersebut. Tiba – tiba Callista mengingat ada sebuah jalan rahasia, ia berusaha meyakinkan Arya kalau cuma dirinya yang mengetahui jalur tikus ini.


Karena merasa tidak punya pilihan lain, Arya pun setuju. Callista membawa keduanya menuju sebuah perpustakaan penuh rak buku tinggi, dia menarik salah satu buku berwarna kemerahan di sana.



Lalu seketika seluruh ruangan bergetar dan bergerak bak memiliki kesadaran sendiri, berselang beberapa saat terbentuklah lorong sempit yang hanya cukup dilewati dua orang. Mereka bergegas masuk tanpa berpikir panjang.


Waktu sudah melewati setengah jalan bersamaan dengan terlihatnya pintu keluar di kejauhan, Arya menghentikan Callista. Matanya memperhatikan sungguh – sungguh lorong gelap nan sepi di hadapannya.


“Kenapa? Ayo kita segera pergi! Pintu keluarnya ada di depan sana”


“Apa kau masih kuat berlari?”


“Kurasa, hei? Ada apa sih?” Callista bertanya tidak sabar.


“Harusnya aku menanyakan ini lebih awal, tapi siapa yang memberitahumu jalan rahasia ini?”


“Ibuku”


“Lalu menurutmu? Beliau tau dari mana?” tanya Arya sekali lagi.


“Mana aku ta—“


Belum sempat Callistar menyelesaikan kata – katanya, Arya mengucapkan Brillante sehingga cahaya melesat dari ujung jarinya sampai ke akhir lorong. Ketika sihir itu lewat, sesosok laki – laki yang sangat mereka berdua kenal ternyata telah bersembunyi di balik kegelapan sedari tadi.


“Tak kusangka kau sendiri yang akan datang ke kediaman indah milikku ini, tapi tidakkah kau berpikir kurang sopan jika seorang tamu ingin membawa kabur putri dari Tuan Rumah?”


“Apapun yang terjadi tetap lari sekuat tenaga, kita harus menerobos maju” bisik Arya kepada Callista.


“Apa?! Kau sudah gi—“


“Ayo!”


Keduanya berlari semampunya diselimuti kegelapan pada kedua sisi lorong, jarak mereka dengan Kris semakin menipis. Sang Vampir mengangkat tangan kananya, aura mengerikan memancar jelas dari situ.


“Eudart tidak akan bisa menyelamatkanmu kali ini!”


“Benar sekali, tapi....kau lupa. Kalau sekarang ketiga atribut milikku sudah lengkap”


“Evil Blood!”


“Third Dance; Dance of Five Waterfall Fairies”


Kris menghantamkan tangan ke permukaan lantai sehingga membuat seluruh lorong dipenuhi darah. Arya berhasil melewatinya tanpa tergores sedikitpun bersama Callista.


“Kau pikir mau pergi kemana?!”


“Safira!”


Si naga biru muncul dan menyemburkan udara dingin dari mulutnya, tak butuh lama. Jalan keluar itu runtuh setelah dilapisi oleh es. Arya dan Callista segera pergi sambill menunggangi Efbi, seekor Wyfern hitam terbang mendekat mencari Tuannya.


“Jangan biarkan mereka lolos” desis Kris muncul dari reruntuhan berlapis es.

__ADS_1


Si Wyfern mengeluarkan suara nyaring sebelum melesat pergi, menggunakan satu lambaian jubah. Kris berubah wujud menjadi kelelawar berukuran jumbo, ia meneriakan suara ultrasonik untuk memerintahkan semua Vampir di kastil.


“KEJAR!”


------><------


Arya menarik kembali Efbi karena merasa menungganginya dapat membuat mereka mudah untuk dilacak, sehingga sekarang keduanya sekali lagi berlari menggunakan kaki masing – masing. Walau begitu dia sadar napas Callista terdengar semakin putus – putus.


Akhirnya gadis itu pun terjatuh tidak kuat lagi melanjutkan perjalanan, Arya memperhatikan sekitar. Pohon – pohon menandakan kalau mereka mungkin sedang berada di tengah hutan. Disebabkan oleh pengejaran tadi, seluruh indera Arya menajam signifikan.


“Callista?” Arya berusaha menariknya bangun setelah merasakan hawa keberadaan para Vampire.


Gadis tersebut mengangguk sebelum bangkit berdiri, tapi setelah beberapa meter berlari. Dia terjatuh untuk kedua kalinya.


“Hah...hah...hah aku tidak bisa, energiku sudah habis. Tinggalkan aku, maaf padahal kau telah bekerja keras sampai sekarang”


“Mana mungkin aku meninggalkanmu setelah melakukannya sejauh ini!”


Tanpa memperdulikan protes Callista, Arya menggendongnya di punggung. Namun apa daya gerakan Vampir – Vampir pengejar begitu cepat, dengan daya laju seperti ini tak butuh waktu lama bagi mereka untuk menyusul.


Suhu tubuh Callista semakin rendah, membuat Arya tambah cemas. Entah kenapa lama kelamaan kondisi fisik gadis itu kian memburuk sejak meninggalkan kastil.


“Aku akan segera mati” bisiknya lemah.


“Jangan bodoh, kau tidak boleh mengatakan hal seperti itu” tegur Arya.


“Arya, bukankah di surat aku sudah bilang umurku hanya tersisa sampai minggu pertama bulan depan. Hal itu terjadi jika aku tidak melakukan apapun dan berdiam diri di penjara, namun semua ini menguras seluruh sisa tenagaku”


“Lebih baik kau diam dan simpan tenaga—“


“KAU TIDAK MENGERTI!” Callista membentaknya kencang.


Air mata mulai membasahi wajah putih bersih gadis tersebut, ia terisak pelan di hadapan Arya. Berusaha mengusap mata dan nampak tegar.


“Kalau begitu jelaskanlah agar kumengerti” perlahan Arya membantu mengusap air mata Callista dengan lembut.


Saat kondisinya kembali tenang, Callista menjelaskan jika dirinya tidak pernah mengkonsumsi darah selama sepuluh tahun terakhir. Hal ini membuat tubuhnya terus melemah, dia bisa hidup sampai sekarang pun sudah merupakan mukjizat.


“Kenapa?”


“Karena....hiks....karena....aku....hiks....aku tidak ingin....menjadi Vampir” isak Callista sendu.


Callista takut, jika dia minum darah sekali saja. Ia tidak akan mampu kembali ke dirinya yang sekarang. Arya menarik kerah jubah dan menunjukan pundak miliknya kepada Callista.


“Minum” bisiknya tanpa keraguan.


“AKU TIDAK MA—“


“Apa menurutmu, ibumu akan senang melihat putri semata wayangnya mati seperti ini?”


Gadis itu tersentak kaget mendengar kata – kata Arya, ia menatap dalam – dalam mata biru pria di hadapanya.


“Tapi Arya, jika aku mengggigitmu. Maka kau akan—“


“Cepat! Waktu kita semakin menipis. Sekarang atau tidak sama sekali!”


Napas Callista memburu, matanya tak sanggup lepas dari pundak milik Arya. Gigi taring miliknya perlahan semakin tumbuh dan mencuat keluar, tepat sebelum gigitan pertama dilakukan. Para Vampir berhasil menyusul, namun terlambat. Sesuatu yang besar telah terjadi.


Author Note :

__ADS_1


Oke di bulan pertama ini saya gagal memenuhi target update 60.000 kata, cuma berhasil sekitar 25.265. Jadi gk dpt gaji deh wkwkwk. Kayaknya kapasitas saya untuk nulis masih belum mampu untuk memenuhi target itu berhubung kuliah dan banyak hal lainnya. Kalau dipaksain juga gk bakal bagus hasilnya nanti, nulis emg harus lagi mood. Tapi Terima Kasih untuk dukungannya selama satu bulan ini. Saya sudah cukup puas walau blm dpt Gaji T_T ^^


__ADS_2